SEA Games, Thomas, & PNS

(Timnas U-23 Indonesia dalam SEA Games 2021)

Teman-teman yang berinteraksi dengan saya hari ini, pasti akan benar-benar tahu seperti apa 'karakter' saya yang sebenarnya. 


Salah satu pertanyaan dalam formulir beasiswa adalah "apa kelemahan Anda?", Saya diarahkan untuk menjawab menemukan alasan yang benar menunjukkan sisi kelemahan saya, tapi kelemahan tersebut dimaksudkan sebagai keuntungan. Alih-alih kekurangan namun ternyata sebagai penguatan karakter.


Misal jawabannya adalah "Oh...saya adalah orang yang selalu merasa perfeksionis, selalu dihambat dengan persoalan yang semuanya harus dilakukan secara sempurna, hal-hal kecil tidak boleh terlewatkan dari amatan saya, dan karakter ini tentu akan menyulitkan rekan lain dalam mengimbangi saya".


Jawaban ini seperti sebuah kekurangan tapi ini kekuatan, kira-kira itu yang saya tangkap dari berbagai sumber dan kiat-kiat atas pertanyaan ini.


Dan atas arahan itu, saya tidak menyukainya, 60 : 40 saya cenderung tidak mau menjawab seperti kiat di atas. Ini seperti bukan diri saya.


Jika saya ditanya "apa kelemahan saya?".

Jawabannya adalah "Saya orang yang mudah marah, tidak bisa mengendalikan amarah dan selalu mudah kehilangan konsentrasi. Ini kelemahan terbesar saya. Padahal level pendidikan yang baik harusnya mampu mengarahkan saya pada kemampuan untuk menghilangkan atau paling tidak mengurangi kelemahan tersebut.


Tapi sampai dengan sekarang itu tidak terjadi. Ditambah dipanasi-panasi dengan sekolah tinggi kok model begitu, ampun...bukan main panasnya hati.


Hari ini terjadi (tepatnya sudah terjadi dari dulu-dulu hehehhee 😎 ).


Ada beberapa keluarga yang bersilaturahmi saya tidak bisa layani dengan baik, bermuka masam, bahkan cenderung tidak menghargai. Penyebabnya apa?,


Penyebab pertama karena SEA Games, hari ini laga penentuan Timnas U-23 Putra di ajang olahraga sepakbola grup A akan bertemu Myanmar, kalau sampai kalah Indonesia. Maka kesempatan mendapat medali emas,. selesai padahal kalau datang 'masa gila', asa mendapat emas di ajang 2 tahunan ini seperti menjadi target utama dari semua target (betapa jahatnya saya).


Tapi bukan itu, bukan SEA Gamesnya bukan medali emas, tapi saya marah dengan refleksi pekerjaan saya, pembelajaran saya, saya seorang guru, kami saat ini sedang cuti bersama dan libur hari raya idul Fitri tapi otak saya tidak bisa diam, dalam diam saya, saya terus berpikir kira-kira bagaimana cara membangkitkan animo belajar peserta didik saya, seperti kegilaan saya menikmati laga tarung Garuda Muda di Vietnam ini.


Kenapa begitu? karena peserta didik juga saya sama gilanya dengan bola, saat evaluasi pembelajaran semester awal hasilnya sangat jauh dari memuaskan, ditambah dengan hasil ujian Sekolah untuk kelas 9 yang sudah melewati 2 tahap di bawahnya, hasilnya juga sama sangat memprihatikan.


Mungkin karena ini berbicara masalah intelegensi (otak), hampir semua kesulitan, padahal kalau ditelusuri lebih jauh semua proses pembelajaran yang baik, tepat, dan menyenangkanpun diusahakan semampunya dilakukan.


Tapi kalau melihat antusiasme mereka menyambut Laga Pekan Olahraga dan Seni atau Kepramukaan, sekali instruksi seribu tindakan. 


Integrasi itu yang coba saya wujudkan, makanya saat Indonesia dikalahkan Vietnam 3 : 0 dan hari ini di babak kedua kontra Myanmar, tim white angels mampu mencetak 1 gol. Saya sudah beringas marah.


Ditambah satu jam sebelum laga di stadion Viet Tri Pun Tho, Vietnam, Tim putra Indonesia yang berlaga di ajang Piala Thomas di Thailand Bangkok harus menahan kekalahan 1 : 0 atas tumbangnya Antoni S. Ginting jagoan rengking 3 harus keok di tangan lawannya sebagai peringkat 9.


Tim India ternyata terus bertubi-tubi menghajar Indonesia tanpa ampun, hampir saja menang di set kedua dan ronde ke dua untuk tim ganda putra, tapi tren dan aura kekalahan Indonesia berlanjut, pasangan Kevin Sanjaya dan Hendra Setiawan dan juga Jojo puas di rangking 2 tanpa memberi perlawanan berarti bagi tim India.


Semakin tidak terkendali amarah saya, saat menonton laga ini, dan menyaksikan kekalahan ini, saudara-saudara jauh yang bersilaturahmi tadi itu, bercanda meminta THR.


Sebenarnya dimaklumi, karena label THR memang secara umum nampak dilekatkan pada profesi Pegawai Negeri Sipil, toh juga bercanda tidak ada yang lain.


Tapi itulah saya, kelemahan saya untuk mengontrol emosi adalah pekerjaan terberat bagi saya.


Jadi mohon maaf kalau dalam pelayanan tadi ada beberapa hal yang tidak berkenan di hati.


Loh... memang situasinya kayak apa?.

Saya ini membantu kakak melayani pembeli es blender dan jajanan di warung kecil, tapi karena ada WiFi saya asyik nonton dan update SEA Games, Piala Thomas juga, plus mengemban status PNS juga.


Jadi karena status yang bercampur-campur itu, emosi saya juga kadang campur-campur. Jadi penutupnya saya hanya mau bilang kalau kalian lihat saya marah-marah, maklumi saja, di otak saya ada banyak kegiatan-kegiatan penting yang terjadi.


Jadi kalau tiba-tiba marah, maklumi saja. Apalagi kalau tiba-tiba ketemu sudah bahas THR karena PNS. Jadi Jangan kaget, ada SEA Games, Piala Thomas, dan ujug-ujug THR.


Saya marahi kamu itu.


Hehehhe...maaf lahir dan batin. 🙏

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Serial Perjalanan di Pulau Dewata BALI-NEGERI PUPUTAN

  Keseruan menjelajahi bali dapat dilihat di sini: https://drive.google.com/file/d/1LVGH5MW76M-FzwwkqTx4QzIIslLigGiw/view?usp=sharing