Kenal Asu & Kisah Ibu

Kenal Asu & Kisah Ibu

.

.

.


(Seri kedua petualangan ke Negeri Puputan-Bali)


Kalau ada pertanyaan tentang kegiatan berlayar dengan kapal PT. Pelni jawaban yang paling sering muncul, mungkin adalah waktu tempuhnya lama, mungkin juga sumpek dan berdesak-desakan, serta harganya murah, atau bisa jadi ada jawaban alternatif lain, salah satunya persaudaraan.

Kapal Tilongkabila berangkat dari pelabuhan Murhum Kota Baubau jam 2 siang, molor 1 jam dari jadwal yang tertera di tiket, saya juga sudah tidak sampai tuntas melihat-lihat keberangkatan kapal mengangkat jangkar, meninggalkan kota nan eksotis Kota Seribu Benteng.

Saya banyak menghabiskan waktu di kabin, di tempat bed atau tempat tidur saya, mungkin capek, 2 jam berkendara motor dari kampung dengan kakak, untung tidak menyempatkan waktu ke malam acara pesta panen desa Kakenauwe, mungkin pingsan berat saya, sedangkan itu saja saya sudah oleh-oleh tidur sepoi sewaktu kakak mengemudi motor dengan gaya khasnya.

Saya bahkan tertidur, dan bangun sore lalu mulai menulis untuk lembar catatan pertama seri petualangan ke Bali kali ini. Saya tuntas menyelesaikan hari pertama dengan mengupload tulisan pertama di blog (hisemoransa.blogspot.com) pada pukul 10 malam lewat dekat jam 11. 

Saya tidur terbuai gelombang laut yang tinggi tapi rasanya sedang saja, tapi saya harus terbangun di pukul 02.29, suara adegan film atau mungkin shortclips dari video pendek Tiktok atau Facebook, membangunkan saya, di bagian hadapan bed saya, saya melihat 2 anak lelaki muda usia 20an sedang berdiskusi dan asyik memutar HP, mauku tegur untuk mengurangi, saya teringat ayat Watawasau bi sabr (banyak bersabar), jangan buat konflik, kapal ini milik bersama, toh... juga dua anak muda ini masih harus banyak belajar tentang Tata Krama dan sopan santun, apalagi terbilang usia remaja, jam tidur bukan suatu masalah di usia-usia muda begini. Tapi kalau keterusan itu berbahaya.

Nanti pagi pukul 05.13 saat saya terkesiap terbangun melewatkan sholat Subuh. Ya.... terbangun jam 2 saya tidak melewatkan azan subuh otomatis ketinggalan sholat berjamaah, ulah remaja bocil-bocil tadi. Saya langsung tanya dari mana asal 2 pemuda ini, kata mereka dari dek 5 mereka penumpang non seat, hanya karena gerah mereka mencari tempat yang kosong, ya... betul di Kabin A di area bed saya memang dari kapasitas 70 orang hanya terisi 30 an orang saja.

Saya mau tegur, tapi kasihan, adiknya juga takut saat saya tanya, soalnya mata masih merah, ileran belum hilang dari pipi saya, saya sudah main interogasi, mereka juga penumpang yang akan turun ke Makassar. Ok fine.

Sepanjang perjalanan aktivitas saya hanya baring tidur, menggeliat kanan kiri, sesekali menengok ke jendela bundar melihat riuk-riuk, untungnya saya sudah menjadi perencana perjalanan yang profesional dengan segudang pengalaman berlayar di kapal, salah satunya adaptasi, setelah pengamatan sesaat untuk observasi KM Tilongkabila dan mendapatkan rating terupdate-bagus fasilitasnya, hanya minus kamar mandi, saya ubah status kamar mandi Tilongkabila ternyata tidak buruk-buruk amat, kategori Cukup, boleh disematkan dalam review perjalanan kali ini.

Saya download sebanyak-banyaknya film-film dan beberapa 'variaty show' dan beberapa artikel ilmiah, serta salah satu buku dari Andrea Hirata yang dibeli tahun lalu di kota Jakarta tepatnya di Gramedia Matraman, karena perjalanan dengan laut tanpa ada teman perjalanan dipastikan akan menjadi perjalanan yang traumatis, seperti menunggu penghakiman saja.

Hanya melihat lautan luas, kalau beruntung melihat burung laut dan beberapa ikan lumba-lumba itu suatu keberuntungan. Selepas itu laut abisal dan beberapa pegunungan adalah komposisi fiks yang menemani perjalanan anda. Area eksplorasi juga terbatas, sebatas buritan, haluan, anjungan, dan naik turun tangga kabin, mau sampai batas mana.

Saya persiapkan, baju dan celana yang tidak berat, perlengkapan mandi, handuk sarung, dan terutama hp yang telah terinstall lengkap dan kartu ATM saya yakin perjalanan anda akan berkesan, tambahkan dengan tas selempang untuk safety guard barang berharga utama menjadi kendali keamanan yang mumpuni.

Semalam di bed saya hanya 2 orang bocil yang menemani tidur, di bagian kanan saya terjauh bed ke-7 ibu paruh baya penumpang non seat juga numpang tidur, di belakang lumayan ada beberapa pasang suami istri dan anak yang tidur, oh ya...lupa tepat dari 2 remaja yang menemani ada seorang ibu di bagian kanan juga yang tertidur, selebihnya kosong.

Nah ini yang berkesan dari perjalanan dengan kapal laut Pelni. Kenapa bahas ini sih?, soalnya saya masih di atas kapal, belum banyak referensi petualangan yang mesti dideskripsikan, akses saya terbatas, toh hanya itu, tapi meskipun ini hanya sekadar tulisan deskripsi dalam kapal, saya yakin ini akan berguna bagi anda yang baru pertama kali melakukan perjalanan dengan kapal ini, ini akan menjadi referensi tersendiri kalau isi tulisan ini dicermati dengan baik, minimal tidak, tidak kaget ketemu kamar mandi yang super duper heheheh....

Lanjut, apa tadi yang berkesan, yang berkesan adalah, kita menjadi saudara mendadak dengan orang-orang di sekeliling kita, saya juga semakin menyerap teori sosial, kalau kita memiliki karakter, fitur wajah, dan beragam aspek sosial budaya baik fisik dan nonfisik yang berbeda, ada yang model Austronesia, Melanesia, sampai dengan tampilan secara langsung, sebut saja orang-orang yang asli dari Bima, dari Labuan Bajo, dan juga dari Bali.

Bayangkan kalau keragaman ini dijadikan sebagai sumber konflik, betapa ngerinya, saya juga semakin salut dengan para pendiri bangsa kita, betapa kokohnya Pancasila dan luar biasanya paham itu menjalar menyatukan negara yang begitu luas. Bayangkan untuk Ke Bali saja, saya harus menghabiskan 3 malam 4 hari, sama perjalanan dari Baubau ke Jakarta, itu baru Indonesia tengah, belum ke paling timur atau paling baratnya, baru scene begini saja, sudah ratusan orang dengan karakter yang selalu membuat saya takjub dengan Indonesia.

Mungkin saya perlu menambahkan hobi di daftar hobi saya, sebagai petualang, lebih keren lagi a writer traveler, kedengerannya keren.

Jam 11.30 kapal sandar di pelabuhan Makassar, di terminal Anging Mammiri, butuh 20 jam untuk sampai, inilah salah satu nilai minusnya naik Tilongkabila, tapi karena sudah upgrade, it is okaylah.

Saya turun, di awal-awal, kota Makassar itu seperti sebuah keajaiban, saya sudah deskripsikan sebelumnya, pokoknya berimajinasi saja, kalau orang udik baru ketemu hal-hal baru dan keren, sudah itu first impresi saya. Bahkan saya sudah mampu memberi kategori jenis-jenis pelayanan dan karakter masing-masing pelabuhan, kalau Surabaya, buruh-buruhnya lembut-lembut khas mas-mas Jawa, Jakarta juga cuek bebek, di Makassar keras-keras karakter, jangan harap lolos kalau tiket dan KTP anda lupakan saat anda menjadi penumpang transit. Jelimet urusannya.

Saya turun ke Makassar, mau beli alat cukur, janggut saya sudah membuat saya kelihatan tua, saya perlu mencukur halus, saya juga butuh kafein, saya mau beli kopi saset sebagai pengganti energi di pagi hari, dan berburu Coto Makassar, tapi jadinya hanya beli bakso, nasi goreng untuk persiapan makan malam juga tidak sempat terbeli, saya hanya beli permen FOX, kacang Garuda, dan rambutan 25ribu sekilo.

Makassar agak kurang panasnya, mungkin karena saat turun saya ke bawah pohon yang adem, kencang angin, mabuk laut saya hilang, sebagai penumpang transit juga administrasi pelayaran juga lebih enak, proses check in saya lewat online, cukup KTP saja, semua beres.

Nah ini dia, saat naik kapal, saya kaget bed saya sudah diklaim 2 orang bersaudara cewek-cewek cantik, tapi saya komitmen dengan peraturan, nomor bed saya 239 mau bidadari mau malaikat, enyah.... pergi.

Mereka akhirnya pergi dan bertukaran tempat dengan rekan mereka lainnya. Kamu semua akhirnya akrab, karena Cabin di dek 3 yang tadi kosong, 90% terisi, jajaran bed saya juga sudah penuh, Alhamdulillah, 1 bed di samping kanan saya kosong, saya tidak perlu khawatir kalau saya ileran cukup orang di sebelah kiri saya yang tahu atau paling parah kena, kalau saya ngorok selesai mereka.

Ibu di depan saya ternyata adalah nenek dari anak lelaki di seberang bed saya, 2 baris setelah jejeran bed saya tempatnya, kami hanya kenal Asu saja, akrab tanpa perlu tahu nama, ibu ini yang duluan tegur, saya yang ekstrover hanya gas diladeni, dari wawancara singkat, ibu ini dari Bali ke Sulawesi Tengah mengunjungi anaknya sekaligus mengajak cucu laki-lakinya yang di depan saya itu untuk bekerja di Bali, ini kali pertamanya, lahir dan besar di Luwuk ini perdana berlayar bersama nenek, ada bonus 20% diskon harga Nataru benar-benar membantu, saya juga memperkenalkan diri dari Buton, baru semalam nginap di Pelni, kata mereka kami sudah banyak pelabuhan terlewat, dari pelabuhan Luwuk, singgah Kendari, Raha, Baubau, kemudian Makassar, masih lanjut ke Labuan Bajo dan terakhir Benoa.

Saya mau ikut mereka, tapi saya segan, dan takut merepotkan, ibu dan cucunya ini yang paling akrab dengan saya, orang-orang yang baru naik dari pelabuhan Makassar juga baru sambil lalu, hanya tujuan utama mereka adalah pelabuhan Labuan Bajo, saya juga sudah hafal kalau sudah kontur wajah kecil dan logat bahasa yang kental, pastinya turun di Bali.

Kawan... inilah Indonesia, kalau ingin melihat Indonesia sering-seringlah melakukan perjalanan, mau darat, mau udara di situ letaknya jika ingin belajar tentang manusia, jika ingin menyelami rupa-rupa manusia, getaran sosial, merasakan emosi, suasana kebatinan, lakukan perjalanan.

Kayak saat ini, saya sedang menulis review kedua hari ini, saya teringat sebelum Maghrib, ada bapak-bapak yang berkumis tebal asli Bima kerja di kapal yang siap ditugaskan di mana saja, menikah di Palopo 4 x dalam setahun harus pulang ke kampung halaman untuk mengunjungi keluarga, karena dia menyesal, selama hidup orang tuanya terutama ibu, ajakan untuk pulang ke Kampung selalu ia tolak, nanti setelah ibunya meninggal dunia, dia tidak berkesempatan untuk melihat jenazah terakhir ibunya. Katanya hari itu menjadi hari tersendu dan tersedih dalam hidupnya. Kata nanti-nanti untuk menunda ajakan ibu, menjadi penghalangnya untuk bertemu terakhir dengan seorang bidadari tak bersayap yang bernama ibu.

Sepanjang diskusi kami, beliau menjelaskan tentang Pulau Bima, Sumba, Sumbawa, NTT, sampai dengan selat yang memisahkan Bali dan pulau Jawa sangat terang dia jelaskan kepada saya saat tahu maksud dan tujuan saya untuk melancong, hanya di sesi cerita tentang ibu, pancaran mata lelaki tua itu sendu, ada sembab tersendiri. 

Saya putus, waktu azan Maghrib telah berkumandang. Ada bapak-bapak tadi yang membanggakan prestasi anaknya yang telah sukses sekolah dan menjadi orang-orang hebat, ada banyak anak-anak yang menangis gerah, ada banyak wacana dan dialog yang terjadi, sampai saya kembali mendapatkan pelajaran berharga di sesi kedua ini, persaudaraan-persaudaraan yang bisa terjadi di mana saja, selama kita menjadi manusia dan memperlakukan manusia dengan baik, dan ada kharomah ibu yang akan selalu indah dan berharga dari setiap kisah-kisah hidup kita.

Lelaki tua Bima itu, terus pulang 4 X dalam setahun untuk berziarah kepada seluruh sanak saudaranya, berziarah kepada dua pusara ayah dan ibunya.

Kapal telah melaju, di kejauhan ibu mendoakan saya selamat mengarungi laut Flores.

Selamat hari ibu Ina.


(Arah Laut Flores 22 Desember 2025: 20.42) 














(Dokumentasi saat transit di kota Makassar selama 5 jam dari jam 12 sampai jam 5 sore) 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Serial Perjalanan di Pulau Dewata BALI-NEGERI PUPUTAN

  Keseruan menjelajahi bali dapat dilihat di sini: https://drive.google.com/file/d/1LVGH5MW76M-FzwwkqTx4QzIIslLigGiw/view?usp=sharing