Qarun, Mimpi Sekokoh Karst, dan Kisah Epik di Rammang-Rammang

(Potret Diaroma 'Megalitikum' Rammang-Rammang)

Seperti katak dalam tempurung, ini analogi, peribahasa, bahwa ketika melihat sesuatu kita harus melihatnya secara komprehensif, maksudnya ketika mempertimbangkan untuk mengerjakan sesuatu, kita perlu melihat dulu, hal ini untuk apa?, bagaimana cara kerjanya?, pengaruhnya kepada kita?, dan apakah tepat melakukan ini atau tidak?.

Orang zaman sekarang menyebutnya menimbang bibit, bobot, dan bebet, sehingga saat memutuskan kita bisa mendapatkan hasil terbaik, ada pandangan yang luas yang dibangun untuk mewujudkan itu.

Peribahasa di atas juga dapat dimaknai keragaman kita berpikir dan berpijak, yang mengarahkan kita untuk melihat dunia secara lebih luas, kita tidak bisa mempersepsikan seseorang hanya karena berdasarkan pengetahuan kita, yang ternyata jangkauan hanya seluas batok kelapa, peribahasa ini membawa kita kepada kebijakan hati dan keluasan pikiran yang mendalam untuk melihat sisi yang beragam dari suatu objek.

Pantaslah dalam teori pendidikan Jean Piaget proses belajar itu ada 3, Asimilasi, Akomodasi, dan equilibrasi, ada integrasi, penyesuaian, dan keseimbangan pengetahuan yang lama dalam pengetahuan yang baru, kita dituntut mengayakan diri dengan berbagai sumber, pengalaman, dan beragam referensi.

Hari ini, Tuhan seperti memberikan satu kesyukuran yang maha dahsyat kepada diri saya, bagi orang lain mungkin biasa saja, levelnya rendah, tapi tidak bagi saya, semua apa yang terjadi dalam hidup adalah sebuah konsekuensi dari perjuangan sendiri yang telah payah dilakukan, tentu saja kita sedang melakoni takdir-takdir yang dibuat Tuhan kepada kita.

Mungkin kita pernah bertanya, apakah kamu telah benar-benar mengenal diri dan lingkungan sekitar kamu?, apa kamu betul-betul mengetahui seluk beluk, luas perkampungan, orang-orang di sekitar kamu, atau kamu telah menuntaskan penuh perjalanan memahami semua hal yang telah benar-benar ada di keseharian kita. 

Siluet pertanyaan di atas seiring berkelabat dalam pikiran saya, dan saya kadung senyum sendiri, oh iya juga ya.....saya mungkin tidak tahu dan sama sekali tidak mengenal diri dan alam saya, saya tidak menyadari bahwa di belakang rumah, telah tumbuh pohon jambu air yang di masa depan akan menjadi rindang dan ranum, atau di halaman sekolah sudah tumbuh bunga dandelion yang tersembunyi ditutup semak belukar.

Tapi itulah hidup, manusia melihat sesuatu secara holistik, namun dengan menghadirkan sudut pandang yang beragam tadi itu, menuntaskan tiga pengalaman belajar tadi itu, kita mungkin akan saling bisa memahami satu sama lain.

Sepanjang perjalanan Pangkajene-Maros dalam perjalanan menuju Rammang-Rammang, jalan poros panjang dan baik itu sedikit membawa kepongahan berpikir, bahwa mungkin inilah sensasi keindahan yang dialami oleh seorang yang bernama Qarun, seorang yang namanya abadi dalam kita suci Al-Qur'an sebagai seseorang yang dianugerahi kekayaan namun ternyata kikir dan serakah, bahwa ia dikaruniai kekayaan oleh Tuhan yang maha esa sehingga kunci-kunci harta kekayaannya juga memerlukan banyak orang kuat untuk memikulnya.

Mungkin sensasi dapat memiliki segalanya hanya dengan menjentikkan jari, orang-orang akan mengantri welas asih padanya, seribu dayang asuh, seribu orang-orang hebat penjaga emas berliannya, luas lebar tanah pertanian, dan besar-besar peternakannya, dan megah rumahnya.

Siluet Qarun seperti muncul dalam diri, bukankah semua orang di dunia ini sedang menjalankan prinsip materialisme, segala sesuatu, segala pergolakan, dan entitas sosial yang dibangun memang hanya berbicara tentang materi 'UANG'.

Karena dengan itu, segalanya dalam genggaman. Namun saya bukan Qarun, saya tidak ingin seperti Qarun, berlimpah harta dan kekayaan, namun pada akhirnya dia mati ditenggelamkan bersama harta dan kekayaan yang samasekali tidak mampu menolongnya.

Saya beristighfar, saya bukan Qarun, saya tidak ingin menjadi Qarun, saya hanya sedang menikmati semua rezeki, segala nikmat yang telah Tuhan anugerahkan kepada kami terutama kepada saya.

Perjalanan yang juga menuju arah kabupaten Pinrang dan Pare-Pare ini, tuntas kami jelajahi dengan hanya jarak waktu tempuh 1 jam lebih, di Kabupaten Maros tempat wisata ini, potret persawahan ditumbuhi bebatuan hitam karst menjadi sajian pembuka mata, saat kami akan menuju Rammang-Rammang.

Motor kami parkirkan di area dermaga 2, ini highlight dari Geowisata ini, untuk akses ke satu bagian dari desa Salenrang, Kecamatan Bontoa kami harus menaiki kapal motor melewati sungai berair dan berwarna kecoklatan khas pesona DAS bercampur air laut yang rimbun ditemani pohon nipa yang berjejer rapi, ongkos Rp.200.000 untuk 4 orang hanya kami bayar berdua, bersama keponakan perempuan saya. Dalam jarak 10 menit kami tiba pada pesona indah yang menakjubkan.

Kata ponakan saya yang juga jadi tour guide kali ini, area ini dulu waktu eksplorasi masih sangat terisolir, tidak ada listrik, dan akses yang tidak seramai sekarang. Sekarang ini menjadi sumber pemasukan.

"Om, mereka yang mengantar naik kapal ini, akan menunggu sampai kita selesai mengeksplorasi tempat ini". Jelasnya.

Ya....Ini anugerah Tuhan, saat melewati gerbang alam berupa pahatan batu karst yang berbentuk piringan kosong di tengahnya, kampung Berrua, kampung yang hanya ditempati 20 orang KK seperti yang dituturkan ibu Warni, warga lokal yang kami sambangi saat beliau sedang menyiangi bibit sawah yang akan siap dia tanam.

Saya seperti melihat cuplikan film Jurassic Park, khas epilog dan diaroma pemandangan yang indah, perkampungan ini seperti berada dalam pelukan pegunungan bebatuan yang menjulang tinggi, dan besar-besar, kalau ada 1 saja fosil dinosaurus yang ditemukan, bisa jadi ini adalah tempat para mahluk-makhluk purba itu tinggal.

Di tempat ini, pemerintah sudah mengakomodir beragam kepentingan wisata dalam membantu kenyamanan para wisatawan. Spot-spot seperti Goa Kingkong, Goa berlian, Goa Kelelawar , Padang Amarung, situs Passaung, juga menjadi ikon pelengkap kampung wisata Rammang-Rammang. 

Gaya khas perkampungan yang dikitari jalan melingkar dengan ditemani area persawahan yang baru selesai dipanen, serta hembusan angin sepoi di atas saung-saung yang bertengger di atas bebukitan untuk memanjakan mata dan lidah para wisatawan yang haus dan lapar, wisata Rammang-Rammang menyajikan perjalanan yang epik kali ini.

Menuliskannya tidak cukup, mendapatkan pengalaman langsung, saat Klaustrofobia menyerang imbas menjelajahi Goa Berlian, atau melihat beberapa burung pipit yang bergerombol terbang, ini adalah pengalaman fantastis, perjalanan yang seolah-olah membawa kita pada pengalaman megalitikum. Indah sungguh indah.

Terlepas dari itu, kekokohan batu Karst Rammang-Rammang, atau ketangguhan para penyabung ayam di situs Passaung, atau gemuruh air hujan di Padang Amarung seperti mengajarkan arti hidup sesungguhnya.

Kita memang terlahir seperti ini, namun Tuhan berkata, tidak akan pernah berubah nasib suatu kaum, jika bukan kaum itu sendiri yang berubah.

Tidak akan berubah nasib kita, cara pandang kita, jika kita hanya menjadi katak dan nyaman di area kita. Kita perlu mimpi, kita perlu jalan dan tantangan untuk menjadi besar, dan bijak. Saat mimpi kita terwujud. Kita boleh kaya Raya seperti Qarun, namun istiqomahnya di Jalan Allah, adalah seperti jalan-jalan yang diridhoi Tuhan kepada mereka para pemilik mimpi-mimpi yang kokoh, mimpi yang baik dan kuat seperti batu Karst di Rammang-Rammang.

Indah... sungguh indah tak terperi.


























Prinsip Yolo, Nostalgia, dan Negeri di Atas Awan

(Wisata Hutan Pinus' Malino-Gowa)

2 hari dalam ukuran kamar kos 4 X 3, benar-benar membuat sumpek perasaan, pernah kos, juga bahkan tinggal di rumah orang tua, namun sejauh ini, ukuran kamar ini adalah yang paling kecil, merasa terkurung, tidak leluasa, dan sempit dan merasa seperti terpenjara adalah pikiran yang mendominasi.

Kira-kira begini mungkin rasanya, sehingga membuat seorang berkonsultasi pada seorang bijak tentang rumahnya yang berukuran besar yang ditempati dia dan istrinya bersama 3 orang anaknya namun ia masih merasa rumahnya sangat kecil. Kemudian ia diberi nasihat untuk menambah anggota baru lagi dengan memasukkan hewan peliharaan mereka dalam rumah tersebut.

Jadilah rumah semakin sempit rasanya, dari 5 orang bertambah 6, satunya domba peliharaan mereka, si suami tidak puas, lalu kembali bertanya pada si bijak yang terkenal mampu memberi solusi terbaik. Kemudian, solusinya ditambahkan lagi hewan peliharaan, kali ini, 2 ekor, jadilah berdelapan, sampai si bijak memberi saran menjadi 10 anggota dalam rumah tersebut baru kemudian, si empunya rumah diberikan saran selanjutnya.

"Jualah 1 ekor domba tersebut", kemudian si suami menjualnya, dan kemudian bertemu kembali pada si bijak. "Bagaimana ukuran rumah apa masih sempit?, masih kata si suami, lalu si bijak menyuruh kembali menjual 2 dombanya, dan kembali bertanya. 

Sampai semua domba terjual, dan hanya menyisakan si suami dan anggota keluarganya, barulah si suami merasakan hikmah dari segala peristiwa yang dialami.

Sebenarnya bukanlah ukuran rumah yang sempit, namun rasa syukur yang tidak pernah ada, sebesar apapun rumah atau ukuran apapun yang diberikan, namun jika tidak ada rasa syukur maka tidak akan pernah ada rasa cukup dan puas. Si suami merasakan tamparan dan pengalaman berharga, dan akhirnya kembali bersyukur, kini ia mendapati pengalaman baru, dan merasa saat ini rumahnya adalah yang terluas.

Cerita di atas, membuat saya menikmati semua dominasi pikiran saat berada dalam ruangan kecil kamar kosan ponakan saya ini. Ya... bersyukur maka semua hal akan terasa lapang, karena Tuhan meridhoi itu semua.

Ketika rasa syukur ditingkatkan Tuhan menambahkan rezeki dan nikmatnya, setelah dua hari tidak 'ngapa-ngapain' dan rencana awal liburan untuk ke Bali ternyata harus dibatalkan, saya memutuskan untuk melakukan riset kecil untuk mengeksplorasi pulau selebes ini. 

Malino adalah 'highlight' tempat wisata yang direkomendasikan 2 orang keponakan saya. Zul sudah pulih benaran, sudah bisa eksplorasi katanya, saya ok, di Maps Malino ternyata berada di kabupaten Gowa, bukan di  kota Makassar, jarak tempuhnya juga dekat hanya butuh waktu 1 jam 21 menit saya ok, tidak lengkap rasanya bepergian kalau tidak menempuh jarak, dan itulah esens dari perjalanan, mencermati dan melihat panorama dan diaroma baru di sepanjang perjalanan adalah hal wajib yang dilakukan saat bepergian.

Oh...Tuhan, saya memekik kegirangan dan bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Tuhan, sepanjang perjalanan, paska melewati Sungguminasa ibu kota kabupaten Gowa yang berdekatan dengan kota Makassar dan juga melewati kantor Bupatinya, serta kampus besar di tanah Gowa Kampus Universitas Islam Negeri Alauddin-Samata.

Sepanjang perjalanan ke arah Malino, dominasi pegunungan menjadi sangat syahdu menemani, di tanah Sultan Hasanuddin ini, gambar-gambar persawahan di masa kecil seperti menjadi papan lukisan nyata, kontur persawahan yang berundak plus pondokan kecil di tengahnya seperti kepingan mozaik yang menyeruak keluar dari kenangan, area perkebunan yang ditanami jagung yang hijau, dan suasana yang adem penuh dan rimbun dengan pepohonan, serta melewati orang-orang khas bergaya dan berbahasa Makassar, seperti melengkapi bait-bait perjalanan.

Di sebelah kanan perjalanan yang terus menanjak terjal ke atas ini, saya disuguhkan satu lembah pra sejarah menurut saya, saat menulis ini, saya belum punya referensi terkait tentang pesona alam ini. Sepanjang perjalanan terbentang hamparan bebatuan dan tanah-tanah hitam yang biasa cocok dijadikan bahan untuk membangun rumah.

Dalam imajinasi saya, ini seperti bantaran sungai yang kering, saya membayangkan di masa lalu mungkin lembah besar ini dulu, dialiri oleh air sungai yang besar dan kuat, sehingga hampir berkilo-kilo hamparan material tersebut terlihat jelas menemani saat kami yang melakukan perjalanan dengan kendaraan roda dua.

Dalam rentang waktu tersebut, ada nuansa masa lalu, yang berpadu dengan kesyahduan alam modern yang mengiringi seri petualangan di pulau pemilik benteng jumpandang kali ini.

Benar saja, sesaat setelah dihentikan beberapa bulir hujan yang besar-besar saat perjalanan ke tempat wisata ini. Saat hampir memakan waktu kurang lebih 2 jam saya kembali terpesona dengan keindahan alam, ciptaan tuhan, dan semakin menguatkan rasa syukur dan indah memiliki negeri seluas dan sekaya Indonesia.

Memarkirkan motor, dan berhubungan dengan petugas jaga penginapan D'Stawberry. Saya seperti dihentakkan dan tersedot kembali dengan seuntai kecil pengalaman di masa lalu.

8 tahun silam, ibu dan ayah memberi restu untuk menuntut ilmu di tanah Jawa, itu pertama kali bagi saya melakukan petualangan pertama dan terbesar saya, saya seperti melakukan aksi nyata usai mendapati serangkaian pelatihan dan pengajaran.

Saya 4 tahun terbiasa dengan kota Baubau, kota kecil cantik di Pulau Buton, kali ini harus berani terbang ke pulau Jawa, bertemu paman di sana, tanpa ada seorang pun yang menemani. Saya senyum mengenang peristiwa ini, bagi yang lain, mungkin akan biasa-biasa saja, namun bagi saya ini adalah hal yang luar biasa. Jadilah saya menjadi pemuda kampung yang sok berinteraksi dengan segala hal baru dengan perjalanan.

Melakukan transit, take off, landing, dan melewati jalan tol, seperti istilah-istilah baru namun menantang untuk dilakukan. Dan tanah Bandung mungkin adalah tanah kedua yang diinjak setelah Cengkareng, Banten pesawat kami mendarat. 

Ya...di bumi Pasteur Bandung, adalah kosan om saya yang wara-wiri Jakarta Bandung untuk menuntaskan tugas akhirnya dalam studi doktoralnya di Kampus ITB, saya yang dari Pulau Buton, lalu tiba di Jakarta, kemudian diarahkan untuk menaiki Bus dengan jasa travel, saya diarahkan di jalan keluar pertama kali Tol Pasteur 2 saya harus diturunkan di sana. 

Ya... ruangan kecil penginapan kami, di Malino ini adalah sentakan paling nyata saat saya melakukan habituasi berada di pulau Jawa. Suasananya yang sangat dingin, air seperti es batu yang mencair, dan kabut air pekat yang menemani saat kami menempati kamar nomor 5 ini. Malino berhasil menyeruakan kenangan manis petualangan perdana di masa silam.

Ya...itulah hidup, sebelum sampai di sini, saya seperti mendapatkan validasi kehidupan, berbuat baiklah selagi masih ada waktu, sholatlah selagi ada waktu sholat, perjuangkan serta nikmati hidup selagi masih ada waktu.

You Only Live once, kita hidup hanya sekali, kesempatan datang manfaatkan, "kan menabung untuk di masa tua", hei bung apakah kamu menjamin di masa tua kamu masih bisa menikmati enaknya daging udang, makanan mewah saat kamu telah kehilangan gigi, menjadi ompong, dan sekian penyakit yang telah bersarang di usia senja, atau masih mampukah dengkul bertahan untuk melakukan seri perjalanan yang berat-berat. 

Hidup sekali, lakukan yang terbaik, nikmati yang hal dan kesempatan yang pernah Tuhan berikan kepada kamu. Apapun itu, Malino adalah negeri di atas awan, kabut tebal yang setia menemani ini adalah validasi sekaligus legasi, bahwa ada kedamaian yang dihadirkan, ada bukti kebersamaan, keindahan, dan kekuatan, serta rasa pesona yang menyatukan sebagaimana di tempat ini, di 2001 silam ada seikat perjanjian yang menguatkan untuk mendamaikan konflik agama, Kerusuhan Poso, konflik Islam dan Kristen yang bersama ridho Allah SWT.

Di tempat ini, di Malino, kota Bunga, kota pohon pinus, kedamaian itu berhasil diwujudkan. Saya bangga pernah menceritakan kisah besar ini pada pelajaran PPKn yang pernah dipercayakan untuk diampu oleh saya.

Malino saat ini sudah pagi, saya bahagia berada dalam negeri di atas awan.

Dokumentasi kegiatan:














Islam Faisal, Rollercoaster di Negara Pagarumbang, dan Bias Gender

(Tangga Rollercoaster)

Momen, semua seperti dipaskan Tuhan, momen liburan, masa cekcok, terkena campak, dan kemudian ridho untuk berlibur.

Ya...manusia terlalu egois untuk memaksakan kehendak dan rencana, padahal Tuhan adalah penentu segala-galanya. Tuhan mungkin tidak akan memberi apa yang kamu inginkan, tapi Tuhan akan memberi apa yang kamu butuhkan, itu sebuah perspektif tentang momen yang pas ini.

4 hari bergelut sakit di kos, saya omelin jauh-jauh dari telepon, "You, kalau segera tak ke rumah sakit, kamu dead, saya tidak mau berurusan dengan peti mati, terbang dari Makassar ke tanah Buton bukan perkara mudah". Itu gertakan tapi memang kewaspadaan harus selalu ditingkatkan, memang Takdir, tapi takdir bisa diubah. 

Dengan bantuan kakaknya, RS Islam Faisal rumah sakit yang dekat dengan kosan mereka menjadi pilihan ponakan laki-laki saya dibawa untuk berobat, syukur pemerintahan benar-benar telah berupaya membantu semua kesehatan masyarakat melalui program jejaring sosial dengan sistem Jaminan Kesehatan Nasional.

Karena terbiayai negara, sesuai kelas, ponakan saya di tempatkan di bangsal kelas 3, meskipun bangsal, namun kebersihan, kenyamanan, dan keramahan petugas medis dan staf Rumah Sakit pertama sebelum rumah sakit modern-modern lainnya bertumbuh di tanah Makassar ini sangat membantu proses healing keponakan saya.

Ya... itulah hidup, mustahil untuk meniadakan strata dan istilah sosial yang telah melekat di masyarakat, tak ada lagi si miskin dan si kaya, si pejabat dan si bawahan, si raja dan si budak. Bahwa semua itu bisa saja merupakan persepektif yang dibangun agar situasi kebatinan seseorang atau suatu kelompok tidak merasa terdistorsi karena istilah-istilah yang mengotak-ngotakkan ini, namun seperti ilmu sosial, gejala sosial, reaksi sosial, akan selalu ada berjalan beriringan dengan sifat-sifat alamiah yang melekat pada manusia.

Saya hanya mau bilang, sesaat saya turun dari Kapal Lambelu yang berlayar kurang lebih 16 jam ini dan akhirnya dijemput di pelabuhan lalu langsung ke tempat perawatan, bahwa "Kalian-kalian silakan lihat dan rasakan sendiri, bahwa kehidupan sebenarnya berkaitan dengan masalah survive, siapa yang kuat, dia yang menang, siapa yang kaya dia akan banyak mendapatkan kemudahan", ya... setidaknya saya tidak perlu berselonjoran di lantai di bawah bed pasien, saya langsung beralih tugas menjadi pendamping pasien.

Sudah capek dari kapal, masih juga harus berurusan dengan dinginnya lantai rumah sakit, seandainya kamu kelas 1, ruangan kita sekelas hotel bintang 1, kualitas layanan juga akan lebih bahagia. 

Alhamdulillah 6 hari perawatan di rumah sakit, tepat di hari Senin, hari Natal 25 Desember 2023 dokter penanggung jawab pasien Rumah Sakit Islam Faisal membolehkan pulang, campak yang menyerang setelah negatif infeksi paru, dan suspek types nihil, ponakan saya resmi diberikan nasihat medis untuk menjaga konsumsi resep obat yang diberikan dan izin pulang diberikan. 

Masalah baru muncul, mau kemana untuk proses rekaveri, ponakan yang kosan beda dengan kakaknya mengusulkan untuk ke kosannya saja, sedangkan ponakan yang cewek, di kosannya saja. Kosan ponakan cewek cenderung kecil, saya tidak nyaman dengan size yang kecil, badannya saya besar, saya bilang "Zul, kosanmu aman?,", "Aman, sudah dibersihkan rekan-rekan" katanya.

Jujur, saya beri apresiasi ke mereka, menaklukkan Makassar bukan perkara mudah, selama saya studi, mendapat kunjungan dari rekan-rekan bahkan sampai harus 'meminta mereka membantu saya secara terang-terangan' bukan kebiasaan tepatnya bukan keahlian kami. Di sini mereka mampu dan sangat baik bersosialisasi, banyaknya teman-teman mahasiswa yang menjenguk, lalu rekan-rekan yang menyempatkan waktu untuk bertemu, saya anggapnya sebagai sebuah prestasi.

Ya....itu kelebihan masing-masing, mereka memang tidak selalu menonjol secara akademik, namun secara sosial, mereka patut diperhitungkan (sebenarnya saat menulis ini, saya senyum-senyum sendiri, kalau dibaca orang, apa hebatnya, to... level mainannya hanya sebatas di situ, tapi sudahlah..... ini persepsi saja).

Saya Deal dibawa di kosan si yang sakit, saat motor diparkir, saya kemudian disuguhkan dengan roller coaster, saya akhirnya menapakkan kaki di Negara Pagarumbang, kontur wilayah dan aspek yang 1.000% bertolak belakang dengan prinsip saya. 

Masya Allah, akses ke kosan dengan tangga ulir melingkar, dan arah yang lurus tegak vertikal, ini menjadi gerbang yang menciutkan nyali, tinggi 7-8 meter dan kekhawatiran bangunan yang lapuk, memvalidasi kehadiran saya di Pagarumbang, nama tempat yang disebut kosan ini.

Saya sadar, inilah bias gender yang saya maksud, dalam psikologi perkembangan, perubahan anak-anak dari masa kecil ke masa remaja, mengalami perkembangan yang sesuai fase pertumbuhan mereka, mereka mengalami perkembangan dari aspek fisik, kognitif, bahasa, dan sosial-emosi. Sebagai guru yang mengajar di usia remaja 12-15 tahun penguatan karakter dan fiksasi gender menjadi hal kuat yang selalu saya kuatkan pada anak-anak.

Melihat situasi Pagarumbang, saya mengkritik anak-anak laki-laki yang menempati tempat ini, tempatnya lumayan namun kebersihan tidak cukup terawat dengan baik, dapur yang cenderung jorok, bantal yang mungkin juga jarang dicuci, alas yang tersentuh sapu 1 kali sebulan menjadi penguatan saya untuk melakukan pemantapan gender yang ada.

Prinsip menjaga kebersihan dan melakukan aksi kebersihan dan aksi-aksi lain untuk kebaikan bersama bukan hanya dilakukan oleh perempuan, perempuan selalu menjadi dikotomi pasti bahwa segala hal yang berkaitan dengan urusan bersih membersihkan, masak-memasak, lipat melipat, adalah pekerjaan perempuan, laki-laki cukup sekolah, ke kebun, masuk kantor dan pekerjaan selesai itu adalah konsesus yang keliru. Itu bias gender.

Ini salah satu fakta dalam karakter yang dimiliki anak-anak didik, misalnya rendahnya kerjasama semisal melakukan tugas membersihkan kelas yang dilakukan peserta didik laki-laki cenderung membawanya menjadi kebiasaan, sehingga di masa mereka dipaksa untuk mandiri, hasilnya seperti ini, tempat tidak bersih, saling melempar tanggung jawab dan tugas, pada akhirnya mereka terserang penyakit, mereka merepotkan diri mereka sendiri dan merepotkan orang lain.

Hari ini, Faisal Islam memberikan banyak rasa syukur dan bahagia, ponakan saya sudah sehat, bahkan ponakan saya menyempatkan waktu untuk membawa saya Ke Pagarumbang, dan di tempat ini, beragam refleksi kehidupan dan pembelajaran seperti mengalir saja bagai naik rollercoaster, naik turun.

Tetapi percayalah... bagi yang bersungguh-sungguh dia akan dapat, hari ini Pagarumbang, negerinya jorok, di masa depan, akan ada Penggabungan antara perjuangan dan kesuksesan.







Ibu, Monino, & Petualangan

(KM Lambelu berangkat jam 9 malam)

Saya tidak tahu apa cerita ini merupakan tahwil tentang sebab musabab yang tervalidasi atau bukan, bahwasanya dipertanyakan suatu persoalan kepada para alim ulama. "Mengapa nabi Muhammad SAW harus terlahir tanpa merasakan utuh kasih sayang kedua orang tuanya?".

Baginda Nabi telah menyandang gelar anak yatim, kehilangan Ayahnya Abdullah bahkan pada saat ia belum dilahirkan ke dunia, ibunya Sitti Aminah juga tidak secara paripurna menemani beliau dalam tumbuh kembangnya. Maka lengkap sudah gelar yatim piatu melekat pada sosok mulia ini.

Jawabannya adalah karena dosa yang paling mudah dilakukan adalah dosa kepada orang tua, terutama kepada ibu, Allah ingin menghindarkan perbuatan itu dengan hikmah nabi kehilangan kedua orang terkasihnya. Wallahu alam.

Saya terhenyak, kemarin adalah hari ibu, tanggal 22 Desember selalu diperingati sebagai hari ibu, di media sosial bersileweran ungkapan sayang kepada ibunda tercinta, meski sejatinya setiap hari adalah ungkapan sayang kepada ibu dan ayah.

Saya tidak usah ditanya, saya adalah salah satu bagian dari itu. Namun kali ini berbeda, setinggi apapun ilmu seseorang, jika menghardik kepada orang yang telah melahirkan kamu, maka saat itu runtuhlah semua kemegahan dan kepongahan itu, saya tahu konsep itu, saya paham itu dosa yang teramat besar, bahkan hikmah kehilangan orang tuapun juga tuntas saya pahami.

Namun beberapa hari ini, saya benar-benar menunjukkan betapa naifnya manusia, benar-benar memahami diri saya, bahwa saya adalah orang yang benar-benar tidak bersyukur dengan semua anugerah yang diberikan Tuhan kepada saya.

Seperti tahun sebelumnya, momen akhir tahun sebisa mungkin saya jadikan sebagai momen untuk liburan setelah penat 1 semester kegiatan sekolah selesai, kegiatan refreshing 1 minggu masuk kalender penutup tahun baru. 

Agenda ini mulus dilakukan tahun lalu, bahkan saya menuliskan semua rangkaian perjalanan saya dalam blog yang saya rangkumkan dalam catatan kecil dengan judul "Hadiah Serial Perjalanan Ke Barat", teman-teman bisa melihatnya di link ini: " https://hisemoransa.blogspot.com/2023/01/hadiah.html ".

Namun agak berbeda kali ini, 22 Desember yang menjadi rutinitas ungkapan sayang pada ibu, tidak saya lakukan, saya cek-cok dengan ibu, kali ini, ibu seperti tidak mendukung semua rencana saya, pada akhirnya semua masalah komunikasi, ada komunikasi dalam bahasa "Orang tua dan anak" yang tidak tuntas dibahasakan. Semua keluar dengan ego masing-masing.

"Ok, fine, next time I don't have to be nice...I would like to manage by myself, and I don't want anybody to interrup me". Rencana libur dibatalkan, saya dan ibu kuat-kuatan dengan persepsi benar-benar masing-masing.

Saat malam menjelang, dongkol dan jahatnya pikiran saya pada ibu makin menjadi-jadi, Astaghfirullah dosa apa ini. Di sebelah di rumah kakak, telepon berdering, Zul yang sedang di Makassar sakit, sudah 4 hari tidak beranjak dari tempat tidur, kepalanya pusing, tidak mau beranjak. Lalu malam berlalu dengan sekalut-kalutnya perasaan.

Pagi seperti biasa, masih mendongkol, pikiran sudah tidak karuan, "It is my life and I think never make a rush before, I'm quite enough to be a good kid". Hari yang sedikit gelap tidak seperti biasa, seperti tahu seperti apa rasa hati 2 orang ibu yang sedang sedih, satu sedih anaknya durhaka, satunya lagi bersedih anaknya sedang sakit.

Setelah beberapa komunikasi intens, ponakan yang sakit ini harus dibawa ke rumah sakit, kakaknya yang perempuan yang juga sedang bekerja di sana, menjadi penyelamatnya, dan memang begitulah saudara, di tempat jauh, baru terasa kuatnya persaudaraan, bahkan tanpa hubungan darah pun, terikat satu bahasa dan suku saja, bukan main eloknya persaudaraan di tanah rantau.

Masuk rumah sakit, ternyata tidak cukup meredakan rasa khawatir orang tua, yang juga kakak saya, ternyata ini seperti peluang, saya sudah dongkol, tidak ada liburan, tidak ada ke Makassar, karena kalau ke pulau Bali memang alternatif termurah harus ke Makassar dulu, baru naik pesawat, karena lebih murah, ya semua pangkal permasalahan adalah biaya, tapi itulah pemikiran orang tua yang berbeda jauh dengan muda yang hobinya hanya ingin bersenang-senang.

So, sudah ada uang, ya... hidup dinikmati sajalah, saya juga sudah tutup bahkan sampai bilang yang aneh-aneh kalau jadi liburan, "biar, di tahun depan, gaji saya atur sendiri, biar enak kemana-mana, my current final angry decision. 

Zul sakit, ternyata Monino, itu sebutan nama di kampung kami, saya tidak tahu latin dan istilah medis dari penyakit ini, semacam cacar, atau pox, dan bagi kami ini penyakit yang menyembuhkannya harus dengan menggunakan bahasanya sendiri. Ketahuan setelah perawatan dokter, paska pemberian obat, bintik kemerahan muncul, panas demam, dan sakit kepala berat menjadi sebab kekhwatiran kakak saya, yang juga orang tua dua anak ini.

Jadilah saya yang diutus, tepatnya mengajukan diri, sebenarnya saya mau sekali liburan, malu-malu tapi mau, tapi memang kondisinya begitu, kalau bapak dan mama anak ini yang ke Makassar, akan berabe urusan, urusan ke kota besar, bukan urusan sepele, saya yang paling tervalidasi untuk ke sana. Maka runtuhlah semua ego saya dan ibu.

Ibu merestui perjalanan saya, bahkan segepok uang sudah diberikan kepada saya, "Ibu tidak pernah melarang, ibu minta maaf, kalau ibu tidak mengerti dengan situasi yang ada", saya memeluk ibu, memohon maaf dan meminta ibu mengampuni saya dan memberikan doa restu perjalanan. Semua aman. 

Saya tancap gas, pesan kapal Pelni di website Pelni tuntas dilakukan, perjalanan ke kota Baubau selama 2 jam dari jam 11 sampai jam 1 sudah dilakukan, kapal Lambelu berangkat 23 Desember 2023 jam 16.00 tapi ternyata harus molor, berangkatnya diganti jam 7 Malam, namun ternyata keberangkatan baru dimulai jam 10 malam.

Ya... sudahlah... pelataran masjid Hasan Al Bahari adalah tempat paling syahdu yang kembali menemani cerita petualangan kali ini.

Tidak ada hal yang banyak berubah, dari orientasi pelayanan publik kita, kapal-kapal milik pemerintah BUMN yang bergerak di bidang pelayaran ini masih sering molor dari jadwal yang ditentukan, pelayanan ruang tunggu masih jauh dari kata nyaman, serak-serakan penumpang seperti kumpulan manusia yang menunggu hari penghakiman, pelayanan di dalam kapal juga masih cenderung tak ada perubahan yang berarti, makanan kapal yang kurang enak, tempat istirahat yang kurang nyaman, kamar mandi yang belum bersih, masih menjadi narasi dan cerita manusia-manusia yang berlayar di lembar tiket ekonomi.

Ya.....karena para pembesar kita mungkin tidak pernah terlahir dan tak pernah mengalami momentum seperti ini.

Kapal berangkat, bertolak dari pulau Buton, meninggalkan pulau seribu benteng menuju kota Mengkassar tanahnya Sultan Hasanuddin, tanahnya para kesatria ayam jantan di negeri timur.

Ya..... perjalanan saya, terhenyak sesaat kabar dari kampung, ada gempa yang mengguncang rumah. Saya bertafakur itu adalah peringatan bagi saya, dalam kapal, saya menangis sedih, saya tahu Allah mencintai saya, ibu mengasihi saya, sehingga bala saya terhadap ibu, hanya diberikan Tuhan dengan melampiaskan menggoyangkan bumi di tanah lahirku.

Bagaimana kalau Tuhan, meluluhlantakkan kepongahan saya pada ibu.

O Tuhan.....ridhoi petualanganku.

Lalu kapal berbunyi.....Kota Makassar sudah di depan mata, petualangan baru sudah dimulai.








Serial Perjalanan di Pulau Dewata BALI-NEGERI PUPUTAN

  Keseruan menjelajahi bali dapat dilihat di sini: https://drive.google.com/file/d/1LVGH5MW76M-FzwwkqTx4QzIIslLigGiw/view?usp=sharing