Gagal Jadi Duta
Penulis: Honayapto*
Yang paling berkesan dan masih sangat membekas dalam ingatan saya tentang kegiatan interview atau wawancara ada beberapa, yang pertama saat melamar kerja di salah satu Hotel di Kota Baubau kalau tidak salah ingat tahun 2013, maklum saja, lahan basah saya mengais rejeki dari terminal lapangan Tembak sudah harus dipindah ke luar kota. Alhasil sebagai tukang ojek pindahnya terminal itu turut pula melumpuhkan giat ekonomi saya.
Berkutat dengan kredit motor dan siasat mencari uang untuk ongkos kuliah agar tidak membebani orang tua memang harus saya tempuh, berbekal ijazah perhotelan, Owner hotel kena tipu saya, dalam surat lamaran kerja, pasfoto saya ambilkan pas foto muda, beberapa editan foto juga akhirnya sukses membuat saya diterima kerja.
"Kok mukanya lain ya?"
"Itu memang saya bu, tapi beberapa waktu lalu, tapi itu benar saya."
yang ini saya diterima, akhirnya kerja 1 tahun sampai tuntas kuliah.
Wawancara kedua adalah saat mengikuti seleksi Pertukaran Pemuda dan Pelajar (Youth and Student Exchange Program) di Kendari tahunnya lupa. Saya yang asing pertama kali ke ibukota provinsi ini harus banyak bersaing dengan ratusan pemuda-pemudi yang siap jadi kompetitor, untungnya dibantu teman sekampung jadilah waktu 3 hari menumpang di kosan mereka. Saya juga lolos tahap kedua, wawancara dan unjuk kreasi seni dan budaya daerah.
Di hari pertama seleksi saya yakin bisa lolos, sekadar lari mengelilingi kantor walikota Kendari 7 putaran bukan perkara yang sulit, meski napas kembang kempis tak karuan saya khatam dengan pedenya. Tidak capek.
Pembagian kelompok untuk mempresentasikan konsep kota ramah lingkungan adalah sesi pamungkas, untuk menentukan siapa yang akan lolos ke tahap berikutnya.
Malam menuju hari kedua, saya dikabarkan lolos. Di tes kedua ini saya akhirnya tumbang, beberapa wawancara dan tes kinerja menjadikan saya keok dibuatnya, saya memang tidak tahu apa-apa.
Wawancara berikutnya adalah petualangan menuju Bekasi Bantargebang, saya mendapat email dari salah satu penyedia jasa layanan pencari kerja, saya siap diwawancara kerja, beratus-ratus email saya kirim ke perusahaan-perusahaan yang ada di Jakarta, saya kira saya bisa mensiasati studi lanjut saya seperti saya studi di Kota Baubau sebelumnya.
Kuliah S2 di Jakarta adalah hal terberat sekaligus menantang bagi saya, tapi nampaknya ikhtiar kalau tidak diridhoi Tuhan memang tidak akan jalan, niatnya untuk mencari kerja agar sewa kos, makan minum dan biaya-biaya kecil sekolah lainnya kembali tidak membebani orang tua kali ini pupus di tanah Batavia, saat wawancara saya diharuskan menyetor sejumlah uang, saya tolak saya cari kerja, bukan nyetor duit, skema itu juga terjadi waktu wawancara di Matraman, banguanan di bawah flyover bersebrangan dengan Dominos Pizza dan bangunan alat bantu dengar yang dekat dengan perpustakaan Nasional itu juga meminta saya menyetorkan uang sejumlah untuk simpanan awal, saya pikir aneh saya tidak layani.
Wawancara terakhir yang berkesan adalah wawancara di gedung Sarinah, saya bertemu dengan HDR yang cantik sekali, ditanya-tanyai saya tentang ikhwal ingin bekerja, tuntas saya jawab dengan percaya diri, sampai dengan detik ini, info kelanjutan wawancara saya tak ada kabar lagi.
Kali ini wawancara juga, tapi bukan wawancara harus berbuat ini dan itu, wawancaranya dilakukan orang-orang yang berkelas dan hebat, saya membahas wawancara karena saya juga ternyata telah berada di sesi wawancara.
Sejak diumumkan PUSTEKKOM menjadi salah satu dari 5 kandidat Duta Rumah Belajar untuk Sulawesi Tenggara tahun 2021, seperti saya katakan sebelumnya, saya juga tidak percaya, saya memang di satu waktu merasa mampu dan di satu waktu merasa tidak mampu. Orientasi itu selalu kadang-kadang membuat saya mempertanyakan eksistensi dari kompetensi saya sendiri, kata orang kita bisa membaca kemampuan kita sendiri. Saya hanya menekankan pada diri sendiri bahwa saya juga memiliki kelebihan dan kekurangan yang tidak dimiliki oleh orang lain, semua orang itu punya potensi yang berbeda-beda.
Jadilah hari Minggu, hari unjuk kerja dan substansi, hari 21 November 2021 saya dan 4 SRB Sulawesi Tenggara lainnya dijadwalkan untuk mengikuti sesi itu, sudah tidak ada tugas-tugas lain lain, tidak ada lagi ujian seperti ujian di level 1, pembuatan video pembelajaran di level 2, kreasi pembuatan media pembelajaran interaktif di level 4 sampai dengan Sosialisasi sesama SRB satu kabupaten atau lintas daerah.
Tapi, jujur, paska penjelasan teknis sebelum ke hari H unjuk kerja, kami dibekali dengan beragam tips dan trik serta sharing pengalaman orang-orang hebat yang berhasil masuk dalam lingkaran ini, saya pikir ini kegiatan yang sangat berfaedah dan membuka akses pertemanan plus pengayaan pengetahuan dari orang yang beragam pula.
Saya bahkan sampai insomnia, kami diminta untuk membuat bahan tayang jika ingin menjadi Anda menjadi Duta Rumah Belajar, Rencana Aksi 1 tahun, Kritikal Insiden saat akan melakukan unjuk kerja dan substansi tersebut. jika berkenan dapat melihat tugas-tugas tersebut melalui link ini:
(Tinggal klik) Bahan tayang Jika aku Menjadi DRB
(Tinggal klik) Rencana Aksi 1 Tahun
(Tinggal klik) Critical Incident
Saya tambahkan file CV dalam desain grafis dan bentukkan wordnya siapa tahu bisa berbagi tips dan kiat untuk saya mendapat evaluasi dari teman sejawat:
(Tinggal klik) CV grafis )
(Tinggal klik) CV Word
Terlihat mudah tapi saya sampai tidak nyenyak tidur, saya pun sampai memiliki mata panda, efek begadang, beberapa pekan ini saya tahu ini adalah komitmen dan integritas saya dalam suatu pekerjaan, Pokoknya apapun yang terjadi, jika ada tugas wajib dikerjakan dengan baik dan maksimal.
Saat hari H. 21 November 2021 bukan main girangnya saya, wawancara sudah saya akan temui lagi, ini benar-benar membuka memoar tentang pengalaman wawancara, dulu jika menunggu di ruang tunggu sembari deg-degan, kali ini saya menunggunya di ruang maya, via zoom, kami ditempatkan satu persatu dalam sesi khusus di tempat itu. Bayangkan manusia saja sudah bisa berbuat seperti ini.
Mereka di Jakarta, di jantung Indonesia, saya di Buton Utara di pelosok negeri. Alhamdulillah semua sesi Tuntas, ada Pak Pandu yang siap menguji saya dengan fitur-fitur Portal Rumah Belajar tepatnya mendengarkan saya saja hingga 30 menit berlalu, sudah tidak sesuai permintaan dalam surat yang saya terima, kadung deg-degan dan gugup heheheh....
Di 30 menit terakhir saya akhirnya dipertemukan 3 tim dari Pusdatin yang satunya saya kenal pada Dr. Zaenuddin yang juga menjadi mentor kami di coaching online untuk Sultra, ada ibu Sri dan bu Mega, bukan main ramahnya, sampai selesai 30 menit sesi substansi, saya merasa bukan diwawancarai namun lebih seperti mengobrol.
Waktu ditanya "Pak Yapto, tidak apa-apakan kalau tidak jadi Duta Rumah Belajar"
Saya bilang tidak apa-apa, meski dalam hati besar hati ingin kesana. tapi kayaknya lebih besar takutnya, takut tidak bisa berbuat apa-apa, bikin malu saja.
Kemarin malam, malam puncak Anugrah Kihajar 2021 di hari Guru Nasional 2021 sebagai rangkaian akhir dari seluruh kegiatan Membatik, PembaTIK, sampai dengan Festival Film berbagai kategori, saya ikut dari jam 08 malam sampai jam 10 malam lewat.
Terpilihlah Duta Rumah Belajar se-34 Provinsi, dan Ibu Lia Nur Isnaini dari SDN 1 Mandati Wakatobi, satu-satunya lawan perempuan di 5 besar kandidat DRB Sulawesi Tenggara sukses mengalahkan kami; pak Ilham dari Baubau, pak Nardis di Wawonii, pak Shaqal dari Kendari, dan saya dari Buton Utara.
Saya rasa ibu Kartini akan senyam-senyum untuk ini. Hmm....tapi yang pasti ini pengalaman seru, sangat seru.
Kedepan saya harus banyak belajar, soalnya sekarang saya gagal jadi Duta Rumah Belajar. hehhe.....fighting.