Prinsip Yolo, Nostalgia, dan Negeri di Atas Awan

(Wisata Hutan Pinus' Malino-Gowa)

2 hari dalam ukuran kamar kos 4 X 3, benar-benar membuat sumpek perasaan, pernah kos, juga bahkan tinggal di rumah orang tua, namun sejauh ini, ukuran kamar ini adalah yang paling kecil, merasa terkurung, tidak leluasa, dan sempit dan merasa seperti terpenjara adalah pikiran yang mendominasi.

Kira-kira begini mungkin rasanya, sehingga membuat seorang berkonsultasi pada seorang bijak tentang rumahnya yang berukuran besar yang ditempati dia dan istrinya bersama 3 orang anaknya namun ia masih merasa rumahnya sangat kecil. Kemudian ia diberi nasihat untuk menambah anggota baru lagi dengan memasukkan hewan peliharaan mereka dalam rumah tersebut.

Jadilah rumah semakin sempit rasanya, dari 5 orang bertambah 6, satunya domba peliharaan mereka, si suami tidak puas, lalu kembali bertanya pada si bijak yang terkenal mampu memberi solusi terbaik. Kemudian, solusinya ditambahkan lagi hewan peliharaan, kali ini, 2 ekor, jadilah berdelapan, sampai si bijak memberi saran menjadi 10 anggota dalam rumah tersebut baru kemudian, si empunya rumah diberikan saran selanjutnya.

"Jualah 1 ekor domba tersebut", kemudian si suami menjualnya, dan kemudian bertemu kembali pada si bijak. "Bagaimana ukuran rumah apa masih sempit?, masih kata si suami, lalu si bijak menyuruh kembali menjual 2 dombanya, dan kembali bertanya. 

Sampai semua domba terjual, dan hanya menyisakan si suami dan anggota keluarganya, barulah si suami merasakan hikmah dari segala peristiwa yang dialami.

Sebenarnya bukanlah ukuran rumah yang sempit, namun rasa syukur yang tidak pernah ada, sebesar apapun rumah atau ukuran apapun yang diberikan, namun jika tidak ada rasa syukur maka tidak akan pernah ada rasa cukup dan puas. Si suami merasakan tamparan dan pengalaman berharga, dan akhirnya kembali bersyukur, kini ia mendapati pengalaman baru, dan merasa saat ini rumahnya adalah yang terluas.

Cerita di atas, membuat saya menikmati semua dominasi pikiran saat berada dalam ruangan kecil kamar kosan ponakan saya ini. Ya... bersyukur maka semua hal akan terasa lapang, karena Tuhan meridhoi itu semua.

Ketika rasa syukur ditingkatkan Tuhan menambahkan rezeki dan nikmatnya, setelah dua hari tidak 'ngapa-ngapain' dan rencana awal liburan untuk ke Bali ternyata harus dibatalkan, saya memutuskan untuk melakukan riset kecil untuk mengeksplorasi pulau selebes ini. 

Malino adalah 'highlight' tempat wisata yang direkomendasikan 2 orang keponakan saya. Zul sudah pulih benaran, sudah bisa eksplorasi katanya, saya ok, di Maps Malino ternyata berada di kabupaten Gowa, bukan di  kota Makassar, jarak tempuhnya juga dekat hanya butuh waktu 1 jam 21 menit saya ok, tidak lengkap rasanya bepergian kalau tidak menempuh jarak, dan itulah esens dari perjalanan, mencermati dan melihat panorama dan diaroma baru di sepanjang perjalanan adalah hal wajib yang dilakukan saat bepergian.

Oh...Tuhan, saya memekik kegirangan dan bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Tuhan, sepanjang perjalanan, paska melewati Sungguminasa ibu kota kabupaten Gowa yang berdekatan dengan kota Makassar dan juga melewati kantor Bupatinya, serta kampus besar di tanah Gowa Kampus Universitas Islam Negeri Alauddin-Samata.

Sepanjang perjalanan ke arah Malino, dominasi pegunungan menjadi sangat syahdu menemani, di tanah Sultan Hasanuddin ini, gambar-gambar persawahan di masa kecil seperti menjadi papan lukisan nyata, kontur persawahan yang berundak plus pondokan kecil di tengahnya seperti kepingan mozaik yang menyeruak keluar dari kenangan, area perkebunan yang ditanami jagung yang hijau, dan suasana yang adem penuh dan rimbun dengan pepohonan, serta melewati orang-orang khas bergaya dan berbahasa Makassar, seperti melengkapi bait-bait perjalanan.

Di sebelah kanan perjalanan yang terus menanjak terjal ke atas ini, saya disuguhkan satu lembah pra sejarah menurut saya, saat menulis ini, saya belum punya referensi terkait tentang pesona alam ini. Sepanjang perjalanan terbentang hamparan bebatuan dan tanah-tanah hitam yang biasa cocok dijadikan bahan untuk membangun rumah.

Dalam imajinasi saya, ini seperti bantaran sungai yang kering, saya membayangkan di masa lalu mungkin lembah besar ini dulu, dialiri oleh air sungai yang besar dan kuat, sehingga hampir berkilo-kilo hamparan material tersebut terlihat jelas menemani saat kami yang melakukan perjalanan dengan kendaraan roda dua.

Dalam rentang waktu tersebut, ada nuansa masa lalu, yang berpadu dengan kesyahduan alam modern yang mengiringi seri petualangan di pulau pemilik benteng jumpandang kali ini.

Benar saja, sesaat setelah dihentikan beberapa bulir hujan yang besar-besar saat perjalanan ke tempat wisata ini. Saat hampir memakan waktu kurang lebih 2 jam saya kembali terpesona dengan keindahan alam, ciptaan tuhan, dan semakin menguatkan rasa syukur dan indah memiliki negeri seluas dan sekaya Indonesia.

Memarkirkan motor, dan berhubungan dengan petugas jaga penginapan D'Stawberry. Saya seperti dihentakkan dan tersedot kembali dengan seuntai kecil pengalaman di masa lalu.

8 tahun silam, ibu dan ayah memberi restu untuk menuntut ilmu di tanah Jawa, itu pertama kali bagi saya melakukan petualangan pertama dan terbesar saya, saya seperti melakukan aksi nyata usai mendapati serangkaian pelatihan dan pengajaran.

Saya 4 tahun terbiasa dengan kota Baubau, kota kecil cantik di Pulau Buton, kali ini harus berani terbang ke pulau Jawa, bertemu paman di sana, tanpa ada seorang pun yang menemani. Saya senyum mengenang peristiwa ini, bagi yang lain, mungkin akan biasa-biasa saja, namun bagi saya ini adalah hal yang luar biasa. Jadilah saya menjadi pemuda kampung yang sok berinteraksi dengan segala hal baru dengan perjalanan.

Melakukan transit, take off, landing, dan melewati jalan tol, seperti istilah-istilah baru namun menantang untuk dilakukan. Dan tanah Bandung mungkin adalah tanah kedua yang diinjak setelah Cengkareng, Banten pesawat kami mendarat. 

Ya...di bumi Pasteur Bandung, adalah kosan om saya yang wara-wiri Jakarta Bandung untuk menuntaskan tugas akhirnya dalam studi doktoralnya di Kampus ITB, saya yang dari Pulau Buton, lalu tiba di Jakarta, kemudian diarahkan untuk menaiki Bus dengan jasa travel, saya diarahkan di jalan keluar pertama kali Tol Pasteur 2 saya harus diturunkan di sana. 

Ya... ruangan kecil penginapan kami, di Malino ini adalah sentakan paling nyata saat saya melakukan habituasi berada di pulau Jawa. Suasananya yang sangat dingin, air seperti es batu yang mencair, dan kabut air pekat yang menemani saat kami menempati kamar nomor 5 ini. Malino berhasil menyeruakan kenangan manis petualangan perdana di masa silam.

Ya...itulah hidup, sebelum sampai di sini, saya seperti mendapatkan validasi kehidupan, berbuat baiklah selagi masih ada waktu, sholatlah selagi ada waktu sholat, perjuangkan serta nikmati hidup selagi masih ada waktu.

You Only Live once, kita hidup hanya sekali, kesempatan datang manfaatkan, "kan menabung untuk di masa tua", hei bung apakah kamu menjamin di masa tua kamu masih bisa menikmati enaknya daging udang, makanan mewah saat kamu telah kehilangan gigi, menjadi ompong, dan sekian penyakit yang telah bersarang di usia senja, atau masih mampukah dengkul bertahan untuk melakukan seri perjalanan yang berat-berat. 

Hidup sekali, lakukan yang terbaik, nikmati yang hal dan kesempatan yang pernah Tuhan berikan kepada kamu. Apapun itu, Malino adalah negeri di atas awan, kabut tebal yang setia menemani ini adalah validasi sekaligus legasi, bahwa ada kedamaian yang dihadirkan, ada bukti kebersamaan, keindahan, dan kekuatan, serta rasa pesona yang menyatukan sebagaimana di tempat ini, di 2001 silam ada seikat perjanjian yang menguatkan untuk mendamaikan konflik agama, Kerusuhan Poso, konflik Islam dan Kristen yang bersama ridho Allah SWT.

Di tempat ini, di Malino, kota Bunga, kota pohon pinus, kedamaian itu berhasil diwujudkan. Saya bangga pernah menceritakan kisah besar ini pada pelajaran PPKn yang pernah dipercayakan untuk diampu oleh saya.

Malino saat ini sudah pagi, saya bahagia berada dalam negeri di atas awan.

Dokumentasi kegiatan:














Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Serial Perjalanan di Pulau Dewata BALI-NEGERI PUPUTAN

  Keseruan menjelajahi bali dapat dilihat di sini: https://drive.google.com/file/d/1LVGH5MW76M-FzwwkqTx4QzIIslLigGiw/view?usp=sharing