Teknolojia, Beleng-Beleng, Serakah 10 Jari
.
.
.
Oleh: Honayapto
(Serial Ke-Enam Petualangan di Negeri Puputan-Bali)
Astaghfirullah, sakit capeknya padahal tidur mulai jam 22.00 lewat saja, saya bangun sudah jam 06.00 pagi, suara azan tidak terdengar, padahal kamar saya paling depan dari penginapan ini, jangankan azan, gonggongan anjing peliharaan bos-bos china tetangga kompleks saya tidak terdengar.
Saya kecapean, semalam hanya mau lihat pemandangan malam Pantai Kuta menyeret saya pada posisi orang bego, sebego-begonya orang. Masa jatuh di lubang yang sama. Sudah macet, bau kendaraan, padat-padatan di jalan, eee.. setelah keluar gang, dan berhasil jalan, ternyata saya kembali sampai di titik saya memarkirkan kendaraan motor sewaan, terpaksa jalan lagi, macet lagi.....Oh Tuhan. Keluar jam 7 pulang jam 10 malam. Capek sekali.
Pagi usai sholat subuh diniatkan Subuhan, saya dapat WA dari grup keluarga, ditanya tentang agenda hari ini, saya bilang mau ke Penglipuran. Kenapa?, karena Pantai Seminyak, Sanur, dan jenis Pantai lainnya setipe dengan Kuta, terwakililah... Mau nonton tari kecak yang ada sunsetnya sambil lihat hanoman, tempatnya jauh setelah GWK masih jalan lagi ke depannya, saya anggap tuntas karena kalau mau nonton tari kecak atau tampilan budaya lainnya di Garuda Wisnu Kencana sudah komprehensif semua, tinggal beli tiket mau masuk kemana, diadakan di Lotus Pond tempat yang sudah saya lihat dan nikmati saya sudah simulasikan dalam otak, ya centang fiks.
Kenapa Penglipuran?, ini adalah satu desa wisata yang pernah dinobatkan menjadi desa terbersih di dunia, saya penasaran dong, seperti apa desa itu?, pengelolaannya, mekanisme wisatanya, sampai unsur apa yang menjadi penguatan desa itu. Selain itu, monkey forest ubud, dan wisata terasering sawah sudah dianggap sejenis untuk direpresentasikan desa wisata dari unsur pegunungan dan alam nan hijau.
Berdasarkan informasi dari Google Maps, lokasi destinasi ini bertolak belakang dengan titik GWK, kalau ke GWK menuju Uluwatu Kuta Selatan kalau ini saya harus ke arah utara Pulau Bali, tepatnya di bagian tengah Bali.
Setelah beres-beres, saya turun cari sarapan, saya makan berat takutnya sarapan roti tidak cukup energi. Saya jalan kaki karena sepantaran saja dari tempat saya menginap. Pulang saya langsung melunasi kembali biaya untuk sewa semalam lagi, sambil info besok saya check out. Saya juga minta agar kamar saya dibersihkan. Setelah itu saya ke rental motor untuk memperpanjang sewa tapi Bli-nya belum buka, saya WA Bli-nya bilang ditransfer saja, ok, saya isi bensin Rp.60.000 di warung Madura kios tetangga rental motor, abangnya juga gelagapan juga waktu ditanya lokasi desa Wisata Penglipuran, hanya tinggal di Bali, merantau tapi belum kemana-mana juga.
Agak trauma juga dengan Google Maps takut salah baca data, saya usahakan untuk tidak berada di jalan lingkar yang akan mengarahkan saya ke jalan tol bandara. Google Maps menyerah, saya gas, dan kabar baiknya kawan saya hari ini 2 jam sukses berbicara dan berbahasa mesin dengan teknologi, saya yang tadinya khawatir kok jauh sekali tempat ini, alokasi waktu yang dihabiskan selama 2 jam, dan panjang sekali. 3 kali gumaman untuk menyerah namun saya tidak mau, kadung biar enak semua perjalanan ini.
Saya akhirnya bisa baca, ternyata teknologi ini sangat, seribu kali sangat membantu saya, ada dua kode warna pada maps, jika bertanda tebal itu artinya rekomendasi secara life time agar kita melewati jalan itu, dengan pertimbangan tidak ada macet, potong jalan tercepat, selain itu warna yang tidak tebal adalah alternatif lain yang mungkin ada keterlambatan jika saya melewatinya.
Inilah teknologi, seandainya saja tidak ada Google Maps tidak ada teknologi, mau kemana saya, hanya orang gila dan mungkin yang banyak uangnya yang suka-suka kalau tersesat bisa kemana-mana. Untung ada teknologi, kalau saya salah jalan atau bingung dengan maps dengan citra yang berbeda dengan jalan, secara otomatis saya terus disarankan untuk lewat jalan tercepat.
Saya bersyukur sekali dengan adanya teknologi, bayangkan bro, saya mendadak Beleng-Beleng, Gila, Gila sekali dulu waktu ke Bandung naik juga motor tapi arahnya dekat, saya bisa rekam cepat, ini jauhnya perjalanan 50 KM terpakai dengan alokasi 2 jam dan bahkan lebih menyesuaikan kecepatan, kehati-hatian saya dalam berkendara, bonusnya saya akhirnya melintasi Gianyar, Ubud, Kintamani, melewati laut, melihat pegunungan dan sawahnya, melewati daratan tinggi, sampai merekam proses ngaben dari orang-orang yang menjaga ketat tradisinya.
Saya bersyukur dengan kesempatan bersama teknologi ini, jadinya star jam 08.00 saya tiba jam 10 lewat, awal jalan takut kenapa-kenapa, pakai jalan Kuta ke arah by pass Ngurah Rai, By Pass Ida, lewati Gianyar/Bangli akhirnya masuk desa dengan membayar 25.000 dan 2.000 biaya parkir motor.
Kawan tujuan utama memang desa Penglipuran namun rasa-rasanya saya sudah melewati Bali Selatan sampai Bali Utara meskipun hanya di tengah saja dari Pulau Bali. Saya rasa lagi-lagi semua elemen-elemennya sudah terwakilkan dengan sesi perjalanan kali ini.
Kekuatan desa Penglipuran menurut saya promosi adalah hal utama, kedua mereka menjaga identitas budaya, ada ruang utama di tengah desa yang dibangun kuil-kuil penuh relief khas Bali, dan bagian yang terus turun berundak seperti tangga memberi kesan cantik dan manja, kemudian kreativitas dan kegiatan pemberdayaan berbasis masyarakat, Orang-orang ini membuat ide pasar, membangun dan menjaga hutan bambu, sampai masyarakat yang muda-muda yang diberdayakan.
Tadi tiba belum banyak orang, sejam berlalu rombongan wisatawan dari Jawa dari guru-guru yang studi tur, sampai family gathering, ribuan mungkin. Bayangkan 25.000 untuk lokal kali 500 orang saja sudah 12.000.000 rupiah dalam sehari yang didapat secara cuma-cuma, bagaimana kalau lebih dari itu kunjungannya.
Kalau melihat Buton Utara ditambah dengan keindahan dan potensi yang dimiliki dibarengi dengan kreativitas serta pengelolaan anggaran yang berpihak pada masyarakat. Buton Utara harusnya tidak kalah dengan Bali. Tinggal dikomunikasikan, tadi saat tiba di Pendopo para tokoh masyarakat dan pemuda sedang bermusyawarah tentang konsep dan pengelolaan wisata berbasis masyarakat. Itu saya dengar sembari istirahat, mencuri dengar informasinya.
Saya eksplor desa wisata ini, dari arah tengah desa, turun ke bawah, Orang-orang menyewa pakaian tradisional, sewa fotografer, dan berselfie ria, padat sekali, otomatis jiwa introvert keluar, saya malu untuk ambil dokumentasi, seandainya ada teman, saya bisa dokumentasi dengan layak, bawa temannya ya.. wajib.
Jalan beberapa meter ke bawah, saya berhenti desanya stop, lalu saya kembali ke atas, dari peta di atas ada hutan bambu, benar saja, ini kreativitas kok, hutan bambu disulap jadi tempat wisata, suara perpaduan bunyi bambu yang saling bergesekan satu sama lain, dan ademnya hutan Bambu memberi pesona tersendiri, ada jembatan yang dibangun, kemudian sepanjang jalan dipagari dengan bambu-bambu yang ditenun menjadi pagar, sangat menarik. Usai dari taman hutan bambu saya kembali turun, kalau lihat secara sekilas dari Google Earth atau foto-foto yang beredar di sosial media, desa ini berbentuk segi empat untuk kompleks perumahannya di atas paling puncak ada pura sebagai tempat peribadatan mereka, jadi dari atas kebawah tampilannya indah, lebih-lebih dipandang dari atas ke bawah, dua sudut pandang itu berhasil saya rekam.
Saya akhirnya pulang, yap, terbantu dengan teknologi, jika sebelumnya saya belum akrab, tepatnya ada update terbaru dari Maps yang dulu biasanya kalau salah jalur atau mau kembali ke titik fokus perjalanan tinggal klik "pusatkan", saja maka avatar dari ikon kendaraan akan kembali fokus pada titik d mana status jalan atau kendaraan kita berada, kali ini ada ikon-ikon yang bikin bingung, tapi sekarang saya sudah menguasainya, saya mengikut dan mempercayakan Google Maps, kalau sebelumnya saya berjalan banyak melewati macet-macet kendaraan, kali ini saya diarahkan menyusuri pinggiran pulau ini.
Tidak banyak gedung-gedung tinggi pencakar langit, namun Bali adalah kota besar, sudah seperti Jakarta, Makassar, hanya itu terpusat dalam 1 konsentrasi, 1 pulau saja.
Pengaruh samudera Hindia memang memberikan pesona tersendiri, kalau melihat debur ombaknya, sangat keras dan ini seperti melihat ombak dengan menggunakan kacamata cembung yang dilihatnya menggunakan TV cembung, saya hanya bisa munculnya kalimat itu untuk mendeskripsikan pesona ombak pantai yang dimiliki Bali.
Sepanjang perjalanan, Sayan bergumam mungkin saya kategori yang disebut orang-orang Beleng-Beleng, saya puas dan tuntas untuk menjelajah kemegahan dan keindahan dari Pulau Dewata ini.
Saya juga bermimpi, jikalau saja maaf kita bisa mengurangi keserakahan dalam diri, atau apapun yang dinamakan dengan politik balas budi dengan alasan tersandera dan lainnya, saya harap dan berdoa, kita bisa sama-sama duduk dan berdiskusi untuk bercerita, membangun ide, merancang kegiatan, mengeksekusi program, mengekspresikan pikiran dan menyatukan semua hal yang berkaitan dengan pembangunan, agar kita juga bisa berada pada level yang membuat kita senang tidak hanya raga namun jiwa pula.
Bisa dibayangkan kalau kita bebal, tidak mau belajar, ya.... kalau berbicara pembuktian kita korupsi atau tidak, itu masalah hukum relatif, tapi kita bisa membaca pada politik anggarannya kalau ternyata anggaran pembangunan hanya berpusat pada itu-itu saja tanpa pelibatan partisipasi semesta, kita bisa bilang itu sudah tidak tepat.
Kita sudah serakah, masih mending serakahnya han hanya 1 tangan, ini kalau serakahnya sudah 10 jari, sudah dua tangan mainnya, apalah yang bisa dimintai tolong. Tangan mana yang akan dipakai untuk dimintai bantuan. Saya positif bilangnya karena tidak tahu, tapi kan kita bisa belajar, tidak semua yang diciptakan dua itu buruk, telinga diciptakan dua untuk banyak mendengar, kaki untuk seimbang berjalan, tangan untuk membantu, dipakai untuk keserakahan, tinggal nama semua.
Perjalanan kali ini memberikan pelajaran tersendiri, di zaman teknologi seperti saat ini, menolak mengikuti perubahan zaman adalah bentuk penyakit Beleng-Beleng (Gila) nomor 1, bukan apa-apanya teknologi dibuat disamping sebagai tuntutan zaman, itu dibuat juga sebagai bentuk fasilitas untuk membantu manusia, bayangkan saja seorang yang asing, datang di negeri orang tanpa ada petunjuk ini dan itu, berani mengeksplorasi, jalan tanpa takut-takut hanya karena ada kecanggihan langsung dari teknologi.
Makanya kalau ada yang menolak untuk berubah, tidak mau belajar dan beradaptasi dengan teknologi saya sudah bilang di awal tadi itu, itu penyakit Beleng-Beleng nomor wahid apalagi ditambah dengan keserakahan hmmm... selesai sudah.
Saya pulang dari desa Penglipuran sesekali ambil foto untuk kenangan, berhenti dan membeli nasi padang di jalan, dan perlu ditambahkan juga ya sebagai pelengkap, teknologi memang untuk membantu namun jangan semua juga dibantu dengan teknologi, penguatan nalar kritis, utamanya sopan santun dan adab adalah hal yang mesti diutamakan untuk melengkapi kekuatan kita tersebut.
Saya beli nasi padang, Rp.26.000 saya masuk kamar, makan dan istirahat, capek sekali pastilah bilang, kan jalan-jalan tapi setelah lihat perjalanan kali ini, ini namanya lintas kabupaten kota ini. Perjalanan hampir 100 km, seperti perjalanan pulang dari Kota Baubau ke kampung. Kamu luar biasa.
Saya cek e-mail sudah ada tiket pesawat, tiket Pelni juga sudah siap, malamnya laundry, dan sudah bersiap pagi hari atau siang layanan ekspres cucian sudah bisa saya ambil, biar naik pesawat harum baunya, utamanya selamat perjalanan, beli makan malam pecel lele, dan InsyaAllah momennya pas.
Check out jam 12 Siang (Sabtu, 27 Desember 2025), berangkat ke Bandara, pesawat take off jam 14.40 tiba sore Makassar, ke Pelabuhan Baubau jam 11 malam, InsyaAllah tiba jam 8 malam tanggal 29 Desember 2025. Mungkin bisa istirahat di kapal plus di kota Baubau, sekalian juga mau susun laporan keuangan.
Oh ya.... Jam 9 pulangin motor sewa, pagi besok mau lihat sunrise di Pantai Kuta. Kalau tidak dapat karena hujan, ya
lihat ombak pantai sajalah, kayaknya asyik.
Biar saya tidak Beleng-Beleng, sekaligus tidak serakah sembari mengagumi anugrah dan rezeki yang diberikan Allah SWT.
Terima kasih atas nikmat ilmu ya Allah. Ada teknolojia dari Allah semua beres.
Alhamdulillah.
(Tulisan ini dimulai pada Jum'at, 26 Seseorang 2025, dan diselesaikan dalam perjalanan ke Pantai Kuta, namun terjebak hujan sebanyak 3 ronde) hehehheh
Bali, 27 Desember 2025 : 05.49



















Tidak ada komentar:
Posting Komentar