Swing Mood, Tahun Baru, dan Tas Mahasiswa

 
















Swing Mood, Tahun Baru, dan Tas Mahasiswa

.
.
.
Oleh: Honayapto


(Serial Kesembilan Petualangan di Negeri Puputan-Bali)

Tidak tahu hari ini, mood atau nasib saya yang apes hari ini, mungkin sudah apes di Bali juga sebenernya, jadinya saya uring-uringan, sebenarnya saya masih mau lama-lama di Bali, harga kamar hotel atau penginapan dan sejenisnya sampai limit Rp.500.000 per malam saya sudah alokasikan khusus, kalau sampai 10 hari di Bali untuk penginapan Rp.5.000.000, amanlah....

Namun karena saya tidak ada teman jalan, tidak ada yang membantu dalam proses dokumentasi, misal saat berfoto di GWK, ada momen foto ikonik tersendiri, dengan teman momen tersebut dapat ditangkap, begitu juga di desa Penglipuran, ataupun suasana pagi, sore, dan bahkan malam di Pantai Kuta. Tidak kecele sendiri.

Saya kesal, saya hanya curi-curi ambil foto di spot-spot wisata tersebut, padahal masih banyak tempat-tempat populer di Bali yang mesti dikunjungi. Kalau jaraknya jauh dan tidak ada momen ikonik yang bisa didokumentasikan, ngapain? , apalagi dengan rental motor percis saya seperti menjelajahi ruang-ruang besar dari pulau terkenal di Indonesia ini. Saya rasa sudah fiks. Saya ambil HP, pesan pesawat, dan tiket Pelni semua pas jadwalnya. Pulang saja!.

Kenapa uring-uringan dari Bali, di rekening saya ada uang sekitar 9 juta rupiah untuk alokasi liburan akhir tahun, di dompet juga ada simpanannya, tapi setelah mau bayar apa-apa dengan kartu debet, kartu saya ditolak, 'disable', keterangannya, mampuslah... untung ada back up dari Ina. Aktivitas perjalanan sejak keberangkatan dari tanggal 21-29 Desember 2025 otomatis mengandalkan bantuan ina.

Hari ini tepatnya pagi tadi, menunggu dari jam 07.00 sampai selesai bisa dilayani pukul 10.50 saya 2 kali konfirmasi dengan petugas, 1 dengan petugas teller yang menerangkan antrian nomor 18 yang saya miliki dan tunjukkan bukan area pelayanan teller, pas konfirmasi ke Customer Service (CS) benar nomornya, tapi baru nomor 15, nomor 18 yang muncul adalah pelayanan untuk teller, saya bingung.

Padahal waktu sebelum pelayanan Bank Negara ini dibuka resmi jam 08.00, dengan berdesak-desakan bersama para emak-emak yang siap aktivitasi PKH, juga anak-anak sekolah yang aktivitasi PIP, saya akhirnya berhasil dapat antrian kode CS No.18 untuk antri di bagian Customer service.

Di layar monitor, tertera CS No.18 saya konfirmasi ke teller tadi itu, dipimpong ke CS, CS bilang belum nomor antriannya, kode antrian CS adalah D, saya konfirmasi ke Satpam dengan sedikit meng-Gas, satpam baru mau menjelaskan prosedur dikiranya saya anak kecil, baru saya dipanggil petugas CS, ternyata petugas CS tidak menekankan tombol panggilan untuk kode CS yang dituliskan 'D' yang dimaksud. Setiap pelayanan dipanggil manual, nanti saya komplain baru dipencet-pencet.

Saya naik pitam, untung tidak main ludah seperti bapak-bapak dosen gila Universitas Islam Makassar yang lagi viral sekarang, astaghfirullah. Saya ngambek dan komplain, yo setelah pelayanan, tombol panggilan dipanggil untuk koordinasi terarah antara petugas dan penerima layanan. Saya setorkan masalah saya, kartu ATM gila ini selalu kumat, diaktivasi beberapa bulan lalu, dipakai minta kode aktivitasi, seterusnya, diulang-ulang, sampai akhirnya terblokir di ATM di kota Denpasar. Mampuslah.

Enteng petugasnya bilang, disable, karena sensor sensitifnya terhadap gesekan, saya ditanya kartu ATM ditaruh di dompet pak ya?. Muhamma, hampir keluar betul ludah hehehh... Maaf mbak, mbak kartu ATM mau ditaruh di brankas mbak?,mbak kalau kasih penjelasan yang masuk akal juga, saya tunjukkan kartu ATM saya yang berisi uang Ratusan Juta Rupiah (tulis saya, sambil ketawa, dan berdo'a, kabulkanlah ya Allah 🙏👼)

Ini kartu ATM mbak, ditaruh di dompet sejak 5 tahun lalu, diputar, dijilat, dicelupin, tidak ada masalah, ini kartu ATM, baru-baru aktivitasi, !namun berlaku macam bujang lapuk yang tak beristri, nak cepat mati, tak berdaya, keparat, dan penuh ketawa kuntilanak. Saya bukan anak kecil mbak. Mbak kalau menjelaskan jangan asal.

Bilang saja, kartunya error, saya tambah marah, saat biaya penggantian kartu 20ribu disebutkan, saya komplain lagi dong. Enak sekali kalian ya... Kalian kasih saya kartu jelek, giliran bermasalah, saya yang harus tanggung, enaknya hidup dan pencarian uangnya ya... Saya tahu dia sedang bekerja mengikut sistem, saya juga mengikut sistem dan alhamdulillah menolak untuk keluar ludah. Mood saya benar-benar menggantung padahal saya ini telah belajar pengelolaan sosial emosional, tapi saya tahun batas-batas perlakuan saya.

Buktinya saat marah-marah, para ibu-ibu yang juga stress menunggu antrian malah ketawa dan cengengesan saat kalimat-kalimat omelan keluar dari mulut saya. Masalah selesai, mbaknya tidak ambil pusing, uang saya dipotong, kartu jadi, akses untuk daftar BRIMO juga tuntas, saya uring-uringan ini mungkin karena emosi negatif saya keluar, saya harusnya keluar dan komplain pada Petugas ATC (Air Traffic Control) dan juga pak Ahsan Pilot Lion Air, jangan hanya takut denda klaim asuransi, mungkin ya...dan mengikuti Undang-Undang Keselamatan Penerbangan, penerbangan dari Bali Makassar kalau cuaca buruk jangan dilanjutkan, saya teriak-teriak ketakutan dalam pesawat, saking turbulensi yang terjadi sepanjang malam.

Tahu bung, puncak klimaksnya saat pesawat dengan selamat landing di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, hujan turun dengan deras, alhamdulillah ya Allah.

Sepanjang jalan deras hujan menemani saya di toll Bandara menuju pelabuhan, mungkin akibat itu, emosi saya naik-turun, untungnya jika biasanya kapal molor berangkat 1 jam, tibanya juga mundur 1 jam, tidak terjadi kali ini. Air dan gelombang laut yang cukup stabil, membawa perjalanan melintasi laut Banda stabil dan kapal yang dijadwalkan sandar di pelabuhan Murhum kota Baubau jam 8 malam, benar-benar ditepati KM. Tilongkabila, padahal berangkat dari Makassar jam 12 malam.

Tidak lain yang disyukuri, selamat perjalanan, kartu ATM yang jadi, utang perjalanan lunas, dan sedikit sedekah menjadi aktifitas yang alhamdulillah masih dapat saya lanjutkan, saya masih bisa bertahun baru dengan ina.
Dan yang paling spesial, saya membelikan ina oleh-oleh untuk hadiah Tahun Barunya berupa tas kecil, tas jinjing yang diletakkan di bagian belakang, mirip buntelan para pengembara, berwarna biru muda, bergambar Patung Garuda Wisnu Kencana yang terpampang dengan ukiran khas gaya Bali.

Saya melihat ina memakainya, naik sepeda motor kakak, menumpuk segala perlengkapan Doraemon di dalam tas hadiah kecil itu, lalu gas motor di jalan, saya melihat ina dengan adegan slow motion, mirip artis beken Hollywood Angelina Jolie yang menenteng tasnya untuk bersiap menjelajahi petualangan seru di dunia bawah tanah.

Oh ya... Tas itu akan menjadi hadiah yang akan menarik dan siap menemani petualangan di tahun Baru.

Saya bayar lunas harga penginapan, beres-beres barang, terhambat hujan, meski sempat merutuki hujan, ternyata itu hujan rahmat, jeda untuk sholat Dzuhur dan selepasnya sampai selesai pembelian oleh-oleh untuk bocil para ponakanku yang imut-imut. Perjalanan kami lancar abadi.

Hmmm.... Pasti ina senang sekali.

(Episode terakhir akan saya lampirkan dengan judul Rangkuman, dan Laporan Pertanggungjawaban, biar rekan sekalian, sekali lagi dapat menjadikan tulisan ini sebagai referensi tersendiri yang telah dialami oleh rekan terdekat sekalian).

Lagundi, Ring tanggal sanga likur Desember warsa kalih tali duang dasa lima.


 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Serial Perjalanan di Pulau Dewata BALI-NEGERI PUPUTAN

  Keseruan menjelajahi bali dapat dilihat di sini: https://drive.google.com/file/d/1LVGH5MW76M-FzwwkqTx4QzIIslLigGiw/view?usp=sharing