Amplop Merah
Oleh: Honayapto
Pagi ini hujan turun teramat deras, lesakkannya seperti ingin meleburkan jejak-jejak kenangan yang pernah bersemi di tanah ini.
Benih kecil bunga krisantium perlahan tumbuh menyeruak di tengah padang hijau rerumputan liar.
"Delia... Delia, tunggu gue, tunggu" di belakangku tergopoh seorang remaja lelaki.
"Pram, loe kalau mau masuk gerbang, ya udah masuk aja, gak usah manggil-manggil" sungutku.
Lelaki blasteran Sunda-Jawa ini selalu menjadi biang kerok dalam lembar-lembar diariku. Dari senior yang suka kagetin, teriak-teriak memanggil tanpa adab, seragam yang stylenya kemana-mana, sampai sifat jahilnya sama Susi, teman culunku.
Gaya rambut yang mohak dan pecicilan melengkapi kesan 'badboy'. Pak Wahab sudah sangat-sangat hafal alasan konyol dari lelaki ini.
Keluar masuk ruangan BP sudah menjadi rutinitasnya.
"I..... Del, loe nyantai aja kali, gua cuma manggil loe doang kok, gak nodong duit loe, gak perlu karcis kan". Ujarnya sembari cengengesan.
"Terserah loe". Balasku ketus.
"Eit minggu depan, si Fatur abangnya Radit ada acara syukuran, loe mau gak temani gua bareng-bareng kesana. Naik mobil porsche punya bokap gua, orang kaya Del.... Mau gak?", sosornya sombong di sampingku.
"Hahhaha.... Pram, gaya loe selangit, ya elah... Naik prosche, naik odong-odong kale", jiwa pecicilanku juga akhirnya keluar, siap meladeni jiwa gila lelaki berkulit putih ini.
"Sorry ya... Pram, kegiatan eksul lagi berabe minggu ini, mas Athar lagi ketat-ketatnya ke sekretaris ini", terangku menolak halus ajakannya.
Di selasar sekolah, kami berbelok kanan, menaiki sedikit undakan, arah kelas XI IPA dan XII IPS memang satu koridor, kami tak harus berjalan berpisah.
"Elu thu ya, kalau sama Si Athar, gayanya bukan main, woi Athar itu bukan emas, napa sih, manggil Athar doang, apa susahnya, lagian Osis itu gak ada guna, bikin pala Limbad pusing?" dongkolnya protes.
"Yeiii... Suksukga, Suka-suka gua, Lidlidga, Lidah, Lidah gua hehehhe". Ujarku dengan tengiknya.
"Akh.... Malas, gua jemput loe di rumah, bye Karibku". Pramudya berjalan cepat, tak ada balasan yes atau no dari saya, hilang tengiknya, muncul aura wibawanya, dan tak ada canda lagi.
Dia selalu protes kalau saya selalu memanggil Ketua osis kami dengan panggilan mas, dalam hati saya selalu bergumam apa dia menyukaiku?, tidak ada bahasa yang lain lagi, selain simbol keintimannya dalam memanggil nama selain namaku, dengan panggilan "Karibku", sahabat doang, terserah.
Kring...
Kring....
Bunyi bel listrik tanda istirahat benar-benar menyelamatkanku dan Susi, materi Elastisitas dan getaran harmonik pada hukum Hooke telah berhasil meruntuhkan IQ kami.
"Mimi, pak Donald benar-benar mati rasa ya, beliau gak ngeliat, keringat ni bukan keringat dingin lagi, nhe uda keringat kerontang", Ucap Susi dengan nada datar, sedatar teori Bumi Datar.
"Kering Kerontang woi" balasku sembari menyeruput jus strawberi di kantin sekolah.
Baru seperempat kentang goreng kami kunyah, terdengar bunyi Brkk..... Gubrak.
Kami menoleh kaget, ternyata si Pram lagi, kali ini Mas Athar si cool ketua Osis yang jadi sasaran. Meja dihantam keras dua tapak tangan si mohak, bakso dan beberapa jus jeruk jatuh terhamburan.
Tidak ada balas buka diskusi, Athar langsung menyosorkan satu pukulan keras di wajah Pram, kurang gesit Pram meringis sakit, setengah bogem mentah mendarat di pelipis kirinya.
"Jago juga loe ya", Kekeh Pram.
Beberapa saat kantin sekolah seperti arena tarung jago, Tim Athar dan Pram sudah saling serang menyerang.
Ibu Misna, tak henti-hentinya memohon agar kegiatan urak-urakan ini dihentikan.
"Aduh Tuhan, nhe anak-anak pada mau sekolah apa mau tawuran, bapak ibu loe yang ngajarin barbar gini.... Tolong".
"Si, kabur yuuukk..... Gila benar thu Si Pram".
"Yuk... "kami berdua melengos pergi.
Agenda kunjungan ke Pak Wahab sudah pasti menanti mereka.
Satu Minggu sudah berlalu, kegiatan syukuran bang Fatur juga sudah usai. Tidak ada jemputan malam minggu, sekolah juga sudah adem ayem.
Semua seperti hampa, tidak ada panggilan mengagetkan di belakang, sampai jelang detik ini belum ada pula panggilan 'Karib', gaya tengil Bule Sunda-Jawa, Pram seperti menghilang dari jejak-jejak tinta diari, seperti angin yang berhembus, terasa namun tak dapat terjangkau.
Minggu rabu, Mingu dan Minggu sudah berlalu, April, Mei, Juli seperti tatakan angka kalender yang membingungkan. Semua nanar,
"Mimi, kamu uda benar-benar pulih Del, gmana kepala loe?". Tanya Susi meyakinkan diri.
"Stop.....Pram pada kemana ya?"tanyaku basa-basi.
"Pram siapa sih?". Jawab Susi.
"Jangan bercanda, loe kenal Pram, Pramudia Elikar Arso kan?, anak kelas XII IPS?, thu anak yang gila yang suka jahilin loe? ". Serobotku tak memberi jeda pada Susi.
"Gak ada yang namanya Pram Mi, kamu cuma berhalusinasi doang".
"Ih.... Serius, swear? , kok dia gak manggil-manggil aku lagi sih? "
"Gak ada yang namanya Pram Mi, sadar".
Hari ini seperti gila saja rasanya, Susi menceritakan, bahwa ia bertugas menemaninya takut kalau kesehatanku belum pulih. Pada malam Kenduri Fatur, Athar mengajakku, apes dalam perjalanan sepeda motor yang kami tumpangi kecelakaan.
untungnya kami berdua selamat.
"Tidak ada yang namanya Athar Mi" tegas Susi, lu geger otak kali.
Peristiwa tujuh tujuh tahun silam, masih sangat membias terbayang dalam deru deras buliran air hujan.
Hari ini, pihak Yayasan Aji Suciprata Edukasi, telah menyetujui lamaranku menjadi satu dari sekian tenaga pengajar. Hasrat pada karibku Pram seperti menjadi magnet besar untuk kembali ke sekolah swasta ini.
Hujan masih saja terus turun, pukul 06:55 pagi, kujejakan langkahku, kudaki undakan kelas XII IPS, tidak ada yang berubah banyak dari ruangan senior ini.
Ruangan sudah dibuka penjaga sekolah, pintu berderit kubuka, kususuri meja-meja dan kursi, satu kertas merah menangkap pesona mataku, kuambil amlop itu.
Pelan dan kubaca perlahan.
~~~
Bandung, 18 Januari 2002
Dahagaku puas, melihat setiap jejak-jejak kakinya,
Menatap tengkuknya yang putih bersinar,
rambutnya yang pendek hitam bergelombang.
Cintaku puas berbalas kasih, walau tak bisa kuluapkan pada Karibku.
Tapi aku tahu, aku mencintai dalam setiap dimensi, aku teramat suka padanya, teramat merindu dengan kematian.
Mati dalam cinta, lalu hidup dalam kematian, lalu mencintai dengan gagahnya.
Untuk Delia S. Untuk kasihku
Pram
Amplop merah itu seperti menertawakanku, aku bergidik ngeri. Lalu menjauh dari kelas itu.
Amplop Merah, hujan terus saja turun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar