Seperti katak dalam tempurung, ini analogi, peribahasa, bahwa ketika melihat sesuatu kita harus melihatnya secara komprehensif, maksudnya ketika mempertimbangkan untuk mengerjakan sesuatu, kita perlu melihat dulu, hal ini untuk apa?, bagaimana cara kerjanya?, pengaruhnya kepada kita?, dan apakah tepat melakukan ini atau tidak?.
Orang zaman sekarang menyebutnya menimbang bibit, bobot, dan bebet, sehingga saat memutuskan kita bisa mendapatkan hasil terbaik, ada pandangan yang luas yang dibangun untuk mewujudkan itu.
Peribahasa di atas juga dapat dimaknai keragaman kita berpikir dan berpijak, yang mengarahkan kita untuk melihat dunia secara lebih luas, kita tidak bisa mempersepsikan seseorang hanya karena berdasarkan pengetahuan kita, yang ternyata jangkauan hanya seluas batok kelapa, peribahasa ini membawa kita kepada kebijakan hati dan keluasan pikiran yang mendalam untuk melihat sisi yang beragam dari suatu objek.
Pantaslah dalam teori pendidikan Jean Piaget proses belajar itu ada 3, Asimilasi, Akomodasi, dan equilibrasi, ada integrasi, penyesuaian, dan keseimbangan pengetahuan yang lama dalam pengetahuan yang baru, kita dituntut mengayakan diri dengan berbagai sumber, pengalaman, dan beragam referensi.
Hari ini, Tuhan seperti memberikan satu kesyukuran yang maha dahsyat kepada diri saya, bagi orang lain mungkin biasa saja, levelnya rendah, tapi tidak bagi saya, semua apa yang terjadi dalam hidup adalah sebuah konsekuensi dari perjuangan sendiri yang telah payah dilakukan, tentu saja kita sedang melakoni takdir-takdir yang dibuat Tuhan kepada kita.
Mungkin kita pernah bertanya, apakah kamu telah benar-benar mengenal diri dan lingkungan sekitar kamu?, apa kamu betul-betul mengetahui seluk beluk, luas perkampungan, orang-orang di sekitar kamu, atau kamu telah menuntaskan penuh perjalanan memahami semua hal yang telah benar-benar ada di keseharian kita.
Siluet pertanyaan di atas seiring berkelabat dalam pikiran saya, dan saya kadung senyum sendiri, oh iya juga ya.....saya mungkin tidak tahu dan sama sekali tidak mengenal diri dan alam saya, saya tidak menyadari bahwa di belakang rumah, telah tumbuh pohon jambu air yang di masa depan akan menjadi rindang dan ranum, atau di halaman sekolah sudah tumbuh bunga dandelion yang tersembunyi ditutup semak belukar.
Tapi itulah hidup, manusia melihat sesuatu secara holistik, namun dengan menghadirkan sudut pandang yang beragam tadi itu, menuntaskan tiga pengalaman belajar tadi itu, kita mungkin akan saling bisa memahami satu sama lain.
Sepanjang perjalanan Pangkajene-Maros dalam perjalanan menuju Rammang-Rammang, jalan poros panjang dan baik itu sedikit membawa kepongahan berpikir, bahwa mungkin inilah sensasi keindahan yang dialami oleh seorang yang bernama Qarun, seorang yang namanya abadi dalam kita suci Al-Qur'an sebagai seseorang yang dianugerahi kekayaan namun ternyata kikir dan serakah, bahwa ia dikaruniai kekayaan oleh Tuhan yang maha esa sehingga kunci-kunci harta kekayaannya juga memerlukan banyak orang kuat untuk memikulnya.
Mungkin sensasi dapat memiliki segalanya hanya dengan menjentikkan jari, orang-orang akan mengantri welas asih padanya, seribu dayang asuh, seribu orang-orang hebat penjaga emas berliannya, luas lebar tanah pertanian, dan besar-besar peternakannya, dan megah rumahnya.
Siluet Qarun seperti muncul dalam diri, bukankah semua orang di dunia ini sedang menjalankan prinsip materialisme, segala sesuatu, segala pergolakan, dan entitas sosial yang dibangun memang hanya berbicara tentang materi 'UANG'.
Karena dengan itu, segalanya dalam genggaman. Namun saya bukan Qarun, saya tidak ingin seperti Qarun, berlimpah harta dan kekayaan, namun pada akhirnya dia mati ditenggelamkan bersama harta dan kekayaan yang samasekali tidak mampu menolongnya.
Saya beristighfar, saya bukan Qarun, saya tidak ingin menjadi Qarun, saya hanya sedang menikmati semua rezeki, segala nikmat yang telah Tuhan anugerahkan kepada kami terutama kepada saya.
Perjalanan yang juga menuju arah kabupaten Pinrang dan Pare-Pare ini, tuntas kami jelajahi dengan hanya jarak waktu tempuh 1 jam lebih, di Kabupaten Maros tempat wisata ini, potret persawahan ditumbuhi bebatuan hitam karst menjadi sajian pembuka mata, saat kami akan menuju Rammang-Rammang.
Motor kami parkirkan di area dermaga 2, ini highlight dari Geowisata ini, untuk akses ke satu bagian dari desa Salenrang, Kecamatan Bontoa kami harus menaiki kapal motor melewati sungai berair dan berwarna kecoklatan khas pesona DAS bercampur air laut yang rimbun ditemani pohon nipa yang berjejer rapi, ongkos Rp.200.000 untuk 4 orang hanya kami bayar berdua, bersama keponakan perempuan saya. Dalam jarak 10 menit kami tiba pada pesona indah yang menakjubkan.
Kata ponakan saya yang juga jadi tour guide kali ini, area ini dulu waktu eksplorasi masih sangat terisolir, tidak ada listrik, dan akses yang tidak seramai sekarang. Sekarang ini menjadi sumber pemasukan.
"Om, mereka yang mengantar naik kapal ini, akan menunggu sampai kita selesai mengeksplorasi tempat ini". Jelasnya.
Ya....Ini anugerah Tuhan, saat melewati gerbang alam berupa pahatan batu karst yang berbentuk piringan kosong di tengahnya, kampung Berrua, kampung yang hanya ditempati 20 orang KK seperti yang dituturkan ibu Warni, warga lokal yang kami sambangi saat beliau sedang menyiangi bibit sawah yang akan siap dia tanam.
Saya seperti melihat cuplikan film Jurassic Park, khas epilog dan diaroma pemandangan yang indah, perkampungan ini seperti berada dalam pelukan pegunungan bebatuan yang menjulang tinggi, dan besar-besar, kalau ada 1 saja fosil dinosaurus yang ditemukan, bisa jadi ini adalah tempat para mahluk-makhluk purba itu tinggal.
Di tempat ini, pemerintah sudah mengakomodir beragam kepentingan wisata dalam membantu kenyamanan para wisatawan. Spot-spot seperti Goa Kingkong, Goa berlian, Goa Kelelawar , Padang Amarung, situs Passaung, juga menjadi ikon pelengkap kampung wisata Rammang-Rammang.
Gaya khas perkampungan yang dikitari jalan melingkar dengan ditemani area persawahan yang baru selesai dipanen, serta hembusan angin sepoi di atas saung-saung yang bertengger di atas bebukitan untuk memanjakan mata dan lidah para wisatawan yang haus dan lapar, wisata Rammang-Rammang menyajikan perjalanan yang epik kali ini.
Menuliskannya tidak cukup, mendapatkan pengalaman langsung, saat Klaustrofobia menyerang imbas menjelajahi Goa Berlian, atau melihat beberapa burung pipit yang bergerombol terbang, ini adalah pengalaman fantastis, perjalanan yang seolah-olah membawa kita pada pengalaman megalitikum. Indah sungguh indah.
Terlepas dari itu, kekokohan batu Karst Rammang-Rammang, atau ketangguhan para penyabung ayam di situs Passaung, atau gemuruh air hujan di Padang Amarung seperti mengajarkan arti hidup sesungguhnya.
Kita memang terlahir seperti ini, namun Tuhan berkata, tidak akan pernah berubah nasib suatu kaum, jika bukan kaum itu sendiri yang berubah.
Tidak akan berubah nasib kita, cara pandang kita, jika kita hanya menjadi katak dan nyaman di area kita. Kita perlu mimpi, kita perlu jalan dan tantangan untuk menjadi besar, dan bijak. Saat mimpi kita terwujud. Kita boleh kaya Raya seperti Qarun, namun istiqomahnya di Jalan Allah, adalah seperti jalan-jalan yang diridhoi Tuhan kepada mereka para pemilik mimpi-mimpi yang kokoh, mimpi yang baik dan kuat seperti batu Karst di Rammang-Rammang.
Indah... sungguh indah tak terperi.

























Tidak ada komentar:
Posting Komentar