Lampu
Oleh: Honayapto
"Kalau belajar begini, saya senang juga saya".
Samar-samar kalimat ini sampai di telinga saya, saya klarifikasi, "Kenapa dik, tidak suka model belajar begini?", Sedikit menjebak.
"Tidak pak, saya bilang senang, kalau kita belajar seperti ini". Jawabannya agak kaget.
Saya merespon oh saja. Padahal dalam hati bukan main senangnya. Saya senang mendapat apresiasi seperti ini. Saya menganggap respon peserta didik saya adalah respon yang refleks, spontan saja, jadi saya anggap itu adalah apresiasi yang tulus (setidaknya itu asumsi saya, mudah-mudahan demikian)
Hari ini, sebagai penanda hari yang baru untuk bulan yang baru, pada Senin, 1 November 2021 saya mengajak adik-adik saya untuk belajar di luar ruangan kelas.
Materi kami tentang This is my world, ini adalah dunia saya, kami diharapkan dapat mengekspresikan pemahaman kami terkait benda-benda di ruangan kelas, hewan-hewan, dan tempat-tempat umum di sekitar kami.
Kali ini tema kami tentang eksplorasi hewan; to state animals.
Momennya pas, saya rasa harus memberi pengalaman baru dan kontekstual dalam pembelajaran kami, maka jadilah hari ini kami menjadi Bolang si bocah petualang.
Saya menginstruksikan untuk menemukan 20 jenis hewan yang mereka temukan di luar ruangan, lalu menuliskan nama hewan tersebut serta jumlah hewan yang berhasil diamati.
Jadi mereka akan menulis, misal hewan pertama yang ditemukan adalah burung 🐦, dan 3 🐦 🐦🐦 adalah jumlah dari burung yang berhasil diamati tersebut.
(Baca juga: Pengaturan Skor di Kelas IX B)
Saya senang melihat mereka bergerak sendiri, mengekspresikan aksi-aksi polos mereka, saat mereka memegang buku dan menuliskan usai mengamati, dan atau berdiskusi tentang hewan-hewan yang tidak mereka ketahui dalam bahasa Indonesia.
Atau juga saat mereka menyibak rerumputan liar yang jadi perintang, dan sesekali takut pada tokek di kios tua di bawah pohon beringin, ditemani angin segar di bawah pohon kapuk.
Rasanya sangat adem, saya melihat antusiasme yang melimpah, dan sikap eksploratif yang lebih mandiri dari peserta didik. Mereka seperti ahli Zoologi dan Botani, seperti memakai setelan putih yang panjang berkaca mata besar dan mulai asyik terbawa dalam laboratorium alam.
Setelah satu jam kami bereksplorasi, saya memastikan mereka benar-benar paham akan instruksi yang diberikan, yang mengagetkan hampir semua siswa tidak kesulitan dengan instruksi dan materi pelajaran yang diberikan.
Saya memastikan apa yang dilakukan adalah bentuk integrasi pembelajaran dengan pelajaran lainnya, bagaimana mereka memahami konsep kata umum dan khusus dalam bahasa Indonesia, konsep numerasi yang sedang digalakkan, bahkan pembelajaran biologi dan karakter cinta lingkungan dalam pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan hadir dalam kegiatan kami hari ini.
Yang paling terpenting adalah diseminasi dari tema kami. Apa yang kamu lihat dan kamu tuliskan harus didasarkan secara fakta, benar dan objektif, para peserta didik harus dibekali dengan pemahaman ini, mereka harus bekerja secara terukur dan harus siap menjadi penerang, semua harus didasarkan pada fakta.
Di akhir kelas, saya meminta mereka membayangkan penguasaan kompetensi dengan konsep pengayaan kebahasaan.
Bayangkan jika hari ini saja ada 20 hewan yang telah kalian kuasai perbendaharaan kata asing (bahasa Inggris) maka jika itu dilakukan dalam waktu 1.095 hari (3 tahun) maka akan ada 21.900 kosakata bahasa Inggris yang akan kalian kuasai usai menuntaskan kelasnya di SMPN 1 Kambowa.
Dan jika itu terjadi, you are Master. Kamu sudah menjadi seorang Master.
Jauh dari itu, peserta didik saya adalah orang-orang yang merdeka.
Mereka bebas menjadi siapa saja, namun mereka wajib tahu mereka harus menjadi penerang, sebagai sesuatu yang memberi cahaya yang seterang-terangnya bagi sesama.
*Peserta didik telah divaksin dan dipastikan suhu tubuh tidak lebih dari 36 derajat.
(Ditulis sebagai praktik baik Merdeka belajar dalam Tatap Muka Terbatas)
(Semua Foto adalah dokumentasi pribadi dan disetujui untuk dipublikasi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar