Cinta, Petualangan, & Tasbih di Bulan Oktober

 

Cinta, Petualangan, & Tasbih di Bulan Oktober

.

.

.

Oleh: Honayapto

Tidak terasa saya sudah memasuki hari ke enam tidak pulang ke rumah, padahal jadwalnya paling lama 2 hari. Hari Jum'at tanggal 3 Oktober 2025 saya pergi ke Ereke lebih cepat dari hari janji kami dengan rekan di dinas pendidikan, beliau menelpon konfirmasi waktu saya hari Selasa kalau tidak salah, saya bilang baru ada waktu Jum'at atau Sabtu, beliau deal saya.

Kenapa begitu, karena saya harus menyesuaikan dengan beberapa kegiatan di kampung untuk membantu keluarga mau persiapan acara pernikahan, biasanya kami dipanggil untuk menjadi panitia, eee.. benar jadinya hari Kamis atau Jum'at malam saya dan keluarga lainnya didaulat jadi panitia.

Kalau tidak atur jadwal, bisa berabe juga urusannya, rekan dinas bisa ogah, keluarga bisa merasa disisihkan, pokoknya di sini saling bantu, soalnya sudah dengar jauh hari sebelumnya ada pembentukan kepanitiaan, maka Jum'at atau Sabtu dianggap paling tepat.

Kenapa paling tepat lagi, Suhardipo rekan saya, sahabat saya, keluarga saya sudah dianggap sebagai keluarga mau melangsungkan pernikahan di Matalagi kecamatan Wakorumba Utara hari Minggu, 5 Oktober 2025, jadi momen yang benar-benar sangat pas, usai kegiatan di dinas pendidikan selesai 3 atau 4 Oktober 2025 di hari Jum'at atau Sabtu itu saya bisa langsung tancap gas pulang ke Kampung dari Ereke langsung potong jalan arah Ronta Maligano, prinsip sekali mendayung 2 pulau terlampaui. Saya dapat uang dari kegiatan dinas pendidikan, mungkin saya juga akan dapat honor dari teman saya Dipo, soalnya saya ditawari mau jadi MC, wah... benar-benar ini. Tapi namanya teman tak bisalah begitu, harus saling memahami, gratis dan cukup dapat makan sudah Alhamdulillah.

Pakaian seadanya, tidak ada arahan untuk membawa laptop, dan hanya pakaian dinas sedikit, saya selesaikan semua keperluan untuk kegiatan tersebut, hari Kamis sebelumnya saya sudah izin sama pimpinan saya, Kepala sekolah untuk tidak hadir berhubungan ada kegiatan di Ereke dan ada acara keluarga, beliau mengizinkan.

Sama ibu dan ayah juga sudah saya berita 3 hari sebelum kegiatan, soalnya emak kalau gak jelas izinnya, bakalan susah dapat visa.

Beliau deal, saya siap berangkat.

Hari Jum'at saya tiba di Ereke, soalnya saya mau sedikit berisitirahat, datang Jum'at istirahat sedikit kegiatan bisa lanjut besoknya, badan fit dan selesai kegiatan bisa langsung ke Matalagi. Sepanjang perjalanan dari Kambowa kampung saya ke Ereke, saya hanya perlu sabar di bagian kecamatan Kambowa Bonegunu dan beberapa titik di area Kulisusu Barat, dan Kulisusu, namun dibanding 2 tahun ke belakang ini sudah Alhamdulillah sekali.

Koordinasi dan kolaborasi antara pemerintah daerah Kabupaten Buton Utara dan Provinsi Sulawesi Tenggara benar-benar baru terjadi di tahun ini, tahun 2025. Kemenangan pak Adirudin-Rahman dan Andi Sumangeruka- Hugua memberi oase baru khususnya bagi saya dan mungkin saja masyarakat Buton Utara secara umum, beberapa titik jalan provinsi yang parah yang ada di kabupaten ini beberapa di antaranya sudah diaspal, hitam dan mulus, saya yang biasanya melakukan perjalanan Kambowa Ereke dengan jalan sebelumnya yang rusak, butuh 4-5 jam untuk sampai.

Kali ini jarak tempuh lebih dari 100 km ini dapat saya tempuh dengan alokasi waktu kurang dari 180 menit. Alhamdulillah, masyarakat tidak salah pilih untuk pesta demokrasi sebelumnya, kami masyarakat ini tidak muluk-muluk kok, bagus jalan, aman jaminan kesehatan, ada lapangan pekerjaan dan aspek penunjang pendidikan jika dimaksimalkan, rakyat kayak cukup itu.

Saya berangkat jam 09.02 saya sudah pamit dan salim sama Ina Uma, dua bocil ponakan di rumah juga sudah, hanya saya tidak janji belikan sepatu roda, disamping repot nantinya, uang juga gak ada heheheh...

Jam 12.12 saya buka kamar di penginapan Arwan, langganan saya di Ereke, saya masih 'riki' sholat Jum'at, padahal juga tidak buru-buru, memang restu dan ridho Allah harus selalu jadi basis kegiatan kita, biar semua dilancarkan. Pagi jam 06.00 dengan tidak banyak kegiatan berarti di Ereke, antara tidur, makan-minum, saya langsung berkegiatan di hari Sabtu.

Saya sudah WA mas Ikhwan kalau bisa kegiatan dipercepat kalau bisa jam 07.00 kita gas lebih cepat, saya sudah WA Jum'at siang, meski sempat kaget mendadak, saya bilang sesuai kesepakatan, paginya benar di Hotel Lenlin kegiatan SDN 1 Rombo tuntas dan bahagia serta menyenangkan satu sama lainnya.

Saya buru karena malam sebelumnya, saya sudah mendapatkan undangan untuk mengikuti kegiatan Moderasi Penyusunan Modul Pembuatan Videophone dari BGTK, saya tidak kaget sebenarnya karena 1 Minggu sebelumnya kami mendapatkan challenge dari kepala BGTK baru untuk menyusun modul ajar tersebut dengan jangka waktu yang sangat sempit, kami berhasil buat, kami dijanjikan akan bersama-sama melakukan moderasi di Kendari, jadi tidak kaget namun jeleknya saya tidak membawa laptop.

Kegiatannya hari Senin-Rabu, 6-8 Oktober 2025, jadi momennya kayak pas-pas dan mantap sekali, saya akan mendayung dan akan melampaui 3 pulau, Sabtu kegiatan di Ereke, Minggu acara nikah kawan di Matalagi, sudah dekat dengan Labuan Bajo untuk akses Kendari, namun saya lupa membawa laptop, itu persyaratan utama, untuk masalah surat tugas dan izin Alhamdulillah teratasi, pak Sahirudin kepala sekolah saya siap memberi izin, namun untuk balik ke kampung dan muter ke arah Talingko saya akan melakukan perjalanan 350 derajat, wah gak kebayang itu cakepnya.

Alhamdulillah ada ponakan saya, Zul siap ambil surat dan antarkan laptop serta baju Ko Kapten yang lupa juga saya bawa. Masalah Surat Tugas beres, saya tidak perlu merepotkan kepsek saya, cukup ada izin saya minta mas Ikhwan bantu saya dapat surat Tugas yang langsung ditandatangani kepala dinas, Alhamdulillah aman semua.


CINTA MATALAGI 

Usai kegiatan selesai di jam 9 pagi, saya langsung gas ke Matalagi, saya benar-benar bersyukur kakak saya yang laki-laki hari Kamis sebelumnya semua kelengkapan motor kuning Yamaha Aerox saya tuntas diperbaiki di Baubau, remnya diperbaiki, dan beberapa perkakas motor yang rusak diperbaiki, pantas saja diperbaiki, kalau tidak mungkin saya tinggal nama saja.

Pantas saja, sejak sebelum keberangkatan, jarak akses yang paling dekat dari Ereke ke Matalagi hanya perlu potong jalan dari Ronta Maligano, kalau lewat Lakansai jarak tempuhnya jauh, namun ada wanti-wanti, itu kontur jalan berbukit dan hutan, jadi mesti waspada, hati saya deg-degan tak karuan, sepanjang jalan saya seperti orang yang jatuh cinta, jarang-jarang kalau melakukan perjalanan ke tempat asing saya deg-degan, namun perdana melewati jalan Ronta Maligano seperti membuat saya bertemu dengan sang pujaan hati.

Oh...Tuhan ternyata bukan, saya bertemu dengan jalan yang amazing, ingin rasanya saya balik mau menuju jalan putar saja ke Talingko, saya tidak mau lewat jalan ini, bayangkan tanpa awalan cukup, saya sudah harus mulai menggas motor menaiki bukit, saya berangkat dari jam 10.45 saya tiba di area Maligano sudah jam 12 siang, dari Google Map butuh waktu 1 jam lebih, saya Miss sedikit, tapi itu sudah syukur teramat kepada Allah SWT.

Jalan Ronta-Maligano, akses potong kabupaten Buton Utara dan Muna


Pemandangan indah, hutan yang lebat, dan beberapa view khas pegunungan, serta jenis pepohonan besi, dan semak-semak belukar khas tanaman pegunungan tinggi tidak cukup memikat saya untuk menikmati perjalanan, jalanan naik turun, meliuk-liuk dan scene terparahnya adalah tikungan persis sudut miring rumus phitagoras ditambah dengan papasan mobil truk yang memuat aspal dan perlu dilewati dalam dua tahap, sukses membuat saya bersedih, dan melakukan sumpah serapah.

Sedihnya saya akan mati dan jatuh sia-sia di atas gunung ini, dan marahnya saya 'maki' Dipo kawan saya yang jauh-jauh meminang orang dari Matalagi, kenapa mesti jauh-jauh, dia yang mau menikah saya yang mau mati.

Saya menangis, namun malu mengeluarkannya, pas sopir papasan saya yang muat aspal santai saja membawa truk, digoyangkan setir untuk mencari jalan yang baik, senyum beliau saat saya menurunkan kaki mengimbangi roda motor yang melorot ke jalanan tikungan ini seperti menguatkan jiwa parlentenya.

Awas saja, kalau saya selamat, saya akan marahi Dipo, dan mungkin saya akan kembali melewati jalan ini manakala semua jalanan ini sudah diaspal bagus dan tak rusak lagi. Betul 95% sudah diaspal, namun karena di pegunungan, banyak rembesan jalan yang longsor dan akhir beberapa berkerikil benar-benar menyeramkan untuk dilewati khususnya bagi saya, yang takut dan perdana melewati ini. Uma sudah pesan hati-hati kalau ketemu lingkungan asing. Waspada.

Setelah sedikit terpana dengan aura sungai dan jembatan yang ada di tengah Gunung lintasan jalan Ronta Maligano dan ketakutan setengah mati dari jalanan tikungan rusak, Alhamdulillah saya tiba dengan selamat, sayup-sayup suara azan di tanah Maligano benar-benar memberikan saya penanda bahwa saya telah tiba dan selamat.

Jam 12.15 saya tiba dan singgah sebentar di warung Makan desa Maligano, sebagai ahli masak saya beri rating 5/10 dari makanan itu, sayur terung Balado adalah menu terenak dari sajian menu warung ini. Tapi semua hal harus disyukuri, kalau sempat dibaca mohon ini untuk kritik ya, kritik itu perlu buat pengembangan diri kita. Kenapa mesti bahas makanan?, disamping kritik saya ingin berbagi tips kalau sudah melibatkan interaksi banyak orang makan siang memang, biar tidak merepotkan orang, apalagi tipe yang tidak mau menyulitkan orang.

Setelah makan saya hanya perlu jalan beberapa puluh menit saja untuk sampai ke Matalagi, sudah banyak keluarga yang menemani dan mengantar Suhardipo untuk berkeluarga, acara hari Minggu, kedatangan keluarga 2-3 hari sebelum hari H. Sayapun ikut menemani, dan ketika jam makan siang sudah lewat, dengan makan sebelumnya saya sudah tidak akan merepotkan keluarga.

Saya tiba di basecamp Keluarga Lagundi di rumah paman dari calon istri teman saya, ada sekitar 40 orang yang ada di rumah itu, sudah ada pak Syaharula, Peni Saputra, Wahid, dan beberapa keluarga lainnya, setelah sholat di Masjid desa ini, saya langsung tempatkan tas dan barang bawaan saya, syukur Alhamdulillah sekali lagi, di tanah Matalagi saya akhirnya mendapatkan rasa cinta yang nyata kembali dari Allah SWT, karena banyak orang, 1 kakus tidak berimbang dengan rasio 4 orang.

Maka mengakses Masjid meminta izin marbot, saya akhirnya bisa istirahat siang sedikit, setelah sholat Dzuhur, mencuci dan menjemur pakaian di belakang masjid. 

Meski sempat kehilangan komunikasi karena tidak ada jaringan internet, dan kondisi perkampungan yang menurut kami sedikit sunyi, saya benar-benar kembali seperti bernostalgia dengan kehidupan anak-anak KKN, yang kuliah pasti tahu rasanya, bertemu induk semang, jumlah banyak, dan area lingkungan baru seperti membuka memoar kisah studi 15 tahun lalu, ditambah dengan lembayung senja di dermaga ada banyak cinta yang terukir di desa ini.

Pantas saja Suhardipo, SKM seorang lajang dan jomblo 34 tahun akhirnya berhasil dipikat seorang gadis Jayanti Sakti, A.Md.Keb. dan mereka akhirnya menjadi keluarga yang insyaallah sakinah, mawadah, warahmah yang terucap dengan mengguncang Arsy Allah di hari Ahad, 5 Oktober 2025 pada pukul 09.15-11.35 Wita.

Saya menangis sejadi-jadinya dalam hati, saya telah mengantarkan, menemani, dan berbagi kebahagiaan dengan sobatku Suhardipo untuk membuka lembar baru dalam sejarah kehidupannya, mulai meniti perjalanan awal dalam titian kisah yang telah berusia berabad-abad ini dan terukir di atas lembar-lembar suci dengan segala kisah kasihnya yang unik.

Meskipun sempat dilanda kantuk, kami hampir semua masyarakat desa Lagundi baik sahabat, kolega dan handai taulan keluarga kami berhasil mengantar Dipo menjadi seorang suami dengan lika-liku proses adat yang rumit, sampai dengan perlakuan yang tidak menyenangkan dari seorang anak muda, dan anak muda lainnya lagi jelang sehari sebelum kegiatan.

Acara kacau, ada klise sampai khawatir acara dibatalkan dan saya mati dibunuh, hehhe....dasar penakut, namun semua hanya kewaspadaan saja, setelah matahari muncul, semua menjadi indah, desa Matalagi berubah menjadi desa Cinta, pohon-pohon kelapa menari menyambut rombongan pengantin pria, suara-suara sunyi desa perlahan gemulai dengan musik indah yang penuh cinta.

Alhamdulillah, "Bârakallâhu laka wa bâraka 'alaika wa jama'a bainakumâ fî khairin" sebuah persatuan insan cinta di Matalagi menjadikan desa ini menjadi desa Cinta yang baru, ada cinta yang setia di Matalagi.

Saya langsung berangkat siangnya, jadwal moderasi sudah akan dimulai besok pagi, saya sudah tidak temani Dipo di acara perjamuan pernikahannya, janji dan todongan menjadi MC sudah tidak dilakukan dengan pertimbangan banyak hal yang terjadi.

Di atas Feri dan pelabuhan Labuan Bajo saat menyebrangi Teluk Labuan, jauh di Matalagi sana ada seberkas dan segenggam pelangi yang berpendar, rupanya temanku telah menikah dan bercinta. Selamat.

Pesona Dermaga Desa Matalagi; Untuk akses internet, ini spot yang tepat


CINDERELLA - MODERASI

Kalau ada yang melihat saya suka posting kegiatan yang mewah-mewah, aneh-aneh plus lainnya, harap maklum saya sedang haus validasi, sebagai konten kreator, sebagai Ko Kapten, sebagai orang yang sederhananya cari uang di jalan ini

Konten kreator sekali posting Rp.500 kali upload 10 X per hari X 30 hari, cuan juga itu hehehhe, sebagai Ko Kapten saya ingin berkabar bahwa ini semua adalah hasil dari perjuangan pendidikan yang telah saya lewati sebelumnya, saya menikmati segala hal dari status ini sebagai hasil saya bertahan dan berkeras dan berkesempatan menikmati pendidikan, hitung-hitung 'self reward' sedikit narsis.

Saya perlu membuka personal branding saya sebagai orang yang kapan saja dibutuhkan untuk bisa membantu dan memfasilitasi mereka, saya ingin berperan memberikan dampak pada bidang yang saya tekuni.

Maka setelah tiba di Kendari saya langsung check in ke Hotel Claro tempat kegiatan akan dilaksanakan, ini kali kedua saya memasuki Hotel Bintang 4 yang menasbihkan dirinya sebagai The Grand Icon of Kendari, Ikonnya mi kota Kendari. Kali pertama saat kegiatan sebagai fasilitator bimtek untuk digitalisasi pembelajaran dan kali ini sebagai peserta moderasi pembuatan Videophone untuk jenjang PAUD.

Saya setuju, memang saya bukan pelancong aktif dan belum banyak memiliki referensi lengkap tentang hotel-hotel besar utamanya pengalaman menginap, namun jika dibandingkan dengan hotel-hotel sebelumnya tempat kami menginap, dengan level yang sama, Claro masih juara. 

Makanannya yang enak ada adalah poin of view utama penilaian saya, kalau kamar, standar pelayanan front office dan Housekeeping itu relatif, semua sumber daya manusianya pasti sudah dilakukan upgrading pelayanan dan SOP yang jelas.

Saya benar-benar beruntung belajar dan memiliki dasar tentang kepariwisataan, 3 tahun saya belajar tentang Perkembangan Industri Perhotelan, pelayanan teknis tamu, penyediaan kamar, marketing, dan keuangan operasional hotel, sampai pariwisata sebagai akses 'soft diplomatic'.

Memang benar-benar, barang siapa yang sungguh-sungguh dia akan mendapatkan hasil terbaik, suatu waktu saya diwawancarai seorang HRD di sebuah hotel tempat saya menginap, beliau menanyakan adanya ijazah saya sembari dijelaskan bahwa ada prinsip yang berbeda antara orang yang belajar dan memiliki ilmu dengan yang tidak, orang yang belajar akan 2 kali lebih cepat memahami instruksi ketimbang yang tidak, efisiensi itu yang diperlukan dan dinilai, maka setelah beristirahat sampai dengan selesainya sholat Isya, pukul 19.20 kegiatan resmi dibuka oleh Kepala BGTK, pada siang sebelumnya proses pemilihan kamar, partner 1 kamar, sampai administrasi dalam surat tugas sudah beres dilakukan.

Saya seperti menjelma menjadi seorang Cinderella, seorang gadis yang dizolimi oleh keadaan, berjuang dan ikhlas serta berani menunjukkan jati diri, akhirnya berkesempatan untuk menikmati pesta dansa bersama pangeran, dan kabur serta kehilangan sepatu kaca hingga pada saat waktu ajaib yang diberikan selesai, hingga pada akhirnya pangeran menemukannya dengan mencocokkan sepatu kaca tersebut kepada semua orang-orang yang merasa berhak untuk memakainya.

Saya merasakan momen ajaib itu, bertemu dengan orang-orang hebat, ternyata dalam kegiatan kami dirangkaikan dengan proses seleksi pemilihan dan penguatan BCKS, sampai dengan kegiatan Moderasi Penyusunan Modul pengembangan kompetensi guru dan Tendik.

Momen bertemu dan duduk bersama kepala dinas, operator dinas, kepala Bidang GTK, para praktisi pendidikan sampai dengan orang-orang dalam lingkaran pembelajaran dalam komunitas belajar seperti mengarahkan saya berdansa dengan suasana yang riuh, indah, beralun musik yang keren, dan suasana yang mewah saya terhanyut dalam kegiatan itu, ini anugerah.

Momen Pembukaan Kegiatan Pelatihan di Hotel Claro, 6-8 Oktober 2025


Namun belajar adalah belajar, setelah itu kami mulai berkoordinasi satu sama lain, mulai membagi kerjasama, memecah sub pokok bahasan, merevisi, mereview, melihat konteks dan konten produk, dari pagi sampai malam, kami berkutat selama lebih dari 12 jam untuk mendapatkan proyeksi maksimal dari kegiatan yang nanti akan dijalankan, ini seperti momen si Cinderella berpacu dengan habisnya masa waktu yang diberikan seorang peri padanya menikmati lantai dansa, yang terpaksa terhenti di pukul 12.00 malam.

Seperti itulah grasak-grusuknya kami, saya berada pada posisi yang benar-benar menyerap semua pengetahuan, pengalaman, dan kompetensi orang-orang hebat di sekeliling saya.

Saya akhirnya percaya, bahwa semua hal di dunia ini terhubung dengan satu koneksi, di mana otak kita percaya akan suatu hal, yang saya maksud adalah mimpi besar, maka bermimpilah, namun dalam kegiatan mimpi tersebut tugas kita adalah menajamkan segala potensi dan kekuatan untuk meraih itu.

Saya tidak percaya, dirajakan saat memasuki hotel diberikan pelayanan tamu dengan fasilitas inap motor, disambut dan diarahkan untuk makan siang, menikmati kamar hotel yang empuk nyaman, makan makanan mewah, enak, sehat, bergizi, menikmati kolam renang, akses ke Gim dan pelayanan hotel yang mewah, adalah mimpi-mimpi besar saya saat saya sedang berjuang dengan kesulitan belajar dan segala tantangan hidup, seperti saat scene konflik Cinderella bersama kakak tiri dan ibu tirinya

Semua proses mewah itu dibayar oleh negara, saya bermimpi negara yang membayar nilai otak saya, keteguhan hati saya, perjuangan saya, dan akhirnya semua itu terwujud, frekuensi pembangunan dan perjuangan pembelajaran itu terbayarkan dengan lunas.

Itulah kehebatan sebuah mimpi. Semua orang berhak untuk bermimpi, tinggal jalan menuju tujuan itu yang menjadi tugas kita, saya juga tahu orang-orang yang ada di sekitar saya ini adalah orang-orang yang terpilih, yang dikayakan dengan berbagai situasi sehingga membentuk mereka terpilih menjadi orang yang terdepan.

Saya diajarkan bagaimana melihat konsep dan elaborasi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) yang diajarkan oleh Prof. Aris Badara, M.Hum sekretaris dinas pendidikan provinsi Sulawesi Tenggara, menejemen orang-orang dan kegiatan dari pak Surip Widodo, S.Si, M.M. dan bahasa-bahasa hubungan mereka dengan Tuhan.

Betapa rekat dan kuatnya akses itu, sehingga saat melihat proses itu saya terus terkesima dan terkesiap pada proses-proses yang ada.

6 hari telah berakhir, saya sudah di atas kapal Feri mulai mereview kembali perjalanan hebat saya, saya teringat, semua momen manis ini terjadi di bulan Oktober, bulan yang menjadi bulan kelahiran saya, bulan yang selalu dinantikan sebagai pengingat akan masa awal dan sebagai tanda akan ada masa akhir. Semua hal yang dimulai pasti akan diakhiri, di sepanjang jalan saya kuatkan harus menulis perjalanan ini sebagai ringkasan terbaik yang wajib masuk dalam lembar-lembar petualangan seru berikutnya.

Oktober terima kasih untuk kejutan, tangisan di puncak gunung Maligano, khawatirnya di Matalagi dan kisah Cinderella di Kendari.

Tasbih dan puja-puji syukur kepada Tuhan tak henti-henti mengalir atas segala karunia yang teramat indah dan ternilai.

Man Jadda wa Jadda.

Siapa yang bersungguh-sungguh berjuang, maka dia akan mendapatkannya. 


Lagundi, Kamis 9 Oktober 2025


Dokumentasi kegiatan perjalan yang seru di bulan Oktober.











Serial Perjalanan di Pulau Dewata BALI-NEGERI PUPUTAN

  Keseruan menjelajahi bali dapat dilihat di sini: https://drive.google.com/file/d/1LVGH5MW76M-FzwwkqTx4QzIIslLigGiw/view?usp=sharing