Oleh: Honayapto*
Dalam menjejerkan deret kata ini, menyambung bait demi bait kalimat, merangkai satu rangkaian frasa. Saya terselimuti perasaan khawatir, risau, apakah coretan ini dapat memberikan satu pandangan, sebagaimana pandangan yang berkelebat dalam benak saya.
Saya galau, kalau-kalau upaya saya dalam menggambarkan imajinasi kedalam bentuk tulis ini, tak kesampaian ujugnya. Menderitalah saya dengan siksaan batin yang luar biasa.
Beban moral dan tanggung jawab sebagai akademisi 'tanpa gelanggang', rasa cinta dan abdi sebagai pribumi dan anak bumi negeri ini, mengharuskan saya memberikan satu sumbangan pikiran, yang bahkan ketika dinilaipun tak akan berbanding nilai dengan nilai 'kertas' sang kapitan yang sedang menenteng parangnya itu.
Apapun itu, dengan segala ikhtiar, dan doa. Cukuplah satu hikayat, hikmat, dan kebijaksanaan hidup menghantar saya dalam keberanian untuk meninggalkan jejak digital ini. Terusir ketakutan dan keraguan itu. "Gunungpun meleleh dan tak sanggup mendapat titah dari Tuhan". Sayapun mulai mengukir huruf.
Quantum; Menyambut masa depan
Masih lekat dalam hari-hari kita, silang sengkarut 'Fiksi, Fiktif, dan Fakta' yang terdistribusi oleh Prof. Rocky Gerung, menjadikan ruang-ruang diskusi kita seakan menghangat dan memanas, mencerna satu-satu dikursus dengan berbagai analisis, esai, dan timbang akal dari guru besar yang 'edan' itu.
Tak lain tak bukan selain mengusap penuh lembut kepada publik bahwa fiksi itu indah, berimajinasi, tidak buruk, dan bisa saja menjadi kenyataan.
Saat ini, publik kita mencerna fiksi dan sulit menghindari keterkaitannya dengan Prabowo Subianto dan sang Novel fiksi. Ghost Fleet: a Novel of The Next World War. Novel dengan 400 halaman lebih, yang terbit 3 tahun lalu (2015) di Amerika Serikat, yang merupakan karya tulis dari pengamat politik dan kebijakan ternama asal negara di mana novel ini dipublis. Peter Warren Singer dan August Cole.
Dua penulis ini sangat ciamik menggambarkan suatu kondisi yang terjadi di masa depan, terjadi perang dunia antara negara kaum komunis (China) yang tumbang dan tergantikan oleh kaum directorate, melawan negara Super Power 'adidaya' Amerika Serikat.
Prabowo Subianto yang teramat dekat dengan suasana kebatinan 'militerisme', menjadi terhanyut dan ikut menyaksikan bagaimana kapal-kapal perang, tumpukan-tumpukan rongsokan kapal yang karam, drone-drone, pesawat ulang alik, sederet komando militer, dan aksi hacking-hacking satelit luar angkasa. Menghantarkannya dalam suatu kengerian terhadap pandangannya akan Indonesia.
Kita bisa meraba-raba dan melihat ruang simulasi perang dalam otak sang komandan, ini mirip-mirip menyaksikan film 'The Battle Ship' dan atau 'Pacific Rim'. Maka hujjah kekhawatiran membuat sang Lidah komandan berseru "Indonesia Bubar di 2030".
Apalagi pada masa depan itu, Indonesia yang besar ini hanya tertulis sambil lalu saja. 'bekas Republik Indonesia', lalu hebohlah kita.
Fiksi tetaplah fiksi, dalam satu ulasan yang dirilis di Kumparan (com), "Menakar kebenaran pernyataan Prof. Rocky Gerung", esaitor menghantar kita pada simbolik tentang fiksi dan fiktif yang bagai dua sisi mata uang, berbeza namun tak terpisah.
Dalam karya fiksi, pengaruh fiktiflah yang sangat kuat, nilai 'ketidakbenaran, kemustahilan, keganjilan, keluarbiasaan, sampai pada keniscayaan' adalah poin penting yang membangkitkan nilai fiksi itu sendiri.
Fiksi seakan terbentuk dari fiktif. Bagaimana aksi-aksi bertempur dengan naga bersayap, terbang bersama sapu terbang, atau berubah menjadi manusia serigala. Dalam dunia kita, Itu semua 'bohong', namun dalam fiksi itu semua kebenaran.
Ya...fiksi dan masa depan ini yang menjadi cikal bakal esai kecil ini dibuat.
Jika Prabowo Subianto 'mendeklarasikan' Indonesia bubar pada 2030. Saya bersiap mendeklarasikan Lagundi Emas di 2030 (tentu saja Indonesia tidak bubar pada tahun itu).
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dengan garis pantai pulau-pulaunya sepanjang 54.716. KM, memiliki potensi wisata yang sangat besar, tak terkecuali dengan desa Lagundi.
Desa yang terletak disepanjang garis pantai pulau Sulawesi Tenggara ini, berhadapan langsung dengan laut Banda, memiliki spot wisata bahari yang tak kalah menarik, pada masa itu pemerintahan desa ini sudah menyongsong semangat kerja untuk rakyatnya.
Melihatnya dari atas bukit, tampak desa ini terbelah oleh aliran sungai, dengan kontur wilayah yang berbukit dan pegunungan di sebelah baratnya, perkampungan ini persis tertata rapi terletak di sepanjang semenanjung laut.
Di atas bukit arah selatan bagian barat inilah, area wisata mulai moncer tertampakkan, lahan seluas beberapa ratus meter mulai diratakan dan terlapisi dengan marmer, terdapat pembatas dari semen yang didesain semenarik mungkin, ditambah ukir-ukiran kayu jati atau 'mborotua' sebagai pemanis pembatas ini, telekan lampu-lampu penerang berujud sangkar burung perkutut menjadi penyahdu ketika malam menyambangi.
Bergeser sedikit kebelakang, terdapat kios-kios UKM masyarakat desa Lagundi, ada jajanan tradisional, kue-kue modern, beberapa etalase yang menyajikan penganan-penganan lain, dan souvenir-souvenir cantik hasil kreasi muda-mudi, tak ketinggalan nasi goreng, bakso beranak, sate, soto dan santapan dinner lainnya untuk para wisatawan tersaji dengan baik di sana.
Seperti wisata-wisata malam pada umumnya, jejeran meja bundar yang diatur zig-zag dan kursi-kursi rotan yang terpayungi, adalah sajian wajib bagi para turis yang ingin mendapatkan suasana romantis di malam hari. Sudah tentu angin laut yang berhembus, apalagi di atas bukit ini memerlukan selimut atau baju-baju wol tebal, yang akan dihadirkan para penjaja yang bergiliran shift menggunakan fasilitas yang disediakan pemerintah.
Tak lengkap rasanya tanpa alunan tembang kenangan dan lagu-lagu lawas dari Bon Jovi.
(Perbukitan sepanjang desa: Dokumen pribadi)
Di pagi harinya ada 'Morning tea' yang tersaji, saat itulah yang menjadi golden moment, momentum menangkap sunrise; matahari yang terbit yang baru saja terbangun terselimut gelap malam, kalau di gunung Bromo menikmati sunrise perlu perjuangan yang keras, harus mendaki gunung yang tinggi dan bersiap jauh menit sebelumnya, atau bersegera menyiapkan segala perbekalan untuk menghabiskan malam di gunung yang berhawa sejuk itu.
Di desa wisata ini, tak usah berepot-repot, tersedia akses yang cepat kesana dan pemerintah setempat benar-benar memanfaatkan potensi bisnis kerakyatan ini, dibangun rumah-rumah singgah, dan pondok-pondok wisata berkonsep alam.
Percak-percak kilauan mutiara yang berbuih tampak berkilatan menyambar muka, bertumpuk di satu titik saat sinar matahari membias oleh air laut yang biru. Di siang hari suasana ini yang lekat terjadi di perbukitan wisata ini.
Saat sore tiba, lembayung menggantung di ufuk barat, ada kesyahduan, ditambah kelap-kelip lampu malam, senja menjadi sangat cantik manakala suara adzan berseru di mushola kecil dan sahut-sahutan suara islami dari dua masjid di desa itu.
Ha... Mendesah kagum pada Illahi, menyaksikan ini seperti berada di kota-kota di negara-negara luar sana, seperti berada di Greenland, Amerika Serikat, Norwegia, Australia, atau Jepang yang kondisi kotanya berada di sepanjang garis pantai.
Menikmati Lagundi di masa ini bagai berada di kota Oia yang terletak di laut Aegea di ujung barat pulau Santorini, spot wisata terfavorit di Yunani, negeri para dewa-dewi itu, bahkan bisa sangat dan lebih indah dari cadas-cadas yang terkuliti peradaban manusia modern yang berkemajuan.
Tak sampai di situ, konsep pembangunan yang 'go green' yang sedang digalakkan pemerintah juga didukung pemerintah desa ini, ini bisa terlihat dari pohon ikonik desa ini 'kau walanda', kayu Belanda jika diterjemahkan secara bebas. Saya kurang tahu masuk dalam kelompok tumbuhan (Kingdom) apa pohon yang berdiameter besar dan menjulang tinggi ini. Tapi yang pasti, pohon ini tetap kokoh berdiri, ada beberapa sentuhan kekinian yang melekat padanya.
Pohon ini terlingkari undak-undakkan tangga yang didesain rapi, kokoh dan elegan, diujung pohonnya ada satu spot akhir tempat para muda-mudi (Wisatawan) mengambil gambar, dan menggembok simbolik perasaan mereka pada tempat yang disediakan, mengambil gambar dengan latar pedesaan yang modern atau laut Banda dengan gelung ombaknya.
Sekadar menguji adrenalin memutari tangga-tangga yang menjulang tinggi ini, tak menjadi soal, dengan membayar kocek 'retribusi' kita bisa membayar lunas rasa penasaran, pada rumah-rumah pohon yang selalu menjadi primadona anak-anak Eropa, ketika merengek mengharap mendapat hadiah rumah pohon pada 'birthday' mereka.
Di malam hari, pohon Walanda ini menjelma seakan menjadi Tokyo Sukai Tsuri (dari frasa Tokyo Skytree) yang di Jepang atau Lotte World Tower yang memiliki 123 lantai yang merupakan tower kelima tertinggi di dunia, Korea Selatan.
Bukan tinggi atau mewahnya arsitektur Asia ini. Namun sentuhan lampu kelap-kelip yang dijejerkan melingkar dan tertata di pucuk-pucuk pohon besar ini, menjadikannya pemikat dan pemanis mata. Melihat angkasa di langit cerah berbintang menjadi lengkap ketika mata sesekali terperangkap cahaya berwarna-warni yang berpendar-pendar. Simple namun berkelas.
Jika sempat beranjak ke tepian di ujung kampung ini, anda akan disuguhkan pepohonan bakau yang asri, bersama masyarakat kesadaran menghindari abrasi ditingkatkan dengan menggalakan penanaman bakau, bakau menjadi tembok penghalang proses alamiah air laut menggempur bibir pantai.
Tak menyia-nyiakan kesempatan. Spot wisata bakau juga dikembangkan, kita diajak berjalan-jalan mengitari hutan bakau dengan menapak kaki pada papan-papan yang tercat berwarna-warni, melewati pintu masuk, dan membayar retribusi, kita bisa sepuasnya mengedarkan pandangan, sesekali menikmati biota-biota laut seperti teripang, ulat laut, bintang laut, duri babi, atau kepiting-kepiting yang bermain ria di selasar lumpur hitam dan gembul bokol kayu bakau.
Udara yang sejuk dan terlindung dedaunan rimbunan bakau, menjadi perihal yang mengasyikan menghabiskan penat atau bercengkerama ria. Membaca buku menjadi rutinitas yang tak boleh dilewatkan.
Jika capek berkeliling, tersedia es teller, kelapa muda, dan minuman berperisa lainnya di tempat itu, 'Gelanggang Wisata' namanya, semua masyarakat diperbolehkan membuka stand-stand wisatanya, membuka seluas-luasnya tempat-tempat ekonomi untuk kerakyatan.
Jika menghabiskan waktu sampai siang atau sore, membakar ikan lele, baronang, atau korapu yang dibudidayakan di empang-empang desa, adalah menu santap siang yang lezat, ditemani angin laut yang sepoi dan lambai nyiur juga pedasnya colo-colo menjadikan desa ini sangat sulit dihindari untuk dikunjungi kembali.
Para wisatawan juga tak perlu khawatir dengan pelepasan dahaga, jika tenggorokan tak terlalu akrab dengan yang manis-manis, Lagundi telah menjadi desa yang mandiri di tahun 2030, desa ini menjadi produsen aktif dalam menghasilkan air mineral dengan berbagai varian produk lokalnya.
Setelah langkah awal bekerjasama dengan investor air kemasan di kota Baubau, dan mendapat segala sesuatu yang berkaitan dengan sertifikat MUI 'logo halal', hasil lab, dan izin produksi dari kementerian perindustrian, juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa, kabupaten, dan provinsi.
BUMDes desa Lagundi mencatatkan diri sebagai BUMdes yang mandiri, dan mendorong peningkatan taraf hidup rakyat banyak. Air kemasan hasil produksi dari sumber mata air yang jelas, merajai distribusi air mineral di wilayah Sulawesi Tenggara, usaha-usaha untuk melakukan penetrasi distribusi ke wilayah lingkup pulau Sulawesi gencar dilakukan.
Tidak hanya produksi air lokalnya saja yang jaya, kebutuhan akan air dari desa yang terbelah sungai cantik ini menjadikan masyarakat berpuas menikmati anugerah sungai ini.
Di musim-musim penghujan, festival 'Catching River Crab' atau festival menangkap kepiting sungai, menjadi budaya yang benar-benar dimanfaatkan, pada musim itu air sungai menjadi banjir dan menyeret kepiting-kepiting sungai kemuara dalam titik pertemuannya di laut Banda.
Para wisatawan akan sangat benar-benar menikmati sensasi tergigit atau menggigit kepiting, menahan arus sungai banjir, dan kegiatan bakar-bakar kepiting menjadi sasana yang tak terlewatkan. Jauh ke hulu sungai beberapa canoe dan aktivitas rafting dilakukan. Kita bisa berpuas seperti para wanderer yang kita saksikan di tivi-tivi, tentu saja prinsip keamanan sangat menjadi prioritas.
Yang paling menakjubkan, sumber daya masyarakat ini diberdayakan, banyak para sarjana-sarjana dan kaum akademis yang dimanfaatkan ilmunya, seperti bagaimana merancang tata kelola atau mengarsiteki desa Lagundi di 2045 untuk menjadi kota dengan generasi emasnya.
Dibutuhkan sarjana di bidang arsitektur pengembangan kewilayahan, pendidikan nonformal yang berjalan dengan baik, masyarakat desa yang belajar bahasa Inggris, Mandarin, belajar keterampilan menjahit, memasak, atau pelatihan membongkar mesin-mesin kendaraan roda dua atau empat, pertukangan, sampai dengan peran-peran cendekia dalam urusan seni.
Ada ruang-ruang ekspresi yang dibangun di sana-sini. Seni-seni mural, dan taman bacaan untuk peningkatan literatur, taman bermain, ruang terpadu dan ramah, serta kegiatan-kegiatan keagamaan yang galak dilakukan. Olahraga futsal menjadi olahraga yang paling prestisius yang sudah menyentuh level kompetisi antar kabupaten/kota yang diswakelola oleh pemuda-pemudi ini.
Yang paling menarik untuk mengundang para wisatawan datang adalah dengan festival bahari, setiap musim laut yang teduh. Pemerintah berinvestasi dengan membeli peralatan-peralatan 'sea tourism' ada banana boat, flying boat, speedboat, sampai kepada istana-istana karet.
Konsep festival laut ini menggunakan pola permainan yang sangat familiar di negeri Ginseng, yaitu permainan yang diadopsi dari permainan di acara reality show 'Running Man' bertarung antar tim (setiap tim diwajibkan membayar retribusi) untuk menjadi pemenang dan mendapatkan hadiah.
Masyarakat Lagundi panen duit dengan potensi wisata dan bisnis yang masing-masing sedang dikembangkan.
Di penghujung keseruan, meski tak mampu mengalahkan arena permainan flying fox di Ras Al Khaimah, Uni Emirat Arab, yang bekerja sama dengan operator flying fox terkemuka di dunia, Toro Verde. Flying fox dengan jauh 2,83 KM dengan kecepatan luncuran 160 KM perjamnya.
Masyarakat desa Lagundi dan para wisatawannya di 2030 terpuaskan dengan teriakan-teriakan histeria di langit desa ini. Arena permainan ekstrim ini turut melengkapi wisata di desa itu. Meluncur dari bukit arah selatan 'bagea' sampai dengan bukit arah utara 'Kauso', tak perlu merogoh kocek sampai dengan 177 USD atau 2,4 juta setiap kali menikmati wahana ini, sesuai panduan dan retribusi resmi yang ditetapkan, segala stress, kegilaan, dan kesedihan lenyap seketika.
Di 2030 Indonesia tak akan bubar, tak akan ada pertempuran sengit di laut-laut tak akan ada jibaku bersama mayat-mayat dan bekas-bekas negara, di 2030 Indonesia semakin maju sebagaimana prediksi dari ekonom-ekonom luar negeri itu.
Di 2030 desaku, desa Lagundi menjadi desa emas dengan sejuta kesejahteraan, desaku menjadi negeri Utopia. Negeri seribu kebahagiaan.
Selesai tulisan saya, meski belum sempurna, tulisan ini akan menjadi jejak digital saya. Nanti di usia 39 tahun. Tulisan ini akan kembali kutengok. Lalu kemudian bertanya inikah desa Lagundi 2030 itu?...
Tak ada lagi keraguan, tak ada lagi ketakutan, yang ada hanya penantian, menanti massa di 2030.
The End
(*Ditulis di tahun 2018)


.jpeg)
.jpeg)



.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar