Jalan-Jalan Perubahan
Oleh: Honayapto
Pak Sumitro kepala Sekolah, beliau masuk di kelas 5 SD, pada saat itu guru kelas berhalangan hadir. Maka gantilah beliau yang masuk mengganti mata pelajaran yang kosong.
Saya melihat tulisan Onion, Garlic, dan beberapa sapaan yang asing "Hello, good morning, how are you", begitu dituliskannya di papan tulis, goresan kapur-kapur itu semakin menambah nuansa aneh, kok tulisannya terbaca "Helo, gut moning, hau ar yu?". Itu jelas salah, ejaan bahasa Indonesia, tidak seperti itu. Ini bahasa asing. saya tidak memahami dan menerima ini.
"Pak kenapa lain tulisan, lain pula bacanya, artinya apalagi. Bahasa apa ini?". Kepala sekolah berpeci hitam khas presiden Soekarno lantang menjawab. Ini adalah Bahasa Inggris, bahasa orang-orang berkulit putih. Belajarlah bahasa Ini, bahasa ini bahasa dunia.
Sejak saat itu, bahasa Inggris menjadi bagian dari dalam diri saya, di sekolah menengah pertama, pak Pade, hampir sepanjang tahun ajaran baru, materi dan pendekatan pembelajaran yang dilakukan beliau, dapatlah saya masukan dalam orang-orang yang berpaham strukturalis, kunci 16 perubahan waktu, seperti kami khatam saja.
Jujur, tempaan tersebut, membantu saya mendekap bahasa asing ini, perbendaharaan bahasapun semakin berkembang, jurusan perhotelan di sekolah kejuruan semakin membuat saya kaya dengan kata-kata orang Eropa ini. Bolehlah saya berkunjung ke pelepor renaisans ini.
Namun sayang seribu sayang,sampai saat ini, keinginan untuk menginjakan kaki di benua Biru tersebut, tak kunjung kesampaian, ini adalah hasrat terdalam dan terkuat dalam diri saya. Apa sampai mati tidak ada kesempatan untuk kesana?. saya menguburnya!.
Tapi itu biarlah, kalau toh pun ada kesempatan, kita akan manfaatkan dengan sebaik-baiknya. kali ini dimensi sudah berbeda.
Saya dipercaya negara untuk mengajarkan bahasa Asing ini, saya tahu saya sedikit merasa kerdil, jangan sampai kompetensi saya, tidak cukup untuk mengantarkan anak-anak saya kesana, apakah karena ketidakcakapan itu sehingga saya dan bahkan anak didik saya akan mengalami hal yang sama?. Saya khawatir.
Namun kekhawatiran mulai pelan-pelan berubah, saya tahu dunia semakin menyempit, ilmu-ilmu yang datang mencari kita, teknologi telah memporak-porandakan batasan waktu dan ruang. Peluang untuk menjadi besar, tinggi, dan selangkah lebih maju telah tersaji di depannya, sekarang di mana kita memposisikan diri.
Saat ini, di negara kita Indonesia, kesempatan itu mulai diambil oleh para pendidik kita, ternyata ada banyak orang-orang hebat yang siap bekerja keras, belajar dua kali lebih giat, dan mencoba hal-hal yang baru semakin marak saja. Saya seperti berada di rimbanya orang-orang yang memiliki semangat pembaharuan pendidikan.
Meski belum pernah keluar negeri. Saya terus saja mengamati perilaku-perilaku belajar mereka. Beberapa cuplikan adegan, saat terjadinya proses pembelajaran peserta didik bahkan lebih ganas dari gurunya, ruang kelas mereka penuh dengan alat-alat digital yang siap mendukung pembelajaran mereka.
ketika guru masuk, materi sudah dituliskan dan ditampilkan dalam layar lebar, kita mengenalnya infokus, materi pembuka yang digunakan untuk merangsang cara berpikir juga sudah diputarkan, sekali klik, orang-orang tidak diajak untuk berkhayal (meski berkhayal itu juga bagus), namun bangun kontekstualisasi pembelajaram sejak awal sudah berhasil dibangun dengan baik.
Kolaborasi bersama orang tua juga telah berjalan dengan baik suatu waktu anak-anak bermasalah peserta didik sudah tahu konsekuensi yang terjadi. bahkan konsep melindungi bumi, meghargai waktu, semangat membangun cara berpikir kritis adalah kudapan diskusi mereka sehari-hari.
Janganlah heran-heran dengan kecakapan mereka. Sayapun beramal demikian, biarlah kita orang timur terlambat dengan demikian, biasanya orang-orang yang terlambat bisa lebih cepat membaca diri, tahu akan kesalahan sehingga lebih cepat pula ia beradaptasi.
Kali ini, jalan-jalan perubahan itu sudah mulai terlihat, orang-orang sudah mulai sadar dengan peranannya, kini kita siap aksi nyata.
kita tunggu ruang-ruang kelas kita ditata dengan baik, perlengkapan dilengkapi, sumber daya dilimpahi. sehingga menjadi pembelajarpun kita menjadi senang dengan belajar.
Semoga ini adalah jalan-jalan perubahan, perubahan untuk keadaban manusia.
Salam,
*Sumber gambar; Okezone travel
Tidak ada komentar:
Posting Komentar