Laut

 Laut


"Anuru....ooo...Anuru..."
Konomemehadamo mate laru kaasi".
Ratapan ini adalah ratapan yang kesekian kalinya yang muncul dari mulut Wa Rumpia, tak terhitung lagi jumlahnya, di mana-mana saat perasaanya kalut, saat emosinya memuncak, saat hatinya kadung sedih.
Sesal atas kematian suaminya seperti rapalan wajib. Kalimat itu tak ubahnya seperti mantra yang telah melekat erat dalam rongga kepalanya.
5 tahun silam, peristiwa itu menggegerkan seisi kampung, la Anuru mati disambar petir saat ia turun melaut, wa Rumpia istrinya berteriak seperti orang gila, meraung sejadi-jadinya, ember-ember ikannya ia buang saja, terpental kemana-mana, anjing datang berebut, tak ia pedulikan lagi.
Rambutnya yang bau amis ikan, kakinya yang tidak bersendal, dan sarung abu-abu itu, seperti mengesahkan bahwa ia memang adalah wanita termalang di dunia.
Ia berlari saja, lupa dengan haluan orang-orang, ia ingin menemui suaminya di laut. Mati saja.
Tubuh La Anuru sudah menghitam, akar-akar rambut sisa satu-satu, bibirnya sudah lebam, petir di laut itu telah mengantarnya di sisi Tuhan, bukan hanya mengantarnya tapi juga mencabut kewarasan Wa Rumpia. Sejak hari itu jika timbul sedihnya, ratapan kematian suaminya terus diulang-ulang. Di pasar, di jalan, di kebun, di kuburan dan di rumahnya.

"Pokoinaha.....teronokau ini".
"Umbe ege, poni teikanau nde habu ini"
"Mohaemo komiu pendua garaitu?".
"mena ege".
Ibu menyuruh saya, mengantar sayur nangka, kebetulan nangka sudah banyak berbuah di kebun, cocok dimasak sayur, ayah mengambilnya sebiji.
Mengantar sayur, adalah rutinitas, kata ibu tetangga adalah keluarga, memuliakan tetangga adalah ajaran Nabi, berdosa jika kita kenyang tetangga sedang kelaparan.
Wa Rumpia adalah tetangga dekat, rumahnya di bibir pantai, sepuluh kaki berjarak dari rumah, kalau bertamu harus bersuara keras, beda kalau ia meratap, sedikit saja suaranya, berlirih saja, suara ratapnya terdengar sangat jelas.

Saya naik lagi, langsung kedapur, menaruh dan menyalin sayur ke dalam mangkuk perempuan ini.
Seperti sebelum-sebelumnya, wa Rumpia bibi tua, akan senang dengan kedatangan saya, ia menyambut dan menawarkan lagi satu cerita.
Ya...seperti yang lalu-lalu, saya selalu menangis, tersedu sedan akan kisahnya. Sampai larut ibu juga akan menjemput pulang.
Kali ini, ia bercerita dan menutup kisahnya.
Dia tuturkan bahwa ia membenci pada laut, teramat kebencian itu seperti hati teriris sembilu, berkarat dan berurat, takkan mampu dilepaskan.
Dari cerita-ceritanya sayapun mulai membenci laut. Mulai membenci pada kemelaratan.
"Anuru....ooo...Anuru..."
Konomemehadamo mate laru kaasi".
Ahumawomo pokoinaha.
Ibu memegang lenganku. Lalu aku pamit pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Serial Perjalanan di Pulau Dewata BALI-NEGERI PUPUTAN

  Keseruan menjelajahi bali dapat dilihat di sini: https://drive.google.com/file/d/1LVGH5MW76M-FzwwkqTx4QzIIslLigGiw/view?usp=sharing