5 Besar

5 besar



Oleh: Honayapto

Siapa yang tak kenal dengan Umar bin Abdul Aziz. Selain dikenal sebagai khalifah adil dia juga dikenal dengan kezuhudannya. Bahkan dia didapuk sebagai satu-satunya khalifah yang kesalehan dan keadilannya disederajatkan dengan khulafaurrasyidin. 

Dikisahkan, ketika diberi amanah jabatan khalifah (raja) oleh Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz justru bersedih hati. 

Dia menggigil karena membayangkan bahwa jabatan seorang khalifah sejati tidak terlepas dari kesukaran dan tanggung jawab. 

Suatu ketika, setelah menjabat, Umar bin Abdul Aziz diketahui sedang menangis di dekat istrinya, Fatimah. Ketika ditanya mengapa menangis, dia menjawab:

"Ya Fatimah! Saya telah dijadikan penguasa atas kaum Muslimin dan orang asing dan saya memikirkan nasib kaum miskin yang sedang kelaparan, kaum telanjang dan sengsara, kaum tertindas yang sedang mengalami cobaan berat, kaum tak dikenal dalam penjara, orang-orang tua renta yang patut diberi hormat, orang yang punya keluarga besar tetapi penghasilannya sedikit, serta orang-orang dalam keadaan serupa di negara-negara di dunia dan propinsi-propinsi yang jauh. Saya merasa bahwa Tuhanku akan bertanya tentang mereka pada Hari Kebangkitan dan saya takut bahwa pembelaan diri yang bagaimanapun tidak akan berguna bagi saya. Lalu saya menangis!"

Sepenggal kisah yang dikutip Syekh Mohd Iqbal dalam Misi Islam (Gunung Jati Jakarta, 1982) itu, hanyalah salah satu dari sekian cerita kesalehan Umar. 

Kisah paling populer tentangnya adalah ketika mematikan lampu fasilitas negara saat anaknya datang untuk urusah pribadi. Dia tidak mau menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan diri dan keluarganya.

Kisah di atas adalah satu kisah yang paling berkesan dalam ingatan saya, sejak saya mulai mampu membaca hingga sampai dengan saat ini, substansi dari kisah ini tidak pernah sedikitpun lepas dari memori. Tapi saya lupa nama pemimpin yang menginspirasi itu.

Dunia sudah semakin berubah, teknologi sudah canggih, dulu jika kisah itu tertuang dalam buku-buku, kini sekali ketik dan klik semua akan muncul dengan seketika. mengklik link Umar bin Abdul Aziz Menangis Dapat Jabatan, narasi pengantar di atas kembali menyegarkan ingatan saya.

Kemarin malam, saya kaget pukul 22.41 Wita sebuah pesan pendek masuk di telepon genggam saya, pengirimnya dari PUSTEKOM. Isinya begini:

"Selamat anda terpilih sebagai 5 besar kandidat Duta Rumah Belajar 2021.

Mohon untuk dapat bergabung secara daring pada:

Hari: Kamis, 18 November 2021

Pukul: 09.00 WIB

Agenda: Penjelasan Teknis Seleksi Calon Duta Rumah Belajar 2021

Tautan: (link dari kemendikbud dituliskan di sini)

Passcode : (Juga dituliskan dalam pesan pendek ini)

TTD

Panitia Pembatik"


Saya gemetar, saya adalah finalis dari 30 besar yang terdiri dari bapak ibu guru hebat di provinsi Sulawesi Tenggara, berhasil menjadi bagian dari Pembelajar Berbasis Teknologi Informasi dan komunikasi di level 4, setelah sebelumnya lulus level 1, 2, dan 3 yang diselenggarakan Pusdatin Kemendikbudristek untuk menggelorakan semangat belajar berbasis TIK melalui Portal Rumah Belajar. sudah hampir 6 bulan lamanya (sejak Mei - November 2021)

Mendapat sms ini dan juga melihat nama saya terpampang dalam surat Pengumuman Kapusdatin, saya rasa ini adalah sesuatu yang keliru, apakah dari 30 besar itu, saya benar-benar masuk dalam 5 besar?, ini keliru.


Tidak elok nampaknya, dan teramat jauh dengan sifat tawadhu dan kezuhudan pemimpin di atas, dapat saya sandingkan dengan diri yang tiada artinya ini. Setelah memastikan bahwa saya benar menjadi 5 besar, di awal-awal saya senang, namun sekarang bukan senang yang saya dapati, saya malah jadi deg-degan dan gemetar, bahkan malam yang dingin ini berlalu dengan was-was, sesekali saya terbangun. tidak nyenyak tidurnya.

Saya takut kalau-kalau saya tidak layak untuk ini, takut mengecewakan kepercayaan yang diberikan kepada saya. Saya rasa harusnya guru-guru hebat lainnya yang berada dalam posisi ini.

Saya tidak tahu jika yang lain mungkin akan bergembira, tapi jika menjadi saya, jawabannya kebanyakan TIDAK. Apapun yang namanya sebuah tanggung jawab jika diberikan kepada saya, pertama-tama saya selalu dibayangi rasa takut; dapatkah saya menunaikannya?. Ini bukan karena saya merasa melankonlis, dan mempersepsikan diri seolah-olah saya adalah seperti orang tawadhU di atas, atau mungkin karena pengaruh mental dari kisah di atas. 

secara umum memang itu, yang saya rasakan, maka ketika ada seorang kawan yang berkelakar bahwa sifat rajin untuk menjalankan tugas (Kebetulan dipercayakan menjadi abdi negara) itu seiring waktu akan memudar, hanya membuat saya senyam senyum saja. Saya telah diberi kepercayaan sanggup atau tidak sanggup saya harus bekerja secara profesional. Alhamdulillah sampai saat ini sikap rajin itu belum memudar.

Terlepas dari hasilnya, saya terus mencoba untuk melakukan yang terbaik. kali ini tanggung jawab itu datang lagi. 5 besar kandidat Duta Rumah Belajar 2021, seperti biasa, saat ini saya juga gemetar dan takut. 


Tapi saya akan mencoba melakukan yang terbaik.

Hmm.........

(Baca juga: SMPN 1 Kambowa loloskan 1 Guru jadi 5 Besar Kandidat DRB 2021)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Serial Perjalanan di Pulau Dewata BALI-NEGERI PUPUTAN

  Keseruan menjelajahi bali dapat dilihat di sini: https://drive.google.com/file/d/1LVGH5MW76M-FzwwkqTx4QzIIslLigGiw/view?usp=sharing