Do'a-Do'a Langit, Bersama Lagi, Pulang

 


Do'a-Do'a Langit, Bersama Lagi, Pulang

Oleh: Honayapto

(Serial Kedelapan Petualangan di Negeri Puputan Bali) 


Di antara tulisan yang saya dokumentasikan mungkin serial ketujuh (Borjuis, Angan-Angan, dan The Way Home) adalah yang paling pendek, saya takut penyakit Ain, saya takut saya sudah selesai buat dokumenternya, ternyata jalan cerita berbeda dengan apa yang saya alami. 


Maka saya benar-benar pastikan nanti tiba di makassar atau semua aktivitas di hari itu selesai baru saya rangkumkan tulisan saya. Saat ini saya sedang bersiap sholat subuh di Mushola KM. Tilongkabila kembali, hahhaha... saya senyam-senyum sendiri, padahal kapal ini yang beberapa hari lalu yang mengantar saya sampai Benoa, sekarang ketemu kembali di Makassar, sudah masuk tulisan pertama, rencana diblacklist, Allah pertemukan kembali, bahkan dikasih tobat, memang kita tidak berkuasa jika sudah dihadapkan dengan pemilik dunia.


Saya diberi pelajaran berharga, kalau membenci sewajarnya saja, secukupnya saja, sebab batas antara benci dan suka itu bedanya setipis kulit ari, kalau tidak benci pasti suka, kalau tidak suka pasti benci. Pelajaran kedua berharga lainnya adalah jangan selalu menilai seseorang dari tampilan luarnya saja, jangan pernah menghakimi seseorang hanya karena preferensi kita, padahal kemampuan kita yang terbatas tidak cukup untuk mengetahui seperti dia sebenarnya, bertabbayun intinya. 


Saya tiba di Bandar Udara Internasional I Ngurah Rai, Denpasar-Bali, sebuah nama untuk seseorang pahlawan besar, gagah nan perkasa dari tanah Dewata yang berjuang habis-habisan dalam membela, melindungi, dan mempertahankan kedaulatan negeri ini, seorang kesatria perkasa dengan pasukannya Ciung Wanara yang berperang puputan (habis-habisan) dengan visi merdeka atau mati. Keteguhan hati dan pengorbanan tulus tersebutlah yang mengantarkan namanya besar, dihargai, dan abadi oleh negara, sebuah nama besar untuk Bandara besar, dan saya berkesempatan untuk merasakan sendiri kemegahan yang telah menjadi tempat orang-orang besar dan hebat berlalu-lalang, pulang dan pergi. 


Saya diantar Bli Kadek, supir Maxim yang dengan anaknya saya mintakan didrop off di terminal penerbangan domestik, harga aplikasi Rp.26.000 namun karena tol saya bayarkan Rp.50.000 hitung-hitung sedekah, cuaca buruk, saya sedekah semoga Allah SWT memudahkan perjalanan saya. 


Saya masuk Bandara, menuju pemeriksaan tiket, lagi-lagi Teknologi, saya tidak mau antri hanya untuk Boarding Pass, saya check in online, mulai memilih kursi sendiri di aplikasi, dan nanti tiba di Bandara, tinggal scan boarding pass dan menunggu di ruang tunggu di Gate sesuai hasil check in onlinenya. 


Saya menunggu di area tunggu domestik, otomatis, penerbangan saya penerbangan sipil, bukan mancanegara, ya.... Bandara Ngurah Rai besar, warna merah campuran kuning persis seperti warna Bata menjadi warna dominan dari kompleks pesawat udara ini. Mau domestik dan mancanegara, mau pengiriman jalur udara dan aktivitas udara lainnya semua dikelola dalam area besar ini, dan saya beruntung jarak penginapan hanya butuh waktu 10-15 menit untuk sampai. 


Pesawat saya Lion Air, Kursi saya 35F saya ambil paling dekat jendela, di bagian ekor pesawat dengan segala pertimbangan terburuk, dekat juga dengan exit darurat. Tuhan yang tahu isi hati. Saban hari seyogyanya pesawat yang tergabung dalam Grup Batik Air tersebut berangkat jam 14.40, 30 menit setelah boarding, ternyata karena alasan cuaca buruk jadwal take off menjadi 16.00 Wita. Memang pada saat tersebut, dari area observasi atau ruang tunggu pesawat, udara dan kondisi cuaca Bali sedang turun hujan, sebenarnya dari pagi cuaca sudah buruk, semua terlihat jelas dari area tembus pandang dengan kaca transparan ini. 


Padahal kalau cuaca bagus, view negeri Puputan ini terlihat sangat cantik, di bagian Baratnya ada IKON masterpiece Bali Cultural Park Garuda Wisnu Kencana yang berdiri megah dan kokoh, dan di sisi lainnya ada deretan pantai Kuta, Seminyak, dan gugusan laut lainnya. Cuaca buruk yang hitam di luar sana, sampai alasan penundaan jadwal keberangkatan tidak jadi soal. Alasan keselamatan adalah nomor wahid, percuma buru-buru berangkat kalau ternyata pesawat kenapa-kenapa. 


Pesawat yang tadinya berangkat jam16. 00 menjadi berangkat jam 16.30 lalu menjadi 17.15 dan kemudian di pukul 18.40 kami diizinkan masuk pesawat, dicek tiketnya, turun ke stasiun pesawat menumpang bus maskapai, dan bismillah memasuki pesawat. 


Saya duduk bersebelahan dengan seorang ibu dari Manado, kalau tampakkannya beragama Kristen, ibunya ramah, diarahkan Pramugara ibunya berdiri karena saya yang harus duluan masuk dengan posisi dekat jendela, ibu tersebut bersama sang suami tapi terpisah, bapaknya beda, istrinya dengan saya, mereka dari Jogjakarta transit Makassar, rencana ganti pesawat di Makassar untuk tujuan akhir Manado, ada kegiatan di Yogyakarta dari hasil koja-koja sementara. 


Di area seat kami sangat sempit, bertipe Boeing 900-700 (saya lupa detilnya), kursi dibagi 2 tiga seat di kanan, tiganya lagi di Kiri, saya bagian kiri, namun alhamdulillah, karena banyaknya kursi yang kosong, tidak banyak penumpang yang ke Makassar kami diarahkan untuk duduk di area pintu darurat pesawat di bagian belakang, untuk membantu kalau-kalau penggunaan fasilitas darurat ini digunakan. 


Bersama panduan pramugara, saya dan teman lainnya menyatakan bersedia, kali ini area luas, dan saya ditemani dengan majalah perjalanan khas majalah-majalah pesawat. Pesawat bergerak, demo keselamatan penerbangan sudah dilakukan Pramugara, harusnya ketika demo selesai, kami sudah terbang ini sudah pukul 19.15 pesawat baru bergerak, saya mulai khawatir, acara diskusi di WA keluarga riuh, kakak satunya sudah tiba juga di Ibukota Provinsi ada pelantikan P3K Paruh Waktu tanggal 29 Desember 2025. Tinggal saya yang masih delay. 


Pikiran aneh-aneh sudah mulai berkecamuk, padahal beberapa hari ini cuaca Bali cerah dan bersih, ini buruk, bahkan di Makassar juga. Pesawat baru terbang di atas pukul 19.00 ke atas, 50 menit jarak tempuh, saya stopwatch. Berapa jam tepatnya penerbangan di cuaca buruk Bali-Makassar, sekaligus sebagai alat kontrol untuk mengawasi kapan waktunya untuk tiba di Makassar. 


Pesawat berangkat do'a-do'a langit terus sepanjang perjalanan saya lafalkan, momen yang bikin takut adalah saat take off dan proses turun landing, namun penerbangan dengan Captain Muhammad Ahsan beserta awak crew kabin juga hanya 1/4 nya jumlah penumpang pesawat ini, semakin menambah suasana mencekam dalam pesawat, kalau sudah terbang, semua lampu dalam pesawat dimatikan hanya lampu indikator seat belt yang jadi sumber cahaya utama. Hari juga sudah semakin malam, di dalam gelap di luar lebih-lebih gelap. 


Kapten terbang dengan bagus, saya tidak takut saat pertama kali take off, namun sepanjang perjalanan, Supervisor Pramugari tak henti-hentinya mengingatkan kami bahwa penerbangan kami dilakukan dalam keadaan cuaca yang buruk, tidak boleh ada yang ke kamar kecil, lampu indikator untuk terus memakai dan menegangkan sabuk pengaman terus menyala, aktivitas jual beli di pesawat juga ditiadakan. 


Ya Allah ya Rasulullah, selamatkan hamba, jauhkan dari marabahaya, ampuni segala dosa, dan do'a-do'a lainnya terhatur deras kepada Allah SWT. Sialnya ada perempuan muda di belakang saya, nampak enjoy saja menikmati perjalanan, cantik dan santai, saya sudah keringat dingin dia malah tidur-tiduran ke enakan. 20 menit sebelum pesawat landing, turbulensi terjadi, pesawat bergoyang dan berjoget, saya istighfar dan mulai menangis dalam hati, oh Tuhan..... dramatis sekali perjalanan kali ini. 


Sial saya mengutuk diri, takut-takut mau upload sedang di Bandara, tahu-tahunya pesawat kenapa-kenapa, (maaf) kena ain. Saya rutuki diri, kamu yang keliru kenapa tulis judul serial perjalanan ini Puputan, itu artinya habis-habisan, apakah kisahmu selesai di sini. Kasiaan. 


Keringat dingin tembus, kaki makin dingin, AC pesawat benar-benar dingin, pesawat bergoyang, hujan ternyata dan beberapa kali naik pesawat, saya kira ini akan jadi episode terakhir perjalanan saya. Oh lagi-lagi kasian. 


Alhamdulillah wasyukurillah, Tuhan seru sekalian alam, jam 20.15 sekitar 1 jam 15 menit di menu stopwatch, perjalanan kami tempuh dengan cuaca buruk dari Bali Negeri Puputan tiba di negeri Sultan Hasanuddin, Makassar Ayam Jantan dari Timur, pesawat landing dengan selamat, bukan main rasa syukur saya kepada Allah SWT. 


Setelah pesawat turun, hujan lebat turun dari langit, ini hujan berkah dari Allah, diturunkan saat pesawat sudah landing.

Mendekati jam 9 setelah proses keluar Bandara setelah buang air kecil yang ditahan selama penerbangan sudah tuntas saya lepaskan saat berada di terminal itu. Saya minta Grab Bandara, untuk mengantar saya langsung ke Pelabuhan Makassar Pelni, saya sudah memperhitungkan dengan akurat rute perjalanan pulang saya, tentu saja dengan bantuan aplikasi, kartu ATM, aplikasi mobile Pelni, juga Traveloka. 


Saya juga sudah check in online untuk tidak antri lagi di pelabuhan Laut Makassar, sepanjang perjalanan dengan tol, hujan turun dengan deras sekali, ya Rabb, terima kasih atas keselamatan perjalanan ini. Butuh 20 menit saja untuk sampai di pelabuhan, meski Bandara ada di Maros, dengan toll tanpa perlu lewat jalan umum, perjalanan indah dan singkat. 


Saya bayar Rp.170.000, kemudian makan nasi goreng yang sudah dimasak memang sama ibu-ibu penjual nasi di emperan jalan seharga Rp.15.000, lalu membeli aqua dan 1 kilo rambutan, saya bertemu petugas jaga, itulah kehebatan teknologi, saya tidak perlu antri di Pelabuhan Makassar, saya tinggal tunjukkan KTP dan Boarding Pass, saya diizinkan untuk menunggu di lantai 2 ruang tunggu keberangkatan kapal KM Tilongkabila kembali dengan jadwal keberangkatan jam 11 malam. Masih ada beberapa jam. 


Alat pindai barang, aman saya menjadi orang pertama yang duduk santai menunggu jam pulang ke tanah Buton, status saya juga sudah dikabarkan terupdate di grup Whatsapp keluarga. Saya sedikit cek cok dengan petugas pemeriksa tiket saat mau masuk kapal. 


Keterangan boarding pass yang tidak bisa discreenshot harus difoto, tidak cukup kuat untuk jadi bahan kunci masuk di kapal ini. Petugas perlu melihat secara langsung di aplikasi Pelni. Saya berdebat cenderung memarahi mereka, ini teknologi, tinggal discan saja hasil foto, kalau tidak terbaca, baru tahan, saya ditahan kecuali ada bukti langsung dari Pelni dengan membuka aplikasi, sebenarnya gampang saja, hanya mau memberi pelajaran, tidak perlu membuat repot kalau sudah dipermudah dengan teknologi, saya buka aplikasi dan tunjukkan pada mereka. 

"Pak ini prosedur kerja kami, sudah prosedurnya begini', saya bilang" Pak itu teknologi, discan saja, kalau asli akan terbaca sendiri pak, kalau palsu baru tahan, bapak ibu bikin repot sendiri, ada teknologi yang mempermudah bapak ibu, ibu bapak malah menyulitkan diri sendiri, teknologi dibuat untuk mempermudah, memang ya....selain saya hanya beberapa orang yang proses tiketnya secara online, yang lainnya manual. Dasar Honayapto, Dasar Makassar. Kalau ada yang gampang ngapain dipersulit. 


Saya diizinkan masuk, sambil terus ngomel-ngomel, petugas paham dan malas melanjutkan untuk meladeni saya, saya masuk kapal, kamar saya di Kabin A lagi kali ini di dek 4 nomor bed juga nomor hoki 212. Nomor Wiro Sableng. Nomor Hoki betul. 


Saya sudah tidak tahu kapal jam berapa berangkatnya, terlalu capek sedikit terbawa emosi, takut, menangis, marah, mungkin kapal berangkat jam 12 malam, karena di jajaran bed saya penuh, di kanan di penuhi se-keluarga pindahan dari TNI yang pindah tugas ke Buton Selatan, setelah kerja 15 tahun di kesatuan Makassar, masih muda, menikah muda dan jadi tentara sejak SMA dugaan saya. 


Informasi ini saya tahu karena saya tidak nyenyak 

tidur, teman sebelah kanan saya lelaki muda sesuai ponakan saya. Mungkin mahasiswa. Saya tanya jam berapa kapal berangkat karena anak ini tidur di atas jam 12 malam, katanya jam 12. Ok!.

Jadwal kedatangan di pulau Buton tanggal 28 Desember 2025 jam 08.00 malam, pasti molor lagi, saya kabari kakak pertama untuk besoknya baru menjemput, saya masih mau berurusan dengan ATM, saya tidak bisa pakai ATM gila satu ini. Untung ada uang kas dari ibu jadi semua aman. Kakak ok, semua ok.

Kapal berangkat, saya pulang, dari jauh dan dalam hati saya mulai kangen dengan jagung ina di kebun. Sejauh mana kita pergi, jalan pulang adalah jalan kita kembali.

Diselesaikan di atas kapal KM. Tilongkabila di area kafe di buritan percis saat pertama kali tulisan ini dibuat.

Selat Banda, Laut Makassar, Minggu, 28 Desember 2025 | 06.40 Wita.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Serial Perjalanan di Pulau Dewata BALI-NEGERI PUPUTAN

  Keseruan menjelajahi bali dapat dilihat di sini: https://drive.google.com/file/d/1LVGH5MW76M-FzwwkqTx4QzIIslLigGiw/view?usp=sharing