Oleh: Honayapto
'Nohawo reano holeo', itu kata lama dari bahasa para tetua. Kata ini adalah perumpamaan saat sinar matahari masih menampakkan pantulannya di penghujung senja.
Sudah pukul 18.45 sore, harusnya langit sudah mulai gelap, tapi langit masih saja benderang, hanya sekitarnya, semua sudah gelap gulita.
Ini malam kedua, hari Sabtu saya bersama Ina dan Uma menuju ke kebun, bukan berkemah, tapi saya plesetkan saja berkemah, maklum anak gaul, bahkan iseng-iseng perjalanan saya abadikan dalam editan video berbasis aplikasi gratisan, saya tidak mampu membayar iuran bulanan itu, tahunan lebih murah, tapi saya merasa tidak cocok jadi YouTuber, siapa yang rela memberi subscribe. Jadilah basis dasar video menjadi pengabadian setiap aksi saya, Ina dan Uma, bolehlah Tuan dan Puan menengok itu.
Kakak tertua kami sebenarnya yang punya andil besar, kalau proposal bermalam di kebun tidak di acc olehnya, cerita malam kedua ini tidak akan timbul-timbul.
Kakak masih harus membersihkan sisa-sisa timbunan untuk mengisi bakal pondasi rumah kakak lain saya yang berprofesi penjual moleng. Katanya membantu tukang, jadi kalau tukang sudah siap, sebagian pekerjaan sudah dibereskannya, siang timbunan di kerjakan secara full tanpa was-was, malam hewan piaraan juga aman, jadilah proposal bermalam di kebun diacc.
Malam ini, reano holeo yang masih terang ini, tidak bertahan lama, pukul 19.15 semua sudah gelap.
Saya juga tidak mengawasinya lagi, berbekal beberapa helaian daun kelor, tugas saya mengukur kelapa tua, kebetulan masih ada ikan asap, daun kelor yang dicampur dengan perasan santan ditambah dengan ikan asap, disajikan hangat jadilah ini menjadi makan malam yang indah.
Ina paling tahu, saya anak ketujuh yang paling banyak makan, sepiring besar nasi pulut masih belum cukup, potongan ubi kayu kuning rebus siap menjadi tambahan pengisi ruang-ruang lambung saya.
Dalam menyiapkan sajian kami, saya bertanya pada Ina. Bagaimana masa kecil kalian, apa kalian tidak pernah merasa kedinginan?, di penghujung malam, sengatan udara dingin memang sangat berbeda, ini yang selalu ditakutkan para pendaki gunung-gunung tinggi di tanah Jawa, Hipotermia. Bisa mati mendadak.
Ina hanya senyum. Katanya dingin juga, tapi itulah kehidupan. Getir melihat senyumnya, dalam hati "Kasian Ina".
Dan memang benar kata orang, alam adalah tempat kita mendekatkan diri pada Tuhan,. semakin mendekat dengan alam, semakin dekat bersama Tuhan. Tapi saya bukan Petapa, hanya mencoba menebak-nebak rasa menjadi Petapa.
Tapi tahukah tuan dan puan sekalian, di keheningan malam, di pekatnya alam, saat kita merasakan kesunyian di saat itu keramaian dalam dimensi yang lain terbuka.
Seperti terjerembab dalam ketakutan, suara jangkrik malam yang bising tiada Tara, tak berhenti bersuara sampai fajar menyingsing, bunyi-bunyi hewan malam, seperti menandakan satu kehidupan baru sedang terjadi, dan mereka sedang memainkan peran besar di sana.
Saya tidak tahu betapa riuhnya mereka bertengkar mencari makan, atau ada yang bernasib sial, niat mencari makan, tapi harus dimakan, kepak-kepak sayap mereka atau desis dan segala bunyi mereka menjalin titah Tuhan.
Yang paling akrab adalah suara alam, semua berbicara dan berbisik dengan caranya.
Saat membersihkan gigi usai makan malam, saya jatuh melihat langit, semuanya jelas terlihat, tiga rasi bintang dan kerlap-kerlip bintang-bintag langit seperti untaian mutiara yang membuat iri pada siapa saja yang melihat.
Seperti tiga rasi bintang tadi, yang setia menemani di saat-saat masa terpuruk terjadi. Pendar-pendar cahaya mereka adalah mercusuar bagi bumi yang mulai diselimuti kegelapan.
Malam sudah larut. Dinginnya semakin menjadi.
Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah.
Tuhan mengabulkan semua doa-doa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar