Pandemi
Semakin hari kita semakin menjadi was-was saja. Orang baru berdehem, refleks kita memelototi. Corona.
Virus Covid-19 atau Corona Virus ini telah mengakibatkan banyak kematian di negara-negara di dunia. Italia menjadi negara kedua terparah terpapar virus ini.
Hanya dalam waktu kurang dari dua bulan sejak virus serupa SARS itu masuk akhir Januari lalu, hingga Selasa (24/3) kasus virus corona di Italia mencapai 63.927 berada di bawah China yakni 81.171 (dilansir dari CNN Indonesia)
Di Asia Indonesia menjadi salah satu yang terpapar virus ini dan menduduki peringkat kedua tertinggi penyebaran Covid-19, dari rilis Jubir penanganan Covid-19 Achmad Yurianto per 24 Maret 2020 ada sekitar 686 kasus dan 55 orang dinyatakan meninggal dunia (Liputan.6) Inalillahi... !.
Mendengar tangis sedih satu keluarga sudah membawa kita menitip empati pada yang berduka, apalagi 10 kematian, atau 800 kematian perhari, ini bencana, ujian. Kita bisa saja menyebut peristiwa ini sebagai 'pembunuhan massal', jika langkah antisipatif untuk memutus pergerakan virus ini terus diberikan, dan kita masih tetap saja abai, 'ngeyel', dan kapatuli.
Covid-19 yang telah ditetapkan badan kesehatan dunia (WHO) sebagai pandemi global, telah menjadikan kita menjadi 'zombie', tidak tahu seperti apa bentuk penularannya, setelah terinfeksi kita tetap terus aktif berjalan, dan perlahan-lahan menjadikan satu dan lainnya sebagai pembawa aktif virus, sehingga hari kehari kasus terus bertumbuh secara eksponensial, 2 orang, 7 orang dan 10 orang 'infected' perharinya.
Viruspun mulai memantik rasa takut, hawatir, dan saling curiga, tidak percaya pada pemerintah, dan terus saja abai dengan imbauan orang-orang yang kompeten di dalamnya.
Saya pelan-pelan teringat suatu kisah besar dalam kitab suci, sehingga perlu memasukan dalam tulisan ini, mengurai sedikit konsep ketahanan, kesiapsediaan yang diajarkan dalam kisah-kisah teolog kita. Apa salahnya?...
Dikisahkan seorang raja yang gelisah dengan mimpinya yang dinilai sarat akan makna, namun tak ada seorangpun yang sanggup menakwilkan mimpi tersebut.
Sehingga disebutlah seorang tawanan, pemuda yang gagah nan tampan yang berhasil menakbirkan dengan baik mimpi dari dua sahabatnya dalam penjara. Raja memberikan jaminan menyelamatkan dan menjadikan pemuda tersebut dengan penuh kuasa, jika mimpi sang raja dapat dimaknai dengan memuaskan.
"Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering." (Q.S.Yusuf 46-49)
Hadirnya kisah teolog di atas dan hubungannya dengan pandemi yang mewabah saat ini adalah konsep ketahanan, kesiapsediaan yang diterangkan pemuda di atas.
Akan ada paceklik selama 7 tahun berturut-turut yang tentu akan membinasakan apa saja, jika tidak diantisipasi dengan baik, sang pemuda menyarankan untuk memperkokoh persediaan sandang dan pangan hingga masa sulit berakhir.
Mimpi tersebut benar adanya, tentu saja, langkah preventif dan konsep kemandirian energi sang pemuda berhasil diimplementasikan. Mungkin anda akan berpikir, dia kan mendapat langsung perintah Tuhan?... Iya... tapi kalau takwil mimpi pemuda tidak dipedulikan, dianggap lelucon atau guyon.
Perintah Tuhan, lewat saja. Akhirnya kematian karena wabah, kelaparan, dan penindasan menjadi akhir cerita.
Agama telah jauh memberikan kita pelajaran berharga, tetua kita telah mengilhami kita dengan sederet adagium yang melekat. Sedia Payung Sebelum Hujan, Berakit-rakit kehulu Berenang-renang ketepian, susah dulu senang kemudian.
Menghadapi virus Corona saat ini, harusnya sudah jauh-jauh hari dilakukan, jauh sebelum 'Bayi Corona' menjadi raksasa jahat. Negara besar ini harus menggunakan para ahli untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi, serta menyempurnakan segala hal teknis dan nonteknis dari aspek kesehatan, ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan, dan lain-lain sebagainya.
Sudah harus ada ketahanan kita, sebelum ada pantogen jahat lain, sudah ada sistem imun yang handal, saat China sukses kalahkan Covid-19 dengan sains dan teknologi, kita juga sudah harus bisa. Saat mereka semakin disiplin dan patuh, kita juga harus begitu.
Mereka semakin giat belajar dan bekerja, kita juga mesti begitu.
Kalau sudah terlambat, kita harus mengangkat senjata dan berperang, kita kalahkan serangan pandemi ini. kata Marcus Tullius Cicero “Salus Populi Suprema Lex Esto” yang artinya adalah keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi, seperti ini yang terbaca dalam maklumat kepolisian RI.
Bukankah tidak ada kata terlambat dal belajar, belajar dari sejarah, belajar dari banyak hal?.
(*Penulis adalah Guru SMPN 1 Kambowa)
Ditulis pada 24 Maret 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar