HUT
PGRI; Membaca Masa Depan Indonesia
Oleh:
Honayapto, S.Pd.*
"Kenapa sih kita mesti hadir tepat waktu ke sekolah?, pakaian mesti diatur-atur, rambut tak boleh ber-‘style’ mohawk, guru-guru harus menjejali pikiran-pikiran kita dengan setumpuk tugas-tugas sekolah, dan paling menjengkelkan kita tak boleh menyontek, dan harus siap sedia pada arahan guru".
Dalam
berbagai ragam opini, saya selalu suka membaca ulasan ringan para blogger yang
tampaknya cenderung melihat 'kekeliruan' dalam sistem pendidikan kita. 'Their
strong point is don't force your students in hard position', jangan terlalu
menjejali siswa dengan berbagai disiplin ilmu, yang toh juga di masa depan,
ilmu-ilmu itu tidak akan kepake juga.
Mencerna
ini, saya teringat tulisan Muh. Yorga Permana seorang dosen sekolah bisnis dan
menejemen ITB dan sekaligus siswa doktoral dalam Ekonomi Geografi London School
of Economic and Political Science.
Dalam
artikel yang ditulis pada 12 November 2019 itu, beliau menyadur pandangan Arkeolog
Patrick Roberts dari Max Planck Institute dan Brian Stewart dari University of
Michigan yang mempublikasikan studi mereka di Nature Human Behavior, dalam
tulisan itu disimpulkan bahwa manusia modern sebagai organisme generalis
spesialis.
Terlepas
dari konteks pendekatan ekonomi yang digunakan, bagaimana manusia menjawab
tantangan global yang dihadapkan dengan otomatisasi mesin, cara-cara kerja
manusia melawan artifisial inteligen/kecerdasan buatan, pada dasarnya manusia
tidak akan pernah bisa digantikan dengan mesin.
Manusia
bisa menjadi generalis, dan di sisi lainnya bisa menjadi spesialis, atau
menjadi dua-duanya, secara sederhana manusia bisa menjadi sangat ahli di bidang
matematika, namun akan sangat melankolis dalam mementaskan drama Romeo and
Juliet karya Shakespeare.
Orang-orang
bisa sangat paham sistem manajemen perbankan, namun dia juga teramat mahir
dalam menggores kain-kain kanvas.
Nah
point of view inilah, yang menjadi basis penulis untuk meletakkan satu pandangan,
bahwa sistem pendidikan kita tidak ada yang salah ataupun keliru, yang ada
adalah sistem pendidikan kita butuh sesuatu yang baru, inovasi yang siap
menjawab segala perubahan zaman, kreatifitas tanpa batas, dan kemauan organisme
pendidikan untuk maju dan berkembang.
Bahwa
serangkaian tugas yang dijejalkan kepada cendekia-cendekia muda ini, adalah
upaya untuk mendapati minat dan bakat mereka dalam bidang tertentu (Guru orang
yang paham dengan tugas mereka, bukankah Tuhan tidak akan menguji suatu kaum
tanpa kadar kekuatan mereka sendiri?, apalagi guru?.).
Tentu
saja, retorika dan segudang teori dari ilmu-ilmu itu tidak akan diaplikasikan
secara penuh dalam kehidupan mereka, namun mempersiapkan bekal dan mendapatkan
pemahaman dan pengetahuan dari berbagi sumber, akan sangat memperkaya khazanah
mereka, ini akan lebih baik ketimbang tidak memiliki apapun.
Orang-orang
berbicara matematika, kita bisa ikut nimbrung, teman-teman berdikusi tentang
sejarah, kita juga bisa ikut berdiskusi, bahkan sampai 'gontok-gontokan' dengan
ilmu silat.
Titik menjadi generalis spesialis telah
dibaca bangsa ini jauh sebelumnya.
Di
ulang tahun yang ke-74, yang jatuh pada Senin, 25 November 2019, PGRI sebagai
wadah Persatuan Guru Nasional Indonesia diberikan kesempatan untuk membuka
diskursus pendidikan kita, dengan Menteri Pendidikan muda, kaya, energik, plus
tampan Nadiem Makarim. Menteri Minelia yang dipilih presiden Joko Widodo untuk
mengarungi laut pendidikan Indonesia dengan teknologi (salah satunya).
Dalam
surat menteri, sang Menteri menyadari bahwa profesi Guru adalah yang termulia
dan tersulit, kegiatan administratif guru yang menyita banyak waktu menjadi
penghambat kualitas pertemuan guru dan siswa, perlu mendapat perhatian penuh
dari power sang Menteri.
Apalagi
lima hal utama dari pesan sang Menteri, menjadikan anak mengembangkan aktualisasi diri, aktif
berdiskusi, menemukan bakat, berperan menjadi guru sebagai sebuah pengalaman
nyata, dan proses kebaktian sosial memang adalah hal yang sepatutnya dilakukan
seorang guru yang profesional.
Namun
pak menteri dan pembaca sekalian, penulis mencoba ingin mengemukakan beberapa
hal kecil yang rasa-rasanya terluputkan dalam pandangan kita.
1. Betapa masih banyaknya kekurangan kesadaran menjaga kesehatan lingkungan dan dunia, dengan membiarkan sampah-sampah plastik berserakan di mana-mana, bukan hanya siswa, tapi pemimpin kita gagal memberikan penguatan akan kesadaran pada aspek itu. Dan ini menjadi tugas yang berat bagi guru. Predikat Indonesia sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia, harus kita enyahkan dari pandangan dunia internasional.
2.
Jika
bangsa ini adalah bangsa yang besar dan beradab, maka kedisiplinan kita, cara
menghargai dan berinteraksi dengan orang lain, hormat terhadap guru, dan
hal-hal kecil lain yang bermanfaat, selayaknyalah ditumbuhkembangkan, kesadaran
untuk menjaga alam, menjaga harmonisasi dalam bingkai nusantara tidak boleh
kita lepaskan.
3.
Bahwa
ketika guru, mengingatkan untuk berdisiplin, rapi dalam berpakaian, taat dalam
aturan, dan banyak mendapat tugas-tugas semua itu tidak lain dan tidak bukan,
guru mengajarkan kita untuk lebih menghargai waktu, menghormati kesepakatan, menjunjung
tinggi integritas dan kejujuran, dan mencintai diri sendiri.
Memang teramat kecil, namun seperti kata pak
Menteri jika ini dimulai secara bersama-sama, maka kapal yang bernama Indonesia
akan bergerak maju dan berjaya.
Sebagai
disclosure statement PGRI hadir untuk
menghilangkan sekat-sekat warna guru agar timbul persatuan, melawan
kolonialisme, mencerdaskan generasi, dan memperjuangkan hak-hak guru,
permasalahan guru-guru honorer adalah permasalahan yang sesegera mungkin harus
dicarikan solusi oleh pemerintah.
Karena mengapa?, karena Guru honorer adalah guru dan negara wajib menghargai gurunya, kalau bukan kita yang menghargai guru lantas siapa lagi?...
Maju PGRI, Maju Pendidikan Indonesia, Maju Dan Berjaya Negeriku.
Dirgahayu ke-74 PGRI
Konde
25 November 2019
(*Penulis adalah guru di SMPN 1 Kambowa)
*Sumber gambar: Akseleran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar