Benteng-Benteng Keabadian, Sebuah Nama di Tahun Baru

(Etalase Buku-buku di Gramedia- Mall Ratu Indah Makassar)


Masuk 2 hari dari jadwal masuk kerja awal yang ditetapkan, sebagai tipe yang 'perfeksionis' 2 hari tanpa keterangan memadai alasan ketidakhadiran bekerja adalah suatu 'aib dan borok' yang betul-betul menggerogoti pikiran dan hati saya. Padahal saya bisa saja berargumentasi "yang lain saja bahkan tidak menjalankan kewajiban dengan belum baik, mereka menerapkan prinsip YOLO yang tidak tepat, apalagi saya yang berusaha berbuat sebaik mungkin".

But it is not me, tapi itu bukan saya, kebiasaan saya untuk berdisiplin telah terbangun dari awal. Tidak hadir atau tidak menepati janji melainkan ada uzur yang mendesak, bahkan saat booming dan viral karakter 'Fahri' dalam novel ayat-ayat cinta karya Habiburrahman El shirazy tentang kebiasaannya berdisiplin, yang ingin memutarbalikkan keadaan orang-orang Indonesia yang terkenal dengan pasal karetnya, dengan menjaga waktu belajar Talaqi Qiraat sabaah pada syech Usman meski badai menghadang.

Saya sok-sokan Fahri, seperti sosok saya, bahkan bagaimana tokoh tersebut membuat rencana-rencana di masa depan, itu kebiasaan saya, selalu memetakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan, menimbangnya sebelum mengesekusinya. Tapi Fahri tetaplah Fahri dan Saya tetaplah saya. 

Saya teramat jauh dari sosok 'sempurna' yang dihadirkan kang Abik itu.

1 hari menjelang keberangkatan, tanggal 3 Januari 2024 jam 2 subuh, saya minta bantuan ponakan saya untuk mengurangi rasa bersalah dalam diri saya, dan pengalihan itu harus teramat kuat, saya merasa berdosa meninggalkan tugas dan tanggung jawab saya.

Tepat, saya diantar ke Mall Ratu Indah Makassar, Mall di pusat kota jln Dr. Sam Ratulangi masih mendapatkan persepsi yang sama dengan bangunan-bangunan mewah lainnya. Tidak di Makassar, Bandung, Surabaya, ataupun Jakarta. Bagi saya bangunan mewah merupakan simbol materialisme tertinggi dan simbol agresivitas yang dimiliki manusia.

Aroma kompetitif, pelayanan publik, sampai dengan penghambaan pada uang, adalah suatu hal yang tidak saya suka, atau lebih tepatnya tidak mampu ku gapai. Masih lekat dalam pikiran, waktu saya mengantar ibu Haji kakak sepupu yang bekerja di Arab untuk menukar uang di valas. Saya mengantarnya di Grand Mall Indonesia. 

Tahu apa yang unik dari manusi udik, kampungan saat memasuki area-area lux tersebut, saat berjalan sekeliling melihat beragam macam barang-barang yang di pajang di etalase bertabur cahaya, bercorak lipatan dan tampilan ruangan yang bersifat cozy, dan nuansa elegan plus comfy yang dibangun, saya tidak tahu yang lain, tapi hal unik yang selalu saya lakukan adalah melihat prize tag atau daftar harga yang diletakkan di gantungan-gantungan baju.

Subhanallah, harga sepatu yang mungkin di pasar loak bisa diperoleh dengan harga puluhan atau sekadar ratusan ribu saja, di tempat ini, jutaan bahkan puluhan juta rupiah dengan kokohnya di pasang nyata.

Dan kebiasaan itu terbawa saat saya diantar di tempat ini untuk mengusir rasa bersalah saya. Ya....ini adalah bentuk defensif dari perilaku orang-orang dengan kategori ekonomi bawah, bahaya 1 harga barang setara dengan biaya kosan 1 bulan lamanya. Oh Tuhan....ini satu alasan mengapa saya takut dan tidak mampu menggapai simbol-simbol kemewahan kota besar.

Namun, nuansa berbeda, saat saya diantar di ruang yang penuh dengan buku-buku, dan memang ini tujuan utama saya, bagi saya toko buku adalah destinasi kedua setelah tempat-tempat wisata yang dipenuhi fitonsida, eksplorasi toko buku akan menjadi menu wajib yang harus dilakukan saat proses forest bathing menghilangkan stress dengan penjelajahan hutan di area wisata usai dilakukan. Setelah eksplorasi Malino di Gowa, dan Rammang-Rammang di Maros. Gramedia adalah tujuan terakhir. Sebenarnya ke perpustakaan daerah juga harus dilakukan namun karena tahun baru banyak liburnya, cukup Gramedia.

Di tempat ini, beragam buku, dari kategori sains, religi, fiksi, bisnis, ekonomi, dan beberapa kategori bacaan lainnya, lengkap memanjakan mata. Saya tidak tahu sejak kapan saya mulai jatuh cinta dengan buku, setiap melihat buku dan jejeran yang rapi, semacam nuansa magis yang selalu dihadirkan.

Toko buku bagai benteng-benteng keabadian yang dibangun manusia untuk mengarsipkan segala pengetahuan dan pengalaman mereka, mereka mengenkripsi beragam diaroma yang dialami baik secara imajinatif maupun non imajinatif dalam beragam kode tulisan.

Tidak heran, para ahli mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia, bahwa buku adalah tempat keabadian, dengan memiliki buku kita sedang menciptakan satu simbol keabadian bagi diri sendiri. Bagaimana mungkin orang akan mengenal William Shakespeare kalau tidak ada lakon karyanya seperti Hamlet juga Romeo dan Juliet yang terkenal.

Mungkinkah orang akan mengingat Charles Darwin kalau tidak ada teori yang dibukukan dalam The Origin of Species?,  bagaimana mungkin kita menggagalkan semangat merdeka dari perspektif memanusiakan (peserta didik) yang merdeka melalui pikiran-pikiran Raden Mas Suwardi Surya Diningrat atau Ki Hadjar Dewantara dalam pengajarannya di Taman Siswa? jika bukan melalui bab-bab buku tentang pendidikan, Kebudayaan, masyarakat serta politik kalau tidak melalui buku-buku yang akhirnya melintasi masa dan zaman saat mereka telah tiada.

Atau bagaimana mungkin kita berkesempatan menyelami gema agama Samawi, kalau Utsman R.A. tidak mengambil inisiatif untuk mendokumentasikan Al-Qur'anul Qarim yang tersimpan dalam kepala hafiz-hafizul Qur'an dengan mushaf Utsmani.

Buku adalah benteng keabadian yang diciptakan manusia untuk menunjukkan eksistensinya terlepas dari beragam inovasi yang terjadi.

Atas alasan itulah mengapa saya ingin mengambil bagian dari benteng hebat ini. Namun saya sadar, sampai detik ini, tidak ada hal hebat tentang saya, saya terbangun dari bacaan yang hanya satu rumpun dan genre tertentu saja. 

Jika dulu ada Bobo dan paman kikuk, ada Nirmala dan Kiki Si peri ajaib, atau Pendekar Rajawali Sakti, dan Wiro Sableng, bacaan-bacaan ini sudah tiada, mereka telah terganti oleh penulis-penulis baru, namun seperti sifat buku, mereka telah mengakar kokoh dalam sanubari. 

Sehingga mendapatkan kesempatan menghadirkan mereka Kembali dengan versi saya, akan menjadi satu harapan dan resolusi yang baik di masa depan.

Bukan main indahnya, saat anak-anak mampu dan berimajinasi dengan hebat melalui sumbangsih kita bersama, Indonesia akan menjadi negara yang sangat hebat, ada 270 juta ide dan pemikiran yang akan sangat luas dan berefek global jika sedikit saja giat literasi dilakukan.

Ya... minimal kita berbuat saja dulu, bukankah bermimpi dan beresolusi juga adalah niat yang baik, dan Tuhan akan mencatat niat baik itu dengan diberikan balasan yang baik.

Kita bangun benteng kita, minimal kita tidak dicap lagi negara dan manusia-manusia yang rendah literasinya.

Oh...tak terperi terbayangkan, ada nama HONAYAPTO di atas rak buku sana. Oh.... bahagia.
























Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Serial Perjalanan di Pulau Dewata BALI-NEGERI PUPUTAN

  Keseruan menjelajahi bali dapat dilihat di sini: https://drive.google.com/file/d/1LVGH5MW76M-FzwwkqTx4QzIIslLigGiw/view?usp=sharing