Alpha
Oleh: Honayapto
Dalam beberapa jam lagi tahun 2021 akan segera berakhir, orang-orang akan mulai membuka lembar baru, tahun 2022. Tahun yang akan disambut dengan berbagai resolusi dan harapan-harapan yang lebih baik, dan semangat optimis yang terbarukan.
Kita berefleksi dengan hitungan detik di masa lalu, peristiwa-peristiwa yang menyenangkan, perjuangan keras, hubungan yang sulit, dan kepayahan yang tidak berkesudahan.
Ada banyak hal yang berharga yang diperoleh di masa lalu, pelajaran yang semakin mendewasakan berpikir, tantangan hidup yang terus-terus tanpa berakhir, hingga sampailah kita pada seabrek keinginan untuk menjadi lebih baik dari masa lalu "There is always a hope in the future".
Tanpa kita sadari, ritus kehidupan kita terus berjalan seperti itu, lagi dan lagi.
Dalam suasana libur dan memanfaatkan imbauan-imbaun pemerintah untuk tidak kemana-mana saat ini, menonton film menjadi satu-satunya pilihan yang tepat menghabiskan waktu liburan dan mengikuti arahan tersebut.
Saya mulai membuka laptop usang saya, teman setia tahunan yang menyimpan jejak memori yang selalu menyedot saya masuk dalam ruang-ruang waktu.
Alpha, menjadi film yang selalu membuat saya menahan napas dan serasa berada dalam ruang-ruang hampa, sunyi dan tak ada orang lain.
Film ini memang mengambil latar 2.000 tahunan, sebelum zaman es berakhir, putih, dingin, dan air-air danau yang membeku, harmoni dalam citra konstruktsi otak orang-orang tropis, yang mungkin hanya berlaku kepada diri saya.
Albert Hughes dkk sang sutradara memang layak, untuk disanjung dan diberi apresiasi atas ciamiknya film ini.
Kisah dibuka dengan alur flashback, penonton harus mundur beberapa pekan sebelum kegiatan seruduk hewan liar nan besar;Bison, di bibir tebing gersang dimulai.
Bintang utama Keda yang dibintangi aktor muda Kodi Smit-Mcphee berhasil membuat kita merasakan ketegangan dalam berbagai scene, bagaimana dia menjalani berbagai tantangan-tantangan kehidupan.
Saat ia mulai dipercaya sang kepala suku yang juga menjadi ayahnya, menjadi seorang Pemburu muda, dan untuk pertama kali, harus memperjuangkan arti kedewasaan yang sesungguhnya, meninggalkan kawanan, berburu makanan, menjelajah, dan menghidupi kawanan, sebuah tanggung jawab yang harus siap dipikul.
Peristiwa diseruduk bison, dan terpental jatuh terjungkal bebas, tertahan di gurun cadas dan pingsan, adalah aksi sinema yang lumayan membuat bulu kuduk bergidik ngeri, apakah ia akan patah tulang?, dan tentu saja mati.
Namun roh leluhur masih terus menjaganya, hingga ia harus bertemu sekelompok gerombolan serigala yang di masa depan akan menjadi teman seperjuangan dalam menjalani kerasnya badai salju dan serangan harimau buas.
Cara-cara survive, dengan meminum air kubangan kotor, membunuh kelinci, memakan mentah daging buruan, mengunyah licin cacing tanah, bertemu mayat yang membeku, bertemu badai salju dan terjebak dalam danau es yang baku, dan sinematografi suhu tubuh yang biru lebam keunguan, menjadi sangat esktrim akan bentuk-bentuk dalam cara bertahan hidup ini.
Film ini ditutup dengan semburat lembah senja yang merona dengan hangat, siluet Alpha sang serigala dan Keda, serta anak-anaknya mengenyahkan rasa dingin yang sudah-sudah kita geluti.
Ia seperti percik-percik api hasil dari gosokan purba kayu bertemu kayu, dan api unggun dalam rumah-rumah pohon yang hangat, semua semakin hangat saat Keda dan kawanan berjalan bersama, tegap mengayuh tongkat, beriringan, membelakangi matahari dan semakin dewasa dalam lolongan sang Alpha.
BELAJAR DARI JEJAK PERTAMA
Film ini seperti memberi satu kuliah umum di penghujung tahun, senyaman apapun kehidupan atau sesukar apapun jejak keberadaan kita, semua dimulai dari satu langkah kecil.
Tidak akan ada yang bisa menebak masa depan, tidak akan ada yang tahu seperti apa masa depan, kita hanya diizinkan untuk berpikir dan berharap akan ramahnya suasana di depan, berharap yang baik-baik dan menguatkan dengan baik.
Alpha seperti mengajarkan kita, bahwa tapak-tapak peradaban manusia sudah dilakoni jauh-jauh waktu dari masa kita berdiri saat ini
Bahwa tantangan kita, akan selalu berulang dengan cerita-cerita yang sama, meski terbalut dengan pengalaman-pengalaman spritual yang berbeda, dan cara kita membaca setiap esens dari 'living value' yang diberikan.
Manusia dan setiap organisme kehidupan akan bertemu dengan hambatan dalam bentuk apapun itu, dan kemudian dia merespon dan membaca serta mempelajari setiap nilai-nilai yang diberikan.
Alpha mengajarkan kita membangun sebuah keberanian hati, percaya akan kemampuan diri sendiri, membangun kerjasama, harmonisasi dengan lingkungan semesta, dan pada akhirnya, kemampuan kita untuk menggunakan daya nalar, hati yang kokoh dan teduh serta ketaatan kita pada Tuhan pencipta kita.
Semua tentang Alpha, semua tentang permulaan, semua tentang hal yang baru, yang akan dimulai dari lembar baru kita.
Selamat menyambut hari baru di tahun yang baru, selamat membuka goresan awal kita.
Goresan Alpha...... A (Aku siap menjadi orang yang baru yang berguna untuk sesama)
Lagundi, 31 Desember 2021 Pukul 15.52 Wita
*Tulisan di 2019 yang diremake