Forlap Dikti

 Forlap Dikti

(Foto pelabuhan Baubau diambil dari Masjid Amanah Al Bukhari)


Sudah 5 jam lebih dari jadwal yang tertera di tiket, harusnya keberangkatan pada pagi tadi jam 7 pagi, makanya saya buru kakak segera mengantar, kapal tidak akan dapat kalau kami berangkatnya subuan, apalagi saya paling jengkel kalau jalan harus buru-buru dan terkesan grasa-grusu.


Ya, saya berangkat Jumat, kemarin tanggal 30 Desember 2022, saya berangkat pagi pukul 08.00 prediksi dari kampung, Buton Utara menuju kota Baubau saya bisa tiba pukul 10 siang, molor setengah jam kalau jalan dengan motor dengan kecepatan yang biasa-biasa saja, 50-60 KM perjam, saya bergegas membeli tiket kapal laut (Pelni) langsung dari loket resmi, saya mau yang resmi-resmi saja.


Pas, tiba di kota Baubau, saya langsung ke penjualan tiket, Rp.428.500 adalah harga kapal dari pelabuhan Baubau menuju Tanjung Priok Jakarta. Saya selesaikan via transfer, di sini nampak pelayanan perusahaan negara bidang laut ini sudah mulai banyak perubahan, pembayaran sudah harus via transfer, pakai gesek kartu, non cash, loket penjualan juga sudah bagus, rapi, bersih, dan adem, pendingin ruangan ada di mana-mana, tidak sumpek dan suram seperti beberapa tahun silam.


Semua sudah terkoneksi dengan jaringan, saya dipastikan tidak bisa berangkat jika KTP yang memuat informasi pribadi tidak ada, apalagi melalui kartu tersebut, para petugas memastikan di layar komputer masing-masing bahwa pelaku perjalanan telah melakukan vaksinasi lengkap (vaksin 1, 2, plus Booster), kenapa? karena sebelumnya kakak saya yang perempuan tidak bisa berangkat karena masalah data vaksinasi yang tidak lengkap di layanan peduli lindungi, saya menebak terintegrasi sehingga para petugas harus membuat repot para pelaku perjalanan.


Beruntung kakak di kampung ada persediaan uang non cash, saya ditransfer dan selesaikan semua pembayaran, saya berutang lagi. 


Tiket beres, ke kota seperti peluang besar bagi kami, ibarat kata pepatah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Kebetulan hari Jumat, usai membereskan tempat istirahat saya sholat Jumat, menemani kakak berbelanja, beli aki motor matik, oli, subreker, bersama tali senso, plus peluru senapan angin pesanan kakak yang satu.


Jam 3 sore kakak yang mengantar saya pulang, saya minta restu perjalanan dilancarkan. Di titik ini kota Baubau seperti melempar saya kembali ke masa lalu, bau asap knalpot motor, hawa panas matahari, dan lorong-lorong jalanan, serta warna aspal hitam pekat seperti membuka memoar perjalanan masa silam.


Orang bilang, itu semua biasa saja, saya bilang ini luar biasa, semua orang hidup dengan jalan takdir dan cerita masing-masing, cerita petualangan Dahlan Iskan ke Negeri Tiongkok mengganti hatinya melakukan transplantasi hati dengan seseorang yang usianya sama dengan saya dalam bukunya yang berjudul Ganti Hati (2012) akan berbeda dengan cerita saya, kisah saya akan berbeda dengan Chairul Tanjung si CEO media Transcorp dalam bukunya Si Anak Singkong. Semua orang memiliki petualangan yang berbeda dengan yang lain.


Tepat setelah candaan pengecekan Forlap Dikti, ijazah Magister Pendidikan saya di Universitas Negeri Jakarta sama sekali tidak terbaca di Forlap Dikti. Sudah 5 tahun usai pendidikan saya seperti terhipnotis untuk tidak mengecek status dua lembar kertas dari Kampus para Guru itu. Tidak terbaca saya risau sejadi-jadinya.


Hari ini, seperti temaram lampu kota Baubau kota seribu benteng, saya minta izin sama ibu, saat liburan sekolah saya ingin ke kampus untuk membantu agar ijazah dengan perjuangan ini dapat terbaca di Forlap Dikti, saya tahu ibu saya adalah orang yang paling tidak mau kalau ada aktivitas yang aneh-aneh selain daripada belajar saja, untung saja momennya tepat, libur panjang semester, rezeki ada. Saya minta ridho dimudahkan perjuangan.


Seperti baut laut pantai Kamali, pelataran yang diisi kerikil-kerikil kecil, hari ini jadwal keberangkatan. Harusnya tadi pagi sudah jalan, namun ternyata harus molor, terakhir saya cek jam 5 sore keberangkatan, SMS dari Pelni juga sudah konfirmasi itu, wah semua telah berubah, hidup berubah, bangunan berubah, nasib berubah, hanya satu yang belum berubah, data di Forlap Dikti.


Di Forlap Dikti dua ijazah saya belum berubah sama sekali. Di dalam masjid Amanah Al Bukhari seseorang tak dikenal meminta saya untuk berbagi hotspot alasannya mau cari kerja, saya kasih, ini seperti titah Tuhan bagi siapa yang menolong sesama seakan-akan ia telah menolong banyak orang.


Di dalam doa, saya minta perjalanan ke barat dapat berubah.


 (Serial perjalanan ke barat)

====

English version


Poetry
.
.
.
It's been 5 hours more than the schedule stated, it was supposed to leave at 7 am this morning, so I rushed my brother to take me immediately, the ship will not be available if we leave subuan, what's more annoying is that I have to rush the road -hurry up and be impressed.
Yes, I left on Friday, yesterday 30 December 2022, I left in the morning at 08.00 prediction from the village, North Buton to Baubau city I can arrive at 10pm, sleep half an hour if riding a motorcycle at normal speed-b just normal, 50-60 KM per hour, I hurry to buy a sea ticket (Pelni) straight from the counter, I want the official only.
When, arrived in Baubau city, I went straight to ticket sales, Rp. 428.500 is the ship price from Baubau port to Tanjung Priok Jakarta. I finished it via transfer, here you can see the service of this maritime state company has started to change a lot, payment has to be via transfer, use card rub, non cash, sales counter is also good, neat, clean, and cool, pending this room is everywhere, not as clumsy and gloomy as some years ago.
All are connected to the network, I was assured that I could not go if the ID card containing personal information was not there, especially through the card, the officers made sure on their respective computer screens that the travelers had planted fully vaccinated (1st, 2nd, plus Booster), why? since earlier my older sister couldn't go due to incomplete vaccination data issues at protective care services, I guess it's integrated so officers have to bother travellers.
My brother in the village is lucky that there is a stock of non-cash money, I was transferred and finished all payments, I am in debt again.
Ticket done, to the city seems like a great opportunity for us, like the saying goes once rowing two or three islands is beyond. Coincidentally Friday, finished cleaning up my resting place Friday prayer, accompany brother shopping, buy aki matik motor, oil, subreker, together with senso rope, plus air rifle bullet ordered by brother one.
At 3pm my brother who drove me home, I ask for a smooth journey blessing. At this point the city of Baubau is like throwing me back to the past, the smell of motor exhaust smoke, the hot sun, and street alleys, as well as the color of the dark black asphalt like opening a memoir of the past travel.
People say, it's all normal, I say it's extraordinary, everyone lives with their own destiny path and story, Dahlan Iskan's adventure story to China changing his heart doing a heart transplant with someone who us it's the same with me in his book titled Ganti Hati (2012) will be different with the story me, my story will be different with Chairul Tanjung the CEO of Transcorp media in his book The Cassava Child. Everyone has a different adventure than others.
Right after Forlap Dikti's scrutiny joke, my Master's degree in Education at Jakarta State University was not read at all in Forlap Dikki. It's been 5 years of my education like hypnotized not to check the status of those two pieces of paper from the Teacher's College. Unreadable I'm worried as hell.
Today, like the lamp of Baubau city of thousand fort, I ask permission from my mother, during the school holiday I want to go to campus to help so that the diploma with this struggle can be read in Forlap Dikti, I know my mother is the one who don't want any weird activity besides rather than just learning, fortunately the moment is right, long semester holiday, sustenance is there. I ask for ridho to ease the struggle.
Kamali beach like sea bolt, small pebbles yard, today's schedule of departure. It should have been a walk this morning, but it turns out I have to sleep, last time I checked at 5 pm departure, SMS from Pelni has also confirmed that, wow everything has changed, life has changed, building has changed, fate has changed, only one has not changed, data on Forlap Dikti.
At Forlap Dikti my two degrees haven't changed a bit. Inside the mosque of Khasanah Al Bukhari someone unknown asked me to share a hotspot of the reason for looking for a job, I give it to him, this is like God's command for those who help others as if he has helped many people.
In prayer I ask the journey out west to change.
(The journey to the west series)

Serial Perjalanan di Pulau Dewata BALI-NEGERI PUPUTAN

  Keseruan menjelajahi bali dapat dilihat di sini: https://drive.google.com/file/d/1LVGH5MW76M-FzwwkqTx4QzIIslLigGiw/view?usp=sharing