Remaja 35 Tahun, Falsafah Andrea Hirata, Kuat-Kuat

Remaja 35 Tahun, Falsafah Andrea Hirata, Kuat-Kuat


(Serial Keempat Petualangan di Negeri Puputan-Bali) 

Harusnya ini menjadi tulisan yang kelima untuk mendokumentasikan perjalanan saya, karena sekarang sudah tanggal 25 Desember 2025, dan saat menengok jam di HP sudah pukul 05.27, tidak tahu kapan selesai tulisan ini akan saya buat, tanggal sebelumnya tanggal 24 Desember 2025 kemana?, saya melewatkannya persis tidak ada waktu untuk menuliskan, kayak tutup buku, saya ingin seharian itu tuntas saya jalani baru saya tuliskan, dengan demikian saya bisa merangkum semua kegiatan saya tanpa terjeda suatu peristiwa lalu mencoba mensinkronkan kembali, jadi saya tidak kehilangan konteks kejadian dalam hari itu. 


Saya kira setelah melewati pelabuhan Bima menuju pelabuhan Gilimas Lembar pulau Lombok jaraknya mungkin hanya akan ditempuh beberapa jam saja seperti jarak Labuanbajo dengan pelabuhan Bima yang ditempuh sekitar 5-6 jam, jadi saya langsung pamitan kalau-kalau saya tidak bisa mendokumentasikan pelabuhan Lombok ya karena saya sudah tidur, sudah tuntas episode hari itu, dan melewatkan kesempatan untuk berfoto dengan Lombok, ternyata tidak. 

Kapal yang berangkat sekitar jam 8 malam dari pelabuhan BIMA ternyata terus berlayar sampai jauh ke pulau Lombok, kami tiba di Lombok sudah jam 4 sore waktu setempat, berapa jam itu? 20 jam ya, karena internet sepanjang perjalanan ini lebih baik dan didukung fasilitas charger HP dari KM Tilongkabila saya lebih leluasa mengakses HP, saya buka maps ternyata jarak pelabuhan BIMA meskipun masih satu wilayah administratif dengan Lombok Gilimas Lembar, ini terpisah jarak yang cukup jauh, 2 pulau yang berbeda hanya masih 1 gugusan yang memanjang, karena mungkin melewati pulau-pulau jaringan internet lebih stabil, berbeda dengan pelayaran dari Kota Makassar menuju Labuanbajo yang akses internetnya terbatas karena harus memotong dan menyebrangi laut Flores. 

Namun secara umum perjalanan tidak dihiasi dengan drama keras ombak, saya tidak mengalami mabuk laut, keras ombak baru terasa pada perjalanan dari Bima ke Lombok ada sekitar 30 menit keras ombak, namun level yang berbeda sewaktu saya melakukan perjalanan dari Surabaya menuju Jakarta, saya sampai harus ditreatment seorang polisi dari Ternate si Man, teman 1 kamar saya, bisa baca serial perjalanan saya dengan judul HADIAH. 


Perjalanan normatif, ombak yang hanya menjadi ombak, tidak keras, tidak landai, ya... sekadar ombak saja, saya juga lebih menikmati perjalanan, khas perjalanan laut, 3 x makan, pagi, siang, malam, dengan menu-menu yang dibuat variatif, pagi lauknya ikan bandeng, sayur 2 potongan kacang panjang, 1 potongan wortel, dan beberapa lembar daun kol, serta sambal saset yang ditambahkan dengan menu pencuci mulut berupa wafer, susu kotak, teh kotak sosro yang diganti-ganti saja, oh ya... kerupuk putih udang juga sebagai pelengkap makan, air mineral sudah pasti, pagi ukuran kecil malam dan siang ukurannya gede yang isi 600ml, kalau nasi oh.. ya itu barang wajib, nasinya hanya porsi segenggam bagi saya dengan berat badan 86kg (data terakhir), cocok seia sekata dengan permintaan ina, makannya dikurangi, walau kebanyakan lapar saya jaga betul untuk tidak tambah atau jajan makan. Disamping ada perintah itu, saya diet ongkos juga. Karena saya tahu saya ini menuju Bali pasti ongkos utamanya biaya nginap pasti akan mahal. 

Karena saya juga orang pariwisata di musim libur natal dan tahun baru begini, ini kategori High Season tingkat okupansi atau hunian kamar akan sangat tinggi, hotel dan jenis penginapan lainnya akan menaikan tarif kamar di atas normal, mau bilang apa, itu teori ekonomi harga barang naik seiring naiknya permintaan terhadap barang, apalagi barangnya sedikit, pastilah akan naik. 

Kegiatan naik turun tangga, ke dek 3 naik dek 5 dan 6 hanya untuk sekadar melihat pemandangan alam kiri kanan, atau melihat matahari terbit dan terbenam, sampai aktivitas sholat yang dijamak qashar sebagai shalat musafir adalah rutinitas harian sampai saya tiba di pelabuhan terakhir Benoa Bali. 


Kenal ASU khususnya dengan 1 nenek dan 1 cucu juga sebelumnya ya... terjadi juga begitu saja, kenal tapi tak tahu nama, itu kenal ASU namun ini tidak berlaku dengan anak remaja laki-laki SMP kelas 7 dari SMP Negeri 1 Sape Kota Bima yang naik dari pelabuhan Bima hendak berpesiar ke Lombok menjadi kawan sesaat dan seru kami, khas anak-anak orang-orang kaya, Riski namanya penumpang dek 5 ikut ke dek 3 sekadar untuk bercengkrama dengan anak remaja cucu tetangga bed saya, mau tidak mau saya juga diganggu dan terlibat didalamnya, dia nanti berhenti ganggu atau tepatnya seru-seruan saja tanya ini tanya itu setelah tahu saya adalah guru, saya buka Google baru dia percaya, padahal ributnya saat bermain game freefire dan berkomunikasi dengan teman yang lebih tua darinya. 


Kami berpisah dengan Riski bersama ibu dan neneknya serta 1 adik perempuannya yang kelas 4 SD saat mereka turun di Gilimas Lombok, Riski yang anak tentara angkatan laut ini juga melambaikan tangan saat berpisah, keluarganya juga begitu. 


Saat melihat google maps, dan bertanya juga di sana, kecantikan Gilimas Lembar Lombok juga tidak kalah cantik, masuk area Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) juga, vibe pelabuhannya mirip seperti Tomia salah satu wilayah di kabupaten Wakatobi, masuk menjorok kedalam teluk yang dikelilingi gunung dan pegunungan cantik, pelabuhan Lombok tak kalah cantik dengan Labuanbajo, ini bahkan dilengkapi dengan lanskap pantai pasir hitam yang memanjang yang dipadati banyak orang yang sedang bersenang-senang. Bedanya dengan Labuanbajo hanya jumlah kapal-kapal yang berlabuh, masih banyakkan di Labuanbajo, namun di Gilimas Lombok ada pelabuhan khusus terpisah dengan pelabuhan Ferry, saya tahu karena dijelaskan kalau biasanya para wisatawan dari Bali juga biasanya ke Lombok akses feri di pelabuhan yang sama tapi posisi yang berbeda. 

Oh... saya kaget sebenarnya, kalau lihat jarak dengan Lombok dan Pulau Bali untuk akses pelabuhan harusnya jaraknya kayak kota Baubau dengan Makassar, apalagi jadwal kapal molor, di tiket tiba di Benoa jam 8 malam, kalau lihat jarak itu, berarti saya tiba di Bali harus tanggal 26 dan mungkin pagi karena 12 jam, ternyata tidak saudaraku sekalian. 


Akses dari Benoa Bali ke pelabuhan Gilimas Lembar Lombok hanya butuh 5-6 jam saja, kami sandar jam 4 sore, angkat jangkar dan berlayar di jam 5 kami tiba di Benoa jam 10 malam, terhambat sedikit, ada 1 jam sebelum kedatangan kami terayun gelombang setinggi 2-3 meter, tapi lagi-lagi tidak separah perjalanan ke Surabaya sebelumnya. 

Saya lebih stabil, padahal ombaknya keras, atau mungkin saya sudah master perjalanan ya.... Saya tidak tahu benar atau salah, apa ini masih laut Flores tapi bisa jadi, dan saya tambahkan dengan Selat Bali, ombaknya keras saya sampai kabur dari dek 3 menuju dek 5 untuk jaga-jaga kalau-kalau ada apa-apa. 


Dekat-dekat Bali saya sudah deg-degan, Bali itu adalah benteng pertahanan terakhir agama Hindu, akses Bali dibatasi tidak boleh ada jembatan penghubung langsung antara pulau Jawa dan Bali disamping alasan teknis arus air laut Pasifik dan Hindia bertemu,beberapa alasan spritual juga menjadi alasan kenapa pulau ini tidak boleh terhubung secara langsung dan hal itu yang membuat precious, mahal dari Bali. 


Agama yang berbeda, pusat kegiatan wisata, saya harus berhati-hati, saya juga sudah searching tempat mana saja yang perlu dikunjungi dan bahkan membuat perencanaan balik dengan akses perjalanan udara. 

Saya sudah cek kapal Pelni di tanggal 3 Januari 2025 jam 2 malam ada yang Buton, saya cukup perlu akses dari Bandar Udara Ngurah Rai turun ke Makassar biar hemat, di Traveloka ada 890.000 pake Citilink turun Makassar pada tanggal 31 Desember 2025, berarti tahun baru di Makassar, soalnya kalau lanjut Baubau tiket pesawat 2 juta dan bahkan 3 juta lebih, tapi kalau turun juga sebelum tahun baru, harga kamar hotel di Makassar 2 kali lipat. Sama saja. Saya harus kerja dan pikir keras. 

Ombak sudah landai menjelang 20 menit sandar di pelabuhan Benoa Bali. Meskipun malam dan tidak semewah tampilan kerlap-kerlip lampu di kota Surabaya atau Jakarta, saya bisa melihat patung Garuda Wisnu Kencana di bagian kabupaten Badung Bali, arah selatan dari pelabuhan, beberapa gemerlap kembang api dilemparkan ke langit mungkin karena besok mau natalan, jadi vibenya semakin ekslusif. 

Secara umum mirip pelabuhan Bali, Bima dan Labuanbajo, hanya Bali tidak dilengkapi banyak gugusan pulau, selain dari pulau kecil Nusa Penida, dari penjelasan sains tipikal wilayah di arah bawah pulau Sulawesi ini terjadi dengan banyaknya gugusan pulau karena proses vulkanologi, ada joint dari proses tektonik dua lempeng yang bertemu sehingga membentuk gugusan pulau yang indah nan cantik. 

Kecantikan semakin bertambah ditemani warna merah sendu senja sesaat sebelum Tilongkabila masuk dan sandar di pelabuhan Benoa, beberapa relief ukiran khas Bali dan bau kemenyan Bali benar-benar membuat saya sangat bergembira dengan definisi sendirinya. Kata Andrea Hirata apa yang kamu lihat adalah apa yang kamu dapat. Saya benar-benar tersungkur dan bersujud syukur dengan keindahan salah satu ciptaan Tuhan ini. Jam 11 malam saya duga saya akan kesulitan untuk akses transportasi Bali seperti waktu penjelajahan kota Surabaya dulu. 


Rupanya Bali tidak, setelah memasuki area terminal penumpang yang mirip sanggraloka diperiksa dengan X-Rays, saya keluar dan mencium aroma Bali. Oh... Seperti ini ya.... Kota Denpasar yang ada di buku-buku sejarah saya dulu, yang ada di TV-TV itu, heiii... Saya sudah menginjakkan kaki di Bali. Apa yang telah kulihat itulah yang kudapat, ini semua karena kasih Allah SWT. 

Seandainya saya tidak bersabar dalam kepayahan belajar, saya mungkin tidak akan memiliki kesempatan untuk melihat keindahan yang merupakan magnet yang menarik orang di seluruh dunia. Ini anugrah. Ini buah manis dari perjuangan. 


Di sepanjang perjalanan saya mengikuti arus keluar kendaraan, pelabuhan Bali memesona, luas namun tidak membingungkan, udaranya juga adem dan seakan-akan menenangkan, saya mau jalan kaki tapi setelah lihat maps, saya perlu langsung mencari hotel hari juga sudah berganti, sudah jam 00.32 saya masih di area pelabuhan, sembari memotret banyak keindahan, salah satunya patung dengan 3 bentuk wajah yang berbeda, apakah itu Wisnu,Khrisna saya tidak tahu. 

Saya akses Maksim Bike dan pilih tujuan hotel yang muncul, saya menunggu hampir 15 menit untuk driver saya, Bli Dicky Alfianto Saputra menjadi teman saya untuk berkelana malam utamanya mencari penginapan murah dulu. 


Saya minta aplikasi dimatikan biar saya bayar sesuai dengan bantuan dia, dari penjelasannya arah tujuan saya dekat pantai Kuta, padahal mau akses hotel dekat GWK, saya bilang tidak apa-apa, dekat dengan pantai Kuta juga adalah salah satu tujuan saya. Saya bisa naik Grab atau maksim kalau kemana-mana. 


Jadilah saya diantar terus ke arah barat menuju Denpasar Kuta, butuh 30 menit khas kecepatan perjalanan di tengah malam. Ada beberapa hotel yang harga kamar 450 ribu per malam, ada yang 600ribu, bahkan ada yang 2 juta dan 1 juta serta ada yang 400ribuan. 


Bli Dicky juga driver yang sangat mengerti masuk keluar tanya jawab dengan resepsionis sampai berhasil saya temukan penginapan yang bukan hotel tapi harganyasetara hotel bintang 1 di Kota Baubau, 300ribu per malam, saya ambil karena sudah malam, dan kabar baiknya dekat dengan pantai Kuta. Kalau sesuai rencana saya sudah siap korban duit sampai jadwal kepulangan untuk tetap stay di sini, kala belum ketemu sama harga yang murah. 


Saya tidur jam 1 malam, insomnia seharian tidur di kapal, minum GoodDay lagi. Baru bangun jam 04.40, saya kaget dikagetkan suara azan ya Allah ternyata meskipun Bali mayoritas agama Hindu, bahkan pada saat sesi pencarian hotel kami mendapati kerumunan orang yang baru keluar ibadah menjelang Natal, adzan yang merdu masih kuat dan senyap-senyap membangunkan saya. Bli Dicky setelah 40 menit pencarian hotel dan sejenisnya saya kasih 100.000 sebagai tips dan doa agar saya diberikan kelancaran dan kesehatan pada serial kali ini.


Saya baru merasakan ok dengan penginapan ini, karena cukup representatif, jauh dari jalan utama, sungguh kurang bising, airnya juga cukup keras, saya sempat untuk cuci baju, air panas dingin dan guest amenitiesnya juga ok, kamar mandi bersih airnya keras, handuk bersih wangi jumlah dua. AC Josh.... Kurangnya jarang dibersihkan sama bedcover yang harusnya sudah diganti, overall worth it lah. Harga 300ribu dengan lokasi strategis dan cukup nyaman ini. Saya ok.

Sudah jam 07.01 saya sudah menikmati Bali, udaranya enak, hotel juga nyaman, saya siap dan mudah-mudahan dilancarkan. Oh ya... saya lupa semalam ada artikel lucu yang bilang para ahli sudah sepakat umur 32 tahun itu masih kategori remaja loh.... pantas saja saya sudah masuk masa overdosis 2 tahun ini dari kesepakatan para ahli gila itu, saya berasa masih jadi Remaja, pantas suka jalan, ternyata masih Remaja hanya 2 tahun sudah lewat mi, jadi mi Remaja Kuat-Kuat.

Kalau tidak ada uangmu..... hade de.... Mati..... I love Bali.

Bali, 25 Desember 2025: 07:05

























Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Serial Perjalanan di Pulau Dewata BALI-NEGERI PUPUTAN

  Keseruan menjelajahi bali dapat dilihat di sini: https://drive.google.com/file/d/1LVGH5MW76M-FzwwkqTx4QzIIslLigGiw/view?usp=sharing