Di Sekolah

Oleh: Honayapto

Dulu kita keukeh untuk tidak membuka persahabatan dengan yang lain, kita hanya berteman dengan seasal kita, se daerah kita, satu almamater kita. 

Tawuran antar pelajar, menjadi pelengkap diorama potret kenakalan remaja kita.

Selalu bersungut-sungut manakala tugas-tugas dari guru, selalu berjejer rapi menghalangi waktu tidur dan santai. 

Berkutat dengan dinginnya air pagi, menahan kantuk dan rasa malas saat pagi hari menjadi penanda kegiatan di sekolah akan dimulai. 

Berselisih paham dengan junior-senior, untuk mencari pembenaran dari siapa yang jago, dan paling kapatuli.

Kita juga akan merasa kesal, perkakas sekolah raib satu persatu, dipinjam dan tak kembali-kembali. 

Pelan-pelan kita mulai bosan mendengar nasihat dan 'batata' dari para guru. 'tidak henti-hentinya berceramah, apa tak kering dan kehabisan akal dalam batok kepala orang-orang ini? " rungut kita.

Bunyi smsan, messenger, dan jadwal janjian menuntaskan pekerjaan rumah, seperti menjadi rutinitas yang secepat-cepatnya dienyahkan. 

Belum lagi, kawan-kawan yang tidak bersahabat.

Di langkah kakinya yang ke seratus, Aryo terhenti, jarak kendaraan roda dua dan dirinya sudah teramat jauh. Tanpa sadar dia telah berada di bibir pantai Watu Sepuh. 

Motornya sengaja diparkirkan di tempat sakral mereka, di belakang rumah la Elo, rerimbunan pohon-pohon gamal, tidak ada yang berubah sejak 10 tahunan dia menjadi alumni sekolah ini. 

Debur ombak laut Banda tak henti-henti menggempur batu karang yang menyendiri, ditemani pohon beringin, kisah mereka berdua seperti syair-syair Lagalego, penuh kejantanan, dan teramat anggun untuk dinikmati.

Semuanya bagai siluet-siluet yang merdu, burung camar di senja ini melengkapi alur balik kisah kasih sekolah. 

"Aryo, balik. Ibu mau ke kondangan sama ayah". Bunyi sms ibu mengharuskan Aryo segera bergegas bangkit dari selonjoran kakinya menikmati pasir-pasir pantai putih.

Akh.... Tak ada lagi tugas-tugas runyam dari bapak ibu guru, pak Deni tidak akan mempitos kepala kalau bolos sekolah. 

Ibu Sri tidak akan lagi bisa menghardik dengan gayanya yang ekstrim, dan tidak ada lagi teman-teman yang menghabiskan tipe-x. 

"Akh... Kata siapa mereka orang-orang yang jahat, hardikan mereka, dan omelan mereka, kini telah sangat dirindukan. Pak Bio pembina Pramuka yang kalau beliau mengajar tak kami hiraukan, kini kami ingin kembali pada waktu itu.

Ingin kembali merangkul teman-teman, ingin diomeli lagi, dan ingin mengirimkan satu senyum manis untuk sobat karibku Nandia. 

Di temani angin timur, bergegas ku kembali. Melangkah maju meninggalkan semua jejak kenakalan di sekolah.

Namun seperti air hujan, tetesan yang telah Diterima bumi, tak akan pernah kembali pada langit. Semuanya hanya diberi waktu sekali, tak ada yang kembali sama. 

Seperti sekolah, catatan di papan tulis telah berubah, siswa-siswi telah berganti, dan rerumputan liar telah subur.

Sekolah akan selalu menjadi tempat untuk bertahan hidup, memupuk persaudaraan, cinta dan kasih sayang.

Serial Perjalanan di Pulau Dewata BALI-NEGERI PUPUTAN

  Keseruan menjelajahi bali dapat dilihat di sini: https://drive.google.com/file/d/1LVGH5MW76M-FzwwkqTx4QzIIslLigGiw/view?usp=sharing