Behind The Scene of Pass Exam
(Di Balik Layar Kelulusan)
Oleh: Honayapto, S.Pd*
Minggu ini menjadi momentum yang menegangkan bagi adik-adik peserta didik, harap-harap cemas antara lulus ujian, naik kelas, mendapat peringkat, atau sebaliknya mendapat nilai buruk, peringkat terbawah, dan paling parah tidak naik kelas dan lulus ujian.
Dalam
kalender pendidikan, bulan ini menjadi bulan yang ditunggu-tunggu, sebab
periode pengajaran semester genap 2018/2019 akan segera berakhir, artinya
siswa-siswi akan mendapatkan hasil belajar mereka selama setahun penuh.
Usai diumumkan predikat-predikat hasil proses belajar mengajar itu, tentu saja hari yang dinanti-nantikan akan segera tiba. "Libur telah tiba" begitu bunyi satu bait lagu dari penyanyi cilik Tasya Kamila.
Proses pendidikan dari
perspektif yang 'awam' memang hanya sebatas begitu,
(Datang-Belajar-Lulus-Selesai), padahal 'learning process' tidak semudah dan segampang
itu.
Beberapa
puluh tahun silam, seorang guru saya pernah berucap pada kami semua siswanya, dan
perkataan tersebut sangat berbekas dalam benak saya. "Di lingkungan
sekolah, hanya ada 2 jenis siswa yang dikenali guru, siswa jenis pertama adalah
jenis siswa yang CERDAS, dan jenis siswa yang kedua adalah siswa yang NAKAL
(bukan Jahat)".
Tentu saja, pada saat itu, memahami redaksi kalimat ini tentu butuh penalaran yang lebih, secara sederhana saya belum bisa menalarnya. Bagaimana bisa seorang guru yang telah berinteraksi dengan hanya beberapa orang di dalam ruangan kelas dan lingkungan sekolah, juga dengan kuantitas waktu yang cukup lama tidak bisa mengenal siswa-siswinya satu persatu?.
Apakah redaksi kalimat guru ini sebatas kalimat 'basa-basi' untuk kami sebagai selingan dalam pengajarannya pada saat itu?, apa iya guru ini, tidak bisa mengenal peringkat kedua, ketiga, dan seterusnya dan nama ketua kelas kami yang selalu setia mengantar absen guru untuk dicheck dan recheck sama beliau?.
Bagaimana mungkin Ketampanan dan
kecantikan bunga kelas dan ksatria kelas kami tidak cukup menguatkan memori guru
tersebut untuk mengidentifikasi sifat-sifat parlente tersebut?,
Teranyar,
apakah beliau tidak cukup familiar dengan sederet siswa dekil yang kalau
kesekolah siap mempersonakan sebagai anak-anak yang 'terbuang'?, sepatu sobek
di ujungnya, warna baju kurang jelas, putih apa kuning?, serta polesan gaya
rambut klimis dari anak-anak pegawai negeri, yang paling heboh, harusnya guru
tersebut, bisa mengenali satu teman kami, yang namanya terinspirasi dari 'Kombe
Mohosa' The Devil.
Pertanyaan-pertanyaan
itu yang bersileweran di ruang-ruang corpus saya, dan pada akhirnya, di titik
ini saya menemukan jawabannya.
Guru memang
hanya akan mengenali 2 jenis siswa tersebut, yang lainnya bisa dikenali ya bisa
tidak, sebagai remeh-temeh sahaja (Alhamdulillah).
Kenapa
bisa?, karena memori kita hanya terbatas pada hal-hal yang berkesan dalam
pikiran kita. Maka dari itulah nasihat untuk mendokumentasikan kekayaan
intelektual kita baiknya dibekukan dalam tulisan, "By writing we can live
forever".
Satu dari
dua jenis siswa tadi lah yang kemudian menjadi sub tema tulisan ini terbentuk.
SISWA
CERDAS, SISWA NAKAL, DAN PERAN GURU
3 hal ini menjadi subordinasi dan orientasi wacana tulis ini muncul, yang pertama sebagai bentuk manifestasi penulis sebagai akademisi dalam mempertanggungjawabkan visi-misi pendidikan yang diembannya, dan kedua menjadi medium berbagi pandangan yang konstruktif terkait isu-isu pendidikan.
Sejatinya menjadi cerdas tidaklah juga
semudah yang dibayangkan, jika beberapa dekade para ahli kita menerapkan bahwa
kemampuan positif kita dipetakan menjadi 3 bentuk aliran.
Aliran pertama kemampuan atas bakat alami yang dimiliki siswa tersebut, orang-orang telah terlahir mampu dan cerdas dari alam sananya, telah cerdas dan bersiap berkompetisi, setidaknya ini yang menjadi pandangan para kaum Nativis.
Aliran kedua adalah pandangan dari kaum behavioristik, faktor lingkungan adalah sentra utama dalam membentuk karakter dan insan-insan yang cerdas plus manusiawi.
Dan
yang ketiga sekaligus yang terakhir, kolaborasi kecerdasan bawaan ditempa lingkungan
yang mendukung kognisi siswa menjadikan aliran konvergensi sebagai satu aliran
yang terlahir memuat isu-isu pendidikan menjadi sangat menarik untuk terus
diamati.
Tidak hanya dari sisi positif saja, namun kecenderungan negatif juga merupakan variabel yang bisa tercipta dan bisa tergambarkan dari 3 aliran pendidikan tadi. Terbaru Howard Gardner mengemukakan konsep kecerdasan, menurutnya ada 8 jenis kecerdasan, atau dikenal dengan 'Multiple Intelligence' ke delapan hal tersebut di antaranya adalah kecerdasan bahasa, musik, intelijensi, logika matematika, spasial, kinestetik, naturalis, intra dan interpersonal.
Nah, konsep dari teori di atas jika kita lekatkan pada siswa yang cerdas bukan menjadi sebuah masalah, lazimnya siswa harus bersikap demikian. Ini kemudian yang menjadi dasar pertimbangan penulis menemukan jawaban bahwa seorang guru bisa mengenal dengan sangat mudah siswa-siswinya yang didiagnosis sebagai siswa yang cerdas.
Kemampuan mereka memecahkan masalah, mengerjakan tugas-tugas sekolah, mengembangkan
sikap positif, membutuhkan kegiatan-kegiatan superior yang hanya dimiliki oleh
orang-orang yang cerdas.
Lantas
bagaimana dengan siswa yang Nakal?, dalam kamus Oxford Nakal atau naughty
dijelaskan sebagai berikut:
"Sebagai
bentuk kata sifat (Especially of a child) disobedient, badly behaved"
Jika
diterjemahkan secara bebas maka Nakal adalah bentuk ketidakpatuhan, dan
perilaku yang ditunjukan dengan sangat buruk. Nah...variabel ini yang menjadi
sebuah masalah, hal ini tentu berkaitan erat dengan peran dan fungsi yang
dijalankan oleh seorang guru.
Saya tidak
akan membahas dengan panjang lebar atau membangun konstruktif pikiran yang akan
membawa kita menarik satu demi satu definisi-definisi konseptual pada
persoalan-persoalan yang merupakan rantai dari proses pendidikan.
Saya hanya
akan membawa ini dalam paradigma sebagai seorang guru terutama sebagai
pendidik, karena sub tema ini menjadi relevan dalam menguliti persoalan teknis
plus krusial yang terjadi di lingkungan sekolah.
Saya katakan
"GURU YANG MEMILIKI TANGGUNG JAWAB BESAR dalam SEKTOR INI".
Bapak-ibu
pembaca yang budiman, dalam paradigma saya menjadi siswa yang Nakal menjadi
mosi yang paling jelek dan paling tidak saya inginkan, bisa dibayangkan
kegiatan belajar mengajar yang menuntut kita untuk disiplin waktu dalam hadir
di sekolah, kelas, mengerjakan tugas harian, baik secara personal maupun tim,
menciptakan interaksi yang positif dengan teman sebaya, guru, dan lingkungan
sekolah harus dicederai dengan tindakan-tindakan yang tidak beretika.
Malas, tidak disiplin, bolos, suka berkelahi, tidak menghormati guru, dan akhirnya ingin meminta untuk naik kelas atau lulus ujian dengan total kehadiran yang tidak lebih dari 10%, teramat miris.
Guru harus menjadi tameng dan melakukan
sikap preventif dan cenderung 'Otoritedukatif' dengan menggunakan
pendekatan-pendekatan manajemen kelas (Classroom Management).
Jauh dari
itu, School Management atau manajemen sekolah menjadi benteng terkuat
untuk menghilangkan efek domino (“akh.... Malas saja bisa naik kelas”) yang
ditimbulkan dari perilaku buruk tadi, paling tidak, guru sebagai tombak
pelaksana pembelajaran harus mampu menguasai 3 pengelolaan kelas yang
dimunculkan Rudolf Dreikur dan Lee Carter.
3 pendekatan tersebut yaitu 1. Modifikasi perilaku, 2. Konsekuensi logis, dan 3. Disiplin yang ketat.
Dalam modifikasi perilaku pemberlakuan hukuman (punishment) dan reward menjadi bentuk manajemen yang harus dikuasai dengan matang, mengerti kapan pelaksanaannya dan lain sebagainya.
Pada konsekuensi logis, penerangan akan hal-hal yang berdampak buruk dan atau baik akan menjadi boomerang bagi siswa maupun guru itu sendiri. Tidak hadir atau malas, konsekuensi tidak naik kelas dan lain-lain.
Dan ketiga pada disiplin yang ketat ada serangkaian kesepakatan bersama yang melibatkan siswa dan guru, kesepakatan ini harus benar-benar dijalankan, siswa dan guru harus konsisten dengan tanggung jawab dan konsekuensi atas pelanggaran pada konsensus yang telah dibuat.
Dengan
memahami dan menerapkan ketiga konsep di atas. Pendidik memiliki dasar untuk
melakukan tindakan-tindakan evaluatif pada sikap yang ditunjukkan oleh siswa.
SEMANGAT PELAYANAN PUBLIK
4,0 BAGI ASN
Akhirnya
sampailah pada penghujung, semangat pelayanan publik yang sedang digaungkan
pemerintah Republik Indonesia dalam melaksanakan proses reformasi birokrasi ASN
dan semangat revolusi mental akan menjadi titik langkah Indonesia Emas di 2020
dalam menghadapi Revolusi Industri 4,0. Ini mesti yang kita songsong.
Tentu saja,
siswa-siswi tadi tidak akan mengeluarkan bentuk-bentuk kenakalan yang cenderung
merugikan diri mereka sendiri dan lingkungan pendidikan, jika kita para ASN
memiliki jiwa pengayom dan contoh teladan yang baik bagi mereka.
Guru hadir
tepat waktu, belajar mengajar sesuai kurikulum, dan ikut melaksanakan
kecerdasan-kecerdasan tidak hanya kognitif, tapi secara afektif, psikomotor,
sosial kognitif, maupun kecerdasan yang beragam.
Bayangkan
saja, negara telah memberikan upah yang sepadan untuk kesejahteraan guru, dari
data Unesco Institutes for Statistic (2009) dan World Bank; Calculation Using SKID, Ministry of finance (2009)
menggambakan anggaran pendidikan lebih dari 60% digunakan untuk gaji dan
sertifikasi guru, nilai ini lebih besar dari negara Vietnam, Malaysia, dan
Filipina.
Saya memiliki
keyakinan kita pasti akan berubah untuk menjadi bangsa yang beradab, melindungi
alam, menyehatkan bumi, dan menjadi penjaga-penjaga kedamaian dunia,
mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia
berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Sekarang
semua tergantung kita, memilih PARADIGMA ORANG AWAM, atau PARADIGMA GURU dan
PENDIDIK?, atau menjadi SISWA YANG CERDAS atau SISWA YANG NAKAL?.
Satu hal
yang pasti proses kelulusan atau naik kelas tidak semudah dalam paradigma awam,
ada banyak prosedur-prosedur pendidikan dan seabrek silang sengkarut wacana
kritis yang harus dihadapi organisme pendidikan, tidak sekadar berbicara naik kelas atau lulus saja,
benar-benar sangat kompleks.
Paling tidak hari ini saya sudah kenal dua nama, satu namanya Syafir Sang Juara Satu (Cerdas) dan satunya lagi si ‘S’ (Nakal alias Kapatuli) yang suatu saat saya doakan akan menjadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.
Semoga saja!.
(*Ditulis pada tahun 2019)
(*Penulis adalah Kanturuna Wolio,
bergerak untuk pelan-pelan menyebarkan semangat disiplin sebagai bentuk
semangat baru dalam menyongsong semangat pelayanan publik 4,0., ditulis pada
Rabu, 19 Juni 2019)
Sumber gambar: Properti SD Sukarno Hatta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar