Jackpot dan Prasasti-Prasasti Abadi Tuhan
(Serial Ketiga petualangan ke Negeri Puputan-Bali)
.
.
.
Kalau sebelumnya latar belakang deskripsi teks saya hanya di seputaran kapal, dan beberapa kalimat-kalimatnya yang sok filsafat dan cenderung dipaksakan, ya... karena memang keadaannya hanya sebatas itu.
Jujur saya hanya mau bilang, kalau mau lihat isi kepala orang, sejauh mana pengetahuan yang diperolehnya, dan tingkat kualitas pengetahuannya, lihat bagaimana dia menulis. Tulisan yang dikeluarkan adalah cerminan dirinya, apa-apa yang dituliskan merefleksikan pemahaman dan pengetahuan yang dimiliki.
Jadi kalau rekan-rekan sekalian, kalau melihat tulisan saya, yang kayaknya itu-itu saja, tidak ada apa-apa lagi, tidak bernas orang bilang, memang sudah itu kemampuan saya. Padahal harusnya kalau ada pengetahuan yang terkandung di dalamnya, dan tulisan itu keluar minimal mesti ada serapan hikmat yang bisa diambil, seumpama begini, misal saat berbicara keragaman atau bentuk interaksi sosial, saya harusnya mampu meletakan instrumen seperti beberapa teori sosial yang dapat mendukung tulisan saya, jadinya teman-teman tidak terjebak dengan pepesan yang kosong.
Saya malu, sebenarnya tapi saya akan banyak belajar, mungkin saya belajar namun membangun, mengaitkan-ngaitkan fenomena dengan rangkaian konsep bagi saya agak sulit, saya kasih referensi jelaslah coba tengok tulisan-tulisan yang ada di Mojok.co.id kayak tulisan bang Yusran Darmawan, itu kalau beliau nulis, beliau mengantar fenomena sosial yang terjadi (terupdate) kemudian dibalut dengan kerangka teoritik yang ditutup dengan sintetis nan penuh hikmah, jadi tulisannya bernas, semua orang bisa mensandarkan sekaligus menguji tulis-tulisan yang diberikan.
Untuk berada pada level itu, saya masih jauh, tapi saya tahu dan saya bisa berhipotesis kemampuan mengintegrasikan hal tersebut karena baiknya struktur dan analisis pikiran yang dibangun dikarenakan banyaknya sumber-sumber pengetahuan yang dimiliki salah satunya dengan membaca banyak buku, mau tema yang berat-berat seperti kajian akademik, buku-buku Filsafat, Studi komparasi, sampai yang ringan-ringan kayak novel, atau juga berbasis film.
Karena keterbatasan itulah saya mohonkan maaf. Kenapa jadi bahas ini?, supaya terjawab tulisannya kok hanya begini-beginian saja, belum ada perkembangan lanjutan, haruslah belajar lagi.
Ini penting kawan-kawan karena tulisan saya seyogyanya hanya untuk dokumentasi pribadi, siapa tahu di masa depan, tulisan ini akan menjadi Prasasti-Prasasti bagi saya, saya labeli sebagai tipe tulisan deskripsi perjalanan saja yang mungkin saja terbaca anak cucu saya. Halo Kids....!.
Nah...di sesi ini, background kita sudah pelan-pelan berubah, akan ada mi adegan lain selain dari kapal saja hehehe....
Biasanya saat melakukan perjalanan saya sudah harus riset, mulai dari akses transportasi, biaya hotel, dan biaya lainnya, sampai rute-rute perjalanan agar saya tidak buta-buta amat melakukan perjalanan, yang paling utama itu dana, sama alat komunikasi berbasis internet. Kalau sudah ada 2 combo itu semua aman, tinggal komunikasi semua lancar.
Setahu saya rute perjalanan KM.Tilongkabila hanya Baubau - Benoa Denpasar-Bali, pasti lewat Makassar otomatis, dan mungkin juga pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, tapi dari analisis saya tidak mungkin, masa mau lewat Surabaya lalu ke Benoa, jauh kali. Eee... ternyata betul Rute perjalanan kali ini adalah pelabuhan Murhum Baubau lanjut Makassar, kemudian langsung ke pelabuhan Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur, gas Pelabuhan Kota Bima Nusa Tenggara Barat baru Lembir atau Lember, lupa namanya, baru terakhir Tanjung Benoa Kota Denpasar Bali.
Wah....ini Jackpot, 3 kota selain Makassar akan menjadi penanda kota-kota yang akan saya lihat perdana sekaligus menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Kata Kakak saya di grup WA keluarga kamu keliling betul Indonesia, saya bilang tidak juga tapi kalau lintas Provinsi bolehlah, dari Sulawesi Tenggara, ke Sulawesi Selatan, lalu ke Nusa Tenggara Timur, maju ke Nusa Tenggara Barat lalu tutup di Provinsi Bali.
Jam 5 sore kapal berangkat, dari data penumpang embarkasi Makassar- Labuan Bajo jadwal keberangkatan harusnya jam 4 sore tiba jam 10 pagi, aslinya berangkat jam 5 sore tiba sekitar jam 11 siang.
Ini yang saya bilang Jackpot, harga tiket yang harusnya bisa setengah jutaan karena diskon 20% dapat 300ribuan, saya juga berkesempatan perdana untuk melihat fragmen-fragmen dari gugus kepulauan atau daerah baru. Melibatkan banyak daerah di lintas provinsi, itu seperti beli 1 barang dapat 4, itu jackpot.
Dalam perjalanan saya juga sudah beradaptasi, ombaknya yang tidak keras atau saya yang terbiasa saya tidak oleng dan mabok laut plus muntah, badan yang biasanya pegal-pegal karena bangun- tidur-makan juga tidak saya alami, saya banyak mengisi waktu-waktu kosong saya dengan menonton film dan acara 'variaty show' yang sudah saya download, yang paling seru dan gokil, bukunya Andrea Hirata yang sudah saya deskripsikan sebelumnya buka yang berjudul Brianna and Bottomwise tampaknya tidak cukup menarik perhatian saya, makanya di antara buku lainnya yang saya baca, saya bahkan baru akan membaca buku ini tepat 1 tahun setelah saya beli.
Saya baca sebenarnya, namun latar cerita yang mengkombinasikan antara latar benua Amerika, dengan nama-nama bule yang saya baca bikin eneg, seperti John Musiciante, lalu Brianna, juga Bottomwise sampai deskripsi deretan kota-kota di negara-negara bagian Amerika, daftarnya bikin runyam otak, kayak disebut-sebut untuk menambah kebingungan.
Kemudian dipadukan dengan latar benua Asia, Indonesia Kampung Ketumbi, nama-nama yang menyedihkan dan sarkas, ada Sadman dan kawan-kawan, Alma, yang dipadukan dengan sarkas-sarkas kehidupan yang menyedihkan, tapi lucu, ya... penyakit gila amatir nomor 32, untuk saat ini saya baru sampai hal 62 ringkasan cerita yang saya pahami baru sampai pada musisi yang super hebat kehilangan gitar, dicari para detektif, gitar sampai di Indonesia, kemudian dimainkan oleh anak-anak yang berbakat dalam musik, deskripsi musik dari Perfect Pith, stacatto, dan kunci-kunci nada serta imajinasi penulis yang menghadirkan sensi kejutan membuat saya akhirnya jatuh cinta dengan buku ini.
Wah.... memang bang Andrea, tidak diragukan lagi. Untuk kelanjutannya saya pending-pending dulu, belum sempat dituntaskan, tahu kawan, tahu-tahu saja pengumuman di kapal sejam lagi kapal akan sandar di pelabuhan Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur, oh ma ya.....saya tidak mau melewatkan kesempatan indah ini.
SENYUM TUHAN
Terang saja kawan...... terang saja, teriak kawan....saya terkesima, terkesiap, atau kalau ada kata yang lain yang bisa menggambarkan deskripsi keindahan, kecantikan, silakan dibayangkan sendiri, atau tuliskan saja sendiri. Dari arah kedatangan kapal untuk sandar di pelabuhan Labuanbajo ibukota kabupaten Manggarai Barat Provinsi NTT ini, dapat diketahui kota ini ke arah timur, ini terlihat dari arah matahari. Meskipun silau, keindahan Labuanbajo seperti kalimat viral yang ada di video TikTok itu, saat Tuhan menciptakan Nusa Tenggara Timur mungkin Tuhan sedang tersenyum.
Ya... kalimat itu benar, satu jam sebelum kedatangan kapal saya keluar, gugusan pulau-pulau kecil menampakkan wajahnya yang cantik dan molek, seumpama seorang bidadari yang sedang berbaring manja dan manis di lautan, 2 gugusan pulau yang mengerucut menjadi gerbang pertama yang menyambut saya, saya terpesona, semakin dekat semakin indah, semakin jelas tampakkan pegunungan ini, secara umum dari tampakkan kota ini, memiliki kontur yang berbukit-bukit, yang paling khas gugusan pulau yang seperti timbul dan muncul dari bawah laut, kapal-kapal pesiar mendominasi isi laut di sekitaran pelabuhan Labuanbajo khas seperti di film-film itu, bermodel phinisi kecil, lantai 2 dicat cokelat mewah, dilengkapi dengan sarana dan fasilitas kamar khusus untuk melayani tamu, dari amatan saya ya....
Saat akan berlabuh kapal serong kanan memasuki pelabuhan, berjalan perlahan, dan bersandar kiri, dari analisis saya pelabuhan ini masuk dan menjorok ke dalam teluk, dua sisi lalu lintas kapal besar di penuhi gugus pulau yang sekitarannya landai-dalam, para teknokrat termasuk sonar kapal sudah memperhitungkan dengan presisi jangan sampai seret dan kandas.
Tahu apa yang indah dari Labuanbajo saya seperti berada di dunia lain, kota ini berdesain global bergaya lokal, hal ini terlihat dari banyaknya hotel-hotel yang dibangun dekat pantai, di 2 gugus pulau setelah gugus gerbang kedatangan kami, 2 hotel yang cukup besar terbangun dengan sangat megah, belum lagi 'cottage' dan 'guest house' lainnya, ada yang berwarna putih, coklat, sampai rumah-rumah singgah dekat laut yang berpasir putih nan cantik, yang paling menarik mata adalah hotel yang dibangun dekat pelabuhan.
Kalau tidak melihat secara langsung, mungkin kita hanya akan mengira pemerintah tidak buat apa-apa, pemerintah telah bekerja secara maksimal untuk membangkitkan semangat pariwisata Indonesia, Labuanbajo termasuk dalam Kawasan Ekonomi Kreatif (KEK) tidak heran, vibe dari pelabuhannya berbeda dengan pelabuhan-pelabuhan yang disinggahi sebelumnya, ruang tunggu yang didesain seperti Piramida berundak dengan cat kuning dengan tulisan Marina Labuanbajo memberi kesan diaroma yang modern, khas pelabuhan-pelabuhan Internasional, pelabuhannya tidak terlalu luas, mungkin sampa dengan panjang pelabuhan kota Baubau namun melihat Labuanbajo seperti melihat lukisan pemandangan yang indah yang sengaja di letakkan di depan mata, cantik sekali.
Saya tidak berhenti mendecak kagum, bagaimana bisa Tuhan menciptakan alam seindah ini, kalau ini ada di kampung saya, saya tidak tahu mau dijadikan apa kami, mungkin juga ya... anak-anak Labuanbajo juga memberlakukan hal yang sama, sayang saya belum mengecek berapa angka harapan hidup orang NTT khususnya Labuanbajo dibandingkan dengan orang-orang lain di provinsi yang sama, kalau mereka memiliki AHH yang lebih tinggi salah satu Jawabannya adalah pemandangan indah yang dikaruniakan Allah SWT kepada orang-orang ini. Ha... Labuanbajo keindahan senyum Tuhan yang jatuh di muka bumi.
Kapal kemudian diberangkatkan pada pukul 13.40 waktu setempat jam 2 sepengetahuan saya, saya juga sedikit kelelahan, rasa-rasanya rasa kekaguman itu menarik juga banyak energi, saya kembali ke Kabin dek 3 untuk istirahat, tertidur pulas setelah acara pamitan dengan teman-teman yang baru menyelesaikan dan mengakhiri perjalanan di kota cantik ini.
Saat terbangun, oh Tuhan....saya adalah orang paling beruntung di dunia ini. Lagi-lagi saya seperti memenangkan Jackpot, buah kesabaran sekolah, buah ketulusan dan keikhlasan dari dukungan orang-orang yang menyayangi saya, doa dari kerja keras untuk bersungguh-sungguh belajar, hasil dari belajar keras untuk diizinkan menikmati keindahan yang Allah ciptakan.
Kalau ada waktu dan masa muda, apa salahnya untuk mencari dan menemukan banyak kebahagiaan di sisi lain yang diciptakan Tuhan. Ini semua karunia.
Setelah tuntas meninggalkan Nusa Tenggara Timur, Petualangan saya berlanjut menuju Nusa Tenggara Barat, oh.... tidak, ini manis sekali, mudah-mudahan seterusnya. Di NTB saya dihadang raksasa dan prasasti kekuatan Tuhan yang besar, ada gunung Sangiang Api yang memberi pedoman dan pemberitahuan dengan gagah dan indahnya di sana "Lihatlah keagungan Tuhan ini".
Melihat prasasti alam ini, saya telah memvalidasi mata saya untuk menjadi mata yang telah melihat gundukan gunung setinggi hampir 2 Kilometer di atas permukaan laut plus dengan status gunung Berapi Aktif.
Saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut, namun di Facebook di halaman 'Lombok Friendly' yang ditulis Agung atau Firman Bajabu (nanti koreksi) ada deskripsi yang membantu untuk memahami kebesaran gunung ini dengan tirakat pada mitos dan fakta-fakta penjelajahan yang dilakukan.
Dari tampakkan kamera, tidak jelas dan tidak merepresentasikan kebesaran gunung Berapi ini, namun jika dilihat dengan mata, guratan-guratan prasejarah lelehan lahar panas tergambar dengan jelas pada lekukan bukit-bukit yang khas dengan Padang Savana. Jelas dan kokoh sekali. Sayang puncak gunung tertutupi awan, di pukul 05 sore asap awan semakin menutup badan gunung.
Gunung Sangiang menjadi penanda dan raksasa penyambut kedatangan saya di negeri Ncihu bekas kerajaan dan Kesultanan BIMA, jarak tempuh dari kota Labuanbajo NTT, sampai kota BIMA NTB ditempuh selama 6-7 jam, dari jam keberangkatan 2 siang, kapal sandar di pelabuhan pukul 08.00 malam, sayang saya tidak bisa menangkap keindahan dari kota Bima yang terkenal dengan kudanya ini. Saya juga melewatkan kesempatan untuk menjejakkan kaki di dua provinsi yang hanya berbeda nama Timur dan Barat. Kapal hanya singgah beberapa menit-jam saja, selebihnya berangkat.
Sekarang kapal telah berangkat menuju Gilimaslembar-Lombok, NTB, saya juga mungkin tidak akan sempat mendokumentasikan juga, bisa jadi sudah kemalaman, jadwal kapal tiba di Tanjung Benoa juga jam 8 malam, bisa jadi akan melewatkan melihat dengan terang, tapi tidak apa-apa.
Bagi saya melihat keindahan Labuanbajo juga gemerlap lampu malam kota BIMA, serta sambutan cantik gugusan pulau Labuanbajo juga gagahnya Gunung Sangiang ini seperti senyuman hangat dan indah dari Tuhan.
Yang jelasnya saya telah melihat 2 prasasti indah ciptaan Tuhan, seraya membuat prasasti untuk jejak petualangan kali ini.
Akan banyak hikmah-hikmah dan petunjuk dari perjalanan kali ini.
Dan Kami telah menjadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh agar ia (tidak) guncang bersama mereka, dan Kami jadikan (pula) di sana jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. (QS. Al-Anbiya Ayat: 31)
Amiiin.
BIMA, 23 Desember 2025 : 21:54























Tidak ada komentar:
Posting Komentar