Gagal Jadi Duta

Gagal Jadi Duta

(Sumber: ZOOM Malam rangkaian Anugerah Kihajar 2021)

Penulis: Honayapto*

Yang paling berkesan dan masih sangat membekas dalam ingatan saya tentang kegiatan interview atau wawancara ada beberapa, yang pertama saat melamar kerja di salah satu Hotel di Kota Baubau kalau tidak salah ingat tahun 2013, maklum saja, lahan basah saya mengais rejeki dari terminal lapangan Tembak sudah harus dipindah ke luar kota. Alhasil sebagai tukang ojek pindahnya terminal itu turut pula melumpuhkan giat ekonomi saya.

Berkutat dengan kredit motor dan siasat mencari uang untuk ongkos kuliah agar tidak membebani orang tua memang harus saya tempuh, berbekal ijazah perhotelan, Owner hotel kena tipu saya, dalam surat lamaran kerja, pasfoto saya ambilkan pas foto muda, beberapa editan foto juga akhirnya sukses membuat saya diterima kerja.

"Kok mukanya lain ya?"

"Itu memang saya bu, tapi beberapa waktu lalu, tapi itu benar saya." 

yang ini saya diterima, akhirnya kerja 1 tahun sampai tuntas kuliah.

Wawancara kedua adalah saat mengikuti seleksi Pertukaran Pemuda dan Pelajar (Youth and Student Exchange Program) di Kendari tahunnya lupa. Saya yang asing pertama kali ke ibukota provinsi ini harus banyak bersaing dengan ratusan pemuda-pemudi yang siap jadi kompetitor, untungnya dibantu teman sekampung jadilah waktu 3 hari menumpang di kosan mereka. Saya juga lolos tahap kedua, wawancara dan unjuk kreasi seni dan budaya daerah.

Di hari pertama seleksi saya yakin bisa lolos, sekadar lari mengelilingi kantor walikota Kendari 7 putaran bukan perkara yang sulit, meski napas kembang kempis tak karuan saya khatam dengan pedenya. Tidak capek.

Pembagian kelompok untuk mempresentasikan konsep kota ramah lingkungan adalah sesi pamungkas, untuk menentukan siapa yang akan lolos ke tahap berikutnya.

Malam menuju hari kedua, saya dikabarkan lolos. Di tes kedua ini saya akhirnya tumbang, beberapa wawancara dan tes kinerja menjadikan saya keok dibuatnya, saya memang tidak tahu apa-apa.

Wawancara berikutnya adalah petualangan menuju Bekasi Bantargebang, saya mendapat email dari salah satu penyedia jasa layanan pencari kerja, saya siap diwawancara kerja, beratus-ratus email saya kirim ke perusahaan-perusahaan yang ada di Jakarta, saya kira saya bisa mensiasati studi lanjut saya seperti saya studi di Kota Baubau sebelumnya.

Kuliah S2 di Jakarta adalah hal terberat sekaligus menantang bagi saya, tapi nampaknya ikhtiar kalau tidak diridhoi Tuhan memang tidak akan jalan, niatnya untuk mencari kerja agar sewa kos, makan minum dan biaya-biaya kecil sekolah lainnya kembali tidak membebani orang tua kali ini pupus di tanah Batavia, saat wawancara saya diharuskan menyetor sejumlah uang, saya tolak saya cari kerja, bukan nyetor duit, skema itu juga terjadi waktu wawancara di Matraman, banguanan di bawah flyover bersebrangan dengan Dominos Pizza dan bangunan alat bantu dengar yang dekat dengan perpustakaan Nasional itu juga meminta saya menyetorkan uang sejumlah untuk simpanan awal, saya pikir aneh saya tidak layani.

Wawancara terakhir yang berkesan adalah wawancara di gedung Sarinah, saya bertemu dengan HDR yang cantik sekali, ditanya-tanyai saya tentang ikhwal ingin bekerja, tuntas saya jawab dengan percaya diri, sampai dengan detik ini, info kelanjutan wawancara saya tak ada kabar lagi. 

Kali ini wawancara juga, tapi bukan wawancara harus berbuat ini dan itu, wawancaranya dilakukan orang-orang yang berkelas dan hebat, saya membahas wawancara karena saya juga ternyata telah berada di sesi wawancara.

Sejak diumumkan PUSTEKKOM menjadi salah satu dari 5 kandidat Duta Rumah Belajar untuk Sulawesi Tenggara tahun 2021, seperti saya katakan sebelumnya, saya juga tidak percaya, saya memang di satu waktu merasa mampu dan di satu waktu merasa tidak mampu. Orientasi itu selalu kadang-kadang membuat saya mempertanyakan eksistensi dari kompetensi saya sendiri, kata orang kita bisa membaca kemampuan kita sendiri. Saya hanya menekankan pada diri sendiri bahwa saya juga memiliki kelebihan dan kekurangan yang tidak dimiliki oleh orang lain, semua orang itu punya potensi yang berbeda-beda.

Jadilah hari Minggu, hari unjuk kerja dan substansi, hari 21 November 2021 saya dan 4 SRB Sulawesi Tenggara lainnya dijadwalkan untuk mengikuti sesi itu, sudah tidak ada tugas-tugas lain lain, tidak ada lagi ujian seperti ujian di level 1, pembuatan video pembelajaran di level 2, kreasi pembuatan media pembelajaran interaktif di level 4 sampai dengan Sosialisasi sesama SRB satu kabupaten atau lintas daerah.

Tapi, jujur, paska penjelasan teknis sebelum ke hari H unjuk kerja, kami dibekali dengan beragam tips dan trik serta sharing pengalaman orang-orang hebat yang berhasil masuk dalam lingkaran ini, saya pikir ini kegiatan yang sangat berfaedah dan membuka akses pertemanan plus pengayaan pengetahuan dari orang yang beragam pula.

Saya bahkan sampai insomnia, kami diminta untuk membuat bahan tayang jika ingin menjadi Anda menjadi Duta Rumah Belajar, Rencana Aksi 1 tahun, Kritikal Insiden saat akan melakukan unjuk kerja dan substansi tersebut. jika berkenan dapat melihat tugas-tugas tersebut melalui link ini:

(Tinggal klik) Bahan tayang Jika aku Menjadi DRB

(Tinggal klik) Rencana Aksi 1 Tahun 

(Tinggal klik) Critical Incident

Saya tambahkan file CV dalam desain grafis dan bentukkan wordnya siapa tahu bisa berbagi tips dan kiat untuk saya mendapat evaluasi dari teman sejawat: 

(Tinggal klik) CV grafis )

(Tinggal klik) CV Word

Terlihat mudah tapi saya sampai tidak nyenyak tidur, saya pun sampai memiliki mata panda, efek begadang, beberapa pekan ini saya tahu ini adalah komitmen dan integritas saya dalam suatu pekerjaan, Pokoknya apapun yang terjadi, jika ada tugas wajib dikerjakan dengan baik dan maksimal.

Saat hari H. 21 November 2021 bukan main girangnya saya, wawancara sudah saya akan temui lagi, ini benar-benar membuka memoar tentang pengalaman wawancara, dulu jika menunggu di ruang tunggu sembari deg-degan, kali ini saya menunggunya di ruang maya, via zoom, kami ditempatkan satu persatu dalam sesi khusus di tempat itu. Bayangkan manusia saja sudah bisa berbuat seperti ini.

Mereka di Jakarta, di jantung Indonesia, saya di Buton Utara di pelosok negeri. Alhamdulillah semua sesi Tuntas, ada Pak Pandu yang siap menguji saya dengan fitur-fitur Portal Rumah Belajar tepatnya mendengarkan saya saja hingga 30 menit berlalu, sudah tidak sesuai permintaan dalam surat yang saya terima, kadung deg-degan dan gugup heheheh....

Di 30 menit terakhir saya akhirnya dipertemukan 3 tim dari Pusdatin yang satunya saya kenal pada Dr. Zaenuddin yang juga menjadi mentor kami di coaching online untuk Sultra, ada ibu Sri dan bu Mega, bukan main ramahnya, sampai selesai 30 menit sesi substansi, saya merasa bukan diwawancarai namun lebih seperti mengobrol.

Waktu ditanya "Pak Yapto, tidak apa-apakan kalau tidak jadi Duta Rumah Belajar"

Saya bilang tidak apa-apa, meski dalam hati besar hati ingin kesana. tapi kayaknya lebih besar takutnya, takut tidak bisa berbuat apa-apa, bikin malu saja. 

Kemarin malam, malam puncak Anugrah Kihajar 2021 di hari Guru Nasional 2021 sebagai rangkaian akhir dari seluruh kegiatan Membatik, PembaTIK, sampai dengan Festival Film berbagai kategori, saya ikut dari jam 08 malam sampai jam 10 malam lewat.

Terpilihlah Duta Rumah Belajar se-34 Provinsi, dan Ibu Lia Nur Isnaini dari SDN 1 Mandati Wakatobi, satu-satunya lawan perempuan di 5 besar kandidat DRB Sulawesi Tenggara sukses mengalahkan kami; pak Ilham dari Baubau, pak Nardis di Wawonii, pak Shaqal dari Kendari, dan saya dari Buton Utara.

Saya rasa ibu Kartini akan senyam-senyum untuk ini. Hmm....tapi yang pasti ini pengalaman seru, sangat seru. 


Kedepan saya harus banyak belajar, soalnya sekarang saya gagal jadi Duta Rumah Belajar. hehhe.....fighting.







Ingin partispasi dalam Zero Deforestasi, SMPN 1 Kambowa PAS lewat Online

Ingin partispasi dalam Zero Deforestasi, SMPN 1 Kambowa PAS lewat Online

(Sumber: Republika)


Penulis:Honayapto*


Bulan November-Desember 2021 akan menjadi bulan yang sedikit sibuk di SMPN 1 Kambowa dibanding bulan-bulan sebelumnya. Merujuk dari lampiran 1 Kalender Akademik Nomor 36. b. I. 2020 tertanggal 29 Juli 2021 tentang Kalender Akademik T.P 2021/2022 di lingkup dinas Pendidikan Kabupaten Buton Utara, 2 bulan penghujung akhir tahun 2021 akan sedikit membutuhkan penyesuaian kegiatan pendidikan di SMPN 1 Kambowa pimpinan bapak Asrul Suleman, S.Pd. ini.

Hal ini dikarenakan pada Senin- Sabtu, 13-19 Desember 2021 di sekolah paling Selatan kabupaten Buton Utara ini, akan dilaksanakan Penilaian Akhir Semester (PAS) ganjil berbasis jaringan (online). Kegiatan berbasis digital teknologi ini diklaim menjadi salah satu kegiatan Ujian Akhir Semester perdana untuk dilakukan di level kecamatan Kambowa secara khusus dan Kabupaten Buton Utara secara umum.

Kegiatan berbasis jaringan (menggunakan Google Formulir) ini dilatarbelakangi keikutsertaan dalam upaya 'zero' Nol Deforestasi (aktivitas penebangan hutan) yang saat ini sedang menjadi isu publik dan sedang hangat-hangatnya diperbincangkan. 


(Satu fitur Googel for education; pengumpulan informasi- Sumber: idcloudshot.com)


Kritik Greenpeace terhadap pidato Presiden Republik Indonesia pada KTT Perubahan Iklim PBB (COP 26) di Glasgow, Skotlandi, Inggris (Senin, 1 November 2021) berujung dengan memanasnya isu keseimbangan lingkungan tersebut.

Namun, SMPN 1 Kambowa tidak dalam posisi untuk itu, SMPN 1 Kambowa ingin mengimplemetasikan langsung pembelajaran berbasis TIK sebagai jawaban atas tantangan pendidikan di era Industri 4,0, tantangan tersebut sebagai upaya mendapat dua keuntungan langsung dalam penerapannya, di samping ingin pelan-pelan mulai bertransformasinya pendidikan di sekolah tersebut, upaya PAS berbasis jaringan ini juga akan membawa dampak secara langsung pada giat Zero Deforestasi.

Asumsi ini hadir dikarenakan kemudahan-kemudahan pembelajaran terbantukan teknologi di antaranya:

  1. Pengerjaan sistem ini akan mendorong tingkat pengembangan keprofesian berkelanjutan dari tenaga pendidik yang juga akan membiasakan peserta didik sekolah ini dalam ranah yang sama, sehingga masyarakat society 5,0 dapat dibentuk perlahan.
  2. Hasil penilaian dapat dilakukan secara efektif dan efisien, tenaga pendidik akan dengan cepat mendapatkan hasil pengerjaan peserta didik, secara real time dan real action, sehingga upaya pengayaan dan tindak lanjut hasil evaluasi dapat segera direncanakan dan dilakukan dengan masa yang efektif pula.
  3. Peserta didik terbiasakan mendapati kegiatan pembelajaran terintegrasi teknologi, sehingga adaptasi pembelajaran sudah dibentuk sejak awal; tanggap teknologi.
  4. Peran Zero Deforestasi pelan-pelan diharapkan dapat mulai menyebar di kabupaten Buton Utara, diinisiasi SMPN 1 Kambowa.

Disinggung giat seperti apa Zero Deforestasi tersebut, salah satu guru yang juga menjadi 5 besar kandidat Sahabat Rumah Belajar Buton Utara dari SMPN 1 Kambowa, Honayapto menuturkan isu Zero Deforestasi memang benar-benar dapat dimulai dari dunia pendidikan, di SMPN 1 Kambowa.

"Bayangkan saja, jika ingin mendapatkan 1 rim kertas (500 lembar) diperlukan 1 pohon berusia 5 tahun. Jika di sekolah kami ada 157 siswa mendapatkan 1 mata pelajaran dengan jumlah kertas soal yang dibutuhkan sebanyak 3 lembar per mapel, maka untuk 10 mapel dibutuhkan 4.710 eksemplar, itu berarti butuh 9-10 Rim kertas dan atau 10 pohon dalam setengah tahun dan 20 pohon untuk 1 tahun hanya untuk pembuatan soal"


(Ilustrasi pembuatan kertas- Sumber : Berwirausaha)

Menurut guru pendidikan bahasa Inggris ini, jika Buton Utara dengan 1 tahun aksi saja menggunakan penilaian berbasis teknologi, meninggalkan penggunaan kertas. jumlah siswa SMP se-kabupaten Buton Utara  ada sekitar 3.996 membutuhkan 119.880 eksemplar kertas atau butuh 240 pohon dan atau 480 pohon dalam 1 tahun akan memberi sumbangsih besar dalam isu climate change ini

"Jika upaya integrasi digital benar-benar dapat secara umum disalurkan dalam dunia pendidikan bukan tidak mungkin kita dapat menyelamatkan bumi dan berpartisipasi aktif dalam perubahan Iklim dunia, sesuai dengan kerja keras pemerintah melalui langkah-langkah kecil dan nyata. untuk Sulawesi Tenggara saja jumlah siswa 682.468 (Semua level/jenjang) diasumsikan melakukan PAS dengan kertas 3 lembar per satu mata pelajaran, dan butuh 10 mapel untuk dikerjakan, maka ada 2.474.040 kertas yang tidak digunakan dan ada atau 41.000 pohon yang bisa diselamatkan dalam setengah semester, dan itu berarti 82.000 pohon dalam kurun waktu 1 tahun berjalan dapat terus menjadi sumber oksigen bagi dunia. Dilansir dari https://dapo.kemdikbud.go.id/pd dengan total 52.207.300 peserta didik di seluruh Indonesia saja, sudah ada kontribusi besar dunia pendidikan Indonesia terhadap isu climate change tersebut, sebanyak 1.566.219.000 eksemplar kertas yang diperlukan dan atau 3.133.000 pohon dan atau 6.266.000 pohon dalam 1 tahun tidak lagi dibutuhkan. Betapa dahsyat tindakan kecil ini".


(Ilustrasi harmonisasi manusia dan alam- Sumber; iStock)


Dimintai tanggapannya, Asrul Suleman, S.Pd. mengiyakan kegiatan yang mulai akan dilaksanakan 13 Desember 2021 ini.

"Kegiatan ini nampak terlihat kecil dan biasa-biasa saja, namun silakan diasumsikan sendiri, jika semua bergerak, ini akan menjadi langkah besar yang spektakuler, seperti tema hari Guru nasional tahun 2021 ini, Bergerak dengan hati Pulihkan Pendidikan, kami juga ingin memulihkan dunia." tutupnya.

SMPN 1 Kambowa nampaknya bisa jadi inisiator gerakan akbar ini.


(Logo hari Guru Nasional 2021)





* Kandidat DRB Sultra 2021

Artikel ini juga tayang di SMPN1KAMBOWA.BLOGSPOT.COM (Blog sekolah)





 

Jalan-Jalan Perubahan

Jalan-Jalan Perubahan



Oleh: Honayapto


Pak Sumitro kepala Sekolah, beliau masuk di kelas 5 SD, pada saat itu guru kelas berhalangan hadir. Maka gantilah beliau yang masuk mengganti mata pelajaran yang kosong.

Saya melihat tulisan Onion, Garlic, dan beberapa sapaan yang asing "Hello, good morning, how are you", begitu dituliskannya di papan tulis, goresan kapur-kapur itu semakin menambah nuansa aneh, kok tulisannya terbaca "Helo, gut moning, hau ar yu?". Itu jelas salah, ejaan bahasa Indonesia, tidak seperti itu. Ini bahasa asing. saya tidak memahami dan menerima ini. 

"Pak kenapa lain tulisan, lain pula bacanya, artinya apalagi. Bahasa apa ini?". Kepala sekolah berpeci hitam khas presiden Soekarno lantang menjawab. Ini adalah Bahasa Inggris, bahasa orang-orang berkulit putih. Belajarlah bahasa Ini, bahasa ini bahasa dunia.

Sejak saat itu, bahasa Inggris menjadi bagian dari dalam diri saya, di sekolah menengah pertama, pak Pade, hampir sepanjang tahun ajaran baru, materi dan pendekatan pembelajaran yang dilakukan beliau, dapatlah saya masukan dalam orang-orang yang berpaham strukturalis, kunci 16 perubahan waktu, seperti kami khatam saja.

Jujur, tempaan tersebut, membantu saya mendekap bahasa asing ini, perbendaharaan bahasapun semakin berkembang, jurusan perhotelan di sekolah kejuruan semakin membuat saya kaya dengan kata-kata orang Eropa ini. Bolehlah saya berkunjung ke pelepor renaisans ini.

Namun sayang seribu sayang,sampai saat ini, keinginan untuk menginjakan kaki di benua Biru tersebut, tak kunjung kesampaian, ini adalah hasrat terdalam dan terkuat dalam diri saya. Apa sampai mati tidak ada kesempatan untuk kesana?. saya menguburnya!.

Tapi itu biarlah, kalau toh pun ada kesempatan, kita akan manfaatkan dengan sebaik-baiknya. kali ini dimensi sudah berbeda.

Saya dipercaya negara untuk mengajarkan bahasa Asing ini, saya tahu saya sedikit merasa kerdil, jangan sampai kompetensi saya, tidak cukup untuk mengantarkan anak-anak saya kesana, apakah karena ketidakcakapan itu sehingga saya dan bahkan anak didik saya akan mengalami hal yang sama?. Saya khawatir.

Namun kekhawatiran mulai pelan-pelan berubah, saya tahu dunia semakin menyempit, ilmu-ilmu yang datang mencari kita, teknologi telah memporak-porandakan batasan waktu dan ruang. Peluang untuk menjadi besar, tinggi, dan selangkah lebih maju telah tersaji di depannya, sekarang di mana kita memposisikan diri.

Saat ini, di negara kita Indonesia, kesempatan itu mulai diambil oleh para pendidik kita, ternyata ada banyak orang-orang hebat yang siap bekerja keras, belajar dua kali lebih giat, dan mencoba hal-hal yang baru semakin marak saja. Saya seperti berada di rimbanya orang-orang yang memiliki semangat pembaharuan pendidikan.

Meski belum pernah keluar negeri. Saya terus saja mengamati perilaku-perilaku belajar mereka. Beberapa cuplikan adegan, saat terjadinya proses pembelajaran peserta didik bahkan lebih ganas dari gurunya, ruang kelas mereka penuh dengan alat-alat digital yang siap mendukung pembelajaran mereka.

ketika guru masuk, materi sudah dituliskan dan ditampilkan dalam layar lebar, kita mengenalnya infokus, materi pembuka yang digunakan untuk merangsang cara berpikir juga sudah diputarkan, sekali klik, orang-orang tidak diajak untuk berkhayal (meski berkhayal itu juga bagus), namun bangun kontekstualisasi pembelajaram sejak awal sudah berhasil dibangun dengan baik.

Kolaborasi bersama orang tua juga telah berjalan dengan baik suatu waktu anak-anak bermasalah peserta didik sudah tahu konsekuensi yang terjadi. bahkan konsep melindungi bumi, meghargai waktu, semangat membangun cara berpikir kritis adalah kudapan diskusi mereka sehari-hari.

Janganlah heran-heran dengan kecakapan mereka. Sayapun beramal demikian, biarlah kita orang timur terlambat dengan demikian, biasanya orang-orang yang terlambat bisa lebih cepat membaca diri, tahu akan kesalahan sehingga lebih cepat pula ia beradaptasi.

Kali ini, jalan-jalan perubahan itu sudah mulai terlihat, orang-orang sudah mulai sadar dengan peranannya, kini kita siap aksi nyata.
kita tunggu ruang-ruang kelas kita ditata dengan baik, perlengkapan dilengkapi, sumber daya dilimpahi. sehingga menjadi pembelajarpun kita menjadi senang dengan belajar.

Semoga ini adalah jalan-jalan perubahan, perubahan untuk keadaban manusia.

Salam,




*Sumber gambar; Okezone travel

Di bawah tekanan

Di bawah tekanan

Oleh: Honayapto

Hari ini, Kamis, 18 November 2021 pukul 09.00 WIB jadwal saya mengikuti zoom meeting, malam sebelumnya saya lolos dinyatakan menjadi 5 besar Kandidat Duta Rumah Belajar Provinsi Sulawesi Tenggara, saya tidak percaya, senyum dan alhamdulillah senang, tapi setelah itu saya sudah tidak nyenyak lagi tidur, saya mulai dihinggapi kepanikan, apa iya layak jadi 5 besar ya?...

Saya terima sms masuk dari Pustekom jam 22.41 Wita, satu jam lagi sudah akan larut malam, bukan kebiasaan malam saya, paling terlambat jam 9 malam lewat saya sudah tidur lelap.

Saya dalam posisi standby sampai dengan jam itu, karena pada sore sebelumnya, kakak Miko; bapak Naila datang memberitahukan bahwa malam ini, ba'da Isya akan ada pembubaran panitia pernikahan adik Sri Devi dan Suami, kebetulan saya juga yang dipercayakan menjadi ketua Panitia. Kegiatan pembubaran panitia terpaksa harus molor dari jadwal yang dijanjikan, kalau mulai dari jam 19.15 wita, waktu 1 jam untuk sesi permohonan maaf, dan ucapan terima kasih antara panitia dan tuan rumah serta sesi jamuan malam penutup, harusnya sudah tuntas di pukul 20.15 atau lewat.

Hujan mengganggu, turunnya tidak tanggung-tanggung udara juga mendukung, kegiatan pembubaran pun baru dimulai setelah pukul 21. 00 malam, perut sudah keroncongan, saya membuang kata sembari menyeloroh “jam begini biasanya sudah jam tidur saya, sudah kenyang mi hehehe”.

Jadilah panitia amal membantu pernikahan warga selesai. Saya Alhamdulillah, meski perannya sedikit, tidak bisa membantu banyak, saya bersyukur bisa memberi manfaat walau hanya sumbangsih pikiran saja.

Pulang-pulang malam sudah larut, baru rebahan saja, bunyi pesan masuk, saya baca lolos 5 besar saya sudah mulai tidak nyenyak tidur. Betul kata saya sebelumnya di awal-awal senang, dari 30 besar di provinsi jadi 5 besar itu prestasi, tapi saya mulai panik, saya mempertanyakan kompetensi saya, di akhir refleksi, saya setuju, para juri mungkin bukan mengambil yang terhebat, tapi yang benar-benar mengena, kebetulan orientasi saat pelaksanaan tugas sebelumnya, saya bekerja begitu saja, apa adanya, berbagi kepada peserta didik saya, begini loh pemanfaatan Rumah belajar. Tidak muluk-muluk.

Pagi datang, sudah jam 10 pagi, sudah saatnya masuk Zoom, saya persiapkan semua peralatan pendukung, dari kipas angin reyot, colokan 4 lubang, tikar plastik berwarna hijau untuk green screen kamera, laptop, dan paket data internet, saya juga sudah minta izin pimpinan untuk tidak masuk kelas pada mata pelajaran ketiga atau terakhir. Kelas pertama kelas 7 sudah saya atasi, materi tentang tell the location of public places aroound us juga complete saya demokan, tinggal kelas IX, kebetulan masih tema mengidentifikasi struktur teks atau unsur kebahasaan dari past, present, dan future continuous tense yang dikontekstualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Saya mau mereka mengolah data, mencari mana sih kalimat-kalimat yang mengandung unsur itu, membedahnya dan menunjukannya dalam unjuk kerja siswa. Tapi tidak sempat.

Saya titip pesan kepada ketua kelas untuk mencari sumber materi yang berkaitan dengan peristiwa yang dilakukan tentang tindakan/kegiatan/ kejadian yang sudah/telah dilakukan/terjadi di waktu lampau tanpa penyebutan waktu terjadinya secara spesifik, sebagai kelanjutan materi, mereka juga dapat diperkaya dengan mengakses portal Rumah Belajar. Saya singgung dulu materi itu, minimal sebagai pengganti ketidakhadiran saya.

Kepala sekolah memberi izin, saya pulang.

Saya siap, perangkat saya semua siap. Pukul 09.40 Wita tiba-tiba jaringan telepon hilang, internet juga blank, saya senyum kecut, kok tidak seperti biasanya, saya sedih juga, mungkin bukan jodoh berpartisipasi di penjelasan teknis ini.

Sabar menunggu, alhamdulillah meski telat masuk jam 10.20, dan mbak Nisa Madani dari Pusdatin sebagai pembawa acara sudah membuka kegiatan dengan mengucapkan selamat datang pada para Sahabat Rumah belajar dari semua provinsi, di room kami ada 177 peserta yang sudah ikut tergabung. Saya mengikut saja, menyesuaikan, saya benar-benar beruntung berada dalam level ini, berada di room ini, saya merasa tekanan menjadi 5 besar dan dipercayakan menjadi perwakilan dari tim provinsi semakin berat.

Melihat beragam profil, dan orang-orang yang berkecimpung dalam 170 Sahabat Rumah Belajar ini adalah seperti oase saja, saya kagum bisa bersama dengan orang-orang hebat ini, saya semakin sadar bahwa banyak orang di luar sana, sedang berjuang untuk pendidikan Indonesia, saya sangat berbahagia mendengar dan melihat beragam pengetahuan dan pengalaman dari orang-orang yang terpilih ini.

Ini terjadi, penjelasan pak Arief Darmawan selaku pengembang teknologi pendidikan dari Pusdatin juga, ternyata banyak memperoleh inovasi pembaharuan informasi pengembangan pendidikan dikarenakan aksi nyata yang dilakukan para guru. Portal Rumah Belajar yang menjadi domain utama program ini ternyata benar-benar dapat diakselerasi dengan baik oleh para guru untuk dimanfaatkan dalam proses pengayaan pembelajaran.

Dari data Google analytic yang dipaparkan beliau yang diambil Januri 2014 – September 2021 menunjukan pengguna portal Rumah Belajar sudah 21.893.914. dan total kunjungan pada portal ini sebanyak 228.528.376, ini tidak terlepas dari dukungan pemerintah pusat dan pastinya dari peran bapak ibu membumikan semangat belajar terintegrasi TIK ini,

(Sumber: Penjelasan Teknis dari PTP Arief Darmawan)

Hal yang menjadi penekanan di sini, kegiatan yang kami ikuti saat ini bukan sebagai ajang pembuktian bahwa saya atau kami adalah orang-orang hebat di provinsi, jauh dari itu kami dipercaya sebagai seseorang yang akan bersama-sama mengajak untuk perbaikan mutu pendidikan, seseorang yang bisa memberi manfaat kepada orang lain.

Tentu saja menjadi Duta Rumah Belajar Provinsi atau Duta Rumah Belajar Nasional adalah satu dari sekian tujuan besar dalam penjelasan kali ini, menjadi Sahabat ataupun Duta Rumah Belajar menjadi satu titik awal pembaharuan pendidikan kita, dan itu dapat dimulai dengan menempatkan kompetensi kita dengan cara-cara yang tepat dan baik. Persiapkan diri untuk menjadi yang terbaik.

Saya sangat beruntung mengikuti pembekalan ini, selain pak Arief, kegiatan juga diisi oleh pak Berry Devanda Duta Rumah Belajar Sumatra Barat yang mau berbagi tips dan trick dalam  mengikuti kegiatan seleksi yang sedang kami ikut saat ini.

Berbagi tentang CV, Critical Incident, sampai dengan kegiatan yang akan dilaksanakan terkait dengan aksi-aksi kita sebagai pembaharuan pendidikan dalam bingkai Sahabat atau Duta Rumah Belajar.

Pentingnya personal branding, penulisan CV yang dapat dimulai dengan menuliskan potret diri sesuai apa adanya, dan kiat-kiat menghindari pertanyaan yang akhirnya hanya menyulitkan diri kita sendiri dalam sesi wawancara dan eksplorasi peserta oleh panelis, tulis dan buat apa adanya.

Selain itu, sebagai yang awam akan pemahaman tentang critical Incident, menjadi satu bibit pengetahuan baru untuk saya, penjelasan pak Devanda menyederhanakan konsep saya memaknai critical Incident yang dimaksud. Sejauh mana impact / pengaruh dari kehadiran atau peran yang anda bawa dalam suatu komunitas itulah yang dimaksud dengan critical Incident. Serta  beberapa saran terkait cara kita menjawab interview yang memerlukan jawaban-jawaban yang terukur serta berbasis data terbarukan, yang paling terpenting adalah bagaimana peran anda jika menjadi seorang Duta Rumah Belajar, menurut beliau munculkan persepsi; baru mau jadi Duta Rumah Belajar saja sudah akan berbuat hebat seperti itu,  apalagi jika sudah menjadi Duta Rumah Belajar.

(Baca juga: 5 Besar)

Penjelasan pak Berry Devanda dan kiat serta saran yang komprehensif membuat saya semakin menyadari, kita itu sebagai manusia, tidak salah memperbanyak koneksi. Prinsip belajar di mana saja, kapan saja dengan siapa saja, memang sangat mengena di sesi diskusi pamungkas ini, saya menyebutkannya begitu, paling tidak ini bisa jadi modal bagi saya untuk menelurkan pengetahuan yang saya serap dari berbagai orang hebat, ditutup dengan penjelasan teknis tentang kegiatan pra-pelaksanaan dan pelaksanaan seleksi, serta arahan untuk selalu mengecek jadwal kegiatan, dan praktik-praktik baik pemanfaatan portal Rumah Belajar.

Kegiatan ini benar-benar mengayakan saya. dimulai dari Mei - November, dari level 1,level 2, level 3 dan level 4, dan masih ada lagi, sesi 30 besar, sesi 5 besar, pikiran saya sudah seperti ditimpuk banyak-banyak hal, ditambah tadipula beragam instruksi atas kejelasan tugas akhir di sesi zoom meeting yang  dimulai dari jam 10 sampai jam 1 siang, semakin menambah banyak timpukan dalam kepala saya. Puyeng.

Saya ambil sisi positifnya, kegiatan ini memberi manfaat lain, selain menjadikan kita sebagai Pembelajar berbasis teknologi, ini juga melatih kemampuan kita melakukan menejemen waktu, menjaga disiplin, integritas, dan pengokohan kita.

Kalau lihat pamflet-pamflet lowongan kerja di swasta-swasta, salah satu syarat yang diajukan adalah mampu bekerja di bawah tekanan. Saya rasa ini salah satu contohnya, kita memang harus seperti ini. Mampu bekerja di bawah tekanan, soalnya kalau beres semua tugas-tugas, rasanya plong, dunia ringan saja. sensinya adem sekali.

akh..bapak ibu yang sudah pernah merasakan pasti maklum, kalau yang belum?, monggo dicoba bapak ibu, ini benar-benar di bawah tekanan!.

heheheh....


(Sumber: Dokumentasi serba-serbi Penjelasan teknis Seleksi DRB 2021; 18 Nov. 2021)


 

 

SMPN 1 Kambowa loloskan 1 Guru jadi 5 Besar Kandidat DRB 2021

 SMPN 1 Kambowa loloskan 1 Guru jadi 5 Besar Kandidat DRB 2021



Kegiatan Pembelajar Berbasis Teknologi, Informasi, dan Komunikasi atau yang akrab dikenal dengan PembaTIK yang diselenggarakan oleh Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (PUSDATIN KEMENDIKBUDRISTEK) dengan 4 level yang mulai dilaksanakan pada Mei - November 2021 sudah akan berada di titik akhir.

5 besar kandidat Duta Rumah Belajar sudah diumumkan melalui surat Pengumuman bernomor 5618/JI/TI.09.01/2021 tertanggal 17 November 2021 oleh Kapusdatin Dr. Muhamad Hasan Chabibie, S.T., M.Si.

5 besar kandidat Duta Rumah Belajar ini akan menjadi tahapan terakhir dengan terpilihnya 1 orang  menjadi Duta Rumah Belajar Provinsi untuk mewakili provinsi asal daerahnya menjadi Duta Rumah Belajar Nasional 2021.

Di surat pengumuman tersebut, 170 guru yang menjadi 5 besar kandidat di 34 provinsi sudah diumumkan dan terlihat jelas dalam lampiran pengumuman tersebut.

Di kabupaten Buton Utara, 1 guru asal SMPN 1 Kambowa kec. Kambowa Kab. Buton Utara provinsi Sulawesi Tenggara, Honayapto, berhasil menjadi bagian dari 5 besar kandidat Duta Rumah Belajar, yang bersama-sama dengan 4 guru hebat lainnya dari SDN 7 Wawonii Barat diwakili oleh Nardis, M.Pd., SDN 1 Mandati meloloskan Lia Nur Isnaini, S.Pd., dan Shadaqal Abrar, S.Pd. dari SMPN 7 Kendari, serta SMPN 1 kota Baubau yang mengikutkan Ilham, S.Pd. Gr.


Saat ditemui di tempat, guru pendidikan bahasa Inggris ini dari SMPN 1 Kambowa ini mengatakan rasa tidak percaya diloloskan dalam 5 besar kandidat DRB.

"Saya tidak percaya diloloskan menjadi 5 besar kandidat, 25 guru hebat yang menjadi 30 finalis pembatik tingkat provinsi Sulawesi Tenggara diisi orang-orang hebat, berada dalam posisi ini saya merasa terhormat".

ketika ditanya target kedepannya, lelaki alumni dari sekolah tempat ia bekerja ini pula, menyatakan kesiapannya untuk mensukseskan kegiatan.

"Tidak muluk-muluk, menjadi Duta Rumah Belajar mewakili Provinsi Sulawesi Tenggara itu perkara besar, saya hanya akan melakukan yang terbaik. jadi dan tidaknya itu urusan rejeki, saya akan bekerja secara profesional". Tutup guru tersebut.

Selamat untuk 5 besar kandidatnya, dan terus berjuang 25 finalis lainnya, untuk terus menggelorakan semangat berbagi dan belajar bersama di Portal Rumah Belajar. (H.Y).

*Artikel ini juga tayang di blog sekolah SMPN1KAMBOWA.BLOGSPOT.COM



5 Besar

5 besar



Oleh: Honayapto

Siapa yang tak kenal dengan Umar bin Abdul Aziz. Selain dikenal sebagai khalifah adil dia juga dikenal dengan kezuhudannya. Bahkan dia didapuk sebagai satu-satunya khalifah yang kesalehan dan keadilannya disederajatkan dengan khulafaurrasyidin. 

Dikisahkan, ketika diberi amanah jabatan khalifah (raja) oleh Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz justru bersedih hati. 

Dia menggigil karena membayangkan bahwa jabatan seorang khalifah sejati tidak terlepas dari kesukaran dan tanggung jawab. 

Suatu ketika, setelah menjabat, Umar bin Abdul Aziz diketahui sedang menangis di dekat istrinya, Fatimah. Ketika ditanya mengapa menangis, dia menjawab:

"Ya Fatimah! Saya telah dijadikan penguasa atas kaum Muslimin dan orang asing dan saya memikirkan nasib kaum miskin yang sedang kelaparan, kaum telanjang dan sengsara, kaum tertindas yang sedang mengalami cobaan berat, kaum tak dikenal dalam penjara, orang-orang tua renta yang patut diberi hormat, orang yang punya keluarga besar tetapi penghasilannya sedikit, serta orang-orang dalam keadaan serupa di negara-negara di dunia dan propinsi-propinsi yang jauh. Saya merasa bahwa Tuhanku akan bertanya tentang mereka pada Hari Kebangkitan dan saya takut bahwa pembelaan diri yang bagaimanapun tidak akan berguna bagi saya. Lalu saya menangis!"

Sepenggal kisah yang dikutip Syekh Mohd Iqbal dalam Misi Islam (Gunung Jati Jakarta, 1982) itu, hanyalah salah satu dari sekian cerita kesalehan Umar. 

Kisah paling populer tentangnya adalah ketika mematikan lampu fasilitas negara saat anaknya datang untuk urusah pribadi. Dia tidak mau menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan diri dan keluarganya.

Peran Bu Tejo Dalam Pendidikan

 Peran Bu Tejo Dalam Pendidikan

Oleh: Honayapto*

Siapa sih bu Tejo?. Ikon ini santer muncul di notifikasi facebook saya. Beberapa teman juga banyak menuliskan quote-quote menarik yang berkaitan dengan Bu Tejo, dirangkai seperti satire, halus tapi menusuk.

Memang dasar orangnya selalu 'kepo', hari ini saya berkeras untuk menuntaskan rasa penasaran atas sosok ini, apakah benar ia seorang sosok?, atau semacam puncak anasir dari penolakan pengesahan UU Cipta Lapangan Kerja, atau juga semacam sandi politik di helatan Pilkada 9 Desember mendatang. Soalnya teman buruh ada yang merepost, kawan-kawan dari KIPP juga turut andil dalam meramaikan ini.
Ternyata Bu Tejo adalah satu karakter dalam film Tilik, film pendek yang meledak dan viral di media sosial. Sejak dipublikasi melalui video berbagi bersama, YouTube pada awal-awal 17 (Agustus) an, film ini ditonton hampir 300 ribu penonton sejak 48 jam tayang. Sekarang dalam tampilan Youtube (27 Agustus 2020) 1 minggu rilis, film pendek produksi Ravacana Film telah ditongkrongin 14 juta orang. Viral!...
Dalam wawancara Vice.com pada Sabtu, 19 Agustus 2020 sang sutradara Wahyu Agung Prasetyo memang menegaskan 2 hal penting yang bisa dipetik dari karya berdurasi 32:34 ini.
Pertama; upaya filterisasi dan validasi yang mesti benar-benar digalakkan. Semua orang diharapkan dapat menyaring dan melakukan validasi terlebih dahulu, terhadap berbagai informasi yang diperoleh melalui orang-orang atau sumber internet yang tidak jelas. Di era melek digital saat ini, kemampuan itu memang wajib dimiliki.
Kedua; Perempuan memiliki hak merdeka, wanita single pun punya hak atas hidup dan merdeka untuk menentukan pilihannya.

Pesan-pesan yang coba disampaikan tersebut memang se-iya dan se-kata dengan setting pedesaan dan kentalnya logat Jawa dari para pemeran.
Teman-teman yang sudah mengakses film ini pasti tahu, dialog yang dibuka dengan mempergunjingkan sosok Dian, hampir kebanyakan disuarakan dari para emak-emak, misalnya Mbakyu Sam, dan Bu Tejo.
Relasi dengan dunia digital juga diperlihatkan saat ibu Tejo mengklarifikasi ocehan-ocehan merdekanya dengan satu adegan memperlihatkan foto-foto Dian kepada emak-emak lainnya.
Di puncak film, sineas ini ditutup dengan kocak. Beberapa fakta akhirnya terungkap, Dian tidak sedang berbadan dua, paling anyar tidak sedang berhubungan dengan Fikri anak bu Lurah.
Gunjingan keluar masuk hotel, mall besar dengan banyak pria, tampilan modis, dan pekerjaan baik yang tidak sejalan dengan jenjang pendidikan Dian, yang hanya sampai SMA, berhasil dipatahkan. Dian hanya memilih dan mempercayai si Mas (Aki-Aki) yang menjadi sandaran hidupnya.

MENILIK PERAN BU TEJO DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN
Sejak awal film peraih Piala Maya 2018 ini memang menguatkan karakter ibu Tejo, karakter khas ibu-ibu desa, ibu-ibu kompleks; Rame-rame, Ngerocos tak pakai rem, ikut-ikutan setuju, diam-diam bae, dan ngeyel, dan yang pasti mempunyai The Power Of Emak-Emak. Sudah, pokoknya Karakter Emak Indonesia.
Jika konsep pendidikan diasumsikan seperti pandangan Ki Hadjar Dewantara, ada upaya mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia dan atau sebagai anggota masyarakat, yang bisa dilakukan sejak masa kanak-kanak sesuai kodrat masing-masing.
Maka karakter ibu Tejo bisa diandalkan. Pertanyaannya bagaimana menilik peran seorang ibu Tejo yang tidak 'berakhlak' ini?.


Pertama; Pendidikan yang sebenarnya adalah dimulai dari Baiti madrasah, dari rumah. Saya sudah bisa menebak seorang ibu Tejo adalah seorang yang baik hati, periang, sekaligus penceramah yang baik. Hal ini dapat diliat dari imbalan jasa ekstra atas kerja keras mas Getrok supir truk, bukan apa-apa, bukan mengharapkan pak Tejo jadi lurah, tapi siapa tahu bisa jadi pemborong yang makin sukses dan berejeki halal, ini tanda periang yang baik, supel.
Di rumah peran seorang ibu akan sangat menentukan laju jalannya sebuah biduk rumah tangga. Urusan Dian yang bukan siapa-siapa saja, sudah diurusi, apalagi hanya urusan tetek bengek bojo-bojonya. Dari sini kita bisa menyelami bahwa keluarga Bu Tejo adalah keluarga yang harmonis, suami yang memiliki jejaring sosial yang tinggi, dan karir yang baik adalah ciri-ciri keluarga yang jauh dari isu KDRT.
Paling tidak di rumah ibu Tejo bisa menunjukkan atmosfer keluarga yang demokratis, saya hanya sedikit khawatir anak-anak hanya menjadi pendiam yang pasif saat bu Tejo memberi nasihat, tapi kalau melihat lontaran-lontaran judesnya, jika saya menjadi anak bu Tejo, saya malah akan geli sendiri. "Ngeyel baget bu...ademin aja". Itu juga tanda yang harmonis, keluarga demokratis, harmonis, dan ceria.
Kedua: Di lingkungan masyarakat Bu Tejo akan menjadi partisipan aktif dalam musyawarah-musyawarah desa, atau bu Tejo akan menjelma menjadi momok seram bagi masyarakat yang keluar dari tatanan kemasyarakatan. Bisa dibayangkan betapa ramainya cuitan renyah dari bu Tejo saat melihat roda pemerintahan desa tidak berjalan dengan baik, berbekal handpone dan mengakses segudang informasi akan menjadi peluru yang handal untuk bu Tejo.
Belum lagi, anak-anak pengangguran, suka mabuk-mabukan, atau dugem dan kumpul-kumpul siap-siap jadi gunjingan, teman dari Arif anak bu Lurah saja disikat habis, apalagi hanya konco-konco ndeso. Selesai!.
Dalam konteks ini bu Tejo bisa memiliki peran ganda, di satu sisi sebagai 'society toxic' di sisi lain dia akan menjadi 'society control', nah tunggal pilih jadi jadi society toxic atau society control?...
Dan ketiga: Peran signifikan bu Tejo di lingkungan sekolah. Jika pada umumnya ibu-ibu 'pul' aktif di dunia pergunjingan dan pergosipan dan akhirnya diam tak berdaya dalam forum-forum resmi, sikap 'keukeh' ibu Tejo menunjukkan konsistensi yang cukup tinggi sebagai pemeran utama.
Apa yang baik dan buruk yang timbul dari lingkungan sekolah, harus sesegera mungkin didiskusikan. Sekolah perlu ibu-ibu seperti ini, menunjukkan apa yang ingin dilakukan untuk perbaikan proses pendidikan.
Menyarankan disiplin guru-guru, profesionalisme kerja ASN, pemanfaatan dana bos yang transparan, dan tepat, serta pengembangan potensi peserta didik dalam berbagai kegiatan sekolah diharapkan dapat mengembangkan potensi sosial skill, life skill, termasuk hard dan soft skil anak.
Ide-ide kreatif dan out the box lewat mulut mereka Bu Tejo, dirasa akan sangat efektif sebagai partner sekolah dan orang tua.

Di masa pandemi saat ini, peran bu Tejo akan sangat berpengaruh kuat dalam kesuksesan pembelajaran tatap muka maupun jarak jauh. Paling tidak anak-anak akan sangat ketat belajarnya.
Ketimbang mendapat ocehan seberat muatan truk, akibat bermain game online, dan asyik berselancar di dunia maya, yang jelas-jelas 'unfaedah' mending belajar. Sembari meminta petuah-petuah penting dari Bu Tejo.
Meski mulut penuh 'dosa', mbakyu Ning kena skakmat sama Bu Tejo.

"Jangan buru-buru kabarin bu Lurah bisa dijenguk, padahal masih di ICU, jadi gak bisa ke jenguk".
Sudah jauh-jauh TILIK,.... e tak sempat berkunjung ke ibu Lurah.

Ya... Bu Tejo hanya ingin menegaskan secara sederhana. "YA, DAPAT APA-APA BERTABAYUN DULU, pastikan dulu, ambil baiknya dan buang buruknya".

Ya.... Begitulah bu Tejo.
Salam Bu Tejo.

(*Penulis adalah guru bahasa Inggris di SMPN 1 Kambowa Kec. Kambowa, Kab. Buton Utara
**Foto adalah Properti Ravacana Film/diambil di YouTube)
Ditulis pada 27 Agustus 2021

Di sela-sela Asesmen Nasional, SRB Buton Utara Gelar Sosialisasi

Di sela-sela Asesmen Nasional, SRB Buton Utara Gelar Sosialisasi


(Konde, 15/11/2021) Pelaksanaan Asesmen Nasional jenjang Sekolah Dasar untuk gelombang 1 yang diikuti oleh SDN 1 Konde Kec. Kambowa Kab. Buton Utara, pada hari Senin, 15 November 2021 yang dilangsungkan di SMPN 1 Kambowa (dengan status menumpang) secara umum berlangsung dengan baik dan tertib.

Bahkan setelah sesi kedua selesai yang merupakan sesi akhir dari mata pelajaran literasi, tidak menyurutkan antusias dan semangat belajar peserta kelas 5 ini untuk mendengarkan materi singkat dari gelar sosialisasi yang dilaksanakan oleh 3 Sahabat Rumah Belajar Kabupaten Buton Utara.

Sahabat Rumah Belajar Buton Utara yang juga berasal dari sekolah tempat para peserta didik kelas 5 Sekoah dasar ini menumpang melakukan asesmen nasional, tidak ingin melewatkan kesempatan yang bagus tersebut.

Setelah mempertimbangkan waktu dan kesiapan peserta didik, kemudian berkomunikasi dengan tim proktor, teknisi, dan penanggungjawab asemen, dengan mengambil waktu paska sesi kedua selesai, yang merupakan sesi terakhir menjadi pertimbangan besar yang dilakukan Sahabat Rumah Belajar untuk tidak menggangu jalannya Asesmen Nasional yang sedang diikuti pelajar putih merah ini.

Kegiatan pengenalan Portal Rumah Belajar secara singkat dan eksplorasi fitur utama Bank soal, dan fitur pendukung Edu Game Rumah Belajar, sukses raih perhatian dari peserta didik, didemokan bagaimana cara mengakses fitur-fitur rumah belajar dan berpraktik langsung, jadikan sosialisasi singkat ini menjadi pemicu untuk semakin belajar bersama Portal Rumah Belajar.

Hal ini sangat antusias terlihat dari peserta didik yang sudah tidak ingin beranjak dari layar laptop mereka, saat game "siapa aku" dimainkan, beberapa siswa juga terus mencoba menjawab dengan benar soal-soal yang sebelumnya menjadikan nilai mereka rendah ketika menggunakan dan mengakses Bank Soal.

Ditemui usai sosialisasi singkat, Honayapto mengatakan kegiatan ini untuk memperkenalkan portal Rumah Belajar sebagai media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

(Baca juga: Artikel Peran Bu Tejo dalam Pendidikan)

"Kami ingin memanfaatkan kesempatan ini, kebetulan adik-adik dari SDN 1 Konde mengikuti asesmen menggunakan fasilitas sekolah kami (SMPN 1 Kambowa, red), maka kami ingin sekalian meneruskan gelora semangat bersama di Portal Rumah Belajar, kami tadi sudah meminta izin sama tim teknis, waktu sosialisasi juga dilakukan setelah semua peserta didik sudah selesai semua asesmennya. Melihat antusias tadi dan fasilitas yang ditawarkan portal Rumah Belajar, kami optimis di masa depan anak-anak akan lebih kritis " terang guru bahasa Inggris yang juga menjadi 1 dari 3 sahabat Rumah Belajar dari Kabupaten Buton Utara dari SMPN 1 Kambowa.

Hal senada juga dituturkan dari Adrian, S.Pd. dan Suherman, S.Pd. ynag juga sahabat Rumah Belajar dari Kabupaten Buton Utara dan dari sekolah yang sama pula; SMPN 1 Kambowa.

"Ini adalah RTL kami, yang sudah kami tawarkan kepada PUSDATIN Jakarta dari program pembaTIK level 4 yang saat ini baru saja kami ikuti, pastinya menggelorakan semangat belajar bersama Portal Rumah Belajar".

Di akhir sosialisasi, bersama guru pendamping dan peserta didik SDN 1 Konde, sahabat Rumah Belajar berfoto bersama. 

"Belajar, berbagi, berkolaborasi bersama, di mana saja, dengan siapa saja, dan kapan saja, Salam Rumah Belajar" Senyum mereka (H.Y)



(Sumber foto: Semua foto dokumentasi pribadi)

*Artikel ini juga tayang di blog sekolah SMPN 1 Kambowa (smpn1kambowa.blogspot.com)

SMPN 1 Kambowa kembali dapat Kuota Internet Kemendikbudristek

SMPN 1 Kambowa kembali dapat Kuota Internet Kemendikbudristek

(Sumber gambar; Repost LPPM sULTRA)

Dilansir dari https://kuota-belajar.kemdikbud.go.id/ kebijakan paket kuota data internet pada bulan Maret-Mei 2021 mendapat tanggapan positif dari masyarakat, sehingga pemerintah kembali melanjutkan kebijakan bantuan paket data internet pada bulan September - November 2021.

Masih dari laman tersebut, bantuan paket data internet ini didistribusikan dengan beberapa besaran yang berbeda dalam tiap jenjangnya, untuk pelajar PAUD diberikan data internet sebanyak 7 GB per bulannya, sedangkan untuk pelajar pendidikan dasar dan menengah (Dikdasmen) sebanyak 10 GB/ bulannya, adapun bantuan internet tersebut sebesar 12 GB perbulannya untuk guru jenjang PAUD & Dikdasmen, sedangkan porsi 15 GB lebih besar diberikan kepada mahasiswa dan dosen.

Kebijakan bantuan internet tahap 2 yang telah mendapat revisi ini, benar-benar sangat bermanfaat bagi peserta didik, apalagi bentuk-bentuk pengayaan materi masih dikombinasikan dengan beragam fitur-fitur dan aplikasi berbasis internet, semisal mengakses Youtube (sebelumnya tidak bisa diakses), kini setelah menerima beragam saran bahwa salah satu media online yang membantu siswa belajar adalah Youtube, maka aplikasi berbasis video tersebut kini dapat diakses menggunakan kuota data kemendikbud. Selain itu aplikasi Portal Rumah Belajar juga menjadi salah satu aplikasi yang juga banyak digunakan oleh guru dan peserta didik, apalagi aplikasi ini adalah milik resmi pemerintah yang dikelola oleh Kemendikbudristek di tengah upaya-upaya pembelajaran di masa pandemi Covid-19.

Bantuan internet yang telah tersalurkan kepada 21.298.436 pengguna di seluruh Indonesia, pada November 2021 juga adalah penanda bahwa SMPN 1 Kambowa di kabupaten Buton Utara Sulawesi Tenggara telah menerima dan menjadi kembali menjadi penerima manfaat kuota ini.

(Baca Juga: Di sela-sela Asesmen Nasional, SRB Buton Utara Gelar Sosialisasi)

hampir 150 peserta didik ditambah 18 guru menerima program bantuan ini. Kolaborasi dari peserta didik yang mulai menghimpun nomor mereka, dan menyetorkannya kepada wali kelas, kemudia melaporkannya kepada operator pendidikan serta ditandatangani SPTJM dari pimpinan sekolah, usai hasil verifikasi melalui data pokok pendidikan akhirnya berbuah manis. Bantuan internet yang sudah ketiga kali dikirimkan ini, sejak September - November 2021 kembali dirasakan manfaatnya bagi seluruh elemen di dalam lingkungan satuan pendidikan paling utara dari Kabupaten Buton Utara ini.

Upaya-upaya tersebut dilakukan sebagai jaminan kepada hak-hak peserta didik di sekolah ini, ini juga untuk memanfaatkan sebaik-baiknya atas peluang-peluang belajar yang diberikan oleh pemerintah.

"Di SMPN 1 Kambowa ini, kami terus berupaya mencari tahu program-program apa saja yang menyentuh dan memfasilitasi peserta didik, seperti bantuan paket internet, saya meminta kepada wali kelas dan operator sekolah untuk memfasilitasi semua agar mendapat bantuan internet, apalagi sekolah ini di bulan November ini, baru saja meloloskan 3 gurunya menjadi 30 finalis Pembelajar Berbasis Tekhnologi yang diadakan oleh Pusdatin, menyentuh hal tersebut, kegiatan pembelajaran yang saat ini sudah tidak bisa terlepaskan dari internet, bantuan kuota ini akan sangat membantu pelajar / peserta didik, kami juga bahkan memfasilitasi yang tidak punya hp, ada bantuan afirmasi kami manfaatkan itu" terang Asrul Suleman, S.Pd  selaku pimpinan SMPN 1 Kambowa yang ditemui di sela-sela melihat pelaksanaan Asesmen jenjang SD yang dilaksanakan menumpang di sekolahnya.

Dimintai tanggapan terkait bantuan data internet yang kembali mereka terima, saat pembelajaran, semua pelajar kelas 7 mengaku sangat senang.

"Alhamdulillah, kami senang, bantuan kuota internet sudah masuk" teriak mereka serempak.

Bantuan data internet tersebut. mudah-mudahan dapat dimanfaatkan dengan baik ya!. (H.Y)

*Artikel juga ini tayang di blog sekolah (smpn1kambowa.blogspot.com)

Semangat Hari Pahlawan itu Ada di Buton Utara

 Semangat Hari Pahlawan itu Ada di Buton Utara


Oleh: Honayapto


Saya tidak tahu apa karena momentum Hari Pahlawan, yang hari ini bertepatan dengan jadwal kami melakukan sosialiasi Tatap Maya pada Rabu, 10 November 2021 untuk kegiatan Kolaborasi Aktif Mencerdaskan Buton Utara Menggunakan Sumber Belajar dalam Portal Rumah.

Sehingga lebih dari 100 orang mengikuti kegiatan ini sampai selesai, dijadwalkan mulai pukul 14.00 sampai dengan 17.10 Wita, kegiatan akbar yang pertama kali dilaksanakan via online dan dibuka secara resmi oleh bapak Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Buton Utara, menghadirkan rasa haru yang luar biasa bagi kami terkhusus saya sebagai seseorang yang dipercayakan menjadi bagian dari pembaharuan pendidikan di Indonesia ini.

Tidak terbayang, saya akan sampai pada tahap ini, sejak mulai diterima untuk mengikuti pelatihan dari Bulan Mei 2021, dan terus mendapatkan hasil yang positif untuk terus maju ke level beirkutnya, saya semakin merasa tidak pantas saja untuk berada dalam posisi dan diembeli-embeli dengan nama besar dan gelar besar pula sebagai Sahabat Rumah Belajar dari Kabupaten Buton Utara, dan akhirnya resmi menjadi finalis 30 besar Sulawesi Tenggara yang bagi saya ini adalah satu tanggung jawab yang sangat besar.

Saya semakin merasa kerdil, namun ternyata sesuatu yang baik harus selalu dimulai dengan prasangka seperti itu, tidak ada orang terlahir hebat, terlahir instan menjadi sukses, menjelma menjadi penggerak, dan melakukan hal besar sebagai pembaharu, jika tidak dimulai dari hal-hal kecil dan bisa saja salah atau keliru, perbaikan pandangan dari para Mentor dan Duta Rumah Belajar ini, akhirnya menjadikan saya sadar bahwa sesuatu memang layak untuk diperjuangkan dan sayapun sadar, bahwa berada di posisi ini bukan untuk menjadi besar hati, tapi membesarkan hati dan melapangkan pemikiran, dan pandangan untuk berbagi banyak-banyak kebaikan dengan sesama. 

Dengan jalan pendidikan, jalan yang kita lalui saat ini adalah start awal perjuangan itu.

Kami akhirnya bergerak, sebelum pelaksanaan Coaching online kami ingin melihat seberapa jauh pemahaman masyarakat Buton Utara terhadap Portal Rumah Belajar, yang menjadi misi utama kami dalam program ini. Mengagetkan, melibatkan 71 peserta terdiri dari guru, kepala, sekolah, pengawas, dan siswa yang secara acak menjadi sampel untuk mengisi kuesioner kami tentang Pemahaman Portal Rumah Belajar, hasilnya 21 orang atau 29,6% tidak pernah mendengar Portal Rumah Belajar

(Sumber: Google Formulir)

Untuk mengonfirmasi kebenaran pemahaman tentang Rumah Belajar, kami mengelaborasikan 10 pertanyaan, sehingga kami menyimpulkan perolehan nilai 56,34  dari 100 poin atas respons dari 71 sample tersebut, mengindikasikan bahwa masyarakat yang terlibat di dunia pendidikan di Buton Utara, masih sangat awam dengan Portal Rumah Belajar. 



Ini kemudian menjadi pemacu bagi kami sahabat Rumah Belajar, untuk memacu ketertinggalan informasi ini, padahal di era tekhnologi saat ini konsep pengajaran berbasisi teknologi (TPACK) mulai menjadi basis pengembangan komptensi para guru dan peserta didik, untuk menjawab tantangan industri 4,0 atau membentuk society 5,0. Jelas jika dalam posisi ini kita tertinggal jauh.

Usai tuntas bimbingan online dari para Duta Rumah Belajar dan Tim dari PUSDATIN, kami tancap gas, kegiatan sosialisasi yang tertuang dalam RTL kami siap kami buat, dan Insya Allah kami akan laksanakan, tidak membuang kesempatan, usai rapat koordinasi berakhir tentang evaluasi pembelajaran tatap muka terbatas kami meminta dan diberi waktu untuk melakukan sosialisasi tatap muka, sebanyak 15 pegawai dari 22 pegawai di SMPN 1 Kambowa ikut dan sangat antusias dalam kegiatan kami sosialisasi kami.

        (Baca juga: Usai Coaching Online, 3 SRB Buton Utara Bergerak Cepat)

Bukan untuk menggurui namun sebagaimana prinsip dari level ini, berbagi dan berkolaborasi menjadi acuan utama kami, ini sebagai bentuk penghargaan tertinggi dari para cendekia, tidak ada yang lebih mulia dari berbagi, kegiatan itu akhirnya disambut positif, bahkan pimpinan kami mendukung dan memberi izin untuk melaksanakan kegiatan pembaharuan tersebut.

Menuju dan bertemu kepala dinas pendidikan adalah satu menara gading yang harus berhasil kami naiki, segala bekal dari tips dan trik dari para Duta benar-benar kami catat, persiapan fisik dan mental kami juga lakukan hingga akhirnya berbekal surat dari Kepala PUSDATIN kami mengantarkan diri bertemu dan disambut pimpinan ini.

(Surat Pengantar Sosialisasi Dari Pusdatin)

Seperti gayung bersambut, petualangan yang panjang, berat, dan bahkan sampai harus diguyur hujan sebanyak dua kali dalam perjalanan, bertemu Kepala Dinas Pendidikan yang dengan senang hati dan sukarela membantu untuk mensukseskan kegiatan ini dengan dikeluarkannya satu surat sakti, cukuplah menjadi pengobat kelelahan fisik dan mental yang mendera tadi. (Baca Juga: Satu Tangga)

(Surat Pengantar Dari Kepala Dinas Pendidikan Kab. Buton Utara)

Kami pulang dengan bersemangat, kami sudah mendapat legitimasi orang nomor satu di dunia pendidikan Kabupaten Buton Utara, ini berarti ini menjadi peluang bagi kami untuk kembali mengobarkan semangat belajar bersama Portal Rumah Belajar.

Kami tidak menduga, di hari Pahlawan ini, hari Rabu, 10 November 2021  di ruang meeting (Via Google Meet) yang mulai kami buka pukul 13.30 sudah ditunggui ratusan orang, sebagai host dan juga MC, saya kesulitan berapa kali mengizinkan dan beberapa kali mengingatkan para peserta untuk  membisukan suara, terlalu banyak orang dan terlalu banyak semangat.

Akhirnya seperti ketetapan Allah, Tuhan pengatur, kegiatan ini dibuka dengan resmi oleh bapak Kepala Dinas Pendidikan bapak Drs. Kusman Surya, M.AP. yang mengantar dan menitipkan pesan pembaharuan dan semangat inovasi melalui pendidikan ini dapat digalakkan sebagai semangat  kreativitas dan inovasi untuk benar-benar mencerdaskan Buton Utara.

(Tangkapan Layar Kadisdik Butur membuka resmi kegiatan)


Dorongan tersebut semakin menyalakan semangat juang itu, untuk memacu, dan menjawab tantangan yang semakin kekinian pula. Ditemani Duta Rumah Belajar Nasional 2019 pak Paruddin, M.Pd., dan bergandengan tangan bersama Sahabat Rumah Belajar Kabupaten Buton Utara lainnya, dan semangat yang menyala-nyala pula dari para 100 peserta dan bunyi chat serta whatsapp saya atas komplain para peserta yang tidak sempat dan atau tidak bisa bergabungnya dalam ruang pertemuan maya.

Menyibak dengan lembut alam bawah sadar saya.

Oh....mungkin inilah semangat juang itu, mungkin inilah hari pengorbanan itu, inilah hari Pahlawan. Semua orang berlomba-lomba mendengarkan, berbagi saran dan cara pandang, berkorban waktu, masuk kehutan, naik ke gunung mencari jaringan untuk bersama-sama berKolaborasi Aktif Mencerdaskan Buton Utara Menggunakan Sumber Belajar dalam Portal Rumah Belajar.

Di penghujung pertemuan saya ingin melihat sejauh mana mereka memahami kami sebagai pemateri, sebagai corong awal proses pembaharuan pendidikan ini. Hasilnya lagi-lagi mengagetkan, diikuti para kepala sekolah, guru dari berbagai jenjang/ tingkatan pendidikan, hasilnya kali ini positif, 77 yang sempat mengisi daftar hadir diperoleh nilai 84,16% dari poin 100, ini adalah satu sinyal yang baik yang pelan kami tangkap. (Dokumentasi kehadiran peserta Sosialisasi terangkum dalam link berikut: Daftar hadir peserta sosialisasi)


Pertemuan ditutup dan kami berdiskusi bahwa 100 pejuang pendidikan tadi adalah bukti nyata pijar semangat pahlwan itu benar-benar tidak pudar. Ada rasa optimis, ada asa, dan kami melihat itu semangat nyata, itu Semangat Hari Pahlwan itu pelan-pelan kini muncul dan hadir di Buton Utara






(Semua foto: dokumentasi Pribadi)



Serial Perjalanan di Pulau Dewata BALI-NEGERI PUPUTAN

  Keseruan menjelajahi bali dapat dilihat di sini: https://drive.google.com/file/d/1LVGH5MW76M-FzwwkqTx4QzIIslLigGiw/view?usp=sharing