Swing Mood, Tahun Baru, dan Tas Mahasiswa

 
















Swing Mood, Tahun Baru, dan Tas Mahasiswa

.
.
.
Oleh: Honayapto


(Serial Kesembilan Petualangan di Negeri Puputan-Bali)

Tidak tahu hari ini, mood atau nasib saya yang apes hari ini, mungkin sudah apes di Bali juga sebenernya, jadinya saya uring-uringan, sebenarnya saya masih mau lama-lama di Bali, harga kamar hotel atau penginapan dan sejenisnya sampai limit Rp.500.000 per malam saya sudah alokasikan khusus, kalau sampai 10 hari di Bali untuk penginapan Rp.5.000.000, amanlah....

Namun karena saya tidak ada teman jalan, tidak ada yang membantu dalam proses dokumentasi, misal saat berfoto di GWK, ada momen foto ikonik tersendiri, dengan teman momen tersebut dapat ditangkap, begitu juga di desa Penglipuran, ataupun suasana pagi, sore, dan bahkan malam di Pantai Kuta. Tidak kecele sendiri.

Saya kesal, saya hanya curi-curi ambil foto di spot-spot wisata tersebut, padahal masih banyak tempat-tempat populer di Bali yang mesti dikunjungi. Kalau jaraknya jauh dan tidak ada momen ikonik yang bisa didokumentasikan, ngapain? , apalagi dengan rental motor percis saya seperti menjelajahi ruang-ruang besar dari pulau terkenal di Indonesia ini. Saya rasa sudah fiks. Saya ambil HP, pesan pesawat, dan tiket Pelni semua pas jadwalnya. Pulang saja!.

Kenapa uring-uringan dari Bali, di rekening saya ada uang sekitar 9 juta rupiah untuk alokasi liburan akhir tahun, di dompet juga ada simpanannya, tapi setelah mau bayar apa-apa dengan kartu debet, kartu saya ditolak, 'disable', keterangannya, mampuslah... untung ada back up dari Ina. Aktivitas perjalanan sejak keberangkatan dari tanggal 21-29 Desember 2025 otomatis mengandalkan bantuan ina.

Hari ini tepatnya pagi tadi, menunggu dari jam 07.00 sampai selesai bisa dilayani pukul 10.50 saya 2 kali konfirmasi dengan petugas, 1 dengan petugas teller yang menerangkan antrian nomor 18 yang saya miliki dan tunjukkan bukan area pelayanan teller, pas konfirmasi ke Customer Service (CS) benar nomornya, tapi baru nomor 15, nomor 18 yang muncul adalah pelayanan untuk teller, saya bingung.

Padahal waktu sebelum pelayanan Bank Negara ini dibuka resmi jam 08.00, dengan berdesak-desakan bersama para emak-emak yang siap aktivitasi PKH, juga anak-anak sekolah yang aktivitasi PIP, saya akhirnya berhasil dapat antrian kode CS No.18 untuk antri di bagian Customer service.

Di layar monitor, tertera CS No.18 saya konfirmasi ke teller tadi itu, dipimpong ke CS, CS bilang belum nomor antriannya, kode antrian CS adalah D, saya konfirmasi ke Satpam dengan sedikit meng-Gas, satpam baru mau menjelaskan prosedur dikiranya saya anak kecil, baru saya dipanggil petugas CS, ternyata petugas CS tidak menekankan tombol panggilan untuk kode CS yang dituliskan 'D' yang dimaksud. Setiap pelayanan dipanggil manual, nanti saya komplain baru dipencet-pencet.

Saya naik pitam, untung tidak main ludah seperti bapak-bapak dosen gila Universitas Islam Makassar yang lagi viral sekarang, astaghfirullah. Saya ngambek dan komplain, yo setelah pelayanan, tombol panggilan dipanggil untuk koordinasi terarah antara petugas dan penerima layanan. Saya setorkan masalah saya, kartu ATM gila ini selalu kumat, diaktivasi beberapa bulan lalu, dipakai minta kode aktivitasi, seterusnya, diulang-ulang, sampai akhirnya terblokir di ATM di kota Denpasar. Mampuslah.

Enteng petugasnya bilang, disable, karena sensor sensitifnya terhadap gesekan, saya ditanya kartu ATM ditaruh di dompet pak ya?. Muhamma, hampir keluar betul ludah hehehh... Maaf mbak, mbak kartu ATM mau ditaruh di brankas mbak?,mbak kalau kasih penjelasan yang masuk akal juga, saya tunjukkan kartu ATM saya yang berisi uang Ratusan Juta Rupiah (tulis saya, sambil ketawa, dan berdo'a, kabulkanlah ya Allah 🙏👼)

Ini kartu ATM mbak, ditaruh di dompet sejak 5 tahun lalu, diputar, dijilat, dicelupin, tidak ada masalah, ini kartu ATM, baru-baru aktivitasi, !namun berlaku macam bujang lapuk yang tak beristri, nak cepat mati, tak berdaya, keparat, dan penuh ketawa kuntilanak. Saya bukan anak kecil mbak. Mbak kalau menjelaskan jangan asal.

Bilang saja, kartunya error, saya tambah marah, saat biaya penggantian kartu 20ribu disebutkan, saya komplain lagi dong. Enak sekali kalian ya... Kalian kasih saya kartu jelek, giliran bermasalah, saya yang harus tanggung, enaknya hidup dan pencarian uangnya ya... Saya tahu dia sedang bekerja mengikut sistem, saya juga mengikut sistem dan alhamdulillah menolak untuk keluar ludah. Mood saya benar-benar menggantung padahal saya ini telah belajar pengelolaan sosial emosional, tapi saya tahun batas-batas perlakuan saya.

Buktinya saat marah-marah, para ibu-ibu yang juga stress menunggu antrian malah ketawa dan cengengesan saat kalimat-kalimat omelan keluar dari mulut saya. Masalah selesai, mbaknya tidak ambil pusing, uang saya dipotong, kartu jadi, akses untuk daftar BRIMO juga tuntas, saya uring-uringan ini mungkin karena emosi negatif saya keluar, saya harusnya keluar dan komplain pada Petugas ATC (Air Traffic Control) dan juga pak Ahsan Pilot Lion Air, jangan hanya takut denda klaim asuransi, mungkin ya...dan mengikuti Undang-Undang Keselamatan Penerbangan, penerbangan dari Bali Makassar kalau cuaca buruk jangan dilanjutkan, saya teriak-teriak ketakutan dalam pesawat, saking turbulensi yang terjadi sepanjang malam.

Tahu bung, puncak klimaksnya saat pesawat dengan selamat landing di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, hujan turun dengan deras, alhamdulillah ya Allah.

Sepanjang jalan deras hujan menemani saya di toll Bandara menuju pelabuhan, mungkin akibat itu, emosi saya naik-turun, untungnya jika biasanya kapal molor berangkat 1 jam, tibanya juga mundur 1 jam, tidak terjadi kali ini. Air dan gelombang laut yang cukup stabil, membawa perjalanan melintasi laut Banda stabil dan kapal yang dijadwalkan sandar di pelabuhan Murhum kota Baubau jam 8 malam, benar-benar ditepati KM. Tilongkabila, padahal berangkat dari Makassar jam 12 malam.

Tidak lain yang disyukuri, selamat perjalanan, kartu ATM yang jadi, utang perjalanan lunas, dan sedikit sedekah menjadi aktifitas yang alhamdulillah masih dapat saya lanjutkan, saya masih bisa bertahun baru dengan ina.
Dan yang paling spesial, saya membelikan ina oleh-oleh untuk hadiah Tahun Barunya berupa tas kecil, tas jinjing yang diletakkan di bagian belakang, mirip buntelan para pengembara, berwarna biru muda, bergambar Patung Garuda Wisnu Kencana yang terpampang dengan ukiran khas gaya Bali.

Saya melihat ina memakainya, naik sepeda motor kakak, menumpuk segala perlengkapan Doraemon di dalam tas hadiah kecil itu, lalu gas motor di jalan, saya melihat ina dengan adegan slow motion, mirip artis beken Hollywood Angelina Jolie yang menenteng tasnya untuk bersiap menjelajahi petualangan seru di dunia bawah tanah.

Oh ya... Tas itu akan menjadi hadiah yang akan menarik dan siap menemani petualangan di tahun Baru.

Saya bayar lunas harga penginapan, beres-beres barang, terhambat hujan, meski sempat merutuki hujan, ternyata itu hujan rahmat, jeda untuk sholat Dzuhur dan selepasnya sampai selesai pembelian oleh-oleh untuk bocil para ponakanku yang imut-imut. Perjalanan kami lancar abadi.

Hmmm.... Pasti ina senang sekali.

(Episode terakhir akan saya lampirkan dengan judul Rangkuman, dan Laporan Pertanggungjawaban, biar rekan sekalian, sekali lagi dapat menjadikan tulisan ini sebagai referensi tersendiri yang telah dialami oleh rekan terdekat sekalian).

Lagundi, Ring tanggal sanga likur Desember warsa kalih tali duang dasa lima.


 




Do'a-Do'a Langit, Bersama Lagi, Pulang

 


Do'a-Do'a Langit, Bersama Lagi, Pulang

Oleh: Honayapto

(Serial Kedelapan Petualangan di Negeri Puputan Bali) 


Di antara tulisan yang saya dokumentasikan mungkin serial ketujuh (Borjuis, Angan-Angan, dan The Way Home) adalah yang paling pendek, saya takut penyakit Ain, saya takut saya sudah selesai buat dokumenternya, ternyata jalan cerita berbeda dengan apa yang saya alami. 


Maka saya benar-benar pastikan nanti tiba di makassar atau semua aktivitas di hari itu selesai baru saya rangkumkan tulisan saya. Saat ini saya sedang bersiap sholat subuh di Mushola KM. Tilongkabila kembali, hahhaha... saya senyam-senyum sendiri, padahal kapal ini yang beberapa hari lalu yang mengantar saya sampai Benoa, sekarang ketemu kembali di Makassar, sudah masuk tulisan pertama, rencana diblacklist, Allah pertemukan kembali, bahkan dikasih tobat, memang kita tidak berkuasa jika sudah dihadapkan dengan pemilik dunia.


Saya diberi pelajaran berharga, kalau membenci sewajarnya saja, secukupnya saja, sebab batas antara benci dan suka itu bedanya setipis kulit ari, kalau tidak benci pasti suka, kalau tidak suka pasti benci. Pelajaran kedua berharga lainnya adalah jangan selalu menilai seseorang dari tampilan luarnya saja, jangan pernah menghakimi seseorang hanya karena preferensi kita, padahal kemampuan kita yang terbatas tidak cukup untuk mengetahui seperti dia sebenarnya, bertabbayun intinya. 


Saya tiba di Bandar Udara Internasional I Ngurah Rai, Denpasar-Bali, sebuah nama untuk seseorang pahlawan besar, gagah nan perkasa dari tanah Dewata yang berjuang habis-habisan dalam membela, melindungi, dan mempertahankan kedaulatan negeri ini, seorang kesatria perkasa dengan pasukannya Ciung Wanara yang berperang puputan (habis-habisan) dengan visi merdeka atau mati. Keteguhan hati dan pengorbanan tulus tersebutlah yang mengantarkan namanya besar, dihargai, dan abadi oleh negara, sebuah nama besar untuk Bandara besar, dan saya berkesempatan untuk merasakan sendiri kemegahan yang telah menjadi tempat orang-orang besar dan hebat berlalu-lalang, pulang dan pergi. 


Saya diantar Bli Kadek, supir Maxim yang dengan anaknya saya mintakan didrop off di terminal penerbangan domestik, harga aplikasi Rp.26.000 namun karena tol saya bayarkan Rp.50.000 hitung-hitung sedekah, cuaca buruk, saya sedekah semoga Allah SWT memudahkan perjalanan saya. 


Saya masuk Bandara, menuju pemeriksaan tiket, lagi-lagi Teknologi, saya tidak mau antri hanya untuk Boarding Pass, saya check in online, mulai memilih kursi sendiri di aplikasi, dan nanti tiba di Bandara, tinggal scan boarding pass dan menunggu di ruang tunggu di Gate sesuai hasil check in onlinenya. 


Saya menunggu di area tunggu domestik, otomatis, penerbangan saya penerbangan sipil, bukan mancanegara, ya.... Bandara Ngurah Rai besar, warna merah campuran kuning persis seperti warna Bata menjadi warna dominan dari kompleks pesawat udara ini. Mau domestik dan mancanegara, mau pengiriman jalur udara dan aktivitas udara lainnya semua dikelola dalam area besar ini, dan saya beruntung jarak penginapan hanya butuh waktu 10-15 menit untuk sampai. 


Pesawat saya Lion Air, Kursi saya 35F saya ambil paling dekat jendela, di bagian ekor pesawat dengan segala pertimbangan terburuk, dekat juga dengan exit darurat. Tuhan yang tahu isi hati. Saban hari seyogyanya pesawat yang tergabung dalam Grup Batik Air tersebut berangkat jam 14.40, 30 menit setelah boarding, ternyata karena alasan cuaca buruk jadwal take off menjadi 16.00 Wita. Memang pada saat tersebut, dari area observasi atau ruang tunggu pesawat, udara dan kondisi cuaca Bali sedang turun hujan, sebenarnya dari pagi cuaca sudah buruk, semua terlihat jelas dari area tembus pandang dengan kaca transparan ini. 


Padahal kalau cuaca bagus, view negeri Puputan ini terlihat sangat cantik, di bagian Baratnya ada IKON masterpiece Bali Cultural Park Garuda Wisnu Kencana yang berdiri megah dan kokoh, dan di sisi lainnya ada deretan pantai Kuta, Seminyak, dan gugusan laut lainnya. Cuaca buruk yang hitam di luar sana, sampai alasan penundaan jadwal keberangkatan tidak jadi soal. Alasan keselamatan adalah nomor wahid, percuma buru-buru berangkat kalau ternyata pesawat kenapa-kenapa. 


Pesawat yang tadinya berangkat jam16. 00 menjadi berangkat jam 16.30 lalu menjadi 17.15 dan kemudian di pukul 18.40 kami diizinkan masuk pesawat, dicek tiketnya, turun ke stasiun pesawat menumpang bus maskapai, dan bismillah memasuki pesawat. 


Saya duduk bersebelahan dengan seorang ibu dari Manado, kalau tampakkannya beragama Kristen, ibunya ramah, diarahkan Pramugara ibunya berdiri karena saya yang harus duluan masuk dengan posisi dekat jendela, ibu tersebut bersama sang suami tapi terpisah, bapaknya beda, istrinya dengan saya, mereka dari Jogjakarta transit Makassar, rencana ganti pesawat di Makassar untuk tujuan akhir Manado, ada kegiatan di Yogyakarta dari hasil koja-koja sementara. 


Di area seat kami sangat sempit, bertipe Boeing 900-700 (saya lupa detilnya), kursi dibagi 2 tiga seat di kanan, tiganya lagi di Kiri, saya bagian kiri, namun alhamdulillah, karena banyaknya kursi yang kosong, tidak banyak penumpang yang ke Makassar kami diarahkan untuk duduk di area pintu darurat pesawat di bagian belakang, untuk membantu kalau-kalau penggunaan fasilitas darurat ini digunakan. 


Bersama panduan pramugara, saya dan teman lainnya menyatakan bersedia, kali ini area luas, dan saya ditemani dengan majalah perjalanan khas majalah-majalah pesawat. Pesawat bergerak, demo keselamatan penerbangan sudah dilakukan Pramugara, harusnya ketika demo selesai, kami sudah terbang ini sudah pukul 19.15 pesawat baru bergerak, saya mulai khawatir, acara diskusi di WA keluarga riuh, kakak satunya sudah tiba juga di Ibukota Provinsi ada pelantikan P3K Paruh Waktu tanggal 29 Desember 2025. Tinggal saya yang masih delay. 


Pikiran aneh-aneh sudah mulai berkecamuk, padahal beberapa hari ini cuaca Bali cerah dan bersih, ini buruk, bahkan di Makassar juga. Pesawat baru terbang di atas pukul 19.00 ke atas, 50 menit jarak tempuh, saya stopwatch. Berapa jam tepatnya penerbangan di cuaca buruk Bali-Makassar, sekaligus sebagai alat kontrol untuk mengawasi kapan waktunya untuk tiba di Makassar. 


Pesawat berangkat do'a-do'a langit terus sepanjang perjalanan saya lafalkan, momen yang bikin takut adalah saat take off dan proses turun landing, namun penerbangan dengan Captain Muhammad Ahsan beserta awak crew kabin juga hanya 1/4 nya jumlah penumpang pesawat ini, semakin menambah suasana mencekam dalam pesawat, kalau sudah terbang, semua lampu dalam pesawat dimatikan hanya lampu indikator seat belt yang jadi sumber cahaya utama. Hari juga sudah semakin malam, di dalam gelap di luar lebih-lebih gelap. 


Kapten terbang dengan bagus, saya tidak takut saat pertama kali take off, namun sepanjang perjalanan, Supervisor Pramugari tak henti-hentinya mengingatkan kami bahwa penerbangan kami dilakukan dalam keadaan cuaca yang buruk, tidak boleh ada yang ke kamar kecil, lampu indikator untuk terus memakai dan menegangkan sabuk pengaman terus menyala, aktivitas jual beli di pesawat juga ditiadakan. 


Ya Allah ya Rasulullah, selamatkan hamba, jauhkan dari marabahaya, ampuni segala dosa, dan do'a-do'a lainnya terhatur deras kepada Allah SWT. Sialnya ada perempuan muda di belakang saya, nampak enjoy saja menikmati perjalanan, cantik dan santai, saya sudah keringat dingin dia malah tidur-tiduran ke enakan. 20 menit sebelum pesawat landing, turbulensi terjadi, pesawat bergoyang dan berjoget, saya istighfar dan mulai menangis dalam hati, oh Tuhan..... dramatis sekali perjalanan kali ini. 


Sial saya mengutuk diri, takut-takut mau upload sedang di Bandara, tahu-tahunya pesawat kenapa-kenapa, (maaf) kena ain. Saya rutuki diri, kamu yang keliru kenapa tulis judul serial perjalanan ini Puputan, itu artinya habis-habisan, apakah kisahmu selesai di sini. Kasiaan. 


Keringat dingin tembus, kaki makin dingin, AC pesawat benar-benar dingin, pesawat bergoyang, hujan ternyata dan beberapa kali naik pesawat, saya kira ini akan jadi episode terakhir perjalanan saya. Oh lagi-lagi kasian. 


Alhamdulillah wasyukurillah, Tuhan seru sekalian alam, jam 20.15 sekitar 1 jam 15 menit di menu stopwatch, perjalanan kami tempuh dengan cuaca buruk dari Bali Negeri Puputan tiba di negeri Sultan Hasanuddin, Makassar Ayam Jantan dari Timur, pesawat landing dengan selamat, bukan main rasa syukur saya kepada Allah SWT. 


Setelah pesawat turun, hujan lebat turun dari langit, ini hujan berkah dari Allah, diturunkan saat pesawat sudah landing.

Mendekati jam 9 setelah proses keluar Bandara setelah buang air kecil yang ditahan selama penerbangan sudah tuntas saya lepaskan saat berada di terminal itu. Saya minta Grab Bandara, untuk mengantar saya langsung ke Pelabuhan Makassar Pelni, saya sudah memperhitungkan dengan akurat rute perjalanan pulang saya, tentu saja dengan bantuan aplikasi, kartu ATM, aplikasi mobile Pelni, juga Traveloka. 


Saya juga sudah check in online untuk tidak antri lagi di pelabuhan Laut Makassar, sepanjang perjalanan dengan tol, hujan turun dengan deras sekali, ya Rabb, terima kasih atas keselamatan perjalanan ini. Butuh 20 menit saja untuk sampai di pelabuhan, meski Bandara ada di Maros, dengan toll tanpa perlu lewat jalan umum, perjalanan indah dan singkat. 


Saya bayar Rp.170.000, kemudian makan nasi goreng yang sudah dimasak memang sama ibu-ibu penjual nasi di emperan jalan seharga Rp.15.000, lalu membeli aqua dan 1 kilo rambutan, saya bertemu petugas jaga, itulah kehebatan teknologi, saya tidak perlu antri di Pelabuhan Makassar, saya tinggal tunjukkan KTP dan Boarding Pass, saya diizinkan untuk menunggu di lantai 2 ruang tunggu keberangkatan kapal KM Tilongkabila kembali dengan jadwal keberangkatan jam 11 malam. Masih ada beberapa jam. 


Alat pindai barang, aman saya menjadi orang pertama yang duduk santai menunggu jam pulang ke tanah Buton, status saya juga sudah dikabarkan terupdate di grup Whatsapp keluarga. Saya sedikit cek cok dengan petugas pemeriksa tiket saat mau masuk kapal. 


Keterangan boarding pass yang tidak bisa discreenshot harus difoto, tidak cukup kuat untuk jadi bahan kunci masuk di kapal ini. Petugas perlu melihat secara langsung di aplikasi Pelni. Saya berdebat cenderung memarahi mereka, ini teknologi, tinggal discan saja hasil foto, kalau tidak terbaca, baru tahan, saya ditahan kecuali ada bukti langsung dari Pelni dengan membuka aplikasi, sebenarnya gampang saja, hanya mau memberi pelajaran, tidak perlu membuat repot kalau sudah dipermudah dengan teknologi, saya buka aplikasi dan tunjukkan pada mereka. 

"Pak ini prosedur kerja kami, sudah prosedurnya begini', saya bilang" Pak itu teknologi, discan saja, kalau asli akan terbaca sendiri pak, kalau palsu baru tahan, bapak ibu bikin repot sendiri, ada teknologi yang mempermudah bapak ibu, ibu bapak malah menyulitkan diri sendiri, teknologi dibuat untuk mempermudah, memang ya....selain saya hanya beberapa orang yang proses tiketnya secara online, yang lainnya manual. Dasar Honayapto, Dasar Makassar. Kalau ada yang gampang ngapain dipersulit. 


Saya diizinkan masuk, sambil terus ngomel-ngomel, petugas paham dan malas melanjutkan untuk meladeni saya, saya masuk kapal, kamar saya di Kabin A lagi kali ini di dek 4 nomor bed juga nomor hoki 212. Nomor Wiro Sableng. Nomor Hoki betul. 


Saya sudah tidak tahu kapal jam berapa berangkatnya, terlalu capek sedikit terbawa emosi, takut, menangis, marah, mungkin kapal berangkat jam 12 malam, karena di jajaran bed saya penuh, di kanan di penuhi se-keluarga pindahan dari TNI yang pindah tugas ke Buton Selatan, setelah kerja 15 tahun di kesatuan Makassar, masih muda, menikah muda dan jadi tentara sejak SMA dugaan saya. 


Informasi ini saya tahu karena saya tidak nyenyak 

tidur, teman sebelah kanan saya lelaki muda sesuai ponakan saya. Mungkin mahasiswa. Saya tanya jam berapa kapal berangkat karena anak ini tidur di atas jam 12 malam, katanya jam 12. Ok!.

Jadwal kedatangan di pulau Buton tanggal 28 Desember 2025 jam 08.00 malam, pasti molor lagi, saya kabari kakak pertama untuk besoknya baru menjemput, saya masih mau berurusan dengan ATM, saya tidak bisa pakai ATM gila satu ini. Untung ada uang kas dari ibu jadi semua aman. Kakak ok, semua ok.

Kapal berangkat, saya pulang, dari jauh dan dalam hati saya mulai kangen dengan jagung ina di kebun. Sejauh mana kita pergi, jalan pulang adalah jalan kita kembali.

Diselesaikan di atas kapal KM. Tilongkabila di area kafe di buritan percis saat pertama kali tulisan ini dibuat.

Selat Banda, Laut Makassar, Minggu, 28 Desember 2025 | 06.40 Wita.












Borjuis, Angan-Angan, The Way Home

.

.

.


Oleh: Honayapto 

(Serial Ketujuh Petualangan di Negeri Puputan-Bali)


Langit masih gelap, pukul 04.39 saya bangun sholat subuh, saya juga sudah buat to-do list untuk kegiatan hari ini sebelum keberangkatan pulang. Saya mau mengunjungi Pantai Kuta di pagi hari, saya juga mau lihat apakah di pantai kalau subuh-subuh begini masih banyakkah orang di sana?, serta seperti apa sih interaksi di pusat wisata utama Pulau Bali ini?.


Saya juga mau mengetes, apakah kesulitan saya dalam mengidentifikasi jalan-jalan kembali ke penginapan saya sudah bisa teratasi atau belum?, soalnya saya bingung saya kayaknya kesulitan menghafal jalan pulang ke tempat penginapan saya.


Saya berangkat,jadwal pengembalian sepeda motor juga selesai jam 09.00 pagi, masih ada waktu. Belum sampai 5 menit keluar, hujan turun, saya berhenti berteduh di emperan toko, belum buka, masih gelap, orang-orang juga belum banyak yang lalu lalang, hanya beberapa ibu yang mulai menaruh dupa dengan wangi kayu gaharu diiringi dengan peletakan tempayan kecil dari anyaman daun pisang atau daun kelapa berisikan 3 atau 4 jenis bunga yang berwarna warni. Ya...ibadah mungkin itu satu-satunya cara dapat terhubung dengan Tuhan. 


Seperti saya, ini hujan kedua saya di pulau Bali, hujan pertama saya ada di dalam kamar penginapan, hujan kedua di emperan toko ini, kata Tuhan hujan adalah rahmat dan bentuk kasihnya terhadap makhluk-makhluk ciptaannya di muka Bumi, yang kehausan akan lepas dahaganya, yang kekeringan akan kebasahan, dan yang sedang menunggu kasih Tuhan, lewat hujan Tuhan menyapa. 


Saya menikmati hujan subuh ini. Hujannya tidak lama, deras 10 menit sudah reda, pas mau meneruskan perjalanan, hujan turun lagi, hujan kedua sesi kedua, 5 menit reda lagi, mau jalan hujan lagi, kemudian setelah 5 menit reda hujan saya siap jalan, drama mulai, motor rentalan tiba-tiba ngadat, mati indikator lampu gak nyala, panik saya, saya WA Bli pemilik motor, saya sudah syak wasangka buruk, jangan sampai alat GPS didesain untuk dingadatkan motor ini, aji mumpung tempat rentalan tidak jauh dari motor saya mogok. 


Saya dorong motornya, saya bawa ke toko rental, saya rencana mau tunggu saja sampai buka toko, jam 8 saya menunggu okelah. Nasib baik saat mencoba untuk kunci starter motor, tiba-tiba menyala, saya kadung ambil resiko kalau mogok lagi ya... baku dorong lagi. 


Saya langsung gas ke Pantai Kuta, jam juga baru pukul 06 lewat sekian-sekian, belum siang-siang amat, saya coba susuri jalan yang dua malam sebelumnya tersesat dan mengulang 2 kali. Saya hafal meski sebelum ke arah pantai ini, saya juga tersesat. 

Beruntung, benar-benar beruntung, saya parkirkan motor, tidak banyak orang-orang di Pantai, kontras dengan suasana sore dan malam hari, saya melenggang mulus masuk dan mulai menikmati Pantai Kuta. 

Tamparan angin laut selat Banda dengan suasana sendu mendung yang hujan menambah suasana indah dan fantastis Pantai ini. Akhirnya kesampaian ya... Pulau Bali pantai Kuta yang sering dibilang-bilangkan orang-orang itu, saya akhirnya berada di sini, ini hebat, ini luar biasa, ini anugerah, yang paling membahagiakan ini adalah hasil kerja keras, ini buah dari perjuangan. Seketika mantra siapa yang bersusah-susah dulu suatu saat ia akan bersenang-senang. 


Obsesinya saya semakin meninggi, saya mulai merasakan sindrom Borjuis, tapi bukan Borjuisnya seperti definisi Karl Max; lintah darat, tuan tanah yang serakah, pemilik modal dari haisl TPPU, penipuan, dan hal-hal negatif lainnya. Saya ingin menjadi Borjuis yang ingin memanusiakan manusia. Borjuis yang baik hati. 

Wajarlah bung, saya pelan-pelan mulai mengerti dengan jelas apa definisi dari MEMILIKI UANG BANYAK, dan mulai menolak mosi yang mengatakan UANG BUKAN SEGALANYA. Memiliki uang yang banyak dan uang adalah segalanya disertai dengan proses keseimbangan antara dunia dan akhirat akan menjadi mosi yang menarik, anda akan merasakan perbedaan nikmat bersyukur saat tempat anda adalah Surga, dibandingkan nikmat syukur saat tempat anda adalah Neraka. 

Bukankah peluang membantu orang akan lebih baik saat kita memperoleh banyak akses ke pada sumber-sumber yang bisa membantu. Kita perlu menjadi kaya, menjadi Borjuis agar kita dapat memiliki peluang pada level kualitas hidup yang lebih baik. 

Orang-orang bersantai di dalam kamar hotel seharga jutaan Rupiah, mendapatkan fasilitas layaknya layanan surga di dunia. Mau jalan tinggal bilang, mau makan tinggal geser, mau dilayani bak pelayanan dan Sultan adalah pilihan anda yang suka-suka saja.


Angan-angan itu semakin kuat dalam hempasan deru keras Samudera Hindia, kekaguman pada debit pasir yang besar dan banyak, serta kelembutannya, juga fasilitas kelas dunia terus membuat saya mengudara dalam khayalan menjadi Borjuis. Salahkah aku?.... 

Saya tidak mendapatkan sunrise, cuaca buruk, meski begitu saya berharap penerbangan pulang saya tidak akan kenapa-kenapa senantiasa mendapatkan perlindungan dari Allah SWT, sehabis menginjakkan dan merasakan lembutnya pasir hitam pantai Kuta termasuk memotret deretan panjang pantai ini, saya pulang sudah ada 1 jam lebih saya di sini, saya mau sarapan pagi, jadwal dan agenda kegiatan untuk aktivitas turis selesai hari ini. 


Jam 12.00 siang check out, jam 2.40 keberangkatan dari Bandara Ngurah Rai, saya mesti siap-siap, mandi bersih-bersih, dan mengambil laundry serta peking barang bawaan. Saya pulang dengan mencoba melewati kembali arah kedatangan, belum banyak orang jadi lalu lintas tidak padat, saya bisa balik dengan jalan yang sama, hmmmm.. Para Bule belum semuanya bangun tidur. Ini rezeki orang-orang shaleh.


Saya pulang ke penginapan, motor tiba-tiba macet lagi saat saya berhenti mau beli nasi, macetnya di toko saya rental motor, kebetulan yang kebetulan, saya beli nasi, belum siap, saya tunggu sampai saya nyalakan kembali, motor kembali nyala, nasi sudah siap. 

Saya pulang ke penginapan, makan pagi, charge HP, kemudian jam 9 saya antar motor dan menyelesaikan semua administrasi, mengambil kartu NPWP sebagai jaminan, pulang jalan kaki, membeli roti di Alfamart, dan gorengan tempe, dan pulang kembali ke penginapan untuk beres-beres jam 11

40 orderan Maxim car saya ambil karena hujan saya tidak mau basah-basahan dan ojek motor dilarang di Bandara saya bayar Rp.50.000 untuk tips dan sewa mobil. 

Saya berterima kasih pada pemilik penginapan KAK GARDEN INN, pemilik rental motor, dan semua kenangan dari petualangan yang seru di Pulau Bali.

Sebelum check out saya sudah check in online untuk pesawat dan kapal Pelni. Tiba selamat di Makassar saya bisa lanjutkan perjalanan naik Pelni di hari ini (Sabtu, 27 Desember 2025) hari yang sama. InshaAllah. 

Semoga Allah SWT melindungi perjalanan kali ini. 

Status saat ini, alasan cuaca buruk pesawat Lion Air JT 740 berangkat jam 14.40 delay dan dijadwalkan berangkat jam 16.00 teranyar 16.30 mana saja, yang penting selamat perjalanan. 

Amin, kabulkan ya Allah. 


Bali, Bandara Udara Ngurah Rai, 27 Desember 2025 : 16.04




















 



Teknolojia, Beleng-Beleng, Serakah 10 Jari
.
.
.
Oleh: Honayapto
(Serial Ke-Enam Petualangan di Negeri Puputan-Bali)

Astaghfirullah, sakit capeknya padahal tidur mulai jam 22.00 lewat saja, saya bangun sudah jam 06.00 pagi, suara azan tidak terdengar, padahal kamar saya paling depan dari penginapan ini, jangankan azan, gonggongan anjing peliharaan bos-bos china tetangga kompleks saya tidak terdengar.

Saya kecapean, semalam hanya mau lihat pemandangan malam Pantai Kuta menyeret saya pada posisi orang bego, sebego-begonya orang. Masa jatuh di lubang yang sama. Sudah macet, bau kendaraan, padat-padatan di jalan, eee.. setelah keluar gang, dan berhasil jalan, ternyata saya kembali sampai di titik saya memarkirkan kendaraan motor sewaan, terpaksa jalan lagi, macet lagi.....Oh Tuhan. Keluar jam 7 pulang jam 10 malam. Capek sekali.

Pagi usai sholat subuh diniatkan Subuhan, saya dapat WA dari grup keluarga, ditanya tentang agenda hari ini, saya bilang mau ke Penglipuran. Kenapa?, karena Pantai Seminyak, Sanur, dan jenis Pantai lainnya setipe dengan Kuta, terwakililah... Mau nonton tari kecak yang ada sunsetnya sambil lihat hanoman, tempatnya jauh setelah GWK masih jalan lagi ke depannya, saya anggap tuntas karena kalau mau nonton tari kecak atau tampilan budaya lainnya di Garuda Wisnu Kencana sudah komprehensif semua, tinggal beli tiket mau masuk kemana, diadakan di Lotus Pond tempat yang sudah saya lihat dan nikmati saya sudah simulasikan dalam otak, ya centang fiks.

Kenapa Penglipuran?, ini adalah satu desa wisata yang pernah dinobatkan menjadi desa terbersih di dunia, saya penasaran dong, seperti apa desa itu?, pengelolaannya, mekanisme wisatanya, sampai unsur apa yang menjadi penguatan desa itu. Selain itu, monkey forest ubud, dan wisata terasering sawah sudah dianggap sejenis untuk direpresentasikan desa wisata dari unsur pegunungan dan alam nan hijau.

Berdasarkan informasi dari Google Maps, lokasi destinasi ini bertolak belakang dengan titik GWK, kalau ke GWK menuju Uluwatu Kuta Selatan kalau ini saya harus ke arah utara Pulau Bali, tepatnya di bagian tengah Bali.

Setelah beres-beres, saya turun cari sarapan, saya makan berat takutnya sarapan roti tidak cukup energi. Saya jalan kaki karena sepantaran saja dari tempat saya menginap. Pulang saya langsung melunasi kembali biaya untuk sewa semalam lagi, sambil info besok saya check out. Saya juga minta agar kamar saya dibersihkan. Setelah itu saya ke rental motor untuk memperpanjang sewa tapi Bli-nya belum buka, saya WA Bli-nya bilang ditransfer saja, ok, saya isi bensin Rp.60.000 di warung Madura kios tetangga rental motor, abangnya juga gelagapan juga waktu ditanya lokasi desa Wisata Penglipuran, hanya tinggal di Bali, merantau tapi belum kemana-mana juga.

Agak trauma juga dengan Google Maps takut salah baca data, saya usahakan untuk tidak berada di jalan lingkar yang akan mengarahkan saya ke jalan tol bandara. Google Maps menyerah, saya gas, dan kabar baiknya kawan saya hari ini 2 jam sukses berbicara dan berbahasa mesin dengan teknologi, saya yang tadinya khawatir kok jauh sekali tempat ini, alokasi waktu yang dihabiskan selama 2 jam, dan panjang sekali. 3 kali gumaman untuk menyerah namun saya tidak mau, kadung biar enak semua perjalanan ini.

Saya akhirnya bisa baca, ternyata teknologi ini sangat, seribu kali sangat membantu saya, ada dua kode warna pada maps, jika bertanda tebal itu artinya rekomendasi secara life time agar kita melewati jalan itu, dengan pertimbangan tidak ada macet, potong jalan tercepat, selain itu warna yang tidak tebal adalah alternatif lain yang mungkin ada keterlambatan jika saya melewatinya.

Inilah teknologi, seandainya saja tidak ada Google Maps tidak ada teknologi, mau kemana saya, hanya orang gila dan mungkin yang banyak uangnya yang suka-suka kalau tersesat bisa kemana-mana. Untung ada teknologi, kalau saya salah jalan atau bingung dengan maps dengan citra yang berbeda dengan jalan, secara otomatis saya terus disarankan untuk lewat jalan tercepat.

Saya bersyukur sekali dengan adanya teknologi, bayangkan bro, saya mendadak Beleng-Beleng, Gila, Gila sekali dulu waktu ke Bandung naik juga motor tapi arahnya dekat, saya bisa rekam cepat, ini jauhnya perjalanan 50 KM terpakai dengan alokasi 2 jam dan bahkan lebih menyesuaikan kecepatan, kehati-hatian saya dalam berkendara, bonusnya saya akhirnya melintasi Gianyar, Ubud, Kintamani, melewati laut, melihat pegunungan dan sawahnya, melewati daratan tinggi, sampai merekam proses ngaben dari orang-orang yang menjaga ketat tradisinya.

Saya bersyukur dengan kesempatan bersama teknologi ini, jadinya star jam 08.00 saya tiba jam 10 lewat, awal jalan takut kenapa-kenapa, pakai jalan Kuta ke arah by pass Ngurah Rai, By Pass Ida, lewati Gianyar/Bangli akhirnya masuk desa dengan membayar 25.000 dan 2.000 biaya parkir motor.

Kawan tujuan utama memang desa Penglipuran namun rasa-rasanya saya sudah melewati Bali Selatan sampai Bali Utara meskipun hanya di tengah saja dari Pulau Bali. Saya rasa lagi-lagi semua elemen-elemennya sudah terwakilkan dengan sesi perjalanan kali ini.

Kekuatan desa Penglipuran menurut saya promosi adalah hal utama, kedua mereka menjaga identitas budaya, ada ruang utama di tengah desa yang dibangun kuil-kuil penuh relief khas Bali, dan bagian yang terus turun berundak seperti tangga memberi kesan cantik dan manja, kemudian kreativitas dan kegiatan pemberdayaan berbasis masyarakat, Orang-orang ini membuat ide pasar, membangun dan menjaga hutan bambu, sampai masyarakat yang muda-muda yang diberdayakan.

Tadi tiba belum banyak orang, sejam berlalu rombongan wisatawan dari Jawa dari guru-guru yang studi tur, sampai family gathering, ribuan mungkin. Bayangkan 25.000 untuk lokal kali 500 orang saja sudah 12.000.000 rupiah dalam sehari yang didapat secara cuma-cuma, bagaimana kalau lebih dari itu kunjungannya.


Kalau melihat Buton Utara ditambah dengan keindahan dan potensi yang dimiliki dibarengi dengan kreativitas serta pengelolaan anggaran yang berpihak pada masyarakat. Buton Utara harusnya tidak kalah dengan Bali. Tinggal dikomunikasikan, tadi saat tiba di Pendopo para tokoh masyarakat dan pemuda sedang bermusyawarah tentang konsep dan pengelolaan wisata berbasis masyarakat. Itu saya dengar sembari istirahat, mencuri dengar informasinya.

Saya eksplor desa wisata ini, dari arah tengah desa, turun ke bawah, Orang-orang menyewa pakaian tradisional, sewa fotografer, dan berselfie ria, padat sekali, otomatis jiwa introvert keluar, saya malu untuk ambil dokumentasi, seandainya ada teman, saya bisa dokumentasi dengan layak, bawa temannya ya.. wajib.

Jalan beberapa meter ke bawah, saya berhenti desanya stop, lalu saya kembali ke atas, dari peta di atas ada hutan bambu, benar saja, ini kreativitas kok, hutan bambu disulap jadi tempat wisata, suara perpaduan bunyi bambu yang saling bergesekan satu sama lain, dan ademnya hutan Bambu memberi pesona tersendiri, ada jembatan yang dibangun, kemudian sepanjang jalan dipagari dengan bambu-bambu yang ditenun menjadi pagar, sangat menarik. Usai dari taman hutan bambu saya kembali turun, kalau lihat secara sekilas dari Google Earth atau foto-foto yang beredar di sosial media, desa ini berbentuk segi empat untuk kompleks perumahannya di atas paling puncak ada pura sebagai tempat peribadatan mereka, jadi dari atas kebawah tampilannya indah, lebih-lebih dipandang dari atas ke bawah, dua sudut pandang itu berhasil saya rekam.

Saya akhirnya pulang, yap, terbantu dengan teknologi, jika sebelumnya saya belum akrab, tepatnya ada update terbaru dari Maps yang dulu biasanya kalau salah jalur atau mau kembali ke titik fokus perjalanan tinggal klik "pusatkan", saja maka avatar dari ikon kendaraan akan kembali fokus pada titik d mana status jalan atau kendaraan kita berada, kali ini ada ikon-ikon yang bikin bingung, tapi sekarang saya sudah menguasainya, saya mengikut dan mempercayakan Google Maps, kalau sebelumnya saya berjalan banyak melewati macet-macet kendaraan, kali ini saya diarahkan menyusuri pinggiran pulau ini.

Tidak banyak gedung-gedung tinggi pencakar langit, namun Bali adalah kota besar, sudah seperti Jakarta, Makassar, hanya itu terpusat dalam 1 konsentrasi, 1 pulau saja.

Pengaruh samudera Hindia memang memberikan pesona tersendiri, kalau melihat debur ombaknya, sangat keras dan ini seperti melihat ombak dengan menggunakan kacamata cembung yang dilihatnya menggunakan TV cembung, saya hanya bisa munculnya kalimat itu untuk mendeskripsikan pesona ombak pantai yang dimiliki Bali.

Sepanjang perjalanan, Sayan bergumam mungkin saya kategori yang disebut orang-orang Beleng-Beleng, saya puas dan tuntas untuk menjelajah kemegahan dan keindahan dari Pulau Dewata ini.

Saya juga bermimpi, jikalau saja maaf kita bisa mengurangi keserakahan dalam diri, atau apapun yang dinamakan dengan politik balas budi dengan alasan tersandera dan lainnya, saya harap dan berdoa, kita bisa sama-sama duduk dan berdiskusi untuk bercerita, membangun ide, merancang kegiatan, mengeksekusi program, mengekspresikan pikiran dan menyatukan semua hal yang berkaitan dengan pembangunan, agar kita juga bisa berada pada level yang membuat kita senang tidak hanya raga namun jiwa pula.

Bisa dibayangkan kalau kita bebal, tidak mau belajar, ya.... kalau berbicara pembuktian kita korupsi atau tidak, itu masalah hukum relatif, tapi kita bisa membaca pada politik anggarannya kalau ternyata anggaran pembangunan hanya berpusat pada itu-itu saja tanpa pelibatan partisipasi semesta, kita bisa bilang itu sudah tidak tepat.

Kita sudah serakah, masih mending serakahnya han hanya 1 tangan, ini kalau serakahnya sudah 10 jari, sudah dua tangan mainnya, apalah yang bisa dimintai tolong. Tangan mana yang akan dipakai untuk dimintai bantuan. Saya positif bilangnya karena tidak tahu, tapi kan kita bisa belajar, tidak semua yang diciptakan dua itu buruk, telinga diciptakan dua untuk banyak mendengar, kaki untuk seimbang berjalan, tangan untuk membantu, dipakai untuk keserakahan, tinggal nama semua.

Perjalanan kali ini memberikan pelajaran tersendiri, di zaman teknologi seperti saat ini, menolak mengikuti perubahan zaman adalah bentuk penyakit Beleng-Beleng (Gila) nomor 1, bukan apa-apanya teknologi dibuat disamping sebagai tuntutan zaman, itu dibuat juga sebagai bentuk fasilitas untuk membantu manusia, bayangkan saja seorang yang asing, datang di negeri orang tanpa ada petunjuk ini dan itu, berani mengeksplorasi, jalan tanpa takut-takut hanya karena ada kecanggihan langsung dari teknologi.

Makanya kalau ada yang menolak untuk berubah, tidak mau belajar dan beradaptasi dengan teknologi saya sudah bilang di awal tadi itu, itu penyakit Beleng-Beleng nomor wahid apalagi ditambah dengan keserakahan hmmm... selesai sudah.

Saya pulang dari desa Penglipuran sesekali ambil foto untuk kenangan, berhenti dan membeli nasi padang di jalan, dan perlu ditambahkan juga ya sebagai pelengkap, teknologi memang untuk membantu namun jangan semua juga dibantu dengan teknologi, penguatan nalar kritis, utamanya sopan santun dan adab adalah hal yang mesti diutamakan untuk melengkapi kekuatan kita tersebut.

Saya beli nasi padang, Rp.26.000 saya masuk kamar, makan dan istirahat, capek sekali pastilah bilang, kan jalan-jalan tapi setelah lihat perjalanan kali ini, ini namanya lintas kabupaten kota ini. Perjalanan hampir 100 km, seperti perjalanan pulang dari Kota Baubau ke kampung. Kamu luar biasa.

Saya cek e-mail sudah ada tiket pesawat, tiket Pelni juga sudah siap, malamnya laundry, dan sudah bersiap pagi hari atau siang layanan ekspres cucian sudah bisa saya ambil, biar naik pesawat harum baunya, utamanya selamat perjalanan, beli makan malam pecel lele, dan InsyaAllah momennya pas.

Check out jam 12 Siang (Sabtu, 27 Desember 2025), berangkat ke Bandara, pesawat take off jam 14.40 tiba sore Makassar, ke Pelabuhan Baubau jam 11 malam, InsyaAllah tiba jam 8 malam tanggal 29 Desember 2025. Mungkin bisa istirahat di kapal plus di kota Baubau, sekalian juga mau susun laporan keuangan. 

Oh ya.... Jam 9 pulangin motor sewa, pagi besok mau lihat sunrise di Pantai Kuta. Kalau tidak dapat karena hujan, ya



















lihat ombak pantai sajalah, kayaknya asyik. 

Biar saya tidak Beleng-Beleng, sekaligus tidak serakah sembari mengagumi anugrah dan rezeki yang diberikan Allah SWT. 

Terima kasih atas nikmat ilmu ya Allah. Ada teknolojia dari Allah semua beres. 

Alhamdulillah. 

(Tulisan ini dimulai pada Jum'at, 26 Seseorang 2025, dan diselesaikan dalam perjalanan ke Pantai Kuta, namun terjebak hujan sebanyak 3 ronde) hehehheh

Bali, 27 Desember 2025 : 05.49 



Serial Perjalanan di Pulau Dewata BALI-NEGERI PUPUTAN

  Keseruan menjelajahi bali dapat dilihat di sini: https://drive.google.com/file/d/1LVGH5MW76M-FzwwkqTx4QzIIslLigGiw/view?usp=sharing