Masterpiece, Sarang Tawon, dan Si Bego




Masterpiece, Sarang Tawon, dan Si Bego

Oleh: Honayapto

(Serial Kelima Petualangan di Negeri Puputan-Bali) 


Setelah diantar driver Maxim Bli Dicky saya deal untuk menempati penginapan KAK GARDEN INN, beralamat di Jalan Kubu Anyar Gang Harley Davidson, Kuta, Kabupaten Badung, Bali. 


Sebenarnya saya mau cari alternatif penginapan lain, soalnya harganya terlalu mahal, setara harga kamar deluxe hotel kalau di kota Baubau, per malam kena charge Rp.300.000, tapi setelah banyak pertimbangan saya putuskan untuk tetap di sini saja. 


Kenapa?, pertama meskipun bukan fasilitas hotel tapi areanya tenang sekaligus terlihat teduh, kalau buka di Google Maps posisinya masuk di sentra utama wisata utama Bali Pantai Kuta, dekat hanya 10-15 menit, karena high season, maka harga kamar dibanderol dengan harga tinggi, yang lebih senangnya lagi akses ke Bandar Udara Ngurah Rai hanya butuh waktu 7-10 menit kalau tidak macet.


Setelah 2 hari nginap, dan juga hasil observasi sebelumnya saya tahu area ini sangat strategis dekat dengan warung makan kaki lima, ataupun restoran berkelas, menu boga bahari ikan, kerang udang yang tersedia, akses ke toko grosir, Alfamart juga Indomaret yang dekat, serta fasilitas Laundry, yang seru juga masjid khusus yang ditempatkan di lantai 2 menjadi penanda waktu sembahyang tiba. 


Kalau jalan dari Pelabuhan Benoa ke arah Denpasar setelah melewati 1 jembatan, kemudian lurus dan belok ke kanan, sebelum pembelokan itu di bagian kiri di titik pertama gang Harley-Davidson berdiri sebuah INN (penginapan) yang tidak mewah juga tidak sederhana amat, sejuk. Lantai 2 dengan kamar yang kurang lebih ada 20 kamar, nuansa putih campur warna cokelat kayu muda, yang ditanami beberapa tanaman hias tinggi di halaman lantai 1 arah selatannya, di depannya ada pohon bunga cempaka dengan rumput yang dibiarkan liar, mungkin sengaja dibiarkan untuk memberikan kesan tersembunyi dari fasilitas menginap di kota ini. 


Untuk backpacker yang tidak datang pada saat high session mungkin cukup representatif, tapi banyak kok alternatif penginapan lain sebenarnya kalau mau eksplor. Saya merekomendasikan ini karena dekat juga dengan rental motor jadi aksesnya bebas kemana-mana. 


Setelah tidur yang tidak cukup sejak jam pertama check in, saya sudah bangun, agenda saya adalah ke tempat wisata Garuda Wisnu Kencana (GWK), ini tempat yang sebelumnya terlihat jelas saat kapal mau sandar di pelabuhan Benoa. Toh... GWK juga yang viral waktu KTT G20 kemarin, tempat ini layak dikunjungi kalau pantai Kuta kan dekat. 


Inilah untungnya observasi, ada satu dialog penting di film India saya lupa nama filmnya saya hanya ingat jelas dialognya saja, kalau kita di kota itu, jadikan kota itu sebagai cermin, dinding-dinding kota akan bercerita, mengabarkan sampai membantu kita jikalau kita mengalami kesulitan. 


Setelah melihat sekeliling saat observasi saya memutuskan agenda eksplorasi utama pulau Bali adalah dengan menggunakan sepeda motor, untung ada dialog itu, itu salah satu cara adaptasi terbaik yang saya lakukan saat menjelajahi kota-kota besar, jadi setelah mandi, kemudian mencuci pakaian kotor usai perjalanan 3 hari 2 malam di atas kapal dengan sabun dan sampo hotel yang didukung air yang keras dari shower hotel yang jadi pendukung utama saya memilih penginapan ini. 


Saya keluar penginapan saya sudah bayar penginapan seharga 300.000 dengan jam check-in jam 12 malam lewat pada Kamis, 25 Desember 2025 yang berarti pada jam 12 siang pada hari yang sama, saya sudah harus check out dan mesti kembali membayar Rp.300.000 kembali untuk lanjut memperpanjang lama tinggal, ya... begitulah. Saya harus mengamankan hotel ini, tidak ada kesempatan untuk cari alternatif lain. Hotel-hotel lain termasuk kos-kosan full booked. Itu saya dapat saat check aplikasi dan tanya langsung di hotel-hotel kalau ada main 500 sampai jutaan. 


Setelah sarapan saya langsung ke tempat rental motor dan scooter, banyak sekali saudara-saudara kita yang Nasrani yang sedang Natalan, area sewa motor hanya 7 rumah dari pusat peribadatan di area ini, percis bising sekali. Untung saya beruntung meksipun belum buka, saya telepon WhatsApp, saya direspon menunggu hampir 15 menit untuk layanan rental, pemiliknya atau siapa yang melayani saya ini humble dan profesional dalam memberikan layanan, saya juga diberi diskon 10.000 dari rental 100.000 per 24 jam, saya dimintai KTP, tiket perjalanan yang membuktikan saya dari asal daerah mana, kemudian pembayaran, harusnya deposit 1 juta di perjanjian, tapi sudah profesional dan aktivitas untuk mencuri nampaknya akan sangat menyulitkan diri sendiri, saya tidak dimintai yang aneh-aneh. 


Nah... Di momen ini yang paling gila, dan goblok sekali. Saya seperti orang yang buta teknologi, waktu mengarahkan Maps menuju alamat berikut: 55P8+9J5 Patung Garuda Wisnu Kencana, Ungasan, Kec. Kuta Sel., Kabupaten Badung, Bali 80361 saya membaca layar HP seperti terbata-bata, saya keluar dari area sewa motor, menuju alamat yang dituju dan kemudian tersesat, saya yang harusnya jalan lurus saja tiba-tiba berbelok ke kanan arah Barat dan mau masuk jalan tol akses Bandara, sialnya itu jalan one way. Terang saja saya ketakutan setengah mati, bagaimana ini, lalu lintas yang padat, mobil yang tancap gas dan saya yang bimbang masuk tol atau bagaimana ini?, bego-bego, goblok itu umpatan bagi diri saya sendiri, akhirnya saya ke penjaga tol, kalau polisi siap-siap kena tilang, terserah, saya tidak mau dijadikan bahan viralan lantaran gobloknya membaca peta, kan gak lucu kalau saya harus naik motor di atas tol khusus mobil, lalu sampai di atas tol masuk bandara, ditilang polisi masuk media, viral dan kena ejek masal. 


Turis bodoh, buta teknologi, tidak menghormati Bali, dan lain-lain bukannya untung malah buntung. Saya minta bantuan penjaga tol, ternyata bukan polisi, saya diarahkan putar arah, lawan arus, saya malu sekaligus bersyukur. 


Kejadian yang sama terjadi saat saya harusnya lurus, malah belok ke kanan, 20 meteran setelah masalaharah lawan arus tol bandara selesai. Untung saya dibantu diarahkan sama remaja muda yang mengarahkan arah saya harus lurus dan belok kanan terus lurus saja untuk ke GWK. Nanti setelah itu baru saya perhatikan baik-baik, saya akhirnya mulai paham panduan Google Maps. 


Sebenarnya kalau pengetahuan diupgrade harusnya lebih bersyukur, motor yang saya pinjam dilengkapi dengan stand HP untuk memudahkan saya melihat HP saat proses navigasi di maps. Tapi dasar bloon, saya kaget, tapi sampai GWK saya baru ngeh dengan kenapa sampai saya bingung, diarahkan mesti jalan ke sini dan sebagai-sebagainya karena teryata aplikasi ini terjadi secara online, real time, saya dipandu untuk langsung ke akses jalan yang tercepat meskipun jalan yang diarahkan sempit dan rusak. 

Saat ke Uluwatu mengikuti rekomendasi dari Maps saya banyak khawatirnya navigasi masih membingungkan, namun kejutannya saya bahkan diarahkan pada jalan-jalan yang indah-indah, salah satunya ke arah kampus keren dari UNUD Bali, Universitas Udayana Bali. Wah... Sekali mendayung dua atau tiga pulau terlampaui, saya berjalan berkelok-kelok, asing dan akhirnya sampai di titik poin drop off pertama kali di GWK. 


Berbekal pengalaman mengunjungi Candi Prambanan dan Candi Borobudur, cara pelayanan dan mekanisme wisata juga memang memiliki standar yang rupa-rupanya bisalah bermanfaat di masa depan, saya selalu berpikir positif kalau setiap perjalanan adalah pelajaran. Suatu saat kegiatan saya ini pasti akan memberikan hal yang berguna di masa depan. Kenapa? saya mulai paham cara pengelolaan, penanganan wisata sampai skema-skema yang mesti dilakukan. 


Menunggu di titik drop pertama, dijemput cart, diarahkan ke loket pembelian karcis, sebelumnya saya harus membayar parkir dulu sebanyak Rp.5.000 untuk sekali akses. Ada 3 jenis tiket, reguler 150.000, akses makan minum di atas reguler 200.000 dan 350.000 untuk tiket sampai dengan penjelajahan museum. Saya tidak tahu berapa untuk wisatawan mancanegara, kalau di Borobudur mahal sampai jutaan. 


Saat tiba di loket, saya disuguhi tari-tarian dari pada penari Bali, magis dan seru. Kalau dari peta secara umum, kami para wisatawan diarahkan untuk melewati site-site yang berurutan dari awal masuk sampai keluar, melewati souvenir dari UMKM, melewati pintu pemeriksaan yang didepannya ada diaroma kecil Patung Wisnu dalam GWK, yang dilengkapi dengan semburan air-air otomatis. 


Masuk, melewati site untuk sesi foto, dibantu para petugas, sebelumnya melewati patung Ananta Sesha patung Ular naga simbol keabadian saat semua alam hancur, kemudian terus menanjak menaiki bukit dan bertemu Dewa Krisna yang setengah badan, plus tanpa dua lengannya, tidak dilengkapi karena alasan konstruksi saja dan estetika dari pengembangan wisata, kemudian maju dan turun melewati perundakan untuk sampai di bukit Kepala Garuda kemudian akses ke hole utama di patung Garuda Wisnu Kencana seorang dewa yang melindungi alam yang mengendarai Burung Garuda. 

Saran saudara jika anda ingin berpesiar bawalah teman atau tripod, saya yang super pede ini hanya kecele saja, tidak ada dokumentasi yang keren, dokumentasi keren menurut saya adalah saat saya minta bantuan petugas GWK dari Flores yang rasanya akrab untuk dimintai tolong, saya sarankan bawa teman biar perjalanannya bagus dan keren. 

Dokumentasi berikutnya juga dibantu dari 2 teman dari Palembang, pak Ketut Wardan dan pak Paijo saat kami sampai dan masuk dalam GWK. Inilah keindahan itu, kalau hanya sekadar melihat di TV pasti sangat jauh berbeda dengan aslinya, beda-beda sekali. 


Kami benar-benar terpesona dengan kekuatan imajinasi dan kehebatan ide seorang I Nyoman Sunarta, patung dengan tinggi 122 meter dengan patung seberat 4.000 ton atau 4 Juta Kilogram. Kalau tanpa pedestal atau dasar tinggi hanya 75 meter dan 46 untuk pedestal patung ini menjadi patung ke empat terbesar di dunia. 

Kawan kalau melihat secara langsung, pasti mulai berpikir ini yang bangun otak-otak apa saja ya, dan inilah kehebatan Bali, bukan hanya orang Indonesia namun orang-orang dari belahan negara lainnya juga berkunjung ke sini. Saya paling banyak melihat wisatawan dari India, Rusia, Korea, China, dari cara mereka bicara dan kontur-kontur wajah masing-masing. Inilah kehebatan bahasa Inggris saya tidak gagok manakala ada yang minta bantuan saya untuk mengambil foto. 


Perjalanan di GWK diakhiri dengan memasuki lotus Pond, area terbuka dari perbukitan yang disulap menjadi tempat wisata ini, saya juga mengklaim voucher untuk minuman segar saya, sebagai pengumpan untuk makan di restoran Jendela Bali ini. 


Sebagai wisatawan membeli oleh-oleh adalah hal yang wajib, sebelum dituntaskan perjalanan setelah klaim voucer minuman dan istirahat sebentar di rumah MPTheater Hanoman, saya merogoh kocek sebanyak Rp. 1.947.000 untuk membeli 14 item yang dikhususkan untuk oleh-oleh keluarga utama saya. 3 baju Bali untuk ayah, dan 2 kakak laki-laki saya. Sarung Bali dan sal kecil untuk kakak perempuan saya semua, dan tas trendi untuk Ina saya. Memang mahal namun saya membeli merek, asli dari Bali dan belinya di GWK Cultural Park Kencana Souvenir, nama dan tempatnya saja mahal. 

Sayan batasi sebenarnya, hanya khusus keluarga inti saja, bukan apa-apa, bukan menolak jastip, dan lainnya, saya sebenarnya kalau mau liburan tidak mau diganggu dengan urusan beli ini dan itu, repot kasian. Bukan apanya, liburan bagi saya cukup memanjakan mata, karena kadung kakak juga minta, maka saya okekan saja, hitung-hitung ke tempat Prestige, dan brand besar. Hadiah Tahun Baru. Adik yang baik. 

Bagi saya liburan, hanya liburan saja, jadi maaf kalau tidak ada yang diakomodir selain keluarga besar, selain itu harga mahal sekali di Bali, dan sekali lagi bukan uang dan lain-lain, repot dan begitulah. Setelah pertimbangan dalam perjalanan pulang, saya akhirnya memutuskan 

mengubah jadwal kepulangan, tapi ternyata alokasi budget yang tidak kira-kira saya akhirnya mengubah sesuatu schedule saya.

Saat pulang ke penginapan saya hanya sempat makan siang dengan bakso ayam 15ribuan, saya cari ATM lalu mengecek ketersediaan kapal Pelni dari Makassar Baubau, di hari yang sama saat penerbangan dari Bali ke Makassar. Jadi saya rencana hemat dana dengan terbang ke Makassar karena tiket cukup 1 juta, kalau ke Baubau dua kali lipatnya, karena ada kapal, KM Tilongkabila juga maka saya memutuskan hemat. Iya meskipun tidak akan jauh-jauh beda, hitung-hitung silaturahmi dengan Maros dan daerah sekitar lainnya, lama mi berkunjung dengan mereka.

Tiket pesawat 1 juta, kapal 200 saya deal, jadwal keberangkatan pesawat jam 14.40 di tanggal 27 Desember 2025 dan jadwal kapal jam 11 malam di tanggal yang sama. Mudah-mudahan dilancarkan oleh Allah SWT.

Proses tiket selesai, saya pulang istirahat sebentar, sore mau ke Pantai Kuta lihat senja, tapi kebablasan, capek saya hanya bisa berkunjung malam hari setelah Isya.

Oh Tuhan, itulah Tuhan dengan segala rahasianya, sepanjang jalan orang-orang dari bangsa manapun terkumpul di satu titik, Pantai Kuta, memang sebelum malam dan proses e-ticket pesawat dan Pelni selesai, saya coba-coba ke Kuta, saya hanya foto tidak bisa selvi, tidak ada teman, dan malu dilihat banyak orang.

Semua hal berubah, kalau siang, ramenya ok, malamnya menjadi seperti lebah, dengung musik, kendaraan, segala model, wajah, bikini sampai alkohol yang bebas diteguk para Bule-Bule tua ini. Ya... Standar agama, moral, kita berbeda-beda, cukuplah kita dengan keyakinan kita saja.

Kuberi tahu rahasia dan magnet dari daerah ini bung. Nampaknya Pantai Kuta ini memiliki magis tersendiri, saya hanya bisa mendeskripsikan begini, "Pantai Kuta terlihat seperti gelombang yang dibuat raksasa-raksasa di tengah laut, besar-besar dan pasirnya halus sekali dan panjang lebar, apalagi senjanya tak terkira indahnya, melihatnya ada daya tarik yang sukar untuk dijelaskan".

Malam hari Hard and Rock, musik, aroma makanan, pesona kota internasional ini, berdengung-dengung seperti lebah, bagaimana ya kalau nanti kita mati dan berkumpul di padang Mahsyar, hari ini saya melihat itu rupa-rupa orang, rupa-rupa nasib dan perjalanan.

Sampai dengan episode yang indah yang ditutup dengan si Bego saya, masah sudah seharian saya pakai motor dan dua kali kunjungan ke Kuta, malam hari harus tersesat lagi, tidak menemukan jalan, sampai harus buka Google maps lagi.

Sampai rumah, saya tertawa kayak orang gila, saya harus melewati Pantai Kuta dua kali karena sok-sok menolak pake teknologi, akhirnya macet, tiba keluar jalan jam 7, tiba di penginapan jam 10 malam, padahal tidak jauh ji.

Bego, dasar Bego.


Tips: Banyakin uang, bawa teman, dan jangan jauhi teknologi.

Bali, Jum'at, 26 Desember 2025.
(Kisah 25 Desember 2025, baru ditulis. Kecapean)










































Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Serial Perjalanan di Pulau Dewata BALI-NEGERI PUPUTAN

  Keseruan menjelajahi bali dapat dilihat di sini: https://drive.google.com/file/d/1LVGH5MW76M-FzwwkqTx4QzIIslLigGiw/view?usp=sharing