Namanya Sari
Oleh: Honayapto
Tidak kuduga chatnya semalam sebagai sapaan terakhir darinya. "Ay, saya jenuh dengan kehidupan ini Ay, saya telah memparipurnakan diri menjadi seorang yang pemaaf, seorang yang sebenar-benarnya kuat dengan segala badai yang menerjang hidup ini. Tapi ternyata, pada dasarnya wanita hanyalah seorang wanita.
Tak ada kekuatan, sebagaimana lelaki yang bertebas diri manakala gelap mata telah mengusai hati dan matanya. Saya lelah".
Di pertiga malam, chat kami berakhir. Saya bermain sigap membalas setiap cuitan yang berdering di ponsel saya. Meski hitung-hitungan galat taksir, koefisien regresi dan nilai konstanta secara manual saya lakukan untuk mengetahui asal nilai ajaib dari hasil hitung digital software SPSS membuntukan nalar saya, saya tak mau mengecewakan gadis Taliabu ini.
Hari ini saya dikagetkan kabar sedih dari wanita bertubuh rampig ini. DIDUGA DEPRESI GADIS DARI TALIABU BUNUH DIRI.
di layar handphone saya, baris-baris kalimat ini mengelukkan lidah dan membekukan setiap gerak tubuhku. Sesaat kepala yang dipaksa begadang beberapa minggu untuk menyelesaikan tugas akhir seakan mati rasa, teramat pening dan memanas.
Saya terisak, menangis tersedu-sedu, tak berdosa seorang lelaki untuk mengeluarkan air mata. Saya menyesal saya hanya menulis sebait kalimat penutup sesi curhat kami. "Sabar aja Sar, toh tak ada induk harimau yang akan memakan anaknya".
Balasan chat tersebut terlihat terbaca olehnya, lalu kupejamkan dan kumatikan handphone usai alarmnya kusetel di pukul lima pagi.
Saya menyesal tak ada kata-kata yang lebih membangkitkan semangatnya, tak ada kata-kata pelecut untuk mencambuk asanya, sebagaimana pujian-pujiannya padaku "Kau seorang yang ahli dalam memahami teman", tidak ada penjelasan-penjelasan dari kajian sosiologis atas masalah-masalah pelik di hidupnya.
Hari ini, saya merasa teramat bersalah padanya. Setelah kupastikan kabar sedih ini di grup-grup Whatsapp dan facebook alumni, saya menekur fana, saya kehilangan seorang sahabat yang seribu senyumnya menyembunyikan sejuta luka di hatinya.
Namanya Sari, gadis asal Taliabu. Kumengenalnya di 2010 silam. 8 tahun yang lalu kami bersama-sama ribuan mahasiswa baru mengikuti serangkaian orientasi pengenalan kampus.
Kami dibagi dalam beberapa grup, diberikan instruksi untuk mengidentifikasi, menggali, menemukan sederet formula untuk menunjukkan kemampuan terbaik sebagai grup dalam ospek yang diselenggarakan kampus swasta ini.
Saya tertarik dengan satu sosok wanita yang ceplas-ceplos, terlihat rada-rada kuper, sok kenal, dan sangat peramah, tak ada detik yang terlewat dalam bingkai senyum bibirnya yang tipis.
Tertawa renyah, dan selalu mengucap maaf adalah karakter yang sangat kental mendeskripsikan gadis bertubuh ramping dan tinggi ini.
Rambut hitamnya yang bergelombang dan satu topi khas yang biasa dipake para wanita-wanita penenteng tas pemukul bola golf, menjadi ikon yang tak bisa terlepas di kepalanya. Bayang-bayang deskripsi masa silam sangat melekat nyata menghadirkan setiap memori kecil pada gadis lugu ini.
Satu tahun belakangan ini, komunikasi kami intens, tak bersama-sama menyelesaikan studi di strata satu di kampus tersebut, saya gembira kembali mendapatkan permintaan pertemanan darinya. Felisha Salsabina Sari, menguak kembali masa ceplas-ceplos kami yang sempat menghilang.
Kutahu dari sesi curhatnya yang banyak dan cenderung mendominasi, dia sudah menjadi sarjana menjadi Sarjana Tekhnik dengan keahlian di bidang teknik pertambangan, akh....wanita ini, sifat kecil maskulinnya rupanya tak benar-benar hilang darinya.
Beberapa bulan ini, dia banyak bercerita tentang hal-hal pribadinya semuanya bertema: Kesedihan, Kekalutan, Ketakutan, ketidakadilan, dan kadang-kadang ketidaklakuan.
Ini sangat berbanding terbalik dengan personal brandingnya sebagai seorang yang tegar, kuat lagi kokoh. Ia banyak mengeluhkan hal-hal kecil yang diperbuatnya tak pernah mendapat apresiasi dari keluarganya, ia berkisah akan ibu bapaknya yang selalu menganggapnya gadis yang bodoh, telat mikir (Telmi), dan waktu sedihnya ia habiskan di kamar Hello Kittynya sembari mengulang-ulang film Korea Descendant of The Sun, Suspicious Partner, Song Jong Kyee dan personel K-Pop Girlband "Krystal" adalah idola beratnya.
Bahkan dia mengaku sebagai fans fanatik yang tergabung dalam fansgrup yang menghimpun anggota dari berbagai negara, they are really insane.
Di minggu terakhir, saya baru tahu dia terlalu banyak memaki hidupnya, menyerang teman-temannya di dunia maya, bahkan sempat membuat respon yang menakutkan dalam setiap respon saya atas status kontroversialnya, dia mengaku dia seorang anak dari keluarga yang broken home, ayah dan ibunya bercerai saat usianya 4 tahun, tak ada golden age, tak ada sweet memories di masa kanak-kanaknya.
Dia teramat berani mengatakan dia seorang yang cantik, lugu, tidak neko-neko, namun seringkali disakiti di setiap ia menjalin kasih, dia bahkan benar-benar meruntuhkan harga dirinya sebagai seorang wanita untuk memaksa kepada lelaki yang benar-benar siap untuk menjalin hubungan yang serius, tentu saja ia lakukan dengan cara-cara yang elegan.
Air mataku habis, kering dan mungkin saja telah menetas habis di kantung-kantungnya, saya kehilangan seorang sahabat yang satu senyumnya tersimpan sejuta duka. "... DIDUGA KUAT MENAHAN DEPRESI, SEORANG WANITA PRAMUNIAGA INI TEWAS MENGGANTUNG DIRI, KASUS TERSEBUT SAAT INI DITANGANI PIHAK KEPOLISIAN SETEMPAT... "
Kalimat akhir di kabar media sosial ini telah meruntuhkan dan menggugurkan batin kami, betapa manusia harus selalu memberi peduli kepada sesamanya.
Selamat jalan Sar, selamat jalan gadis sejuta Periang Taliabu. Semoga Allah menempatkan di surgaNya. Amiiin
(Sumber foto: Pinterest)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar