Borjuis, Angan-Angan, The Way Home
.
.
.
Oleh: Honayapto
(Serial Ketujuh Petualangan di Negeri Puputan-Bali)
Langit masih gelap, pukul 04.39 saya bangun sholat subuh, saya juga sudah buat to-do list untuk kegiatan hari ini sebelum keberangkatan pulang. Saya mau mengunjungi Pantai Kuta di pagi hari, saya juga mau lihat apakah di pantai kalau subuh-subuh begini masih banyakkah orang di sana?, serta seperti apa sih interaksi di pusat wisata utama Pulau Bali ini?.
Saya juga mau mengetes, apakah kesulitan saya dalam mengidentifikasi jalan-jalan kembali ke penginapan saya sudah bisa teratasi atau belum?, soalnya saya bingung saya kayaknya kesulitan menghafal jalan pulang ke tempat penginapan saya.
Saya berangkat,jadwal pengembalian sepeda motor juga selesai jam 09.00 pagi, masih ada waktu. Belum sampai 5 menit keluar, hujan turun, saya berhenti berteduh di emperan toko, belum buka, masih gelap, orang-orang juga belum banyak yang lalu lalang, hanya beberapa ibu yang mulai menaruh dupa dengan wangi kayu gaharu diiringi dengan peletakan tempayan kecil dari anyaman daun pisang atau daun kelapa berisikan 3 atau 4 jenis bunga yang berwarna warni. Ya...ibadah mungkin itu satu-satunya cara dapat terhubung dengan Tuhan.
Seperti saya, ini hujan kedua saya di pulau Bali, hujan pertama saya ada di dalam kamar penginapan, hujan kedua di emperan toko ini, kata Tuhan hujan adalah rahmat dan bentuk kasihnya terhadap makhluk-makhluk ciptaannya di muka Bumi, yang kehausan akan lepas dahaganya, yang kekeringan akan kebasahan, dan yang sedang menunggu kasih Tuhan, lewat hujan Tuhan menyapa.
Saya menikmati hujan subuh ini. Hujannya tidak lama, deras 10 menit sudah reda, pas mau meneruskan perjalanan, hujan turun lagi, hujan kedua sesi kedua, 5 menit reda lagi, mau jalan hujan lagi, kemudian setelah 5 menit reda hujan saya siap jalan, drama mulai, motor rentalan tiba-tiba ngadat, mati indikator lampu gak nyala, panik saya, saya WA Bli pemilik motor, saya sudah syak wasangka buruk, jangan sampai alat GPS didesain untuk dingadatkan motor ini, aji mumpung tempat rentalan tidak jauh dari motor saya mogok.
Saya dorong motornya, saya bawa ke toko rental, saya rencana mau tunggu saja sampai buka toko, jam 8 saya menunggu okelah. Nasib baik saat mencoba untuk kunci starter motor, tiba-tiba menyala, saya kadung ambil resiko kalau mogok lagi ya... baku dorong lagi.
Saya langsung gas ke Pantai Kuta, jam juga baru pukul 06 lewat sekian-sekian, belum siang-siang amat, saya coba susuri jalan yang dua malam sebelumnya tersesat dan mengulang 2 kali. Saya hafal meski sebelum ke arah pantai ini, saya juga tersesat.
Beruntung, benar-benar beruntung, saya parkirkan motor, tidak banyak orang-orang di Pantai, kontras dengan suasana sore dan malam hari, saya melenggang mulus masuk dan mulai menikmati Pantai Kuta.
Tamparan angin laut selat Banda dengan suasana sendu mendung yang hujan menambah suasana indah dan fantastis Pantai ini. Akhirnya kesampaian ya... Pulau Bali pantai Kuta yang sering dibilang-bilangkan orang-orang itu, saya akhirnya berada di sini, ini hebat, ini luar biasa, ini anugerah, yang paling membahagiakan ini adalah hasil kerja keras, ini buah dari perjuangan. Seketika mantra siapa yang bersusah-susah dulu suatu saat ia akan bersenang-senang.
Obsesinya saya semakin meninggi, saya mulai merasakan sindrom Borjuis, tapi bukan Borjuisnya seperti definisi Karl Max; lintah darat, tuan tanah yang serakah, pemilik modal dari haisl TPPU, penipuan, dan hal-hal negatif lainnya. Saya ingin menjadi Borjuis yang ingin memanusiakan manusia. Borjuis yang baik hati.
Wajarlah bung, saya pelan-pelan mulai mengerti dengan jelas apa definisi dari MEMILIKI UANG BANYAK, dan mulai menolak mosi yang mengatakan UANG BUKAN SEGALANYA. Memiliki uang yang banyak dan uang adalah segalanya disertai dengan proses keseimbangan antara dunia dan akhirat akan menjadi mosi yang menarik, anda akan merasakan perbedaan nikmat bersyukur saat tempat anda adalah Surga, dibandingkan nikmat syukur saat tempat anda adalah Neraka.
Bukankah peluang membantu orang akan lebih baik saat kita memperoleh banyak akses ke pada sumber-sumber yang bisa membantu. Kita perlu menjadi kaya, menjadi Borjuis agar kita dapat memiliki peluang pada level kualitas hidup yang lebih baik.
Orang-orang bersantai di dalam kamar hotel seharga jutaan Rupiah, mendapatkan fasilitas layaknya layanan surga di dunia. Mau jalan tinggal bilang, mau makan tinggal geser, mau dilayani bak pelayanan dan Sultan adalah pilihan anda yang suka-suka saja.
Angan-angan itu semakin kuat dalam hempasan deru keras Samudera Hindia, kekaguman pada debit pasir yang besar dan banyak, serta kelembutannya, juga fasilitas kelas dunia terus membuat saya mengudara dalam khayalan menjadi Borjuis. Salahkah aku?....
Saya tidak mendapatkan sunrise, cuaca buruk, meski begitu saya berharap penerbangan pulang saya tidak akan kenapa-kenapa senantiasa mendapatkan perlindungan dari Allah SWT, sehabis menginjakkan dan merasakan lembutnya pasir hitam pantai Kuta termasuk memotret deretan panjang pantai ini, saya pulang sudah ada 1 jam lebih saya di sini, saya mau sarapan pagi, jadwal dan agenda kegiatan untuk aktivitas turis selesai hari ini.
Jam 12.00 siang check out, jam 2.40 keberangkatan dari Bandara Ngurah Rai, saya mesti siap-siap, mandi bersih-bersih, dan mengambil laundry serta peking barang bawaan. Saya pulang dengan mencoba melewati kembali arah kedatangan, belum banyak orang jadi lalu lintas tidak padat, saya bisa balik dengan jalan yang sama, hmmmm.. Para Bule belum semuanya bangun tidur. Ini rezeki orang-orang shaleh.
Saya pulang ke penginapan, motor tiba-tiba macet lagi saat saya berhenti mau beli nasi, macetnya di toko saya rental motor, kebetulan yang kebetulan, saya beli nasi, belum siap, saya tunggu sampai saya nyalakan kembali, motor kembali nyala, nasi sudah siap.
Saya pulang ke penginapan, makan pagi, charge HP, kemudian jam 9 saya antar motor dan menyelesaikan semua administrasi, mengambil kartu NPWP sebagai jaminan, pulang jalan kaki, membeli roti di Alfamart, dan gorengan tempe, dan pulang kembali ke penginapan untuk beres-beres jam 11
40 orderan Maxim car saya ambil karena hujan saya tidak mau basah-basahan dan ojek motor dilarang di Bandara saya bayar Rp.50.000 untuk tips dan sewa mobil.
Saya berterima kasih pada pemilik penginapan KAK GARDEN INN, pemilik rental motor, dan semua kenangan dari petualangan yang seru di Pulau Bali.
Sebelum check out saya sudah check in online untuk pesawat dan kapal Pelni. Tiba selamat di Makassar saya bisa lanjutkan perjalanan naik Pelni di hari ini (Sabtu, 27 Desember 2025) hari yang sama. InshaAllah.
Semoga Allah SWT melindungi perjalanan kali ini.
Status saat ini, alasan cuaca buruk pesawat Lion Air JT 740 berangkat jam 14.40 delay dan dijadwalkan berangkat jam 16.00 teranyar 16.30 mana saja, yang penting selamat perjalanan.
Amin, kabulkan ya Allah.
Bali, Bandara Udara Ngurah Rai, 27 Desember 2025 : 16.04


















Tidak ada komentar:
Posting Komentar