The Revealled of the 'Sangia'; Budaya, Agama, atau Sekeping Silaturrahmi?
Oleh: Honayapto
Reveal terartikan "Make known to humans by divine or supranatural means", membuat orang-orang tahu terhadap sesuatu yang berbau supranatural, sedangkan supranatural diuraikan sebagai sebuah manifestasi atau kegiatan yang dilekatkan pada beberapa hal yang membelokkan pemahaman ilmiah atau hukum alam (of a manifestation or event attributed to some force beyond scientific understanding or the laws of nature). Dua istilah ini diterangkan dengan jelas dalam kamus English Oxford.
Penulisan judul ini nampak epik, tetapi beberapa hal yang dituliskan, mungkin bisa saja tidak segagah sederet kalimat pembuka di atas, apalagi ada beberapa poin ulasan (budaya, agama, dan silaturrahmi), yang mana dalam rekonstruksi pemahaman penulis nanti, tidak sampai mengulik tuntas atau hanya sekadar menjamah saja, harap dimaklumi.
Saya menuliskannya sebagai respon atas beberapa diskusi yang menarik tentang 'Sangia', yang kemarin sudah saya prediksikan akan terjadi perdebatan, tiada lain ranah 'kemunafikan, dosa besar, syirik, tradisi kolot, sampai ketauhidan' menjadi gelanggang utama ruang-ruang tukar pikiran ini. Tulisan ini juga sebagai media untuk memahami pengalaman, melaporkan, menjelaskan informasi sampai kepada eksperimen terhadap suatu bentuk (Robert Keith Miller, Motives for Writing, 2006: 47-609).
Selain itu, saya ingin ulikan ini menjadi dokumentasi tertulis terkait perilaku sosial masyarakat desa Lagundi, sehingga kemudian menjadi satu ketertarikan bagi pemilik pengetahuan tentang konteks tulisan ini, hingga kita bisa saling berbagi pendapat, pengalaman, pengetahuan, dan perspektif yang sama dalam wacana yang dituliskan, menjadi sangat diperlukan untuk pengembangan khasanah kebudayaan (masyarakat desa Lagundi) itu sendiri.
Di awal-awal saya menderetkan kata 'reveal dan supranatural', dua kata ini sebagai pengantar bahwa terjadi banyak hal di luar nalar kita, pandangan mata selalu tak bisa menjangkau hal-hal yang tak kasat, perasaan mengalami pergolakan dilematis; antara percaya atau tidak?, atau sampai pada tataran pengetahuan yang menolak cara berpikir yang tidak rasional, dan memaksa kita untuk berkutat pada kebenaran sains, dan hukum alam yang mutlak. Bahwa hal yang gaib itu tidak ada, bahwa mempercayai itu, sama saja menertawakan diri sendiri atau sedang bermain-main dengan logika. Maka, mengungkapnya diharapkan bisa menghantar kita pada sudut pandang (konteks) yang sama, atau paling tidak lebih toleran dengan watak budaya itu mengakar. Meskipun mengungkapkan itu, sama halnya dengan tidak mengungkapkan apa-apa.
Sangia dan Agama
Sangia diartikan sebagai 'keramat'. Sesuatu yang dianggap berharga, bernilai, dan dikeramatkan, di mana dalam menyelenggarakannya, dilakukan beberapa persiapan khusus sehingga diperoleh sebuah maksud dan terdapati sebuah nilai-nilai budaya (value of culture) baik secara secara eksplisit maupun implisit. Pada titik ini Sangia dinarasikan sebagai berikut:
Sangia atau posangiaha yang dilaksanakan di selasar pantai desa Lagundi ini, sebagai sebuah manifestasi penghargaan atas sebuah marwah, keberkahan, dan keberkatan kepada seseorang, yang menyebutkan namanya saja, seorang informan harus memulai 'batata' perkataan untuk tidak mendapat dosa atau bala, informan juga menyatakan bahwa yang di-sangia-kan itu bernama Ode Mansa, beliau ini dipercaya sebagai seorang yang haulnya didengar, dan dijabbah Allah SWT. Ode Mansa disebutkan sebagai seorang yang memiliki kedudukan tinggi di tanah Buton (konon berasal dari Sampolawa). Namun, karena Lipu tidak memberi tempat untuk pengabdian, maka ia bersama kembarnya (buaya), mencari tempat guna menunjukkan eksistensi kekuatan yang dimiliki.
Mendengar tuturan ini, seketika saya membayangkan bagaimana masyarakat kami dalam menunjukan penghargaannya kepada kharomah yang dimiliki Nabi Sulaiman AS yang bisa berbahasa segala jenis binatang dan memanfaatkan kemampuan itu, saat mengutus burung hud-hud mengintai negeri Sabah, sedangkan sekelas orang ini saja, masyarakat sudah memberikan tempat. Imajinasi seketika membawa saya dalam dunia yang penuh dengan kisah mitologi yang sering kita saksikan di layar-layar kaca film Hollywood ketika mendengar tutur demi tutur para informan.
Pada jeda ini, saya kemudian menyadari bahwa pada masa itu, para tetua adat condong ke arah pemikiran yang konservatif; memberi nilai sosial yang tinggi pada seseorang yang dianggap bernilai extraordinary.
Apa yang ditampilkan dalam live streaming video facebook saya (Sabtu, 30 Maret 2018) kemarin, dan rentetan dari kegiatan (ritual) adat Sangia ini adalah potongan kegiatan yang telah dipangkas hampir sebagian dari proses Sangia yang sebenarnya, sudah ada perpindahan dan pergeseran proses budaya yang ada (changes and movement culture), tiada lain tiada bukan, era digitalisasi di abad modern perlahan-lahan mengikis tahapan-tahapan Sangia ini, maka tidak heran jika tradisi ini tidak dipertahankan, kemungkinan untuk menjadi 'dead culture' sudah di ambang pintu.
Lanjut, kami hanya mendapati tahapan ritual yang dimulai dengan membersihkan area ritual dari semak-semak dan rerumputan liar, tempat ini sangat dekat dengan laut, lalu ada replika rumah yang dibangun dengan papan dan terlingkari daun kelapa muda, terdapat beberapa alat musik tradisional, ritual di awali dengan pembakaran dupa yang dilakukan di bibir pantai, ini sebagai simbol telah menyantroni sang kembar (buaya) dari si empu (Ode Mansa) yang disangiakan, ada telekan dupa berisi sirih, pinang, kapur dan beberapa alat tembaga, sebagaimana barang antik dalam proses-proses lazim rumpun Austromelanosia ini, para tetua adat dan yang masih dipercaya memiliki ikatan supranatural terlibat dalam satu tempat, yang di tengah-tengahnya ada 'Oruru' makanan yang dikumpulkan masyarakat, lalu memanjatkan doa kepada Allah SWT (doa menolak bala, keselamatan, keimanan, amal yang baik) diklaim informan dipanjatkan dalam proses dimensi bertemu Tuhan ini.
Kemudian, gendang, mara tinggi dibunyikan, dan pada saat itu masyarakat menunggu sampai seseorang atau banyak orang mengalami 'kesurupan atau masarungga', orang-orang berperilaku seperti bukan dirinya sendiri, berdendang dengan mengibas-ngibaskan tangan dan Serampangan kaki menjejak di tanah, berbicara yang racau yang sejatinya sedang dalam proses transidensi alam bawah sadar. Di poin ini, letak 'religion poin of view' sudut pandang agama melihat ini sebagai sesuatu yang syirik atau menduakan tuhan, menyembah setan, meminta kesembuhan, keselamatan, rejeki selain kepada Allah, dan terperdaya oleh Satan.
Orang-orang yang eksklusif dengan agama pasti akan melihatnya sebagai suatu kecelakaan beragama. Saya tidak dalam posisi menyalahkan agama dan sudut pandangnya ya... , tidak ada yang salah dengan konsep beragama, konsep tauhid (Agama Islam) menawarkan konsep ketuhanan yang absolut, laillaha illallah tiada Tuhan selain Allah, bahwa meyakini Tuhan selain Allah itu dosa besar, agama melihat ini sebagai bentuk penyembahan terhadap berhala, itu konsistensi dalam agama. Namun, pemikiran yang radikal juga tidak serta merta dijadikan kebenaran dalam beragama, setidaknya agama berada dalam jalurnya sebagaimana lajur dari Sangia ini berjalan.
Mengapa demikian?, karena dalam proses tersebut, ada kegiatan diskusi antara yang kesurupan dan yang tidak, hingga pada saat-saat tertentu permintaan meminta air dengan dibaca-bacakan dari tuturan yang meracau yang kesurupan, dianggap sebagai media penyembuhan. Tidak ada permintaan mau meminta harta, uang, emas, jodoh dan lain sebagainya, dalam hal ini manusia memposisikan diri sebagai partisipan aktif yang mendorong celah 'broke' rusak yang dipandang agama tersebut.
Namun, seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa proses kultur ini sudah mengalami degradasi, maka sudut pandang yang monopolitik dari agama tidak serta merta lagi menjadi penghakiman kemusyrikan (preferensi), sejatinya ritual Sangia ini harus diselenggarakan selama semalaman suntuk, dimulai sore dan berakhir di pagi hari. Sore pada pukul 3-5 sore orang-orang sudah merabas membersihkan area ini, lalu pada pukul 08 malam diiringi 'habe-habe Pobelo' para bisa membakar dupa, konon pada intrik tertentu buaya keramat yang dikenal dengan nama La Buri akan selalu menampakkan diri di perairan dalam proses pembakaran dupa ini.
Ganda pombelo, mara tinggi, mbololo adalah seperangkat alat musik yang tersedia untuk mengantar proses ritual ini, yang kemudian masarungga, sampa atau kesurupan dialami banyak orang, para peserta juga berjibaku datang dari desa tetangga (bukan hanya sekelompok dari masyarakat desa Lagundi), karena diadakan sampai malam hari, maka penerangan menggunakan lampu petromaks dan api dari hasil pembakaran kayu (Budaya yang bernuansa 'Scouting' kepramukaan). Ritual ini juga dilengkapi dengan penancapan dua 'tombi' bendera yang berwarna merah dan putih di sore harinya, dan ditumbangkan pertanda usai pada pagi harinya, alunan gamelan atau gendang pengiring masarungga juga harus diiringi dendang gendang masarungga bukan dendang pukulan gendang pajoge.
Ada banyak perspektif langkah-langkah proses ritual yang mulai tidak dijalankan utuh di sana, seperti pelakatan kampurui (sorban) pada replika patung Buaya yang diberi citra bergaris-garis. Naratif ini secara eksplisit menegaskan bahwa Sangia adalah sebatas budaya saja.
Budaya yang menjadi perilaku sosial sebagai sebuah ide, adat, dari sekelompok, segelintir masyarakat tertentu "The custom, ideas, and social behavior of particular people or group", Sangia tidak lebih dari sekadar hasil cipta, rasa dan karsa manusia.
Mengapa Buaya?
Bagaimana agama melihat titik sentral dari sosok yang dipercaya terasuki buaya (roh), agak sulit mendebatkan tentang benar kerasukan atau sekadar sensasi belaka, sebab agama juga memberikan satu keabsahan tentang eksistensi 'makhluk lain' selain manusia (Q. S. Azzariyat), penciptaan manusia dan jin sebagai organisme untuk menyembah Allah. La Buri yang tergelari landolole (dugaan disebut Landolole karena buaya tersebut berjibaku dengan gelombang laut yang bergelung-gelung) turut terlibat dari proses budaya ini, kembaran dari Ode Mansa ini dianggap sebagai suatu kesatuan proses ritual yang tidak bisa dipisahkan, buaya la Buri sebagai manifestasi penjaga 'coast guard' yang dipercayakan untuk menjaga manusia dan teritori dari serangan liar buaya-buaya atau hewan air lainnya yang tidak dikeramatkan.
Selama sejarah desa Lagundi berdiri belum ada kasus tentang serangan Buaya "animal attack', padahal tekstur dan topografi wilayah ini tidak jauh berbeda dengan wilayah konflik antara manusia dan hewan (mungkin sekadar intentional event, tapi sisi magis juga melekat). Maka sebagai penyelarasan ritual ini, sang Buaya juga mendapat atensi kultural yang sama dengan Ode Mansa ini. Tiada lain tiada bukan alasan eksklusif yang dipaparkan sebelumnya adalah alasan dilakukan ritual ini.
Sehelai Silaturrahmi
Terlepas dari beberapa penjelasan di atas, Sangia yang dipandang sebagai sebuah sistem yang menjadi milik masyarakat itu sendiri dalam perspektif budaya, menjadi tidak salah jika kita bisa melihat konsep ini dalam sebuah pandangan yang jauh lebih komprehensif dan bersahabat, perlu menguak nilai-nilai (value) dari perilaku sosial yang dilakukan yang berhubungan dengan Sangia ini, setidaknya ada beberapa poin substansial yang diperoleh jika secara saksama ritual Sangia diadakan di era moderen ini, yaitu sebagai berikut:
1. Terdapat proses pembelajaran budaya (menganyam daun kelapa muda) menjadi ketupat baku, butu, longole, bawa, dara-dara, pahano kadola, ngkida-kida, dan masih banyak jenis ketupat lainnya, pengetahuan tentang keterampilan ini secara transaksional terwariskan dari generasi ke generasi, menguasai keterampilan ini juga memberi nilai ekonomis pula.
2. Masyarakat diperkenalkan (by known) tentang suatu khazanah kebudayaan yang ada di wilayahnya, lebih toleran, mengenal patron-patron kehidupan, dan menyadari keberadaan makhluk lain selain manusia, menjadikan para pelaku yang terlibat dalam proses itu menyadari sebuah kebijaksanaan dalam hidup; ada keselarasan yang tercipta.
3. Masyarakat pasif (pelibat tak aktif) menggunakan kesempatan ini untuk menyambung tali silaturrahmi, memakan ketupat, berbagi lauk-pauk dan berekreasi di pantai bersama anggota keluarga.
4. Ada pengajaran (wisdom of life) bahwasanya kehidupan memiliki tahapan-tahapan dalam tiap jenjangnya, ada awal dan akhir, ketika masyarakat berkumpul mereka juga nantinya akan berpisah. Segala sesuatu berjalan sesuai jalannya.
5. Menampilkan kecintaan terhadap budaya lokal, menghargai keberagaman dalam berbudaya menjadi cikal bakal semangat kebersamaan bangsa yang berbudaya, dll.
Beberapa poin positif di atas, sebenarnya bermuara kepada perilaku seseorang menghargai manusia lainnya, banyak kebaikan dengan menyambung dan mengeratkan sehelai tali silaturrahmi ini.
Begitulah cara kerja 'reveal' pengungkapan singkat dari poin Agama, budaya atau sekadar bersilaturahmi saja, tentang Sangia ini dilakukan.
Ada banyak cara membangun pemahaman, namun menutup diri dan berlanjut pada simpulan yang singkat lagi kecil, maka kelonggaran berinterpretasi menjadi sangat nihil untuk dilakukan, akhirnya, kita menjadi kebenaran dalam cara pandang yang lain, tidak salah namun menilai dan mengambil hal yang positif dari suatu budaya juga bukan sebuah dosa atau kesalahan kan?...
Setuju atau tidak itu normatif, Budaya memiliki ruang interpetasinya sendiri, sebagaimana agama dan pokok lainnya.
Lagundi, 31 Maret 2018
Catatan:*Informasi ini diperoleh dari berbagai informan yang terlibat langsung dalam Posangiaha ini.
**Foto-foto adalah dokumentasi pribadi penulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar