The Cursed Land; Tanah yang Terkutuk

 The Cursed Land; Tanah yang Terkutuk

(Sumber foto:99.co Madain Saleh)

Oleh: Honayapto

Di massa itu, ketika orang bersuara, suaranya ibarat sembilu yang mengiris hati, terusan-terusan lisannya bagai ulam bermakan jantung, menggerogoti daging-daging, mengereposkan tulang sampai bernisbah menjadi haram untuk terdengar.
Orang-orang yang kritis berubah menjadi krisis lalu benar-benar kritis dan inalillah. Tak ada waktu untuk bersarekat, tak ada uzur bersyariat sampai menghalus-haluskan pandangan dengan bersyair, hingga tak ubahnya menabur garam di atas luka, perih, teramat sakit.
Semua alam bersepakat, bergerak berarti mati, menolak berarti makar, apalagi bersalah, tidak salah lagi kuburan adalah menjadi peristirahatan tetap yang memotong takdir hidup.
Hingga tibalah pada titik tertinggi kejenuhan yang memuncak, muak, sumpek, tak sudi lagi dan ingin merdeka, menuntut hak-hak untuk bebas bernalar, mengantarkan massa itu beralih kepada suatu peralihan massa yang dikenal dengan Reformasi.
Menulis ini, tak ubahnya sebagai sebuah naratif yang berlaku dalam rumus-rumus pembelajaran bahasa orang-orang 'western'. sketsa sana, sketsa sini, andai diri ini berada pada massa itu, apa pengantar narasi seperti di atas benar-benar ada, ataukah hanya sekadar sebuah 'tutur tulis semata' saja, tidak lebih.
Menulis ini tak ubahnya seperti merangkai dan membangun kerangka bangunan-bangunan dari sisa kebakaran, tak utuh, rapuh, dan tak penting, familiar disebut dengan Tautologi.
Namun seperti diskusi-diskusi yang menarik tentang sastra "Bagaimana bisa mengenal dengan detil kisah seorang Soekarno akan pergulatan-pergulatan kehidupan nasionalismenya?, bagaimana bisa mencerna sosok tersebut hanya dengan sekadar sodoran tumpukan buku-buku yang ditulis seseorang, bahkan untuk terlahir di zamannya pun tak ada air ketuban yang turut mengikut.
Bagaimana penerangan tentang kondisi psikologis, psikososial, dan remang-remang interaksi kehidupan yang sebenar-benarnya terjadi pada massa itu, ketika referensi terkait kehidupan seseorang yang ditimbulkannya juga terpenggal-penggal, lagi-lagi tidak utuh.
Ya... seperti inilah menggambarkan negeriku, merangsang liar pemahaman-pemahaman dangkal terhadap zonasi kehidupan yang sedang dihadapi oleh satu makhluk hidup, yaitu Saya. Semoga Tuhan mengampuniku.
Bulan Mei, yang bertepatan dengan Bulan Suci Ramadan, bulan penuh ampunan dari Allah SWT, bulan yang telah berada seribuan jauhnya perjalanan; 1439 H. Jauh berjalan dari zaman Nabi, Khalifah, Sultan-Sultan, dan orang-orang yang benar-benar tawadhu kepada Tuhannya.
Bulan yang menandai jatuhnya rezim diktator, rezim kepemimpinan lebih dari 3 dekade, 32 Tahun. Rezim orde baru yang akhirnya tersungkur, terjungkal pada 21 Mei 1998. Sebuah peristiwa epik terjadi, dan pada saat itu, satu anak bangsa yang baru belajar ini, bergelut dengan angka 7 di kehidupannya, jauh surut kebelakang.
Akan tetapi sejarah menjadi sebuah struktur, keping-keping fenomenologi yang tercipta dan diciptakan oleh-oleh orang yang bergelut dengan massa itu, terlibat langsung, mendengar, melihat, menyaksikan dan atau mengumpulkan tiap frasa-frasa historis yang terberai dalam tiap pikir, dan terlacak dalam berbagai jejak-jejak memori pelaku-pelaku sejarah.
Memahami sejarah dalam berbagai sudut pandang pelaku aktif dan pasif sejarah bukanlah sebuah dosa, yang berdosa adalah 'menghilangkan' sejarah. Maka, mencerna sejarah seperti yang tercatat dalam beberapa artikel yang dipublikasikan Kumparan(com) dalam rangka memperingati 20 Tahun Reformasi Indonesia, menjadi suatu kewajiban bagi kita "untuk tidak melupakan sejarah".
Dalam rilis artikel tersebut, beberapa aktivis yang bergulat langsung dengan kehidupan otokritik pimpinan keluarga Cendana, mendeskripsikan kejadian-kejadian kelabu, mengerikan, menegangkan, dan mencekam dalam massa runtuhnya dinasti cendana tersebut.
Salah satu artikel yang ditulis Haris Azhar, aktivis pegiat hak asasi manusia yang pernah tergabung dalam lembaga KontraS dengan judul "20 Tahun Reformasi: Macetnya Kasus-Kasus Pelanggaran HAM", merekam dan mendeskripsikan banyak hal tentang peristiwa berdarah di bulan Mei 1998.
Peristiwa yang menurut Haris, sebagai titik awal tonggak demokrasi yang sehat, positif di Indonesia di mulai. Peristiwa yang mendorong Presiden Soeharto untuk turun tahta di negeri Republik, setelah sebelumnya peristiwa berdarah dengan matinya 4 mahasiswa Triksakti, melubernya massa aksi dari berbagai penjuru negeri, pergolakan mahasiswa di kota-kota besar, Jakarta, Surabaya, Sumatera, Makassar dan lain sebagainya.
Peristiwa ikonik berdarah yang juga dipaparkan sebelumnya terjadi, peristiwa Semanggi I, Semanggi II, kuda Tuli, sederet peristiwa yang diindikasikan melanggar hak hidup orang lain, sampai penjarahan, peristiwa yang semakin menegangkan dengan tindakan-tindakan represif yang dilakukan aparat penegak hukum.
Haris Azhar menggambarkan suatu kengerian kehidupan rakyat indonesia, yang berusaha untuk lepas dari kungkungan yang mengerikan orde baru. Iapun juga menyorot mandeknya kasus-kasum tragedi kemanusiaan yang terjadi di negeri ini.
Kini 20 Tahun sudah negeri ini terbebas dari tirani kekuasaan otoriter, 20 tahun negeri ini berefleksi tentang gagasan kebebasan berpikir, persamaan hak, dan pikir-pikiran intelektual merdeka dan yang berkelas. 20 tahun sudah negeri ini terseok-seok dalam sebuah pilihan untuk berdemokrasi.
Namun sayang seribu sayang, reformasi; perombakan ulang, membangun, menyusun, dan membentuk kembali sistem bernegara yang keliru, ternyata tak lebih dari sekadar mengganti baju saja, "changed cover, no more".
Kebebasan kita berserikat, berhimpun, ternyata menimbulkan suatu sisi pandangan bernegara yang kebablasan, negeri ini menjadi bebal dan kebas dengan sejuta kenyataan hidup yang getir dari kaum-kaum yang termarjinalkan, kaum melarat, dan sejuta aksi pongah dan 'planga-plongo' pejabat negeri yang tidak bisa membedakan antara "tidak minat lagi dan atau tidak disediakan" antara kaya dan miskin.
Tanah kita seakan menjadi ajang pertaruhan dan kontekstualisasi dari hukum rimba (Jungle of law), siapa yang kuat dia yang menang, menjadi rapuh dan saling sikut-sikat kekuatan.
Negeri ini berubah menjadi tanah yang terkutuk, kita menggedor dan menghantamkan nurani kita dengan palu godam keserakahan, memecah-mecahnya menjadi keping-keping dan meletakkan dalam mantra-mantra yang kelam dan jahat, untuk memulihkannya ibarat bersiap menarik jantung dalam tubuh. Siapa mahu?...
Kita kehilangan napas perjuangan, kita mendekonstruksi suatu pemaknaan tentang keadilan sosial, dan perjuangan bersama sehidup semati. Sehingga, Korupsi, suap, kemiskinan, kejahatan terhadap agama, kebebasan berpendapat dan berekspresi, menjadi sajian kehidupan bernegara kita.
20 tahun sudah, akankah negeri gema ripah loh jinawi terbebas dari kutukan kemanusiaan ini, atau ini telah menjadi takdir, karma dan dosa bagi siapa saja yang hidup di tanah yang terkutuk.
The Cursed land, sebuah kata yang jahat, kejam, dan mengerikan.

Semoga kita terbebas darinya.

(Penulis adalah salah satu anggota Kopi Butur)
Ditulis pada 30 Mei 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Serial Perjalanan di Pulau Dewata BALI-NEGERI PUPUTAN

  Keseruan menjelajahi bali dapat dilihat di sini: https://drive.google.com/file/d/1LVGH5MW76M-FzwwkqTx4QzIIslLigGiw/view?usp=sharing