Di bawah tekanan
Hari ini, Kamis, 18 November 2021 pukul 09.00 WIB jadwal saya mengikuti zoom meeting, malam sebelumnya saya lolos dinyatakan menjadi 5 besar Kandidat Duta Rumah Belajar Provinsi Sulawesi Tenggara, saya tidak percaya, senyum dan alhamdulillah senang, tapi setelah itu saya sudah tidak nyenyak lagi tidur, saya mulai dihinggapi kepanikan, apa iya layak jadi 5 besar ya?...
Saya terima sms masuk dari Pustekom jam 22.41 Wita, satu jam lagi sudah akan larut malam, bukan kebiasaan malam saya, paling terlambat jam 9 malam lewat saya sudah tidur lelap.
Saya dalam posisi standby sampai dengan jam itu, karena pada sore sebelumnya, kakak Miko; bapak Naila datang memberitahukan bahwa malam ini, ba'da Isya akan ada pembubaran panitia pernikahan adik Sri Devi dan Suami, kebetulan saya juga yang dipercayakan menjadi ketua Panitia. Kegiatan pembubaran panitia terpaksa harus molor dari jadwal yang dijanjikan, kalau mulai dari jam 19.15 wita, waktu 1 jam untuk sesi permohonan maaf, dan ucapan terima kasih antara panitia dan tuan rumah serta sesi jamuan malam penutup, harusnya sudah tuntas di pukul 20.15 atau lewat.
Hujan mengganggu, turunnya tidak tanggung-tanggung udara juga mendukung, kegiatan pembubaran pun baru dimulai setelah pukul 21. 00 malam, perut sudah keroncongan, saya membuang kata sembari menyeloroh “jam begini biasanya sudah jam tidur saya, sudah kenyang mi hehehe”.
Jadilah panitia amal membantu pernikahan warga selesai. Saya Alhamdulillah,
meski perannya sedikit, tidak bisa membantu banyak, saya bersyukur bisa memberi
manfaat walau hanya sumbangsih pikiran saja.
Pulang-pulang malam sudah larut, baru rebahan saja, bunyi pesan masuk, saya baca lolos 5 besar
saya sudah mulai tidak nyenyak tidur. Betul kata saya sebelumnya di awal-awal
senang, dari 30 besar di provinsi jadi 5 besar itu prestasi, tapi saya mulai panik,
saya mempertanyakan kompetensi saya, di akhir refleksi, saya setuju, para juri mungkin
bukan mengambil yang terhebat, tapi yang benar-benar mengena, kebetulan
orientasi saat pelaksanaan tugas sebelumnya, saya bekerja begitu saja, apa adanya, berbagi
kepada peserta didik saya, begini loh pemanfaatan Rumah belajar. Tidak muluk-muluk.
Pagi datang, sudah jam 10 pagi, sudah saatnya masuk Zoom, saya persiapkan semua peralatan pendukung, dari kipas angin reyot, colokan 4 lubang, tikar plastik berwarna hijau untuk green screen kamera, laptop, dan paket data internet, saya juga sudah minta izin pimpinan untuk tidak masuk kelas pada mata pelajaran ketiga atau terakhir. Kelas pertama kelas 7 sudah saya atasi, materi tentang tell the location of public places aroound us juga complete saya demokan, tinggal kelas IX, kebetulan masih tema mengidentifikasi struktur teks atau unsur kebahasaan dari past, present, dan future continuous tense yang dikontekstualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Saya mau mereka mengolah data, mencari mana sih kalimat-kalimat yang mengandung unsur itu, membedahnya dan menunjukannya dalam unjuk kerja siswa. Tapi tidak sempat.
Saya titip pesan kepada ketua kelas untuk mencari sumber
materi yang berkaitan dengan peristiwa yang dilakukan tentang
tindakan/kegiatan/ kejadian yang sudah/telah dilakukan/terjadi di waktu lampau
tanpa penyebutan waktu terjadinya secara spesifik, sebagai kelanjutan materi,
mereka juga dapat diperkaya dengan mengakses portal Rumah Belajar. Saya singgung
dulu materi itu, minimal sebagai pengganti ketidakhadiran saya.
Kepala sekolah memberi izin, saya pulang.
Saya siap, perangkat saya semua siap. Pukul 09.40 Wita tiba-tiba jaringan telepon hilang, internet juga blank, saya senyum kecut, kok tidak seperti biasanya, saya sedih juga, mungkin bukan jodoh berpartisipasi di penjelasan teknis ini.
Sabar menunggu, alhamdulillah meski telat masuk jam 10.20, dan mbak Nisa Madani dari Pusdatin sebagai pembawa acara sudah membuka kegiatan dengan mengucapkan selamat datang pada para Sahabat Rumah belajar dari semua provinsi, di room kami ada 177 peserta yang sudah ikut tergabung. Saya mengikut saja, menyesuaikan, saya benar-benar beruntung berada dalam level ini, berada di room ini, saya merasa tekanan menjadi 5 besar dan dipercayakan menjadi perwakilan dari tim provinsi semakin berat.
Melihat beragam profil, dan orang-orang yang
berkecimpung dalam 170 Sahabat Rumah Belajar ini adalah seperti oase saja, saya kagum bisa bersama dengan orang-orang hebat ini, saya semakin sadar bahwa banyak orang di luar sana, sedang berjuang untuk pendidikan Indonesia, saya sangat berbahagia mendengar dan melihat beragam pengetahuan dan pengalaman dari orang-orang yang terpilih ini.
Ini terjadi, penjelasan pak Arief Darmawan selaku pengembang teknologi pendidikan dari Pusdatin juga, ternyata banyak memperoleh inovasi pembaharuan informasi pengembangan pendidikan dikarenakan aksi nyata yang dilakukan para guru. Portal Rumah Belajar yang menjadi domain utama program ini ternyata benar-benar dapat diakselerasi dengan baik oleh para guru untuk dimanfaatkan dalam proses pengayaan pembelajaran.
Dari data Google analytic yang dipaparkan beliau yang diambil Januri 2014 – September 2021 menunjukan pengguna portal Rumah Belajar sudah 21.893.914. dan total kunjungan pada portal ini sebanyak 228.528.376, ini tidak terlepas dari dukungan pemerintah pusat dan pastinya dari peran bapak ibu membumikan semangat belajar terintegrasi TIK ini,
Hal yang menjadi penekanan di sini, kegiatan yang kami ikuti saat ini bukan sebagai ajang pembuktian bahwa saya atau kami adalah orang-orang hebat di provinsi, jauh dari itu kami dipercaya sebagai seseorang yang akan bersama-sama mengajak untuk perbaikan mutu pendidikan, seseorang yang bisa memberi manfaat kepada orang lain.
Tentu saja menjadi Duta Rumah Belajar Provinsi atau Duta Rumah Belajar Nasional adalah satu
dari sekian tujuan besar dalam penjelasan kali ini, menjadi Sahabat ataupun Duta Rumah Belajar menjadi satu titik awal pembaharuan pendidikan kita, dan itu
dapat dimulai dengan menempatkan kompetensi kita dengan cara-cara yang tepat dan
baik. Persiapkan diri untuk menjadi yang terbaik.
Saya sangat beruntung mengikuti pembekalan ini, selain pak Arief, kegiatan juga diisi oleh
pak Berry Devanda Duta Rumah Belajar Sumatra Barat yang mau berbagi tips dan
trick dalam mengikuti kegiatan seleksi
yang sedang kami ikut saat ini.
Berbagi tentang CV, Critical Incident, sampai
dengan kegiatan yang akan dilaksanakan terkait dengan aksi-aksi kita sebagai
pembaharuan pendidikan dalam bingkai Sahabat atau Duta Rumah Belajar.
Pentingnya personal branding, penulisan CV yang
dapat dimulai dengan menuliskan potret diri sesuai apa adanya, dan kiat-kiat
menghindari pertanyaan yang akhirnya hanya menyulitkan diri kita sendiri dalam sesi wawancara dan eksplorasi peserta oleh panelis, tulis dan buat apa
adanya.
Selain itu, sebagai yang awam akan pemahaman tentang critical Incident, menjadi satu bibit pengetahuan baru untuk saya, penjelasan pak Devanda menyederhanakan konsep saya memaknai critical Incident yang dimaksud. Sejauh mana impact / pengaruh dari kehadiran atau peran yang anda bawa dalam suatu komunitas itulah yang dimaksud dengan critical Incident. Serta beberapa saran terkait cara kita menjawab interview yang memerlukan jawaban-jawaban yang terukur serta berbasis data terbarukan, yang paling terpenting adalah bagaimana peran anda jika menjadi seorang Duta Rumah Belajar, menurut beliau munculkan persepsi; baru mau jadi Duta Rumah Belajar saja sudah akan berbuat hebat seperti itu, apalagi jika sudah menjadi Duta Rumah Belajar.
Penjelasan pak Berry Devanda dan kiat serta saran yang komprehensif membuat saya semakin menyadari, kita itu sebagai manusia, tidak salah memperbanyak koneksi. Prinsip belajar di mana saja, kapan saja dengan siapa saja, memang sangat mengena di sesi diskusi pamungkas ini, saya menyebutkannya begitu, paling tidak ini bisa jadi modal bagi saya untuk menelurkan pengetahuan yang saya serap dari berbagai orang hebat, ditutup dengan penjelasan teknis tentang kegiatan pra-pelaksanaan dan pelaksanaan seleksi, serta arahan untuk selalu mengecek jadwal kegiatan, dan praktik-praktik baik pemanfaatan portal Rumah Belajar.
Kegiatan ini benar-benar mengayakan saya. dimulai dari Mei - November, dari level 1,level 2, level 3 dan level 4, dan masih ada lagi, sesi 30 besar, sesi 5 besar, pikiran saya sudah seperti ditimpuk banyak-banyak hal, ditambah tadipula beragam instruksi atas kejelasan tugas akhir di sesi zoom meeting yang dimulai dari jam 10 sampai jam 1 siang, semakin menambah banyak timpukan dalam kepala saya. Puyeng.
Saya ambil sisi positifnya, kegiatan ini memberi manfaat lain, selain menjadikan kita sebagai Pembelajar berbasis teknologi, ini juga melatih kemampuan kita melakukan menejemen waktu, menjaga disiplin, integritas, dan pengokohan kita.
Kalau lihat pamflet-pamflet lowongan kerja di swasta-swasta, salah satu syarat yang diajukan adalah mampu bekerja di bawah tekanan. Saya rasa ini salah satu contohnya, kita memang harus seperti ini. Mampu bekerja di bawah tekanan, soalnya kalau beres semua tugas-tugas, rasanya plong, dunia ringan saja. sensinya adem sekali.
akh..bapak ibu yang sudah pernah merasakan pasti maklum, kalau yang belum?, monggo dicoba bapak ibu, ini benar-benar di bawah tekanan!.
heheheh....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar