Tri Hita Karana, dan Ayat wa tawāṣau biṣ-ṣabr

Tri Hita Karana, dan Ayat wa tawāṣau biṣ-ṣabr


(Serial Ke-1 Petualangan Ke Negeri Puputan-Bali)

.

.

.

Saat ini saya sedang duduk di buritan kapal dek 5 dari Tilongkabila, saya lupa bagaimana penampakan sejak terakhir saya menaiki kapal milik PT.Pelni ini.

Tilongkabila sebisa mungkin harus dihindari, urak-urakkan, kotor, panas, yang paling parah kamar mandinya, sudah tidak bisa dideskripsikan lagi jeleknya, kalau ke Makassar, atau ke Jakarta, mau Sinabung, Leuser, Ciremai boleh, asal jangan Tilongkabila kotor kapalnya.

Saya juga sebenarnya kaget, di tampilan aplikasi saya lihat KM Leuser yang akan ke Pelabuhan Benoa (Denpasar-Bali), tapi setelah muncul dan tuntas pembayaran, kok kapal Tilongkabila, apa saya yang salah lihat atau bagaimana.

Dugaan saya, saya mengalami lonjakan gejolak hormon endorfin, saya teramat bahagia sampai-sampai reaksi tersebut memanipulasi mata, di aplikasi PT.Pelni tulisan jadwal kapal terdekat yang akan ke pelabuhan Benoa, Denpasar-Bali adalah pada tanggal 21 Desember 2025. Itu momen yang pas, tanggal 16 Desember 2025 pesta panen desa, tanggal 20 Desember 2025 penerimaan rapor, dan hari Minggu, iya hari libur hari tanggal 21 Desember 2025 adalah hari pertama dimulai secara resmi untuk sesi liburan murid-murid sampai dengan Senin, 4 Januari 2026, kurang lebih 2 Minggu waktu rehat muncul dalam skema otak saya, saya melonjak kegirangan.

Apalagi ditambah dengan harga tiket kapal yang kena diskon 20% untuk stimulus Libur Nataru (Natal dan Tahun Baru) dari pemerintah benar-benar menjadi bom kesenangan yang meledak-ledak.

Rencana ke Bali yang tertunda dua tahun lalu, estimasi biaya perjalanan yang tidak sedikit khususnya transportasi, jadwal kapal yang benar-benar presisi sesuai dengan hari libur, dan aktivitas kerja yang telah tuntas dilaksanakan, ya.... ini bukan lagi gejolak ini gelombang super endorfin yang besar.

Harga tiket kapal yang muncul Rp.391.000 dalam aplikasi dan pembayarannya sudah harus diselesaikan dengan cepat, sontak saya gercep ke Mitra Brilink untuk pembayaran, maklum proses ini juga lahir dari pengalaman pahit sebelumnya, ada ponakan yang mau wisuda di Kota Makassar setelah tuntas RPLnya diaplikasi Pelni ada tiket yang tersedia, saya tidak berani ambil, dan bayar, banyak jumlah orang dan pasti nominal besar, saya juga masih mudah dan cenderung awam untuk mengerti tentang skema e-tiket yang memanfaatkan aplikasi pembayaran secara online, saya urung booking, naas 1 hari saat kesiapan jadwal Wisuda, saya cek lagi Tiket habis, akhirnya rencana-rencana ke Makassar dan proses perayaan wisuda akhirnya buyar dan berakhir menyedihkan. Saya sedih sekali.

Terbaru, saya tahu, kalau sudah ada tiket, silakan dipesan jauh-jauh hari sebelumnya, kalau ada perubahan jadwal bisa direschedule, atau paling banter direturn, selama email aktif, ada rekening bank, semua beres, saya juga harusnya sudah harus belajar, mungkin lagi-lagi ditambah trauma dengan proses pembatalan tiket pesawat kakak perempuan saya yang batal juga merayakan hari Wisuda di Jakarta 20 September 2017 silam.

Tiket hangus, uang hilang, jadi kalau sudah masalah online berhubungan dengan uang, mesti ekstra hati-hati. 

Semua pengalaman itu akhirnya memberikan banyak pelajaran penting tentang betapa pentingnya manusia harus beradaptasi dengan perubahan, kita tidak boleh hanya menjadi air lalu mengikuti arus, sesekali kita perlu menjadi Ikan Salmon, melawan arus, berjuang kembali ke tempatnya dimana leluhurnya dilahirkan, di mana jejak sejarah dari orang tuanya tumbuh dan muncul dalam dirinya, dalam perjalanannya ia menempuh bahaya, diterkam Beruang lapar, atau bahkan mengalami kerusakan fisik karena medan yang berat, dan akhirnya mereka bisa kembali ke hulu, menjadi Salmon kita mendapati banyak tantangan, ada perubahan, ada sisipan peristiwa yang sakit, pedih, namun pada akhirnya dengan keteguhan, dan kesabaran kita berhasil maju dan mengalami peradaban.

Saya tidak khawatir lagi, 9 hari sebelum keberangkatan, saya lunasi pembayaran, saya amankan tiket saya, sistem secara komputerisasi mengatur itu dengan baik. Tidak ada drama-drama tiket habis, uang hangus.

Yang paling berkesan dan akhirnya mendukung juga, Ina sebagai donatur utama juga tidak banyak drama larang-larangnya, paling banter takut kenapa-kenapa, keras ombak, kalau sebelum-sebelumnya mestilah mencari banyak alasan untuk menyakinkan beliau, memang sih habisin duit, tapi bagi saya ini proses kontemplasi yang sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata, saya mungkin hanya menggambarkannya dengan cara bagaimana saya menikmati keindahan ciptaan Tuhan, teramat kecil dan sempit, saya melihat dunia, padahal Tuhan telah menciptakan luas bumi dan langit untuk manusia, terlalu luas?, apakah kamu bisa menjelajahinya?, tergantung perspektif dan bagaimana nasib Tuhan membawa kita.

Bagi saya melihat dunia dengan beranjak pergi ke negeri antah berantah adalah cara bagaimana saya mengenali diri dan proses memahami manusia dari beragam adat istiadat, bahasa, dan cara hidup dan interaksi mereka, ini memberikan satu kepuasan tersendiri. Ada banyak teka-teki tentang kehidupan manusia, di sini saya seperti mempertanyakan eksistensi manusia itu sendiri.

Ina mungkin sudah tahu, soalnya saya sudah wanti-wanti juga jauh hari kalau saya mau ke Bali, liburan semester depan, kenapa Bali?, saya penasaran dengan Bali, seindah apa sih, kenapa sampai orang-orang berbondong-bondong harus ke sana, dari tampilan di layar kaca, Bali dipromosikan indah, negeri para dewa, dari beragam artikel wisata juga begitu. Saya punya obsesi tersendiri dengan Bali.

Sebenarnya saya sudah harus menginjakkan kaki di tanah itu, 3 tahun lalu kalau tidak salah ingat, saya mau liburan ke sana, momen yang sama saya berangkat dari Baubau menuju Makassar memakai kapal Pelni juga, nanti dari Makassar baru naik pesawat, kalau dari Baubau langsung Bandara Ngurah Rai harganya besar 2 kali lipat, dibandingkan dari Bandara Hasanuddin Makassar ke Bali harga cukup kompetitif.

Ternyata salah, saya juga tidak sempat booking penerbangan pada saat pengecekan harga pertama kali dan jauh hari sebelumnya, karena setelah tiba di Makassar dan ingin memesan tiket, harga sudah melonjak naik, saya urung berangkat ke Bali.

Akibatnya saya harus terkurung di dalam kamar kos ponakan saya yang cewek, ukuran kamar 4x7 mungkin ya, saya seperti berada di sel penjara, perjalanan ke Bali diganti menjelajahi Malino dan wisata Rammang-Rammang, untung malam tahun barunya berkesan, setelah beberapa hari di kosan, dan juga menjelajahi dua spot wisata tersebut saya pesan kamar Hotel yang dekat dengan Pantai Losari, harganya ok, hanya kena momen tahun baru, 1 malam dihargai 2 X lipat, normal setelah malam tahun baru, saya puas dengan kembang api dan akses dengan pusat keramaian. Rencana ke Bali gagal.

Jadi sangat beralasan ketika saya bisa mendapatkan tiket kapal Pelni langsung menuju ke Bali berbekal dengan banyak pengalaman sebelumnya saya keep tiket, sangat jarang mendapatkan momen yang betul-betul pas, jadwal kapal yang langsung ke Bali, harga diskon, biaya murah, dan kena liburan plus mama yang legowo saja, otak saya benar-benar membawa saya membaca KM.Tilongkabila menjadi KM.Leuser.

Saya tertawa, ketika harga tiket dilunasi, Tilongkabila akan menjadi teman libur dan perjalanan hadeww... padahal sudah masuk rencana Blacklist Ship. E....kita tidak pernah tahu rencana Tuhan.

Tapi itulah manusia, kita selalu mencap sesuatu hanya dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya, Tilongkabila adalah kapal yang tidak layak, padahal itu telah lama, kapal ini telah menjelma menjadi bentuk wajah negara yang terus mengupdate layanannya terhadap publik.

Saya tertampar dengan keadaan, bung semua hal berubah, kita memiliki waktu untuk merenungkan diri, mengevaluasi diri, di titik ini saya merasa bahwa semua orang akan berubah, kondisi sosial kita berubah sejauh mana perubahan itu hanya akan dibaca pada 2 hal menjadi baik atau tidak baik.

Di e-tiket saya jadwal keberangkatan jam 13.00 Wita perjalanan akan ditempuh sebanyak 4 hari, pelabuhan Makassar, Lombok, sampai Denpasar akan menjadi pelabuhan yang akan disinggahi kapal ini, saya juga sudah diantar kakak pertama, saya tidak lihat jam keberangkatan dari kampung, tapi kalau melihat rata-rata jauhnya perjalanan dan 2 jam atau lebih yang dihabiskan, saat tiba di kota Baubau pukul 11.00 siang tadi, kami berangkat sekitar pukul 09.00 pagi.

Saya juga sudah pamitan sama Ina, salim sama Uma, kakak-kakak dan dua ponakan cewek yang kece di rumah, semua restu ini seperti memberi berkat tersendiri, kalau anda pernah membaca tulisan saya waktu ke Jakarta dengan judul artikel HADIAH, mungkin anda akan melihat betapa frustasinya saya, jadwal kapal siang, harus diundur sore, ternyata berangkatnya malam, saya harus selonjor pasrah, terkatung-katung di ruang tunggu, untung ada masjid dekat pelabuhan, saya lebih banyak pasrahnya kepada Tuhan.

Nasib buruk tidak terjadi di sesi kali ini, doa dari orang-orang tercinta memperlancar sesi petualangan kali ini. Orang yang sama hanya momen yang berbeda, dari kejauhan dari sudut pandang jalan di Warumosio Baubau samar-samar saya melihat siluet kapal Tilongkabila, karena kecil saya tidak yakin, wah...bakalan menunggu lagi ini, namun setelah sampai di lapangan Merdeka ternyata benar kapal Tilongkabila sudah sandar, ya.... Tilongkabila disamping kotor, ukurannya yang kecil juga memang tidak representatif untuk jadi teman jalan, tapi apa dikata, saya sudah kadung dengan dia.

Tidak banyak kegiatan lain yang dilakukan, saya hanya singgah membeli headset dan nasi Padang, saya langsung minta kakak untuk mengantar di pelabuhan, 1 jam lagi keberangkatan, sebelumnya di Lambusango perlengkapan mandi yang kurang di barang bawaan saya sudah saya beli. Saya juga tidak banyak membawa barang, 1 tas kecil berisi 3 potong celana, baju, dalaman dan 1 tas tenteng berisi handuk, sarung, plus tumbler semua barang bawaan lengkap. Saya nampaknya sudah mulai ahli dalam merancang 

perjalanan, saya cukup beli nasi padang seharga 16.000 saya diturunkan dekat gerbang kedatangan, saya mulai perjalanan mandiri.

Kakak pulang mengendarai motor legenda areox, saya juga bergegas masuk pelabuhan, saya hanya titip pesan tadi, Ina mesti doakan saya agar selamat melakukan perjalanan, soalnya Ina tidak melihat lagi saya pergi karena buru menjaga monyet di kebun, meski berat hati sebenarnya, Ina mau saya menghabiskan waktu libur di kebun tapi obsesi ini plus dapat izin juga, akhirnya gas saja.

Ina duluan ke kebun tukaran dengan kakak laki-laki saya yang pertama yang akan mengantar.

Sudah 1 tahun sejak terakhir berkunjung memasuki Pelabuhan Murhum kota Baubau sejak petualangan dari Tanah Jawa bersama sahabatku Suhardipo (baca tulisan saya Serial Petualangan di Tanah Jawa), pelabuhan Murhum sudah juga mulai berbenah, setelah check in via online tanpa perlu cetak kartu saya terkesima dengan design dari ruang tunggunya, kalau pernah berkunjung ke pelabuhan Makassar tampakkan pelabuhannya mirip itu, hanya kurang besar saja, kamar mandi juga besar, namun jika dibandingkan dengan fasilitas ruang tunggu kota lainnya, Baubau masih kalah, namun dengan adanya pembaharuan ini bolehlah...

Jam 11.40 kata Syahbandar nanti jam 12 siang baru bisa memasuki kapal, pengunduran jadwal kapal tidak terjadi seperti sesi sebelumnya, hanya jadwal berangkatnya tadi yang molor 1 jam, melihat karakter bangsa ini, waktu 1 jam molor, bolehlah.....

Ini yang buat saya terpesona dan bahagia, mengapa kita tidak perlu terus menghakimi orang dengan masa lalunya, semua orang memiliki kesempatan untuk berubah. Saya tidak menyangka, waktu tunggu yang cenderung cepat serta akses ke kapal yang lebih mudah dan cenderung tidak banyak orang saya semakin terkesiap dengan tampilan dari KM Tilongkabila.

Saat memasuki badan kapal, auranya berubah, dari kuning kusam, ada perubahan cat yang terkesan lebih hidup dan melayani, di tiket saya, saya diarahkan pada Cabin A dek 3, nomor bed 239 saya sudah khawatir pasti sumpek dan pengap, nyatanya tidak, saya diarahkan petugas kapal 2 tangga dari dek 5 sejak jejalan pertama di atas kapal kecil ini.

Dibandingkan dengan kapal lainnya, Tilongkabila memang lebih kecil mungkin hanya 1/3 dari kapal-kapal lainnya, saya juga belum riset identitas dan sejarah kapal ini, tapi pengalaman yang berbeda saat ini saya acungi jempol untuk perubahan positifnya.

Sedikit tersesat karena designnya yang berbeda saya dapati deretan bed saya yang terdiri atas 7 orang, nampaknya hanya saya seorang diri, sampai saya sedang menulis ini, jumlahnya tidak berubah, bau kabin juga lumayan enak, dan ada stop kontak untuk pengisian daya HP, wah...saya akhirnya tidak perlu repot-repot untuk mencari sumber daya dan kesulitan untuk akses internet dan penggunaan hp, saya merasa sedang diberi fasilitas yang keren, padahal saya sudah rencana untuk upgrade ke kamar kelas jika nuansanya masih seperti dulu.

Saya letakan tas saya, saya hanya membawa dompet dan hp untuk pegangan, lainnya tidak masalah, saya akhirnya ke kafetaria di bagian belakang kapal, menulis resensi perjalanan hari ini sekaligus memberi review, ternyata Tilongkabila telah berubah, dulu suasananya gelap sekarang cerah, ditemani musik-musik yang ceria dan bahagia, saya akhirnya menganggap ini sebagai hadiah dan sesi pemanasan yang indah untuk mengeksplorasi Bali.

Ini perasaan indah, saya bersyukur atas segala nikmat Tuhan ini, di sela-sela rasa syukur tersebut, saya seperti terlontar di 18 Tahun silam.

Di atas lantai 4, saya terlalu cengeng ditempa dunia, saya habiskan dan deraikan air mata saat saya merasa dunia tidak berlaku adil dengan saya. Siapa saya, saya hanyalah seorang anak kecil yang datang dengan perasaan tulus dan baik, seorang anak yang papa, yang membutuhkan bantuan-bantuan dari orang-orang besar, namun kehidupan tidak akan pernah berbuah manis jika tidak ada kepahitan sebelumnya.

Dunia tidak akan pernah menjadi manis, bagi orang-orang yang lembek, dunia teramat jahat bagi orang-orang yang baik, namun dunia hanya mewariskan dan meneruskan titahnya, karena di atas itu semua ada ayat Tuhan yang Indah dan kuat 'watawasau bissabar' BERSABARLAH.

Bersabarlah dengan ujian Tuhanmu, Tuhan adalah pemilik kehidupan. Seandainya saja kesabaran itu tidak dikuatkan dengan ayat itu apa jadinya kisah hidup ini. Bukankah kita harus banyak-banyak mengingat Tuhan.

Kekuatan dan keteguhan ayat ini selaras dengan falsafah hidup dari orang-orang Bali, Tri Hita Karana, ada hubungan yang mesti dijaga dengan Tuhan yang disebut Parahyangan, hubungan manusia dengan manusia dinamai Pawongan dan hubungan manusia dengan Alam yang disebut dengan Palemahan.

Wah.... nampaknya kekuatan kesabaran dan selarasnya falsafah hidup tadi menarik untuk dijelajahi. 

Jauh di depan sana, pulau Kabaena sedang digunduli, corak-corak tambang menghias di puncak-puncak pegunungan, saya bertanya apakah ada keharmonisan antara Tuhan dengan manusia di sana, atau pernah terpikirkan hubungan dengan sesama manusia, atau bagaimana manusia melihat alam?.

Hmm....saya berharap akan banyak pencerahan di kesempatan kali ini. Perjalanan masih panjang. 

Bersabarlah..... Watawasau bis sabr. 


(KM. Tilongkabila 21 Desember 2025 : 22.25) 








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Serial Perjalanan di Pulau Dewata BALI-NEGERI PUPUTAN

  Keseruan menjelajahi bali dapat dilihat di sini: https://drive.google.com/file/d/1LVGH5MW76M-FzwwkqTx4QzIIslLigGiw/view?usp=sharing