Sebenarnya saya sangat capek, secapek apapun saya selama tidak ada reaksi berupa sakit bagian belakang yang direspon oleh tubuh terhadap aktivitas yang dilakukan, maka itu berarti tubuh saya tidak capek. Hanya otaknya yang capek.
Tapi kali ini sakit bagian belakang, berarti itu alarm, otak saya bekerja dua kali lipat, tubuh saja juga ekstrim beraktivitas. Maka fiks saya capek.
Ya... setelah tanggal 4 Januari lalu, KM Lambelu kembali menjadi kapal pembuka dan penutup serial perjalanan liburan saya menjelajahi sedikit kepingan-kepingan keindahan dan kesyahduan kabut alam Malino dari kabupaten Gowa dan eksplorasi purba jurrasic Park Ala kabupaten Maros, serta kemeriahan pesta kembang yang berpendar-pendar di depan Hotel Kenari Pantai tempat penginapan saya menghabiskan malam pergantian tahun di kota Makassar.
Saya pulang dan kembali menjejakkan kaki di tanah La Karambau salah satu Sultan Buton yang telah diangkat presiden Joko Widodo menjadi pahlawan Nasional, pulau Buton, pulau tempat air darah lahir menggenang, tempat awal mula titik-titik perjalanan kisah hidup dimulai.
Tanggal 5 saya langsung melaksanakan tugas, dengan sedikit menyesal dan merasa berdosa setelah 3 hari absen menjalankan tugas negara.
Hari ini 11 Januari, setelah 5 hari beristirahat dari perjalanan panjang, aktivitas kecil dari rumah dan sekolah tidaklah terlalu memaksa stamina bekerja keras, kegiatan dalam skala kecil ini juga sebagai bentuk penghematan dari segala aktivitas yang berpotensi mengeluarkan duit, setelah kurang lebih 13 hari berlibur tahun baru dan liburan semester ganjil, saya habis 8,7 juta rata-rata 700ribuan per hari habis, bagi yang lain kecil, namun ukuran saya ini besar, tapi mengingat ini adalah supporting system dari Prinsip YOLO dan hasil evaluasi dari harga di atas sepadan dengan pengalamannya, bahasa akhirnya adalah "It is okay, because everything is worth it'. Sepadan.
Ternyata rencana tinggal rencana, setelah pulang ibunya ternyata sakit menderita bisul, setelah itu di sebelah rumah, Arayatul Juang, ponakan kecil yang nama 'Juang' di belakangnya dihapus oleh bapaknya, juga menderita sakit.
Ruam-ruam, bercak-bercak merah, dan berlendir merah diderita anak kecil berumur 3 tahun ini, saya terpaksa tidak bisa tinggal diam.
Inilah saya, saya selalu memiliki hati yang 'lembek' tidak tahan melihat orang kesusahan, makanya kenapa, saya selalu berlakon menjadi guru yang 'jahat sok bijaksana', saya seperti terdoktrin teori stratifikasi sosial oleh Karl Max, bahwa dalam kelompok masyarakat kita ada tatanan kelompok sosial tertentu yang dibagi sesuai dengan peran masing-masing, ada kelompok Borjuis dan kelompok Proletariat, etnis manusia dalam kelompok bawah karena hasil dari penindasan satu kelompok tertentu.
Tapi saya tidak membawa kesana, yang saya inginkan tekankan adalah ayo menjadi kaum yang Borjuis namun berperikemanusiaan. Keponakan saya terdiagnosis Impetigo Krustosa, ini adalah infeksi kulit yang radangnya tidak separah Impetigo Bulosa, di laman 'Alodoc' artikel kesehatan terbitan 12 April 2022 yang ditela'ah dr.Pittara disebutkan bahwa ini adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri dengan beragam potensi penularan dari kondisi lingkungan yang kotor, luka, dan atau terpapar dari Suspek lainnya.
Memang terang, setelah didiagnosis dari dokter faskes pertama, ponakan saya harus dirujuk ke faskes tingkat lanjutan ke Rumah Sakit. Infeksi kulit dengan peradangan paling parah di area muka sudah sangat mengganggu, dan memang infeksi ini lazim diterima anak-anak di rentang usia 2-5 tahun begitu informasi yang terpampang dalam laman internet ini.
Siloam Hospital Baubau akhirnya menjadi kota yang harus kembali saya dikunjungi dalam fase istirahat di kampung ini. Mau tidak mau, duit juga harus keluar, proses istirahat dan saving money buyar.
Inilah alasan Borjuis berperikemanusiaan yang ditekankan tadi. Uang....uang...uang adalah hal mutlak yang harus dikuasi oleh kita semua. Bila perlu semua harus menjadi kaya. Semua siswa saya harus pandai, hebat, dan di masa depan harus menjadi kaum Borjuis.
Karena tanpa ada uang, hati saya lemah, melihat anak-anak kecil yang bertebaran menjajakan kantungan-kantungan kacang goreng yang tidak seberapa harganya di perempatan lampu merah, para adik-adik yang rela berpanas-panasan dalam kostum Boneka badut yang menjajakan hiburan bergoyang lucu.
Atau para lansia-lansia yang mau tak mau harus menarik becak, gerobak mengangkat karung-karung barang yang kalau diberi upahpun tidak selaras dengan literan keringat mereka. Saya selalu memimpikan hal-hal besar, seandainya saya memiliki banyak uang, saya mungkin bisa berkontribusi membantu mereka.
Maka anak-anak didik saya menjadi, tempat penekanan dalam konsep tadi itu. Jangankan anak-anak dan lansia tadi. Ini ponakan saya, tak ada artinya uang dalam kamus kehidupan saya. Mereka bukan orang lain, mereka adalah saya.
Jadi setelah beberes tugas dari pimpinan sekolah, saya luangkan waktu di tanggal 10 sore dan ambil izin di tanggal 11, saya, ibu ponakan saya, ponakan penderita berhasil setidaknya mengatasi penyakit kulit tadi. Korengan yang mengeras dilembekkan dengan cairan NHCL, kemudian satu persatu dicabut dan dibersihkan. Memang sakit, tapi itu resiko.
Saya membatin bagaimana kalau tidak ada uang, tidak ada akses untuk saling bantu membantu. Kita akan kehilangan hal yang paling berharga dalam hidup, bahkan dengan menyesalinya seumur hidup tidak akan menebus apa-apa.
Bukankah nabi pernah berkata menyelamatkan satu nyawa manusia seakan-akan kita menyelamatkan nyawa seluruh umat manusia. Betapa dahsyatnya sabda dari manusia pilihan ini.
Ini adalah oase yang melengkapi dari hasrat besar saya tadi. Jika semua orang memiliki pemahaman yang sama, betapa indahnya saat kita bisa saling membantu dalam kesusahan, bergembira dalam kebaikan, mendukung dalam kesenangan. Maka saat kita pulang ada satu prasasti dan legasi yang telah kita tanamkan dengan kuat.
Bahwa jalan pulang kita telah indah, dan seindah-seindahnya dan sejauh-jauhnya perjalanan jalan pulang adalah tujuan terakhir kita. Pulang adalah kalimat paling syahdu dalam kamus petualangan.
Hari ini, saya menembak 3 burung dengan satu peluru, menemukan Jalan pulang, mengingat sabda nabi, dan membantu manusia.
Oh... Tuhan, kasihmu teramat indah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar