Padepokan Pembatik
Oleh: Honayapto
Di tahun 90-an, serial laga Wiro Sableng yang diadaptasi dari Novel Populer karya sang Maestro Bastian Tito adalah siaran elektronik yang selalu dahsyat untuk ditonton.
Semuanya antri menunggu, rela berjalan kaki berkilo-kilo menuju ke desa tetangga yang menyediakan fasilitas nonton bersama, atau bahkan siap menyelundupkan mata, mencari lubang-lubang di rumah kayu pemilik televisi bertabung, mencuri adegan, mengintip aksi-aksi laga serunya pukulan Matahari dan atau jurus kunyuk melempar buah dari seorang pemuda sableng yang sakti mandraguna.
Wiro Sableng adalah murid semata wayang dari Eyang Sinto Gendeng seorang yang akhirnya mewariskan Kapak Maut Naga Geni dan Tanda 212 yang abadi di dada dan tapak pemuda yang ditinggal mati oleh ayah dan ibunya ini.
Tidak lain tidak bukan, muara perjalanan pemuda tersebut adalah menumpas segala kebatilan dan kejahatan, tentu saja dengan segala kesederhanaan yang dimilikinya.
Anda-anda yang generasi 90 an, pasti tidak perlu bertanya, "Siapa Wiro Sableng?".
Sebagai penggemar adegan laga dan juga film-film bergenre aksi, saya selalu kesulitan melepaskan diri dari krisis cara pandang saya melihat dunia pendidikan dalam perspektif sebagai dunia persilatan.
Sekolah adalah seumpama sebuah padepokan, ada seorang guru yang berjubah putih panjang, suka bersemedi, dan banyak ilmu-ilmu serta pengalamannya.
Ada murid-murid padepokan, dan segenap peraturan keguruan yang perlu dipahami dalam menuntut ilmu Kanuragan yang baik. Jika ada padepokan golongan putih yang selalu diasumsikan sebagai pembela kebenaran, maka ada hal pula yang bertentangan dari semua itu. Ada juga padepokan dari golongan hitam.
Semuanya terlihat sangat asyik dan menantang, jika menjadi saya, saya ingin berupaya menjadi dari golongan putih, selalu kalah pertempuran di awal-awal namun pada akhirnya golongan putih, pahlawan kebajikan, penumpas kebatilan yang selalu memenangkan laga pertempuran.
Ya, seperti hari ini, hari perdana kami melaksanakan coaching clinic Pembatik Level 4 yang mulai diselenggarakan pada Selasa, 2 November dan dijadwalkan selesai Jumat, 5 November 2021.
Saya bersama rekan-rekan lainnya memakai kampurui dan baju tenun adat Buton dan pakaian khas adat daerah lainnya di Sulawesi Tenggara tampak gagah dan seperti para murid-murid yang tergabung dalam sebuah padepokan Pembatik, membayangkan ini sampai sekarang saya masih saja senyum-senyum sendiri.
Betapa saya dapat beruntung bertemu guru-guru hebat dari para Duta Belajar 2017, 2018, 2019, dan 2020 Sulawesi Tenggara dalam lingkaran ini, yang bersama-sama ditemani dari tim Pusdatin Jakarta, serta pembukaan kegiatan yang dibuka secara resmi dari orang nomor wahid di jagat dunia pendidikan bumi Anoa, pak Asrun Lio.
Kami mulai berlatih Kanuragan, menyimpan banyak ilmu-ilmu yang ditransfer bagaimana kami harus berkomunikasi secara tepat, memahami diri kami dan kompetensi kami, kemudian mulai saling mengenal satu sama lain sebagai upaya semakin mengukuhkan rasa persaudaraan dalam perguruan ini.
Dan tentunya tantangan-tantangan tangguh jawab di masa depan yang perlu dijunjung tinggi dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Tiada lain, tidak bukan untuk memberantas kebatilan, memantaskan diri menggembleng anak-anak didik kami menjadi masa depan bangsa, dan menjadi pelita-pelita penerang.
Hari ini, saya semakin merasa kecil, niat hati ingin tampil seolah menjadi pemuda dengan ilmu Kanuragan yang telah mumpuni. Namun sesaat tiba di padepokan ini, padepokan Pembatik saya akhirnya sadar bahwa ilmu adalah sesuatu yang tinggi, tidak ada batas untuk ilmu. Ilmu saya masih terlalu jauh dan amat kecil.
Dan dengan takzim dan mengayomi para guru berkata "Sejatinya ilmu yang hebat adalah ilmu yang dapat memanusiakan manusia. Itu muara ilmu kita, itu akhir dari padepokan Pembatik".
Dan di penghujung akhir, semakin tinggi dan besar pula rasa hormat pada Padepokan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar