74 Tahun RI;
SDM Maju, Menuju Indonesia Unggul
Oleh: Honayapto, S.Pd.*
Bagiku kemerdekaan
ialah kesempatan yang dibuka sebesar-besarnya, oleh para pejuang kemerdekaan,
dengan air mata, materi, darah, dan bahkan nyawa. Perjuangan yang diridhoi Tuhan
dalam menjejakkan tapak-tapak keadilan di atas bumi melalui abdi-abdi bangsa
yang ikhlas, Gugur di ribaan pertiwi.
Jangan ada lagi
penjajahan, perampasan hak-hak kemanusiaan, dan tindakan yang semena-mena, yang
menyamarkan nilai-nilai humanis dalam setiap insan.
Hari ini, Sabtu, 17
Agustus 2019 Bangsa Indonesia tepat merayakan 74 tahun negeri ini lahir.
Periode yang bisa dikatakan tidak muda lagi. Gerbang kemerdekaan sudah
dimasuki, sudah saatnya anak-anak negeri mulai bertebaran membawa tongkat
estafet perjuangan, untuk membentuk suatu pemerintah yang melindungi segenap
bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia dengan asas kesetaraan-kemerdekaan.
Misi pergerakan itu
dapat terwujud dengan memajukan sumber daya manusia negeri ini. Pertanyaannya
kemudian, bagaimana melakukannya?, cara yang bisa dilakukan salah satunya
melalui corong pendidikan.
Ya...Pendidikan
sebagai unsur vital yang disadari negara dalam menjawab segala tantangan zaman,
tidak tanggung-tanggung 20% dari postur keuangan negara ini digelontorkan untuk
memfasilitasi laboratorium rekayasa sosial manusia Indonesia ini.
Sebuah proses yang
tersistematis, terpimpin dan sebagai sarana pertanggungjawaban materil dan
immateril, sebuah bangsa kepada anak-anak khatulistiwa. Artinya essens dari
keseluruhan rangkaian tersebut, akan menjadi sia-sia ketika aktor-aktor di
dalamnya tidak bekerja dengan maksimal.
Bagaimana mungkin
proses pembiasan anak-anak negeri akan berjalan dengan baik, ketika kita sebagai
pengayom belum benar-benar maksimal memberi teladan yang baik?.
Bangsa ini sedang
didera dengan rendahnya budaya literasi, dibanding negara-negara lain di dunia,
kenapa dengan anggaran yang besar itu, dunia pendidikan kita tidak menyediakan
banyak buku-buku, sumber-sumber digital dan referensi di ruang-ruang kita?.
Di tengah gempurnya
predikat bangsa ini sebagai bangsa pengotor kedua di dunia, bagaimana peran
kita dalam mengarahkan dan memberi contoh nyata dalam mencintai lingkungannya?,
tergabung dalam kelompok-kelompok pencinta alam, barisan lingkungan hidup, dan
kegiatan kepramukaan yang kental dengan hayat hidup adalah solusi yang bisa
diikhtiarkan.
Di titik akan banyaknya kasus kekerasan, pembulian, hingga kenakalan remaja yang seharusnya di zaman ini tak faedah lagi, harus selalu mengisi ruang-ruang media kita.
Di
mana letak kepemimpinan kita dalam mengkoordinasi upaya mencintai sesama anak
bangsa yang terwujud dalam kegiatan-kegiatan seni dan kreatifitas yang
merangsang rasa empati, kasih, inovatif,.dan lain-lainnya?.
Negeri ini harus
maju, bergerak terus, kembali melakukan memetakan hal krusial ini.
Sudah saatnya kita
datang dan pulang tepat waktu, mengajar dan mendidik sesuai panduan kurikulum,
mengajarkan hal-hal kecil untuk menjaga kedisiplinan, tidak membuang sampah,
hormat-menghormati, menumbuhkan rasa jujur, berempati, bertenggang rasa.
Bergerak di dunia
yang imajinatif, kreatif, inovatif, bernilai seni, maha karya, dan saling
gotong raya dalam kebaikan dan kemanfaatan.
Hal-hal ini seharusnya tidak perlu dibahas, tetapi adanya harus menjadi sebuah topik di layar-layar diskursus membangun kebangsaan kita.
Negeri yang luas dan
besar ini, diakui ataupun tidak, masih ada ketimpangan-ketimpangan
sosial-edukasi yang terjadi.
Oleh karena itu,
sebaran-sebaran untuk saling menguatkan, mengingatkan, dan memberanikan memang
harus selalu wajib ditularkan.
Seperti keberanian
pemuda-pemudi Indonesia dalam revolusi mereka, merangsek, memaksa, dan menculik
Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan bangsa ini di 74
Tahun silam. Kesemua hal memang harus dimulai dari sendiri, dibantu orang lain,
bergandengan tangan dan saling bergerak maju untuk Indonesia Jaya.
Menutup catatan kecil
ini, Ki Hajar Dewantara pernah berpesan bahwa di manapun dan siapapun adalah
guru.
Majulah SDM Indonesia
untuk Indonesia Unggul. Dirgahayu negeriku, Merdeka Bangsaku, selamat ulang
tahun ke-74.
(*
Artikel mini ini ditulis sebagai sumbangsih kecil dari penulis dalam merefleksi
HUT Ke-74 RI, 17 Agustus 2019 pada sudut pandang pendidikan.
** Penulis adalah CPNSD Buton Utara, bertugas di
SMPN. 1 Kambowa.)
* Sumber gambar: Indizone
Tidak ada komentar:
Posting Komentar