Saya tidak tahu apa cerita ini merupakan tahwil tentang sebab musabab yang tervalidasi atau bukan, bahwasanya dipertanyakan suatu persoalan kepada para alim ulama. "Mengapa nabi Muhammad SAW harus terlahir tanpa merasakan utuh kasih sayang kedua orang tuanya?".
Baginda Nabi telah menyandang gelar anak yatim, kehilangan Ayahnya Abdullah bahkan pada saat ia belum dilahirkan ke dunia, ibunya Sitti Aminah juga tidak secara paripurna menemani beliau dalam tumbuh kembangnya. Maka lengkap sudah gelar yatim piatu melekat pada sosok mulia ini.
Jawabannya adalah karena dosa yang paling mudah dilakukan adalah dosa kepada orang tua, terutama kepada ibu, Allah ingin menghindarkan perbuatan itu dengan hikmah nabi kehilangan kedua orang terkasihnya. Wallahu alam.
Saya terhenyak, kemarin adalah hari ibu, tanggal 22 Desember selalu diperingati sebagai hari ibu, di media sosial bersileweran ungkapan sayang kepada ibunda tercinta, meski sejatinya setiap hari adalah ungkapan sayang kepada ibu dan ayah.
Saya tidak usah ditanya, saya adalah salah satu bagian dari itu. Namun kali ini berbeda, setinggi apapun ilmu seseorang, jika menghardik kepada orang yang telah melahirkan kamu, maka saat itu runtuhlah semua kemegahan dan kepongahan itu, saya tahu konsep itu, saya paham itu dosa yang teramat besar, bahkan hikmah kehilangan orang tuapun juga tuntas saya pahami.
Namun beberapa hari ini, saya benar-benar menunjukkan betapa naifnya manusia, benar-benar memahami diri saya, bahwa saya adalah orang yang benar-benar tidak bersyukur dengan semua anugerah yang diberikan Tuhan kepada saya.
Seperti tahun sebelumnya, momen akhir tahun sebisa mungkin saya jadikan sebagai momen untuk liburan setelah penat 1 semester kegiatan sekolah selesai, kegiatan refreshing 1 minggu masuk kalender penutup tahun baru.
Agenda ini mulus dilakukan tahun lalu, bahkan saya menuliskan semua rangkaian perjalanan saya dalam blog yang saya rangkumkan dalam catatan kecil dengan judul "Hadiah Serial Perjalanan Ke Barat", teman-teman bisa melihatnya di link ini: " https://hisemoransa.blogspot.com/2023/01/hadiah.html ".
Namun agak berbeda kali ini, 22 Desember yang menjadi rutinitas ungkapan sayang pada ibu, tidak saya lakukan, saya cek-cok dengan ibu, kali ini, ibu seperti tidak mendukung semua rencana saya, pada akhirnya semua masalah komunikasi, ada komunikasi dalam bahasa "Orang tua dan anak" yang tidak tuntas dibahasakan. Semua keluar dengan ego masing-masing.
"Ok, fine, next time I don't have to be nice...I would like to manage by myself, and I don't want anybody to interrup me". Rencana libur dibatalkan, saya dan ibu kuat-kuatan dengan persepsi benar-benar masing-masing.
Saat malam menjelang, dongkol dan jahatnya pikiran saya pada ibu makin menjadi-jadi, Astaghfirullah dosa apa ini. Di sebelah di rumah kakak, telepon berdering, Zul yang sedang di Makassar sakit, sudah 4 hari tidak beranjak dari tempat tidur, kepalanya pusing, tidak mau beranjak. Lalu malam berlalu dengan sekalut-kalutnya perasaan.
Pagi seperti biasa, masih mendongkol, pikiran sudah tidak karuan, "It is my life and I think never make a rush before, I'm quite enough to be a good kid". Hari yang sedikit gelap tidak seperti biasa, seperti tahu seperti apa rasa hati 2 orang ibu yang sedang sedih, satu sedih anaknya durhaka, satunya lagi bersedih anaknya sedang sakit.
Setelah beberapa komunikasi intens, ponakan yang sakit ini harus dibawa ke rumah sakit, kakaknya yang perempuan yang juga sedang bekerja di sana, menjadi penyelamatnya, dan memang begitulah saudara, di tempat jauh, baru terasa kuatnya persaudaraan, bahkan tanpa hubungan darah pun, terikat satu bahasa dan suku saja, bukan main eloknya persaudaraan di tanah rantau.
Masuk rumah sakit, ternyata tidak cukup meredakan rasa khawatir orang tua, yang juga kakak saya, ternyata ini seperti peluang, saya sudah dongkol, tidak ada liburan, tidak ada ke Makassar, karena kalau ke pulau Bali memang alternatif termurah harus ke Makassar dulu, baru naik pesawat, karena lebih murah, ya semua pangkal permasalahan adalah biaya, tapi itulah pemikiran orang tua yang berbeda jauh dengan muda yang hobinya hanya ingin bersenang-senang.
So, sudah ada uang, ya... hidup dinikmati sajalah, saya juga sudah tutup bahkan sampai bilang yang aneh-aneh kalau jadi liburan, "biar, di tahun depan, gaji saya atur sendiri, biar enak kemana-mana, my current final angry decision.
Zul sakit, ternyata Monino, itu sebutan nama di kampung kami, saya tidak tahu latin dan istilah medis dari penyakit ini, semacam cacar, atau pox, dan bagi kami ini penyakit yang menyembuhkannya harus dengan menggunakan bahasanya sendiri. Ketahuan setelah perawatan dokter, paska pemberian obat, bintik kemerahan muncul, panas demam, dan sakit kepala berat menjadi sebab kekhwatiran kakak saya, yang juga orang tua dua anak ini.
Jadilah saya yang diutus, tepatnya mengajukan diri, sebenarnya saya mau sekali liburan, malu-malu tapi mau, tapi memang kondisinya begitu, kalau bapak dan mama anak ini yang ke Makassar, akan berabe urusan, urusan ke kota besar, bukan urusan sepele, saya yang paling tervalidasi untuk ke sana. Maka runtuhlah semua ego saya dan ibu.
Ibu merestui perjalanan saya, bahkan segepok uang sudah diberikan kepada saya, "Ibu tidak pernah melarang, ibu minta maaf, kalau ibu tidak mengerti dengan situasi yang ada", saya memeluk ibu, memohon maaf dan meminta ibu mengampuni saya dan memberikan doa restu perjalanan. Semua aman.
Saya tancap gas, pesan kapal Pelni di website Pelni tuntas dilakukan, perjalanan ke kota Baubau selama 2 jam dari jam 11 sampai jam 1 sudah dilakukan, kapal Lambelu berangkat 23 Desember 2023 jam 16.00 tapi ternyata harus molor, berangkatnya diganti jam 7 Malam, namun ternyata keberangkatan baru dimulai jam 10 malam.
Ya... sudahlah... pelataran masjid Hasan Al Bahari adalah tempat paling syahdu yang kembali menemani cerita petualangan kali ini.
Tidak ada hal yang banyak berubah, dari orientasi pelayanan publik kita, kapal-kapal milik pemerintah BUMN yang bergerak di bidang pelayaran ini masih sering molor dari jadwal yang ditentukan, pelayanan ruang tunggu masih jauh dari kata nyaman, serak-serakan penumpang seperti kumpulan manusia yang menunggu hari penghakiman, pelayanan di dalam kapal juga masih cenderung tak ada perubahan yang berarti, makanan kapal yang kurang enak, tempat istirahat yang kurang nyaman, kamar mandi yang belum bersih, masih menjadi narasi dan cerita manusia-manusia yang berlayar di lembar tiket ekonomi.
Ya.....karena para pembesar kita mungkin tidak pernah terlahir dan tak pernah mengalami momentum seperti ini.
Kapal berangkat, bertolak dari pulau Buton, meninggalkan pulau seribu benteng menuju kota Mengkassar tanahnya Sultan Hasanuddin, tanahnya para kesatria ayam jantan di negeri timur.
Ya..... perjalanan saya, terhenyak sesaat kabar dari kampung, ada gempa yang mengguncang rumah. Saya bertafakur itu adalah peringatan bagi saya, dalam kapal, saya menangis sedih, saya tahu Allah mencintai saya, ibu mengasihi saya, sehingga bala saya terhadap ibu, hanya diberikan Tuhan dengan melampiaskan menggoyangkan bumi di tanah lahirku.
Bagaimana kalau Tuhan, meluluhlantakkan kepongahan saya pada ibu.
O Tuhan.....ridhoi petualanganku.
Lalu kapal berbunyi.....Kota Makassar sudah di depan mata, petualangan baru sudah dimulai.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar