Horcrux
Oleh: Honayapto
Di langit gelegar guntur bergemuruh, rupa-rupanya hendak ingin meremukkan bumi dan seisinya.
Kilat menyambar tak ubah bagai kilatan sabetan samurai para legenda Haragiri, 'kehormatan adalah segalanya'.
Langit yang mendung, bermuram durja seakan melengkapi scene-scene kelabu dari sifat hampa aliran dingin yang 'nyungsep' merembes ke dalam sum-sum tulang.
Sore ini, adegan kita tertulis sendu, dan kelabu, penuh dengan aroma kegelapan, kengerian, dan seperti merasa mawas saat gagak-gagak hitam beterbangan di kebun-kebun labu, mereka mencium aroma kejahatan, dan kematian.
"Sir, can I break my heart? ", may it becomes a piece?" dialog diiringi dengan nada senar biola yang pelan, dan samar-samar. Lalu dikejutkan dengan dentuman-dentuman suara bass.
"No, you can not do it. It is forbidden. It is a black magic. Why do you ask me?."
"Is that exist?, I remember, something was called a horcrux?."
"Bloody hell... you are not allowed to mention it. Horcrux will make you break heart into pieces. It was cursed".
Semuanya senyap...
Tom Riddle tersenyum puas, seringainya memiliki sejuta makna.
Begitulah dialog-dialog yang sangat berkesan dalam film Harry Potter; The Deathly Hallows Part 2. Sebuah masterpiece dari J.K. Rowling yang berhasil divisualisasikan dengan sangat baik oleh produsen Hollywood dalam layar sinema.
Memahami latarnya, dialog ini terjadi sebagai flashback dari 'seseorang yang tidak bisa disebutkan namanya' yang menjadi sangat jahat dan diabadikan sebagai penguasa dunia kegelapan.
Pada awalnya dia adalah seorang murid yang jenius, memiliki talenta dalam ilmu-ilmu sihir, rasa ingin tahu yang tinggi, dan selalu spesial. Namun, sihir hitam dan sikapnya yang tidak mendengar nasehat para masternya membuat ia harus terjerembab jatuh dalam praktik-praktik mantra kejahatan.
Sekilas digambarkan saat profesor Albus Dumbledore mengangkutnya dalam kereta sihir, dia baru saja menyelesaikan hubungan yang tidak harmonis dengan keluarganya. He burned and killed them.
Ploting cerita membawa kita dalam jalur komplikasi yang menegangkan, semua hal harus dibayar mahal.
Membawa lafalan-lafalan kejahatan, memupuk ambisi yang jauh dari batasan, merasa diri yang
terbaik,
dan tidak mau mendengar nasehat, membawanya atas harga yang mahal, dia harus membunuh sahabat-sahabat karibnya, menghilangkan memori manis bersama orang tercinta, melakukan distorsi, melawan takdir, dan memonopoli orang lain untuk keserakahan menjadikan ia berhasil menjadi pemilik mantra abadi 'Horcrux'. Hatinya berhasil dibagi berkeping-keping, tak ubahnya dia menjadi satu dewa dengan seribu nyawa.
Namun di sisi lain, sebagaimana hakikat sesuatu yang telah tercerai berkeping-keping. Tidak ada lagi keutuhan, semuanya hancur.
Pada akhirnya dia harus menjadi binasa.
Dekonstruksi Sebuah Horcrux
Sebagai penikmat sastra, dari berbagai sumber literasi baik yang berbentuk hikayat, roman, novel sampai dengan sinema elektronik, suatu hal yang klasik sang kreator akan menamatkannya dalam sebuah resolusi yang baik, akhir yang bahagia, paling mentok, kita hanya akan dihadapkan pada penghujung stori yang menggantung, anti klimaks, dan atau kejutan berupa munculnya tangan-tangan zombie, atau the death body.
Sudut pandang ini mengambil banyak dari berbagai interaksi hidup kita dengan lingkungan. Berkembangnya sebuah narasi berawal dari rujukan-rujukan konflik yang dibangun.
J.K. Rowling tidak akan mungkin mampu mengembangkan kisah pelajar sihir ini, jika tidak ada kekuatan konflik yang dibangun.
Bahkan kita tidak akan menetaskan air mata dan menangis bersama Zainuddin, jika saja Niniak-Mamak dari Hayati tidak akan mempertentangkan adat Mengkasar dan Batipuh dalam lingkaran konflik, atau emosi yang bergolak dari konflik identitas, kekuasaan, spionase-intelektual yang sedang gembur-gemburnya terjadi.
Ubahnya sayur tanpa garam, seperti proton dan neutron dari nukleus Atom, atau apel yang selalu jatuh kebawah sebuah inspirasi Gaya Gravitasi. Hidup kita cacat tanpa konflik.
Di rumah, di sekolah, di pasar, di bilik suara, di kamar, di dapur, di emperan-emperan, di gedung-gedung, di negara-negara.
Sampai pada kemelut antara pilihan hidup atau mati kaum papa, semua tentang konflik. Konfilk beresonansi, menjangkau jauh dari rahim-rahim kehidupan.
Tapi seperti lilin dalam kegelapan, seperti matahari di pagi hari, ibarat rembulan, di malam yang syahdu. Bagaikan kunang-kunang yang bersiap kawin. Kita diberikan akal yang baik, pikiran yang membedakan kita dengan yang lain-lain.
Sedikit saja kita membelokan cara berpikir, mengubah secuil cara pandang kita, dan berani menatap kehidupan dengan cara yang lain, cara yang penuh damai dan kasih, cinta dan sayang.
Maka pada saat itu, kepingan hati yang terlanjur berserak dalam kegelapan, seyogyanya akan menjadi kepingan-kepingan kecil, mungil dan tetapi utuh.
Terbagi untuk kebesaran jiwa, kebaikan hati, kasih sesama, tolong menolong, bantu membantu, harga menghargai, dukung mendukung, sayang menyayangi.
Di titik akhir itulah konflik dan horcrux, ibarat yin dan yang, ibarat Pancasila, berbeda namun tetap menjadi satu.
"Do you want spell the 'Horcrux'?.
"No, it is a black magic"
(Ditulis pada 27 Februari 2020)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar