Peran Bu Tejo Dalam Pendidikan

 Peran Bu Tejo Dalam Pendidikan

Oleh: Honayapto*

Siapa sih bu Tejo?. Ikon ini santer muncul di notifikasi facebook saya. Beberapa teman juga banyak menuliskan quote-quote menarik yang berkaitan dengan Bu Tejo, dirangkai seperti satire, halus tapi menusuk.

Memang dasar orangnya selalu 'kepo', hari ini saya berkeras untuk menuntaskan rasa penasaran atas sosok ini, apakah benar ia seorang sosok?, atau semacam puncak anasir dari penolakan pengesahan UU Cipta Lapangan Kerja, atau juga semacam sandi politik di helatan Pilkada 9 Desember mendatang. Soalnya teman buruh ada yang merepost, kawan-kawan dari KIPP juga turut andil dalam meramaikan ini.
Ternyata Bu Tejo adalah satu karakter dalam film Tilik, film pendek yang meledak dan viral di media sosial. Sejak dipublikasi melalui video berbagi bersama, YouTube pada awal-awal 17 (Agustus) an, film ini ditonton hampir 300 ribu penonton sejak 48 jam tayang. Sekarang dalam tampilan Youtube (27 Agustus 2020) 1 minggu rilis, film pendek produksi Ravacana Film telah ditongkrongin 14 juta orang. Viral!...
Dalam wawancara Vice.com pada Sabtu, 19 Agustus 2020 sang sutradara Wahyu Agung Prasetyo memang menegaskan 2 hal penting yang bisa dipetik dari karya berdurasi 32:34 ini.
Pertama; upaya filterisasi dan validasi yang mesti benar-benar digalakkan. Semua orang diharapkan dapat menyaring dan melakukan validasi terlebih dahulu, terhadap berbagai informasi yang diperoleh melalui orang-orang atau sumber internet yang tidak jelas. Di era melek digital saat ini, kemampuan itu memang wajib dimiliki.
Kedua; Perempuan memiliki hak merdeka, wanita single pun punya hak atas hidup dan merdeka untuk menentukan pilihannya.

Pesan-pesan yang coba disampaikan tersebut memang se-iya dan se-kata dengan setting pedesaan dan kentalnya logat Jawa dari para pemeran.
Teman-teman yang sudah mengakses film ini pasti tahu, dialog yang dibuka dengan mempergunjingkan sosok Dian, hampir kebanyakan disuarakan dari para emak-emak, misalnya Mbakyu Sam, dan Bu Tejo.
Relasi dengan dunia digital juga diperlihatkan saat ibu Tejo mengklarifikasi ocehan-ocehan merdekanya dengan satu adegan memperlihatkan foto-foto Dian kepada emak-emak lainnya.
Di puncak film, sineas ini ditutup dengan kocak. Beberapa fakta akhirnya terungkap, Dian tidak sedang berbadan dua, paling anyar tidak sedang berhubungan dengan Fikri anak bu Lurah.
Gunjingan keluar masuk hotel, mall besar dengan banyak pria, tampilan modis, dan pekerjaan baik yang tidak sejalan dengan jenjang pendidikan Dian, yang hanya sampai SMA, berhasil dipatahkan. Dian hanya memilih dan mempercayai si Mas (Aki-Aki) yang menjadi sandaran hidupnya.

MENILIK PERAN BU TEJO DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN
Sejak awal film peraih Piala Maya 2018 ini memang menguatkan karakter ibu Tejo, karakter khas ibu-ibu desa, ibu-ibu kompleks; Rame-rame, Ngerocos tak pakai rem, ikut-ikutan setuju, diam-diam bae, dan ngeyel, dan yang pasti mempunyai The Power Of Emak-Emak. Sudah, pokoknya Karakter Emak Indonesia.
Jika konsep pendidikan diasumsikan seperti pandangan Ki Hadjar Dewantara, ada upaya mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia dan atau sebagai anggota masyarakat, yang bisa dilakukan sejak masa kanak-kanak sesuai kodrat masing-masing.
Maka karakter ibu Tejo bisa diandalkan. Pertanyaannya bagaimana menilik peran seorang ibu Tejo yang tidak 'berakhlak' ini?.


Pertama; Pendidikan yang sebenarnya adalah dimulai dari Baiti madrasah, dari rumah. Saya sudah bisa menebak seorang ibu Tejo adalah seorang yang baik hati, periang, sekaligus penceramah yang baik. Hal ini dapat diliat dari imbalan jasa ekstra atas kerja keras mas Getrok supir truk, bukan apa-apa, bukan mengharapkan pak Tejo jadi lurah, tapi siapa tahu bisa jadi pemborong yang makin sukses dan berejeki halal, ini tanda periang yang baik, supel.
Di rumah peran seorang ibu akan sangat menentukan laju jalannya sebuah biduk rumah tangga. Urusan Dian yang bukan siapa-siapa saja, sudah diurusi, apalagi hanya urusan tetek bengek bojo-bojonya. Dari sini kita bisa menyelami bahwa keluarga Bu Tejo adalah keluarga yang harmonis, suami yang memiliki jejaring sosial yang tinggi, dan karir yang baik adalah ciri-ciri keluarga yang jauh dari isu KDRT.
Paling tidak di rumah ibu Tejo bisa menunjukkan atmosfer keluarga yang demokratis, saya hanya sedikit khawatir anak-anak hanya menjadi pendiam yang pasif saat bu Tejo memberi nasihat, tapi kalau melihat lontaran-lontaran judesnya, jika saya menjadi anak bu Tejo, saya malah akan geli sendiri. "Ngeyel baget bu...ademin aja". Itu juga tanda yang harmonis, keluarga demokratis, harmonis, dan ceria.
Kedua: Di lingkungan masyarakat Bu Tejo akan menjadi partisipan aktif dalam musyawarah-musyawarah desa, atau bu Tejo akan menjelma menjadi momok seram bagi masyarakat yang keluar dari tatanan kemasyarakatan. Bisa dibayangkan betapa ramainya cuitan renyah dari bu Tejo saat melihat roda pemerintahan desa tidak berjalan dengan baik, berbekal handpone dan mengakses segudang informasi akan menjadi peluru yang handal untuk bu Tejo.
Belum lagi, anak-anak pengangguran, suka mabuk-mabukan, atau dugem dan kumpul-kumpul siap-siap jadi gunjingan, teman dari Arif anak bu Lurah saja disikat habis, apalagi hanya konco-konco ndeso. Selesai!.
Dalam konteks ini bu Tejo bisa memiliki peran ganda, di satu sisi sebagai 'society toxic' di sisi lain dia akan menjadi 'society control', nah tunggal pilih jadi jadi society toxic atau society control?...
Dan ketiga: Peran signifikan bu Tejo di lingkungan sekolah. Jika pada umumnya ibu-ibu 'pul' aktif di dunia pergunjingan dan pergosipan dan akhirnya diam tak berdaya dalam forum-forum resmi, sikap 'keukeh' ibu Tejo menunjukkan konsistensi yang cukup tinggi sebagai pemeran utama.
Apa yang baik dan buruk yang timbul dari lingkungan sekolah, harus sesegera mungkin didiskusikan. Sekolah perlu ibu-ibu seperti ini, menunjukkan apa yang ingin dilakukan untuk perbaikan proses pendidikan.
Menyarankan disiplin guru-guru, profesionalisme kerja ASN, pemanfaatan dana bos yang transparan, dan tepat, serta pengembangan potensi peserta didik dalam berbagai kegiatan sekolah diharapkan dapat mengembangkan potensi sosial skill, life skill, termasuk hard dan soft skil anak.
Ide-ide kreatif dan out the box lewat mulut mereka Bu Tejo, dirasa akan sangat efektif sebagai partner sekolah dan orang tua.

Di masa pandemi saat ini, peran bu Tejo akan sangat berpengaruh kuat dalam kesuksesan pembelajaran tatap muka maupun jarak jauh. Paling tidak anak-anak akan sangat ketat belajarnya.
Ketimbang mendapat ocehan seberat muatan truk, akibat bermain game online, dan asyik berselancar di dunia maya, yang jelas-jelas 'unfaedah' mending belajar. Sembari meminta petuah-petuah penting dari Bu Tejo.
Meski mulut penuh 'dosa', mbakyu Ning kena skakmat sama Bu Tejo.

"Jangan buru-buru kabarin bu Lurah bisa dijenguk, padahal masih di ICU, jadi gak bisa ke jenguk".
Sudah jauh-jauh TILIK,.... e tak sempat berkunjung ke ibu Lurah.

Ya... Bu Tejo hanya ingin menegaskan secara sederhana. "YA, DAPAT APA-APA BERTABAYUN DULU, pastikan dulu, ambil baiknya dan buang buruknya".

Ya.... Begitulah bu Tejo.
Salam Bu Tejo.

(*Penulis adalah guru bahasa Inggris di SMPN 1 Kambowa Kec. Kambowa, Kab. Buton Utara
**Foto adalah Properti Ravacana Film/diambil di YouTube)
Ditulis pada 27 Agustus 2021

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Serial Perjalanan di Pulau Dewata BALI-NEGERI PUPUTAN

  Keseruan menjelajahi bali dapat dilihat di sini: https://drive.google.com/file/d/1LVGH5MW76M-FzwwkqTx4QzIIslLigGiw/view?usp=sharing