"Untuk apa sekolah?, sekolah hanya habisin duit saja, thu lihat, sekolah tinggi-tinggi ujung-ujungnya juga nganggur, gak buat apa-apa juga!". Mungkin kalimat ini akrab di telinga kita masyarakat Indonesia. Kalau tidak berlaku kepada anda, berarti berlaku kepada saya.
Sepenggal kalimat di atas pernah disetorkan beberapa saudara yang mungkin prihatin dengan kondisi, sekolah tinggi, kok hanya menjadi asisten pegawai di usaha UMKM kakak, bahasa tepatnya penjaga atau penjual es blender.
Tapi saya tertawa saja, saya hanya memaklumi, mereka sedang mengkhawatirkan masa depan dan perjuangan kita yang mungkin terkesan sia-sia hanya karena sekolah.
Maka lewat tulisan ini saya bilang, sekolah itu bukan untuk mendapatkan uang, sekolah itu mendapatkan ilmu, dengan ilmu kamu akan mendapatkan segalanya, ada pengalaman, pendewasaan, kemampuan teknis dan nonteknis plus 'uang' yang dengan sendirinya juga mengikuti sesuai kualitas masing-masing.
Tidak ada yang sia-sia dengan sekolah, sekolah adalah bentuk investasi yang pahalanya diganjar sebagai pahala fisabilillah, pahalanya orang yang sedang berjuang di jalan Allah, bahkan Tuhanpun mengangkat derajat orang-orang yang beriman-bertaqwa dan berilmu.
Setelah urusan sakit dan jenguk menjenguk keponakan selesai, saya terjebak beberapa hari di pulau selebes ini, tanggal masuk kerja 2 Januari 2024, sedangkan jadwal keberangkatan Kapal Lambelu menuju pulau Buton baru tanggal 3, itupun kalau tidak molor dari jadwal, saya sudah was-was tapi pasrah siap dengan sangsi yang diberikan atasan. Memang kerja harus begitu.
Hal yang paling mendasar selama 'terjebak' kali ini adalah, proses pembelajaran selama 1.000 hari lebih di sekolah menengah kejuruan dengan konsentrasi ilmu pariwisata baru benar-benar saya rasakan dan alami, bagaimana kami mempelajari perkembangan ilmu pariwisata melalui kelas PIP, menelaah beragam strategi, metode, dan bahkan historikal perkembangan tempat-tempat penginapan sampai dengan hotel berbintang lima.
Kami berpraktik bagaimana melakukan servis terbaik melalui cara kami berkomunikasi melalui telepon (BMT), atau menelaah cara-cara kerja tim yang bergerak di bidang kantor depan (front office) dan kantor belakang (back office).
Menyiapkan Kamar tamu, meningkatkan pelayanan melalui roomboy, houseman, sampai dengan pembayaran tamu, baik yang dilakukan secara reservasi atau 'Guest in the house'.
Kami ngeh dan terkesan bosan dengan beragam istilah asing teknis yang sangat tidak familiar di telinga kami anak-anak sekolah pada saat itu. Namun ternyata, ilmu itulah yang memperisai kita, memberikan pandangan, cara melihat, dan bersikap serta mampu memberikan pertimbangan terbaik terhadap hal apa yang mesti dilakukan.
Dengan menuntaskan memahami pembelajaran tersebut, saya kemudian sangat mengerti yang kesekian kalinya, bahwa ilmu akan sangat membantu kita, jadi ketika ada kesempatan untuk menampung ilmu, manfaatkan sebaik-baiknya. Ilmu itu merupakan pewarisan dari pengalaman, investigasi dari orang-orang yang telah lebih tahu dari kita, ilmu digunakan untuk memprediksikan dan membantu saat kita membutuhkan, dalam hal ini kemanusiaan.
Dengan bermodal ilmu secuil ini, saya sedikit pongah untuk menjastifikasi tempat ini. Jadwal kapal tanggal 3, berangkatnya subuh, barang bawaan banyak, jarak kos-an ponakan saya jauh, pasti akan sangat menyulitkan saya. Maka saya memutuskan memilih tempat penginapan yang dekat dengan akses ke pelabuhan, pilihan saya jatuh pada Hotel Kenari Pantai, apes, karena bertepatan dengan tahun baru, semua harga kamar naik 2 kali lipat, untung setelah komunikasi sesuai dengan ilmu tadi itu, saya deal harga dengan resepsionis.
3 malam 4 hari saya berencana menghabiskan waktu liburan (terjebak) di kota Makassar ini.
Nah... disinilah konsep Tourisme tadi, sebagai orang yang terjebak plus sebagai pengunjung saya sudah memenuhi unsur untuk disebut sebagai Touris (turis) atau pengunjung, dari sudut pandang kami, tempat penginapan, makanan dan minuman, serta obyek wisata adalah hal mutlak yang harus dikuasai orang-orang sebagai pelaku tourisme.
Apa yang menjadikan Bali terkenal sebagai pariwisata dunia, pariwisata berkelas internasional, Bali sedang menjual produk yang bersifat tangible secara besar-besaran tentu ditunjang dengan lainnya, dalam konsep pariwisata ada 2 hal utama yang harus dikuasai yaitu tangible dan intangible.
Tangible adalah sesuatu yang berwujud, sedangkan intangible merupakan aset non wujud, guru kami memudahkannya dengan ilustrasi kalau bentuk bangunan seperti hotel, tempat tidur (bed), sewing kit, dental set, comb, air panas, air dingin, safety deposit box, area parkir, fasilitas makan dan minum adalah bentuk tangible, dapat diamati sedangkan, intangible dapat diklasifikasikan sebagai service (jasa), hospitality (keramahan), smile (senyum), dan sapta pesona, semua hal tersebut tidak dapat berbentuk, namun dirasakan kehadirannya.
Konteks inilah mengapa memiliki ilmu menjadi sangat penting, dengan harga yang lumayan cukup mahal, di tempat saya menginap ini belum bisa disebut sebagai Hotel Berbintang, kelasnya masih kelas melati, namun sepadanlah dengan tingkat kebersihan, keramahan, dan pelayanan yang baik dari staf hotel yang bekerja.
Mekanisme kerja yang profesional dari 2 aspek di atas memang disadari para pelaku-pelaku tourism di daerah high kelas seperti Bali, Jakarta, Lombok, termasuk Wakatobi.
Dunia pariwisata memang tidak akan bisa dipisahkan dari segala aktivitas kita, pariwisata merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang jika pengelolaannya dilakukan dengan baik, maka akan memberikan pendapatan daerah yang besar bagi daerah tersebut, padahal Bali hanya mengandalkan aspek tourism, tidak ada tambang aspal seperti kita di Pulau Buton sana.
Kita mungkin hanya melihat sesuatu hal hanya dengan cara pandang kita sebatas mengagumi, contoh nyatanya saya, saya paham dengan konsep ini, namun tidak ada kegiatan aksi yang berefek guna membantu daerah dalam segi itu. Kita melihat peluang hanya melihat sebatas kita melihat dan mengagumi keindahan kembang api.
Kembang Api indah, suaranya gelegar menggemuruh, memantik rasa penasaran kita, setelah di atas, dia meledak berpencar warna kelap-kelip indah dan memukau siapa saja, setelah itu, dia menghilang dalam sekejap, kita hanya dilenakan keindahan hanya dengan sekian menit saja.
Seandainya kita mampu lebih bijak, jika tak ada hal yang bisa dijual, kita bisa menjual jasa, servis, pariwisata kita, kita cukup jaya dengan hal-hal itu, nah perpaduan konsep yang tak berwujud dan berwujud tadi itulah yang harus diintegrasikan bersama.
Yang terpenting adalah kesan, bukan hanya dalam dunia pariwisata, dalam berbagai aspek kehidupan kita pun terlebih lagi pariwisata tadi itu, kesan adalah hal yang paling krusial dalam penjualan jasa, orang-orang pariwisata harus menjadikan tamu harus datang berkunjung terus menerus, harus ada kesan kuat yang mendalam atas segala bentuk keramahan dan kesesuaian yang diberikan kepada tamu.
Jangan seperti tadi, makanan hanya seuprit, dihitung dengan seenaknya saja, kesan kecewa malah yang saya rasakan, betul-betul saya kecewa 999 kali, bukan harganya, tapi kesan atau value dari pelayanan yang intangible tadi itu.
Bagaimana orang-orang akan suka sama kita, jika kita saja, tidak memperlakukan mereka dengan baik, tidak ada pelayanan yang baik, bagaimana mungkin orang-orang akan berkunjung ke daerah kita, jika jalanan saja rusak setengah mati.
Padahal cukup 1 saja, yaitu punya ilmu, punya adab, punya keramahan, kita siap menjadi lebih baik di masa depan.
Seperti hari ini, hari yang baru, semangat baru, rezeki baru.
Selamat Tahun Baru 2024.




































Tidak ada komentar:
Posting Komentar