Ingin partispasi dalam Zero Deforestasi, SMPN 1 Kambowa PAS lewat Online
(Sumber: Republika)
Penulis:Honayapto*
Bulan November-Desember 2021 akan menjadi bulan yang sedikit sibuk di SMPN 1 Kambowa dibanding bulan-bulan sebelumnya. Merujuk dari lampiran 1 Kalender Akademik Nomor 36. b. I. 2020 tertanggal 29 Juli 2021 tentang Kalender Akademik T.P 2021/2022 di lingkup dinas Pendidikan Kabupaten Buton Utara, 2 bulan penghujung akhir tahun 2021 akan sedikit membutuhkan penyesuaian kegiatan pendidikan di SMPN 1 Kambowa pimpinan bapak Asrul Suleman, S.Pd. ini.
Hal ini dikarenakan pada Senin- Sabtu, 13-19 Desember 2021 di sekolah paling Selatan kabupaten Buton Utara ini, akan dilaksanakan Penilaian Akhir Semester (PAS) ganjil berbasis jaringan (online). Kegiatan berbasis digital teknologi ini diklaim menjadi salah satu kegiatan Ujian Akhir Semester perdana untuk dilakukan di level kecamatan Kambowa secara khusus dan Kabupaten Buton Utara secara umum.
Kegiatan berbasis jaringan (menggunakan Google Formulir) ini dilatarbelakangi keikutsertaan dalam upaya 'zero' Nol Deforestasi (aktivitas penebangan hutan) yang saat ini sedang menjadi isu publik dan sedang hangat-hangatnya diperbincangkan.
Kritik Greenpeace terhadap pidato Presiden Republik Indonesia pada KTT Perubahan Iklim PBB (COP 26) di Glasgow, Skotlandi, Inggris (Senin, 1 November 2021) berujung dengan memanasnya isu keseimbangan lingkungan tersebut.
Namun, SMPN 1 Kambowa tidak dalam posisi untuk itu, SMPN 1 Kambowa ingin mengimplemetasikan langsung pembelajaran berbasis TIK sebagai jawaban atas tantangan pendidikan di era Industri 4,0, tantangan tersebut sebagai upaya mendapat dua keuntungan langsung dalam penerapannya, di samping ingin pelan-pelan mulai bertransformasinya pendidikan di sekolah tersebut, upaya PAS berbasis jaringan ini juga akan membawa dampak secara langsung pada giat Zero Deforestasi.
Asumsi ini hadir dikarenakan kemudahan-kemudahan pembelajaran terbantukan teknologi di antaranya:
- Pengerjaan sistem ini akan mendorong tingkat pengembangan keprofesian berkelanjutan dari tenaga pendidik yang juga akan membiasakan peserta didik sekolah ini dalam ranah yang sama, sehingga masyarakat society 5,0 dapat dibentuk perlahan.
- Hasil penilaian dapat dilakukan secara efektif dan efisien, tenaga pendidik akan dengan cepat mendapatkan hasil pengerjaan peserta didik, secara real time dan real action, sehingga upaya pengayaan dan tindak lanjut hasil evaluasi dapat segera direncanakan dan dilakukan dengan masa yang efektif pula.
- Peserta didik terbiasakan mendapati kegiatan pembelajaran terintegrasi teknologi, sehingga adaptasi pembelajaran sudah dibentuk sejak awal; tanggap teknologi.
- Peran Zero Deforestasi pelan-pelan diharapkan dapat mulai menyebar di kabupaten Buton Utara, diinisiasi SMPN 1 Kambowa.
Disinggung giat seperti apa Zero Deforestasi tersebut, salah satu guru yang juga menjadi 5 besar kandidat Sahabat Rumah Belajar Buton Utara dari SMPN 1 Kambowa, Honayapto menuturkan isu Zero Deforestasi memang benar-benar dapat dimulai dari dunia pendidikan, di SMPN 1 Kambowa.
"Bayangkan saja, jika ingin mendapatkan 1 rim kertas (500 lembar) diperlukan 1 pohon berusia 5 tahun. Jika di sekolah kami ada 157 siswa mendapatkan 1 mata pelajaran dengan jumlah kertas soal yang dibutuhkan sebanyak 3 lembar per mapel, maka untuk 10 mapel dibutuhkan 4.710 eksemplar, itu berarti butuh 9-10 Rim kertas dan atau 10 pohon dalam setengah tahun dan 20 pohon untuk 1 tahun hanya untuk pembuatan soal"
Menurut guru pendidikan bahasa Inggris ini, jika Buton Utara dengan 1 tahun aksi saja menggunakan penilaian berbasis teknologi, meninggalkan penggunaan kertas. jumlah siswa SMP se-kabupaten Buton Utara ada sekitar 3.996 membutuhkan 119.880 eksemplar kertas atau butuh 240 pohon dan atau 480 pohon dalam 1 tahun akan memberi sumbangsih besar dalam isu climate change ini
"Jika upaya integrasi digital benar-benar dapat secara umum disalurkan dalam dunia pendidikan bukan tidak mungkin kita dapat menyelamatkan bumi dan berpartisipasi aktif dalam perubahan Iklim dunia, sesuai dengan kerja keras pemerintah melalui langkah-langkah kecil dan nyata. untuk Sulawesi Tenggara saja jumlah siswa 682.468 (Semua level/jenjang) diasumsikan melakukan PAS dengan kertas 3 lembar per satu mata pelajaran, dan butuh 10 mapel untuk dikerjakan, maka ada 2.474.040 kertas yang tidak digunakan dan ada atau 41.000 pohon yang bisa diselamatkan dalam setengah semester, dan itu berarti 82.000 pohon dalam kurun waktu 1 tahun berjalan dapat terus menjadi sumber oksigen bagi dunia. Dilansir dari https://dapo.kemdikbud.go.id/pd dengan total 52.207.300 peserta didik di seluruh Indonesia saja, sudah ada kontribusi besar dunia pendidikan Indonesia terhadap isu climate change tersebut, sebanyak 1.566.219.000 eksemplar kertas yang diperlukan dan atau 3.133.000 pohon dan atau 6.266.000 pohon dalam 1 tahun tidak lagi dibutuhkan. Betapa dahsyat tindakan kecil ini".
Dimintai tanggapannya, Asrul Suleman, S.Pd. mengiyakan kegiatan yang mulai akan dilaksanakan 13 Desember 2021 ini.
"Kegiatan ini nampak terlihat kecil dan biasa-biasa saja, namun silakan diasumsikan sendiri, jika semua bergerak, ini akan menjadi langkah besar yang spektakuler, seperti tema hari Guru nasional tahun 2021 ini, Bergerak dengan hati Pulihkan Pendidikan, kami juga ingin memulihkan dunia." tutupnya.
SMPN 1 Kambowa nampaknya bisa jadi inisiator gerakan akbar ini.
* Kandidat DRB Sultra 2021
Artikel ini juga tayang di SMPN1KAMBOWA.BLOGSPOT.COM (Blog sekolah)
Ide yang sangat bagus ,karena dengan kegiatan seperti ini kita dapat menyelamatkan bumi. Semoga kedepannya sekolah yang lain yang ada di Buton Utara bisa melaksanakan juga kegiatan ini
BalasHapusSiap bu guru.
BalasHapus