Momen, semua seperti dipaskan Tuhan, momen liburan, masa cekcok, terkena campak, dan kemudian ridho untuk berlibur.
Ya...manusia terlalu egois untuk memaksakan kehendak dan rencana, padahal Tuhan adalah penentu segala-galanya. Tuhan mungkin tidak akan memberi apa yang kamu inginkan, tapi Tuhan akan memberi apa yang kamu butuhkan, itu sebuah perspektif tentang momen yang pas ini.
4 hari bergelut sakit di kos, saya omelin jauh-jauh dari telepon, "You, kalau segera tak ke rumah sakit, kamu dead, saya tidak mau berurusan dengan peti mati, terbang dari Makassar ke tanah Buton bukan perkara mudah". Itu gertakan tapi memang kewaspadaan harus selalu ditingkatkan, memang Takdir, tapi takdir bisa diubah.
Dengan bantuan kakaknya, RS Islam Faisal rumah sakit yang dekat dengan kosan mereka menjadi pilihan ponakan laki-laki saya dibawa untuk berobat, syukur pemerintahan benar-benar telah berupaya membantu semua kesehatan masyarakat melalui program jejaring sosial dengan sistem Jaminan Kesehatan Nasional.
Karena terbiayai negara, sesuai kelas, ponakan saya di tempatkan di bangsal kelas 3, meskipun bangsal, namun kebersihan, kenyamanan, dan keramahan petugas medis dan staf Rumah Sakit pertama sebelum rumah sakit modern-modern lainnya bertumbuh di tanah Makassar ini sangat membantu proses healing keponakan saya.
Ya... itulah hidup, mustahil untuk meniadakan strata dan istilah sosial yang telah melekat di masyarakat, tak ada lagi si miskin dan si kaya, si pejabat dan si bawahan, si raja dan si budak. Bahwa semua itu bisa saja merupakan persepektif yang dibangun agar situasi kebatinan seseorang atau suatu kelompok tidak merasa terdistorsi karena istilah-istilah yang mengotak-ngotakkan ini, namun seperti ilmu sosial, gejala sosial, reaksi sosial, akan selalu ada berjalan beriringan dengan sifat-sifat alamiah yang melekat pada manusia.
Saya hanya mau bilang, sesaat saya turun dari Kapal Lambelu yang berlayar kurang lebih 16 jam ini dan akhirnya dijemput di pelabuhan lalu langsung ke tempat perawatan, bahwa "Kalian-kalian silakan lihat dan rasakan sendiri, bahwa kehidupan sebenarnya berkaitan dengan masalah survive, siapa yang kuat, dia yang menang, siapa yang kaya dia akan banyak mendapatkan kemudahan", ya... setidaknya saya tidak perlu berselonjoran di lantai di bawah bed pasien, saya langsung beralih tugas menjadi pendamping pasien.
Sudah capek dari kapal, masih juga harus berurusan dengan dinginnya lantai rumah sakit, seandainya kamu kelas 1, ruangan kita sekelas hotel bintang 1, kualitas layanan juga akan lebih bahagia.
Alhamdulillah 6 hari perawatan di rumah sakit, tepat di hari Senin, hari Natal 25 Desember 2023 dokter penanggung jawab pasien Rumah Sakit Islam Faisal membolehkan pulang, campak yang menyerang setelah negatif infeksi paru, dan suspek types nihil, ponakan saya resmi diberikan nasihat medis untuk menjaga konsumsi resep obat yang diberikan dan izin pulang diberikan.
Masalah baru muncul, mau kemana untuk proses rekaveri, ponakan yang kosan beda dengan kakaknya mengusulkan untuk ke kosannya saja, sedangkan ponakan yang cewek, di kosannya saja. Kosan ponakan cewek cenderung kecil, saya tidak nyaman dengan size yang kecil, badannya saya besar, saya bilang "Zul, kosanmu aman?,", "Aman, sudah dibersihkan rekan-rekan" katanya.
Jujur, saya beri apresiasi ke mereka, menaklukkan Makassar bukan perkara mudah, selama saya studi, mendapat kunjungan dari rekan-rekan bahkan sampai harus 'meminta mereka membantu saya secara terang-terangan' bukan kebiasaan tepatnya bukan keahlian kami. Di sini mereka mampu dan sangat baik bersosialisasi, banyaknya teman-teman mahasiswa yang menjenguk, lalu rekan-rekan yang menyempatkan waktu untuk bertemu, saya anggapnya sebagai sebuah prestasi.
Ya....itu kelebihan masing-masing, mereka memang tidak selalu menonjol secara akademik, namun secara sosial, mereka patut diperhitungkan (sebenarnya saat menulis ini, saya senyum-senyum sendiri, kalau dibaca orang, apa hebatnya, to... level mainannya hanya sebatas di situ, tapi sudahlah..... ini persepsi saja).
Saya Deal dibawa di kosan si yang sakit, saat motor diparkir, saya kemudian disuguhkan dengan roller coaster, saya akhirnya menapakkan kaki di Negara Pagarumbang, kontur wilayah dan aspek yang 1.000% bertolak belakang dengan prinsip saya.
Masya Allah, akses ke kosan dengan tangga ulir melingkar, dan arah yang lurus tegak vertikal, ini menjadi gerbang yang menciutkan nyali, tinggi 7-8 meter dan kekhawatiran bangunan yang lapuk, memvalidasi kehadiran saya di Pagarumbang, nama tempat yang disebut kosan ini.
Saya sadar, inilah bias gender yang saya maksud, dalam psikologi perkembangan, perubahan anak-anak dari masa kecil ke masa remaja, mengalami perkembangan yang sesuai fase pertumbuhan mereka, mereka mengalami perkembangan dari aspek fisik, kognitif, bahasa, dan sosial-emosi. Sebagai guru yang mengajar di usia remaja 12-15 tahun penguatan karakter dan fiksasi gender menjadi hal kuat yang selalu saya kuatkan pada anak-anak.
Melihat situasi Pagarumbang, saya mengkritik anak-anak laki-laki yang menempati tempat ini, tempatnya lumayan namun kebersihan tidak cukup terawat dengan baik, dapur yang cenderung jorok, bantal yang mungkin juga jarang dicuci, alas yang tersentuh sapu 1 kali sebulan menjadi penguatan saya untuk melakukan pemantapan gender yang ada.
Prinsip menjaga kebersihan dan melakukan aksi kebersihan dan aksi-aksi lain untuk kebaikan bersama bukan hanya dilakukan oleh perempuan, perempuan selalu menjadi dikotomi pasti bahwa segala hal yang berkaitan dengan urusan bersih membersihkan, masak-memasak, lipat melipat, adalah pekerjaan perempuan, laki-laki cukup sekolah, ke kebun, masuk kantor dan pekerjaan selesai itu adalah konsesus yang keliru. Itu bias gender.
Ini salah satu fakta dalam karakter yang dimiliki anak-anak didik, misalnya rendahnya kerjasama semisal melakukan tugas membersihkan kelas yang dilakukan peserta didik laki-laki cenderung membawanya menjadi kebiasaan, sehingga di masa mereka dipaksa untuk mandiri, hasilnya seperti ini, tempat tidak bersih, saling melempar tanggung jawab dan tugas, pada akhirnya mereka terserang penyakit, mereka merepotkan diri mereka sendiri dan merepotkan orang lain.
Hari ini, Faisal Islam memberikan banyak rasa syukur dan bahagia, ponakan saya sudah sehat, bahkan ponakan saya menyempatkan waktu untuk membawa saya Ke Pagarumbang, dan di tempat ini, beragam refleksi kehidupan dan pembelajaran seperti mengalir saja bagai naik rollercoaster, naik turun.
Tetapi percayalah... bagi yang bersungguh-sungguh dia akan dapat, hari ini Pagarumbang, negerinya jorok, di masa depan, akan ada Penggabungan antara perjuangan dan kesuksesan.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar