Debur ombak tak henti-henti melampiaskan buih-buih putihnya di bibir pantai. Merajuk marah dan rindu pada bebatuan-batuan karang yang berjejer rapi di semenanjung samudera.
Tak lekang oleh waktu, kadang ia pergi lalu tak berapa lama ia muncul kembali. Begitu sunatullah ombak dan bibir pantai.
Seperti cintaku pada Edwin Matiatu, lelaki berdarah Ambon, sepuluh tahun silam ku kenalnya tepat di masa cinta remaja SMA. Lelaki eksodus negeri Ambon Manise yang terpaksa harus meninggalkan tanah air akibat konflik SARA, yang harusnya tak boleh ada di negeri Jinawi ini.
"Tak boleh ada kekerasan atas nama agama, tak boleh ada kesakitan atas perbedaan, seng usah ada kebencian karena dendam kesumat" begitu kata lelaki kurus ceking ini.
Usianya belasan, tapi karena konflik mereka akhirnya didewasakan dengan pola-pola kritis untuk meninggalkan rasa benci dan berdamai dengan masa lalu.
Kata-katanya selalu membayang dalam ingatanku, selalu berapi-api khas gaya parlente anak-anak timur, namun ia penyayang. Segala apa saja ia bawakan dan lakukan untukku.
Memanjat kelapa, memeras santan kelapa, sampai ke kekebun menemani ayah, tak jarang ia membawa sebakul-bakul ikan kalau menjaring di air meti bersama kakak saya.
Sebagai pendatang, dia lelaki Ambon yang sangat fleksibel, tidak neko-neko, dan cenderung romantis.
Suatu malam, saya dikagetkan dengan dibawakannya saya suatu lilin yang cantik sekali. Dibolonginya botol air kemasan lalu diletakkan damar dan menyalalah satu lilin yang sangat romantis di keheningan malam.
Acara perayaan hari jadian, katanya langit sedang melukis cinta, ada kelap-kelip bintang yang syahdu, dan selongsong panjang garis bima sakti di cakrawala.
Tak ada keperian yang indah selain satu kalimatnya yang meraung-raung dan selalu menggelung penuh di rongga hatiku.
"Nais... Ose tahu, apa yang paling beta suka sama se, beta kalau liat seh, kayak beta liat bulang e... Ada rembulan di wajahmu".
Umm...tersayat-sayat kerinduan, tak ada lagi tambal-tambal pelipur lara darinya, usai pelepasan kelulusan, dan berjalan rantau dengan saudaranya, tak ada lagi kabarnya.
~~~
Sekarang, rasanya semakin sesak saja dada ini. Di layar hp terbaca satu lagi pesan manis yang mengagetkan "Nays... Masih ingat beta, lelaki yang melihat rembulan di wajahmu".
Oh...rembulan sedang bersiap berjaga malam ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar